Aliran Sesat LDII Ditantang Dialog dan Mubahalah

Mauluddin (Wakil Empat Islam Jamaah) dianggap membangkang, kemudian dirinya diminta meninggalkan jabatan dan keluar dari pusat Keamiran Islam Jamaah di Kediri.
Bagaimana ceritanya, kok bisa sampai begitu?

Tahun 2008, di hadapan wakil empat lainnya ia terang-terangan menolak sejumlah ajaran Islam Jamaah, terutama pengkafiran terhadap orang Islam di luar Islam Jamaah. Termasuk infak sebesar 10 persen bagi semua jamaah tanpa terkecuali. Jika tidak infak sebesar itu, dianggap haram. Bahkan ada ancaman tidak akan dishalatkan kalau mati.

Tingkah Mauluddin tercium sampai ke pucuk pimpinan. Mauluddin dianggap membangkang, kemudian dirinya diminta meninggalkan jabatan dan keluar dari pusat Keamiran Islam Jamaah di Kediri. Bagaimana sikap Mauluddin kini? Maluddin mengatakan, cara yang paling tepat untuk menyelesaikan dan memberikan pencerahan kepada anggota Islam Jamaah adalah dengan melakukan dialog. ”Saya ingin bicara dengan petinggi LDII, itu saja,” ujarnya. Jika dialog tidak menemukan titik temu, maka harus kembali kepada rujukan awal ke Darul Hadits, Makkah, di Arab Saudi. Sebab, katanya jangan sampai perkataan para ulama yang ada di Darul Hadits (Makkah) yang diakui pendiri Islam Jamaah sebagai sekolahnya, hanya dicomot seenaknya saja. (lihat Suara Hidayatullah, NOPEMBER 2010).


LDII selain ditantang untuk dialog tentang pengkafiran dan pemungutan bulanan yang dikenal dengan persenan, ada juga tantangan mubahalah dari mantan LDII.

Penulis di blog airmatakumengalir.blogspot.com siap mubahalah dengan pihak LDII yang menurutnya diprediksi akan hadir ke MUI (Majelis Ulama Indonesia). Penulis di blog itu minta diundang MUI dan siap mubahalah.

Ujian final dari orang yang tobat dari aliran sesat tampaknya ditujukan kepada aliran sesat dan juga sekaligus sama dengan menguji MUI pula. Tinggal bagaimana keberanian kedua belah pihak itu. (lihat nahimunkar.com, Minta Diundang MUI dan Siap Mubahalah dengan LDII,

1:38 am).

Serakah terhadap harta dan kehormatan

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan tentang betapa bahayanya keserakahan terhadap harta dan kehormatan dalam merusak agama:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dua serigala lapar yang dilepas menyerang sekawanan kambing, pengrusakannya tidak melebihi keserakahan seseorang kepada harta dan kemuliaan (dalam hal pengrusakannya) terhadap agamanya.” (HR At-Tirmidzi 2298, ia berkata: Hadits ini hasan shahih, dan Ahmad 15224, shahih menurut Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ 5620).

Keserakahan aliran sesat LDII yang memungut persenan terhadap setiap anggotanya adalah contoh nyata.

Itu dalam hadits tersebut ketika yang serakah hanya satu orang. Lha kalau yang serakah itu sejumlah besar orang, sedang orang-orang yang serakah itupun orang-orang besar, dan keberadaannya juga hampir merata di sana-sini, maka betapa rusakanya. Melebihi hutan yang penuh serigala. Betapa mengerikannya, sebenarnya.

Sabarlah wahai saudara-saudaraku yang jadi korban keserakahan serigala-serigala lapar yang bertubuh manusia di sekitar kita. Asal agama dalam dada kita jangan sampai rusak.

Lebih merusak agama lagi ketika keserakahan itu justru atas nama agama. Di antara contohnya adalah pemungutan berupa apa yang biasa disebut persenan di kalangan aliran sesat LDII yang biasa punya kode 354 yang telah berganti-ganti nama, dan mungkin masih akan ganti nama lagi. Persenan yaitu setiap pengikut ditarik uang sekitar sepersepuluh dari penghasilan perbulan tanpa landasan dalil yang jelas dan tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Makanya aliran sesat LDII ditantang oleh mantan wakil amir IV, Ustadz Mauluddin, untuk dialog masalah pemungutan persenan itu. Namun tantangan itu belum ada khabar apakah aliran sesat LDII berani menghadapinya. Sebagaimana tantangan mubahalah (saling berdoa untuk dilaknat bagi yang dusta) oleh mantan-mantan LDII terhadap aliran sesat LDII belum ditanggapi dengan pelaksanaan pula.

Bagaimana mau menanggapi dengan pelaksanaan, sedangkan pemungutan persenan itu sendiri merupakan keserakahan yang nyata, masih pula atas nama agama. Sedangkan tidak atas nama agama saja itu sudah sangat merusak, melebihi dua serigala lapar yang dilepas di kerumunan kambing. Itupun kalau yang serakah itu satu orang. Lha ini satu kelompok sesat, ada amirnya sampai tingkat bawahnya, dan atas nama agama lagi. Jadi betapa rusaknya.

