Anak Ambar Diperalat Dukun untuk Pembodohan dan Pemusyrikan

Anak Ambar Diperalat Dukun untuk Pembodohan dan Pemusyrikan

Dalam bahasa Jawa, anak ambar biasa juga disebut dengan istilah terekan atau kluron. Yaitu, calon bayi yang sudah meninggal ketika masih berada di dalam kandungan. Bagi mereka yang percaya klenik dan hal-hal berbau mistis bernuansa kemusyrikan, arwah anak ambar dianggap bisa membantu atau memberi berkah.

Ada acara bertajuk Realigi di Trans TV yang tayang pukul 20:00 wib setiap Senin dan Rabu. Dari acara reality show ini dapat disaksikan sejumlah orang yang gandrung kepada hal-hal mistis bernuansa kemusyrikan. Salah satunya kisah tentang Niar anak Ibu Widi yang memelihara Anak Ambar setelah ia mengalami keguguran.

Dalam kasus di atas (Realigi edisi Rabu 19 Mei 2010), boleh jadi Niar mengalami guncangan jiwa pasca keguguran. Dalam keadaan terguncang, ia mencari sandaran kepada seorang dukun atau paranormal. Menurut sang dukun, ia bisa memindahkan arwah calon bayi Niar yang sudah meninggal (dan sudah dikubur) ke dalam sebuah boneka.

Niar yang merasa kehilangan, seolah mendapatkan solusi. Padahal itu hanyalah sebuah solusi yang semu, bahkan menipu. Ia tersugesti penjelasan sang dukun, sehingga menuruti semua petunjuk sang penjaja kemusyrikan tersebut. Maka, Niar pun membeli sebuah boneka perempuan, menyediakan kamar khusus bagi sang boneka, melengkapi kamar tadi dengan perlengkapan sebagaimana layaknya kamar anak, membelikannya baju, dan memberinya makan setiap hari. Boneka itu pun diberi nama Haruko.

Makanan yang disuguhkan bukan makanan biasa yang lazim dikonsumsi bayi atau anak-anak, tetapi aroma (asap) kemenyan bakar. Jadi, di kamar sang boneka tadi selalu terdapat anglo atau dupa yang berisi kemenyan bakar sehingga aroma (asap) kemenyan bakar tadi memenuhi kamar sang boneka.

Ketika itu Niar percaya, bahwa arwah calon bayinya yang sudah meninggal benar-benar bersemayam di dalam jasad boneka yang dibelinya sendiri. Setiap pulang kerja, Niar tidak lupa menyapa sang boneka dengan kasih sayang: “Haruko, Mama sudah pulang.”

Kebiasaan ganjil Niar tentu saja membuat sang Ibu menjadi gundah. Namun sebagai orangtua, Ibu Widi tidak kuasa menangani masalah tersebut sendiri, sehingga ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada tim Realigi Trans TV yang dipandu oleh Erwin dan Dhea (sebelumnya ada Ajeng dan Ussy).

Kehadiran tim Realigi ini tentu saja mendapat penolakan keras dari Niar. Apalagi, Niar merasakan bisnisnya semakin maju setelah ia memelihara anak ambar sesuai anjuran sang dukun. Maka, Niar tidak saja kian yakin dengan upayanya, ia juga berusaha mempengaruhi sepupunya yang juga mengalami keguguran. Namun berhasil dicegah oleh Ibu Widi dan tim Realigi.

Dalam rangka menolong Niar keluar dari kemusyrikan, upaya gigih tim Realigi dan Ibu Widi tidak kenal surut. Pada suatu ketika, Niar harus bepergian ke luar kota, untuk urusan bisnisnya, selama dua pekan. Bagi Ibu Widi, hal ini dibacanya sebagai sebuah peluang. Ia pun segera menghubungi tim Realigi. Ketika itu disarankan, agar Ibu Widi memusnahkan dupa tempat kemenyan dibakar yang berada di dalam kamar sang boneka.

