Aliran Sesat di Maros, Nabi Muhammad Dianggap Tuhan di atas Allah

Aliran Sesat di Maros, Nabi Muhammad Dianggap Tuhan di atas Allah

Aliran yang bernama Ahad Soht ini mempercayai adanya tuhan di atas Allah SWT. Mereka menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan di atas Allah SWT. Ajaran ini berdiri baru sekitar tiga bulan. di Dusun Laiya, Desa Matajang, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Pemimpin aliran sesat ini Dg Aha’ (Aha’ Daeng Kulle), ia mengatakan ajaran yang ia bawa sesuai dengan ketentuan Tuhan dan Allah Ta’ala masih ada Tuhannya. “Jadi Tuhan itu ada tiga, puangnya Allah Ta’ala dan Muhammad adalah Karaeng Patanra Lino,” ungkapnya sambil mengeluarkan doa-doa bahasa Arab yang dicampur aduk dengan bahasa Makassar.

Aliran sesat Ahad Soht ini juga melarang pengikutnya membaca Alquran, hanya pemimpin yang dapat melakukannya. Aliran Soht mengajarkan dua kali shalat bagi tiap-tiap pengikutnya yakni, Shalat Lohor dan Asar. Dalam shalatnya mereka hanya diperbolehkan membaca Al fatihah dan doa yang diberikan khusus oleh Soht dengan bahasa Makassar. Menurut Soht cara ini agar terhindar dari bala.

Ulama MUI maros mengatakan, aqidahnya sudah rusak, apalagi mereka tidak menjalankan ibadah puasa. Itu artinya mengingkari rukun Islam.

Setiap anggota yang baru bergabung diwajibkan membayar sekira Rp1 juta untuk registrasi. Kini, jumlah anggota aliran sesat ini sudah mencapai  50 orang.

Inilah berita-beritanya:

Aliran Sesat di Maros Shalat Berbahasa Makassar

Laporan: Rasmi R Sikati

SENIN, 24 JANUARI 2011 | 14:49 WITA

MAROS, TRIBUN-TIMUR.COM – Ada sebuah aliran sesat di Dusun Laiya, Desa Matajang, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Aliran sesat itu dipimpin Daeng Kulle. Pengikut aliran ini telah berjumlah 50 orang, terdiri dari orang dewasa dan anak -anak.

Aliran ini mempercayai adanya tuhan di atas Allah SWT, yang bernama Ahad Soth. mereka menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan di atas Allah SWT. Ajaran ini berdiri baru sekitar tiga bulan.

Aliran Soth mengajarkan dua kali salat bagi tiap-tiap pengikutnya yakni, Salat Lohor Asar. Dalam salatnya mereka hanya diperbolehkan membaca Al fatihah dan doa yang diberikan khusus oleh Soth dengan bahasaMakassar. Menurut Soht cara ini agar terhindar dari bala.

Selain itu para pengikutnya juga diajarkan, beribadah dengan cara bersemedi, bergoyang-goyang, dan meraung-raung seperti binatang pada umumnya. Supaya jasad mereka dapat di masuki malaikat.

Bahasa yang digunakan Ahad Soht adalah bahasa Arab bercampur Makassar. Ahad Soth mengaku mendapatkan bahasa itu dari Wali Songo titisan Karaeng Daeng Paturu.

Ajaran lain, yaitu setiap hari Senin Soht menyuruh mereka upacara sambil membawa tongkat dan senjata tajam. Soht juga melarang pengikutnya membaca Alquran, hanya pemimpin yang dapat melakukannya.

Untuk menuju desa Layla, kita harus menggunakan kendaraan dari kota Maros menuju Cenrana,dan diperlukan waktu sekitar dua jam berjalan kaki menyusuri gunung dan bukit yang terjal.

