Anak-anak pun Bejat Moralnya Akibat Menonton yang Porno

Anak-anak pun Bejat Moralnya Akibat Menonton yang Porno

Indonesia Tega, Anak-anak pun Terseret ke Pornografi

– Sudah lama dikeluhkan masyarakat, penanganannya belum tampak serius

– Keluhan dan keprihatinan masyarakat yang sudah berlama-lama disikapi dengan seolah tutup mata.

– Televisi, media-media perusak moral mengusung artis-artis dan pelaku akhlaq bejat

– Disinyalir, siaran televisi Indonesia paling buruk di dunia Islam

Inilah berita-berita dan tulisan mengenai data dan fakta kebejatan moral anak-anak akibat kelalaian banyak pihak:

Astagfirullah! Usai Nonton Video ‘Ariel’ Siswa SD & SMP Cabuli Anak SD

SURABAYA (voa-islam.com) – Kerusakan moral bangsa akibat peredaran video porno yang dilakukan oleh orang yang diduga Ariel, Luna Maya dan Cut Tari sudah terbukti. Usai menonton video adegan mesum ketiga orang tersebut, dua orang siswa SD dan SMP ramai-ramai mencabuli siswi SD.

Usia boleh kekanak-kanakan, tapi nafsu binatang kedua bocah ingusan ini sudah terlalu dewasa setelah menonton video zina ‘Ariel-Luna-Cut Tari.’ Dua bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan SMP tega mencabuli siswi SD. Keduanya pun ditangkap petugas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polwiltabes Surabaya.

Kedua tersangka bocah itu bernama Robbi (14) dan Roni (10) warga Benowo, Surabaya. Sementara korbannya kita panggil saja Sari (9) siswi kelas 3 SD yang juga tinggal di Benowo.

“Tersangka Roni ini masih duduk di bangku kelas 5 SD, sedangkan Robbi sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Kedua tersangka ini melakukan pencabulan usai melihat video porno di internet,” ujar Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya AKBP Anom Wibowo, Sabtu (19/6/2010).

…Usia boleh kekanak-kanakan, tapi nafsu binatang kedua bocah ingusan ini sudah terlalu dewasa setelah menonton video zina ‘Ariel-Luna-Cut Tari’…

Anom mengungkapkan pencabulan tersebut berawal ketika Robbi melihat video porno di sebuah warnet di Malang.

“Setelah itu, Robbi ini main ke Surabaya dan mengajak Roni serta korban bermain di sebuah kosong,” terang Anom.

Nah di rumah kosong itulah, tersangka Robbi mengajak korban bermain anak-anakan. Sementara Roni disuruh berjaga di depan pintu.

Selanjutnya di dalam rumah kosong itu, tersangka Robbi membuka baju dan celana dalam korban. Begitu juga dengan tersangka yang juga dalam keadaan telanjang.

Setelah itu tersangka Robbi merangkul dan menciumi tubuh korban. Tak puas, tersangka Robbi memasukkan alat kemaluannya ke alat kemaluan korban. “Perbuatan cabul yang dilakukan tersangka Robbi ini sudah dilakukan sebanyak 5 kali,” kata mantan Kasat Pidum Polda Jatim ini.

Rupanya perbuatan cabul yang dilakukan Robbi membuat tersangka Roni tergiur untuk ikut mencabuli korban. “Tersangka Roni mengancam kepada korban bila tak menuruti keinginannya akan melaporkan ke orangtuanya. Karena ketakutan korban akhirnya dicabuli oleh tersangka Roni,” jelas Anom.

Tersangka Roni mencabuli korban di sebuah pos kamling. Hanya saja tersangka Roni ini tak memasukkan alat kemaluannya ke kemaluan korban. “Tersangka Roni ini melakukan oral seks. Dia menyuruh korban untuk mengulum alat kemaluannya,” tutur Anom.

Kedua bocah ini tertangkap setelah korban melapor ke orangtuanya. Tentu saja kedua orangtua korban tak terima dan melapor ke Polwiltabes Surabaya.

Tanpa kesulitan, petugas menangkap kedua bocah ini di rumahnya masing-masing. Karena masih di bawah umur, kedua tersangka ini tak dijebloskan ke tahanan.

…Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh dan Bogor menuntut ketiga artis pelaku video zina itu dihukum rajam…

Maraknya kejahatan moral dan seksual yang dilakukan anak bangsa akibat pengaruh video zina yang diduga dilakukan oleh artis Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, membuat geram ulama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Aceh dan Bogor menuntut ketiga artis pelaku video zina itu dihukum rajam. Tak hanya hukuman rajam, para ulama dari berbagai daerah di tanah air juga menuntut agar pelaku video zina tersebut diboikot dan dicekal. [taz/beritajatim]

Sumber: voa-islam.com, Sabtu, 19 Jun 2010.

Orang kadang masih berkilah bahwa belum tentu gambar porno mempengaruhi perilaku anak. Lebih aneh lagi, pernah pengelola program televisi diingatkan agar menghindari materi yang nyerempet-nyerempet porno malah berkilah bahwa itu memasung kreativitas, dan belum ada bukti pengaruhnya. Suara yang berkilah itu perlu disuguhi bukti seperti ini:

Tirukan Film Porno, Siswa SD Cabuli Temannya

Wiwik Susilo

14/12/2009 16:44

Liputan6.com, Klaten: Seorang anak sekolah dasar di Klaten, Jawa Tengah, diduga mencabuli temannya hanya karena sering nonton film porno. Pencabulan sesama anak di bawah umur ini dilakukan sebanyak empat kali di kamar mandi sebuah rumah kosong.