Karena Ibu Widi mempunyai keinginan kuat untuk mengembalikan anaknya (Niar) ke jalan yang benar, maka ia pun menerima saran dari tim realigi untuk menghancurkan dupa kemenyan tadi. Di halaman rumah, Ibu Widi membanting dupa tersebut hingga berantakan. Konon, menurut kepercayaan, bila dalam sepuluh hari sang boneka tidak diberi makan (asap kemenyan bakar), maka rohnya akan pergi dengan sendirinya.

Dua pekan kemudian, ketika Niar kembali dari luar kota, ia mendapati boneka perempuan peliharaannya sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Kemarahan pun sontak membuncah. Sampai jangka waktu tertentu, Niar masih berperilaku aneh: ia hanya tiduran sambil mendekap sang boneka.

Untuk mengatasi hal tersebut, tim Realigi memberikan saran kepada Ibu Widi membawa Niar kepada seorang Ustadz untuk mendapat pencerahan spiritual. Alhamdulillah, Niar kooperatif. Maka, ia pun dipertemukan dengan sang ustadz yang menjelaskan bahwa perbuatan memelihara anak ambar tergolong menyekutukan Allah SWT, sebuah dosa besar.

Semula, Niar masih berkeras. Karena, menurut pengalamannya selama ini bisnisnya mengalami kemajuan setelah memelihara anak ambar. Ustadz menjelaskan, kemajuan usaha yang dialami Niar merupakan kehendak Allah SWT. Juga dijelaskan, secara fisik, calon bayi yang sudah meninggal dan sudah dikubur akan bersatu dengan tanah. Namun, roh yang telah ditiupkan Alah SWT kembali kepada Sang Maha Kuasa.

Akhirnya, Niar berhasil disadarkan dan mengadopsi seorang anak laki-laki. Ia hidup normal sebagaimana semula.

Acara Realigi menjadi menarik, karena ia merupakan salah satu mata acara di Trans TV yang menjalankan peran melawan kemusyrikan secara kongkrit. Dari sekian banyak acara teve yang mempertontonkan kemunkaran, boleh dibilang Realigi merupakan mata acara yang membawa misi nahimunkar, disamping sukses meraih rating yang terus menanjak. Kasus anak ambar di atas hanya salah satu saja dari sejumlah kasus kemusyrikan yang secara langsung dapat diberikan solusi oleh tim Realigi Trans TV.

Komoditas Perdukunan

Bagi sejumlah dukun, memelihara anak ambar selain dipercaya dapat memberi berkah bagi dirinya juga menjadi objek komoditas yang menguntungkan. Sejumlah orang yang membutuhkan pertolongan selain Allah (musyrik), lebih merasa nyaman bila perlindungan ghaib diperolehnya dari memelihara anak ambar. Karena, anak ambar biasanya dianggap tidak suka meminta tumbal sebagaimana terjadi pada media lain seperti jin dan tuyul. Selain tidak meminta tumbal, anak ambar dirasakan tidak terlalu menyeramkan.

Selain tidak menyeramkan, juga tidak menyulitkan. Ketika pemelihara anak ambar memutuskan untuk berhenti, tidak ada prosesi khusus yang harus dilakukan selain menghentikan membakar kemenyan selama minimal sepuluh hari berurut-turut. Setelah itu, boneka yang menjadi media anak ambar akan menjadi boneka biasa yang tidak berakibat apa-apa meski dicampakkan.

Seorang dukun yang menjadikan anak ambar sebagai komoditasnya, dalam prakteknya akan memasukkan arwah anak ambar gaib ke dalam media boneka untuk dibawa pulang oleh kliennya. Kegunaannya, selain untuk dijadikan sebagai pelindung gaib, juga bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan perkara-perkara tertentu dari klien bersangkutan.

Dalam kasus Niar di atas, ketika ia masih percaya dengan kekuatan anak ambar yang dipeliharanya, Niar begitu yakin meninggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci: pintu pagar dan pintu depan rumah dibiarkan terbuka meski ia berdomisili di kawasan yang rawan tindak kriminal pencurian. Suatu ketika ada sekawanan pencuri yang menyatroni kediamannya, namun balik kanan tunggang-langgang. Tidak jadi mencuri. Konon, para pencuri itu ketakutan karena anak ambar peliharaan Niar kala itu berhasil menakut-nakuti mereka.