Ketua Majelis Ulama Kabupaten Maros KH Sahabuddin Hamid mengatakan, ajaran Ahad Soth tidak boleh dipercaya. Sebab, tak sesuai dengan Alquran dan Hadis. Ajaran itu juga meresahkan sebagian warga Maros, terutama mereka yang tinggal di Desa Laiya.(Zonaindo)
sumber:
http://makassar.tribunnews.com/read/artikel/147264/Aliran-Sesat-di-Maros-Salat-Berbahasa-Makassar


Aliran di Maros Yakini Tuhan di Atas Allah

Cara beribadah: diam bersemedi, bergoyang-goyang, dan meraung-raung. MUI bereaksi.
Rabu, 26 Januari 2011, 06:10 WIB

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maros, Sulawesi Selatan, prihatin dengan perkembangan aliran Ahad Soht di Dusun Laiya, Desa Mattajang, Kecamatan Cenrana. MUI mengkhawatirkan dampak yang bakal ditimbulkan aliran yang dipimpin Aha’ Daeng Kulle ini.

Ketua MUI Maros, KH Sahabuddin Hamid, mengatakan aliran Ahad Soht telah berumur tiga bulan dan memiliki penganut sekitar 50 orang. “Jika tidak ditangani, maka ajarannya akan terus berkembang,” kata Sahabuddin kepada VIVAnews.com.

Sahabuddin menyatakan Ahad Soht adalah sesat dan sudah jauh melenceng dari syariat Islam. Menurut dia, ibadah kelompok ini sangat janggal, seperti membaca Al Fatihah secara tidak lengkap dan bercampur bahasa Makassar.

Kejanggalan lain, cara beribadah mereka yang diam bersemedi, bergoyang-goyang, dan meraung-raung. Aliran ini juga hanya mewajibkan dua kali salat, yakni dzuhur dan asar.

Yang dinilai paling menyimpang oleh Sahabuddin, Ahad Soht mengajarkan masih ada Tuhan di atas Allah dan melarang jemaahnya membaca Alquran. “Ini sudah sangat kelewatan,” ujar Sahabuddin, geram.

Karena itu, MUI meminta Pemerintah Kabupaten Maros dan Kepolisian Resor Maros untuk segera turun tangan, karena aliran ini dinilai telah meresahkan warga. Sahabuddin juga menghimbau Daeng Kulle agar tidak menyebarluaskan ajarannya. “Atas nama MUI Maros, saya meminta kepada Daeng Kulle untuk menghentikan penyebaran Ahad Soht.”

Desa Laiya terletak di pelosok Kabupaten Maros, arah menuju Kabupaten Bone. Untuk sampai ke daerah itu, paling tidak perlu menempuh sekitar empat jam. Dua jam berkendaraan dari Kota Kabupaten Maros, dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar dua jam lagi. Orang yang ingin menuju kampung itu harus menyusuri bukit terjal yang berliku. (Laporan: Rahmat Zeena, Makassar

Diposkan oleh RADAR JAMBI di Rabu, Januari 26, 2011

Sumber: http://radarjambi.blogspot.com/2011/01/tuhan-di-atas-allah-aliran-sesat-maros.html

Rabu, 26 Januari 2011 | 16:54:18 WITA | 103 HITS

Mengunjungi Perguruan Islam Dusun Matajang yang Diduga Aliran Sesat

Klaim Diri Wali Songo, Tingkah Mirip Kerasukan

Penulis diterima di kolong rumah Dg Aha.’ Ada sepuluh orang menemaninya; tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan berumur 5 hingga 7 tahun.

OLEH Arini Nurul Fajar, Cenrana

Seorang balita juga tampak sedang diayun. Masing-masing anggotanya itu sudah bersiaga dan meneliti gelagat penulis dan rombongan. Ibarat kerajaan, dua orang anggotanya yang mengenakan pakaian mirip tentara itu berjaga-jaga di bagian luar.

Dg Aha’ kemudian bercerita bahwa ajaran yang dibawanya adalah ajaran Islam yang sesuai dengan Alquran. Pengikutnya dari anak kecil hingga dewasa diajarkan cara mengaji dan berislam yang benar, salat lima waktu pada waktunya. “Ajaran yang saya bawa adalah ajaran Islam. Saya meneruskan ajaran Wali Songo yang ada di tanah Jawa yang sudah mulai dilupakan masyarakat,” ujarnya.

“Kalau di Jawa nama saya Wali Songo. Kalau di sini (Sulawesi, red) Karaeng Dg Patunru. Namaku dari Kerajaan Gowa,” terangnya sambil berteriak bagai orang kerasukan.