Disejajarkan dengan pelacur

Benarlah hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang memungut persepuluhan harta orang itu disejajarkan dengan pelacur yang doanya tidak diterima di saat doa dikabulkan waktu sahur.

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلاَ يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلاَّ اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلاَّ زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (HR Ahmad dan At-Thabarani, lafal ini bagi At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib nomor 2391).

Islam Jama’ah berganti-ganti nama

Informasi tentang hal ini dapat dilihat pada buku karya Hartono Ahmad Jaiz berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia khususnya halaman 63-64.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ini adalah nama baru dari sebuah aliran sesat terbesar di Indonesia, yang selama ini sudah sering berganti nama karena sering dilarang oleh pemerintah Indonesia.

Lembaga ini didirikan oleh Mendiang Madigol alias Nurhasan Ubaidah Lubis (luar biasa), pada awalnya bernama Darul Hadits (DH), pada tahun 1951. Karena ajarannya meresahkan masyarakat Jawa Timur, maka Darul Hadits dilarang oleh PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) Jawa Timur.

Setelah dilarang, Darul Hadits itu berganti nama menjadi Islam Jama’ah. Ketika aliran sesat ini menggunakan nama Islam Jama’ah, banyak artis-artis terkenal di Ibu Kota  (Jakarta) yang masuk ke dalam ajaran sesat ini, di antaranya Benyamin S, Ida Royani, Keenan Nasution dan lain-lain. Para artis dan penyanyi itu masuk aliran sesat ini karena tertarik dengan ajaran tebus dosanya.

Karena ajaran sesatnya meresahkan masyarakat, terutama Jakarta, maka aliran sesat Islam Jama’ah ini pun secara resmi dilarang di seluruh Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. No.Kep-08/D.A./10.1971, tgl 29 Oktober 1971.

Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan  Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972, tanggal ini dalam Anggaran Dasar LDII sebagai tanggal berdirinya LDII. Maka perlu dipertanyakan bila mereka bilang bahwa mereka tidak ada kaitannya dengan LEMKARI atau nama sebelumnya Islam Jama’ah dan sebelumnya lagi Darul Hadits.).  Pengikut tersebut pada pemilu 1971 mendukung GOLKAR.

Teks Pelarangan

Pelarangan Islam Jama’ah dengan nama apapun dari Jaksa Agung tahun 1971, teksnya sebagai berikut:

Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Menetapkan:

Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Peantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.

Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama.

Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan:

Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971,

Djaksa Agung R.I.

tjap.

Ttd

(Soegih Arto).

Karena sudah dilarang di seluruh Indonesia, maka imam Islam Jama’ah Nurhasan Ubaidah Lubis mencari taktik baru, yaitu mendekati dan meminta perlindungan kepada Letjen Ali Murtopo (Wakil Kepala Bakin dan staf OPSUS (Operasi Khusus Presiden Soeharto) waktu itu. Letjen Ali Murtopo adalah seorang Jenderal yang dikenal sebagai orang yang berseberangan dengan misi Islam.

Setelah mendapat perlindungan dari Letjen Ali Murtopo, Islam Jama’ah menyatakan diri masuk dalam Golkar (Golongan Karya) organisasi politik milik pemerintah yang sangat berkuasa sebelum tumbangnya Orde Baru (rezim Soeharto, yang tumbang 1998).

Di bawah naungan pohon beringin (lambang Golkar) ini Islam Jama’ah semakin berkembang dengan nama Lemkari (Lembaga Karyawan Dakwah Islam). Lemkari ini karena meresahkan masyarakat pula, maka dibekukan oleh Gubernur Jawa Timur, Soelarso,  dengan SK Nomor 618 tahun 1988, tanggal 24 Desember 1988, dan pembekuan itu mulai berlaku 25 Desember 1988. Namun kemudian pada Musyawarah Besar Lemkari IV di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, November 1990, Lemkari diganti nama menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), atas anjuran Mendagri Rudini agar tidak rancu dengan nama Lembaga Karatedo Republik Indonesia.

Pengkafiran dan persenan mengakibatkan banyak yang keluar

Tampaknya gelombang keluarnya orang-orang yang sadar akan kesesatan LDII semakin tampak terutama sejak kasus dianggapnya Ustadz Mauluddin telah membangkang terhadap keamiran LDII, tahun 2008. Ustadz Mauluddin yang sampai dianggap membangkang itu masalah utama yang dipersoalkan adalah ajaran pengkafiran dan persenan, pemungutan sepuluhan persen terhadap pengikut LDII tanpa kecuali.

Mereka yang sadar hingga keluar dari LDII, biasanya menyebut diri mereka sebagai orang-orang yang ruju’ ilal haq (kembali kepada kebenaran).