***

Dalam pemahaman sebagian masyarakat musyrikin etnis Cina, terutama mereka yang beragama Budha atau Konghucu, bila ada anak kecil yang meninggal dalam kandungan maka arwah sang jabang bayi masih bergentayangan di lingkungan keluarga itu. Bahkan, arwahnya menempel di salah satu saudara kandungnya. Keberadaannya bisa saja mengganggu. Agar tidak menganggu, biasanya dititipkan di Vihara.

Dalam Islam, setiap makhluk yang sudah diberi ruh oleh Allah bila kelak ia meninggal dunia, maka ruh yang bersangkutan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ruh itu tidak bisa kembali bergentayangan di alam dunia atau masuk ke dalam sebuah boneka dan kemudian punya kemampuan ghaib melindungi si pemelihara boneka tadi. Kejadian yang dialami Niar –dan sejumlah orang lain yang pernah mengalami serta mempercayainya– sesungguhnya itu semua hanyalah tipu-daya syaithon untuk membawa manusia kepada kemusyrikan.

Tempat ruh orang sesudah mati di mana?

Dalam hadits yang panjang diriwayatkan pertanyaan malaikat terhadap mayat dalam kubur orang mukmin:…. Kata Nabi, lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya ‘Siapa Tuhanmu’. Ia menjawab ‘tuhanku Allah’. Tanya keduanya “Apa agamamu?”agamu Islam.” Jawabnya. Keduanya bertanya “Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini? Si mayit menjawab “Oh, dia Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.” Keduanya bertanya “darimana kamu tahu? Ia menjawab “Aku membaca kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya.” Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil “HambaKu benar, hamparkanlah surga baginya dan berilah pakain surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga, Kata Nabi, maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang… (HR Ahmad, Abu daud dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani).

Kepada mayat kafir ditanya pula dalam kubur:

“…Maka rohnya dikembalikan dalam jasadnya. Kedua malaikat lantas mendatanginya dan mendudukkannya dan menginterogasi “Siapa tuhanmu? ia menajwab “Bbbp,, saya tidak tahu? Kedua malaikat itu bertanya lagi “Apa agamamu? Ia menjawab “Bbbppp,, saya tidak tahu?? kedua malaikat bertanya lagi “bagaimana tanggapanmu mengenai laki-laki ini yang diutus untuk kalian? Si mayit menjawab; “,, saya tidak tahu? Lantas ada Penyeru langit memanggil-manggil “ia betul-betul telah dusta! hamparkan baginya neraka! Maka malaikat membuka pintu neraka baginya dan ia mendatanginya dengan segala panasnya dan letupannya. Sedang kuburannya menjepitnya hingga tulang-tulangnya remuk. Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang wajahnya menyeramkan, pakainnya lusuh, baunya busuk dan berujar; “Bergembiralah engkau dengan segala hal yang menyusahkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan bagimu. Lantas si malaikat bertanya ” Siapa kamu dengan wajahmu yang sedemikian menyeramkan dan membawa keburukan ini? Lantas si laki-laki menjawab ‘; “aku adalah amalan jahatmu, dan ia berdoa ” ya rabb,. Jangan kiamat kau jadikan sekarang!.” (HR Ahmad, Abu daud dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani).

Keyakinan-keyakinan mengenai hal ghaib, tentang ruh, alam kubur, akherat, surga, neraka, malaikat dan lebih-lebih tentang Allah Ta’ala; wajib berdasarkan dalil yang shahih (benar) yaitu ayat dan hadits yang shahih.

Kepercayaan yang berdasarkan celotehan dukun, adat istiadat, perkataan nenek moyang yang tidak berdasarkan dalil yang shahih wajib ditolak. Bila tidak, maka sangat berbahaya. Sebab akan jatuh kepada rusaknya keimanan, bahkan bisa jadi sampai mengeluarkan dari Islam. Makanya kita wajib berhati-hati dan berlandaskan ilmu, yakni Al-Qur’an dan As-sunnah yang shahih dengan pemahaman yang benar pula. (haji/tede)

  • retno a.

    wiis,kyknya ku pernah lihat deh tuh critanya.meneegangkan banget