Bapak beranak satu ini, kemudian menjelaskan sambil berteriak dan menepuk dada bahwa dirinya adalah orang bodoh, miskin, tidak pandai mengaji dan membaca. Hanya saat “makhluk” tersebut masuk di tubuhnya maka ia menjadi pandai mengaji, membaca, dan berbahasa.

“Saya makhluk masuk di tubuh Dg Aha’ dan menumpang untuk memperingatkan kepada semua masyarakat bahwa masyarakat harus kembali kepada Tuhan dan ajaran Karaeng Dg Patunru’. Di Sulawesi Tenggara saya masuki Dg Aha’ bulan enam dan kembali kesini, ” katanya.

Dg Aha’ mengatakan ajaran yang ia bawa sesuai dengan ketentuan Tuhan dan Allah Ta’ala masih ada Tuhannya. “Jadi Tuhan itu ada tiga, puangnya Allah Ta’ala dan Muhammad adalah Karaeng Patanra Lino,” ungkapnya sambil mengeluarkan doa-doa bahasa Arab yang dicampur aduk dengan bahasa Makassar.

Semakin tinggi nada atau suara Dg Aha’ berbicara, maka suara dengkuran seperti binatang yang dikeluarkan oleh seluruh pengikutnya yang bersemedi itu semakin keras terdengar. Hingga tubuh pengikutnya pun bergetar keras, bahkan anak kecil pun ikut bergetar hingga menangis. Suara dengkuran seperti binatang yang keluar itu pun bersahut-sahutan dengan suara anjing di sekeliling dusun itu. Konon saat itu adalah saat Dg Aha’ dan pengikutnya dirasuki roh dan berdialog.

Pria bernama Lahu ini, adalah warga asli Dusun Matajang. Nama itu ia gunakan sebelum meninggalkan Dusun Matajang lima tahun lalu. Ia menjual semua harta bendanya seperti rumah dan sawahnya kemudian merantau ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Konon ia bangkrut di perantauan dan kembali pada Juni 2010 dengan mengganti nama menjadi Dg Aha’ sambil membawa ajaran yang didapatnya diperantauan. Ia pun mulai merekrut anggota hingga mencapai 50 orang.

Kepala Kantor Kementerian Agama Maros Syamsul Khalik saat ditemui, Sabtu malam, 22 Januari, mengatakan, pihaknya tidak dapat memberikan komentar terkait sesat atau tidaknya aliran ini. Namun dari pendapat pribadinya dia mengatakan jika beberapa ajaran Islam telah menyimpang maka sudah bisa disebut sesat.

“Kami tentu akan berkoordinasi dengan pihak terkait, apalagi yang berhak memberikan pernyataan bahwa ajaran perguruan sesat hanya MUI (Majelis Ulama Indonesia,red) tapi kalau melihat video ritualnya mungkin memang ajaran yang dibawa ini sesat,” ungkapnya.

Ketua MUI Maros KH Sahabuddin Hamid mengatakan, semua ajaran Islam yang tidak sesuai dengan Alquran dan Hadis maka itu adalah sesat. “Kalau MUI belum dapat memutuskan apakah sesat atau tidak karena kita harus lakukan dulu klarifikasi. Tapi secara pribadi setelah saya lihat video teman-teman media maka saya bilang ini tidak boleh atau sesat karena tidak sesuai dengan Alquran dan Hadis,” terang Sahabuddin.

Apalagi, lanjut Sahabuddin, ia mengaku bahwa Tuhan itu ada tiga. “Tak hanya itu. Saya melihat ini aqidahnya sudah rusak, apalagi mereka tidak menjalankan ibadah puasa. Itu artinya mengingkari rukun Islam,” katanya.

Sumber: http://www.fajar.co.id/read-20110125165418-mengunjungi-perguruan-islam-dusun-matajang-yang-diduga-aliran-sesat-3selesai

(nahimunkar.com)

email
  • jalal

    sdh banyak org gila

  • Ujang Asgarsyah

    Dunia sudah dekat dengan Kiamat…..
    Orang sinting sudah dipercaya jadi pemimpin. Walau sudah tahu sesat tetap aja diikuti, jadi yang mengikuti lebih sinting lagi daripada yang diikuti.
    Segera taubat saudara-saudaraku…..

  • wahdah

    Astaghfirullahhaladzim