Di antara mantan pentolan Islam Jama’ah yang terkenal adalah Bambang Irawan Hafiluddin yang meninggal di Jakarta, Senin 22 Dzulhijjah 1431H/ 29 November 2010. Bagaimana sikap orang LDII terhadapnya, apakah benar sebagaimana yang didengung-dengungkan bahwa LDII kini adalah paradigma baru, ternyata perlu dipertanyakan. inilah bukti nyatanya:

Bukti penting, adiknya yang jadi pemimpin LDII tidak ikut menshalati

Jenazah Bambang Irawan dishalati di masjid dekat rumahnya di Gandaria Jakarta Selatan ba’da maghrib, kemudian langsung dimakamkan di TPU (Taman Pemakaman Umum) Tanah Kusir Jakarta Selatan, Senin 22 Dzulhijjah 1431H/ 29 November 2010. Imam masjid mengemukakan, selama ini Pak Bambang rajin shalat berjamaah 5 waktu dan bahkan sering menunggu waktu shalat.

Ketika jenazah dishalati, adik almarhum, Ksn alias AM, yang masih aktif di LDII bahkan menurut penta’ziyah dia itu menjadi amir daerah bahkan konon kini naik jadi wakil amir 4 yang berpusat di Kediri Jawa Timur, tidak tampak ikut menshalati.Ustadz Yahya putra Pak Bambang mengimami shalat jenazah, namun pamannya (adiknya jenazah) yang masih di LDII itu tampak pulang ke rumahnya tak jauh dari tempat itu menjelang maghrib, walau tadinya klincang-klincong (mondar-mandir) di sekitar lokasi.

Ini bagi orang MUI (Majelis Ulama Indonesia) seperti M Amien Djamaluddin dan tokoh-tokoh lembaga Islam lainnya yang hadir dan menshalati jenazah Pak Bambang menjadi catatan penting pula mengenai sikap unsur pemimpin LDII sampai sekarang, bahwa sampai abangnya meninggal pun karena bukan lagi termasuk dalam golongan LDII ternyata tidak mau menshalatinya, padahal sejak tadi dia klintar-klinter (mondar-mandir) di situ dan tinggal di kampong sekitar itu.

Beberapa anggota FRIH (Forum Ruju’ Ilal Haq) yakni orang-orang yang keluar dari LDII karena sadar akan kesesatannya, tampak berta’ziyah dan ikut menshalati jenazah Pak Bambang. Mereka menyaksikan bahwa adik Pak Bambang yang masih di LDII bahkan termasuk unsure pimpinan itu tidak mau ikut menshalati jenazah almarhum.

Menurut mereka, kalau seandainya yang masih aktif di LDII itu ikut menshalati jenazah ini, kemungkinan besar shalatnya shalat BL.

Apa itu shalat BL?

Shalat budi luhur, secara gampangnya di aliran sesat lain kurang lebihnya disebut taqiyah yakni menampakkan sikap yang berbeda dengan yang sebenarnya diyakini untuk menutupi kesesatannya. (haji).

(nahimunkar.com) November 30, 2010 11:23 pm

Jadi tameng sama dengan bikin goal bunuh diri

Apakah LDII akan melayani tantangan dialog tentang pengkafiran dan persenan itu serta tantangan mubahalah? Ataukah seperti yang sudah-sudah, kalau ada masalah gawat yang menjadikan mereka gonjang-ganjing lalu segera ganti baju alias ganti nama lagi?

Para pejabat, ulama, dan para tokoh yang masih sayang-sayang kepada diri sendiri dan agamanya agaknya akan berhitung seribu kali bila kini ada dari pihak aliran sesat LDII mendekat-dekat yang ujung-ujungnya ingin menjadikannya tameng. Agar aliran sesat yang kabarnya makin merosot pengikutnya, hingga diperkirakan kini tidak mencapai jumlah sejuta orang ini agak tertunda buyarnya. Dan kasus yang dikenal dengan sebutan bisnis “bodong” Maryoso yang menguras duit orang hampir sebelas triliun rupiah –menurut buku Akar Kesesatan LDII terbitan LPPI Jakarta— itu agar tertunda diusutnya.

Bagaimana seseorang tokoh tidak pikir-pikir seribu kali, lha wong aliran sesat ini semakin terkuak kedoknya. Hanya orang yang tidak mampu berfikir panjang saja yang mau terjebak untuk dijadikan tameng. Itu ibaratnya adalah orang yang tidak menyayangi diri sendiri, bagai dalam bahasa Jawa disebut kutuk marani sunduk atau ulo marani gebuk, yang dalam istilah permainan sepak bola disebut dengan menciptakan goal bunuh diri! Akibatnya, sudah menyesal, masih kemungkinan besar mendapatkan omelan dari kawan-kawan. Opo ora biso mikir, tho Kang? (nahimunkar.com)

(Dibaca 3,438 kali, 1 untuk hari ini)