Kepada petugas, pelaku berinisial BE mengaku, Senin (14/12), tergoda melakukan pencabulan karena sering diajak nonton film porno oleh remaja tetangganya. Tak hanya nonton film porno, BE pun dipengaruhi oleh tetangganya itu supaya mau melakukan hal serupa di film tersebut.

BE pun mencoba merayu teman sekolahnya yaitu DA yang masih duduk di kelas empat. Dengan iming-iming uang Rp 1.000, DA diajak berhubungan intim layaknya suami istri. Meski perbuatan tak layak ini dilakukan empat kali, BE hanya sekali memberi Rp 1.000 kepada DA.

Selain harus menghabiskan waktunya di tahanan Markas Kepolisian Resor Klaten, BE harus berhadapan dengan tuduhan melanggar pasal 81 subsider 82 UU Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya adalah maksimal penjara selama 15 tahun.(JUM/YUS)

Sumber: Liputan6.com

Ketika warnet didatangi petugas jam satu malam ternyata yang terjadi seperti ini:

KASUS VIDEO PORNO

Bayangkan, Murid SD Buka Situs Porno…

Senin, 14 Juni 2010 | 09:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang murid sekolah dasar tertangkap basah tengah membuka situs porno di sebuah warunginternet (warnet) di Depok.

Bayangkan, anak SD ada di warnet jam satu dini hari.

Tingkah murid SD itu diketahui ketika petugas Polsektro Pancoran Mas, Kota Depok, melakukan razia di sejumlah warnet di kawasan Pancoran Mas, Minggu (13/6/2010) dini hari.

Dalam razia yang dilakukan di 10 warnet, belasan murid SD tertangkap basah sedang berada di warnet pada dini hari dan seorang di antaranya sedang membuka situs porno. Selain mereka, sejumlah remaja yang tengah membuka situs porno juga tertangkap basah.

Para remaja dan anak-anak itu kemudian didata dan diberikan pengarahan. Khusus untuk para pelajar SD, mereka dilepaskan setelah diberikan pengarahan dan orangtua mereka datang menjemput.

“Kami menangkap basah seorang pelajar SD sedang membuka situs porno. Ini perhatian bagi semua orangtua agar mengawasi dengan ketat anak-anaknya. Perkembangan teknologi mau tidak mau juga memengaruhi anak. Coba bayangkan, anak SD ada di warnet jam satu dini hari,” kata Kepala Polsektro Pancoran Mas Ajun Komisaris Ana Rohana, Minggu (13/6/2010) siang.

Menurut Rohana, pelajar SD yang tertangkap basah itu mengaku sudah sering membuka situs porno. Dia diberi tahu temannya bagaimana cara membuka situs sejenis itu.

“Awalnya kami mendapat informasi bahwa sejumlah warnet melayani murid SD pada dini hari. Karena itu, kami melakukan razia,” katanya.

Dikatakan Ana, pihaknya telah memerintahkan para pengelola warnet untuk tidak menerima pelajar SD pada malam hari dan tidak buka hingga 24 jam. Para pemilik warnet juga diminta memblokir situs porno.

Selain merazia warnet, Polsektro Pancoran Mas juga melakukan razia minuman keras. (dod)

Editor: hertanto   |

Sumber : Warta Kota

Orang mungkin masih berkilah bahwa anak SD sampai nonton gambar porno di internet jam satu malam itu belum bisa dianggap sebagai contoh bahwa anak-anak banyak yang begitu. Kilah seperti itu perlu diberi bukti dari penelitian bahwa sebenarnya sudah lama terjadi, anak-anak gemar bahkan saling menyebarkan gambar porno. Ini hasil penelusuran dan faktanya:

· Duh… Pornografi Anak di Kalsel Memprihatinkan

Jumat, 12 September 2008 | 23:24 WIB

· *BANJARMASIN, JUMAT*–Aksi pornografi yang dilakukan anak-anak di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) saat ini sudah pada tingkat sangat memprihatinkan, dengan kecenderungan terjadi peningkatan.

· Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) Kalsel, Jumri,S.Ag di Banjarmasin, Jum’at mengungkapkan hasil penelusuran yang dilakukan KPAID Kalsel selama ini ditemukan fakta 75 persen lebih pelecehan seksual yang dilakukan anak-anak dengan anak-anak, maupun orang dewasa dengan anak-anak akibat tontonan pornografi. Dari tontonan dan bacaan pornografi tersebut, akhirnya anak-anak pun meniru untuk melakukan hal yang sama. Dicontohkan, aksi sodomi yang dilakukan antara anak-anak beberapa waktu lalu, juga disebabkan karena kebiasaan mereka menonton dan membaca hal-hal yang berbau pornografi.

· Selain itu aksi pemerkosaan yang juga dilakukan anak-anak SMP terhadap teman sekolahnya juga disebabkan karena mereka sering menonton hal-hal yang pornografi. “Masih banyak kasus-kasus pelecehan seksual lainnya yang terjadi di kalangan anak-anak yang disebabkan karena tontonan yang berbau pornografi,” ucapnya.

· Kondisi tersebut sangat memprihatinkan bagi kelangsungan mental generasi muda di Banjarmasin khususnya dan Kalsel umumnya. Untuk itu KPID Kalsel meminta agar lembaga maupun instansi terkait, lebih serius untuk melakukan razia atau pemberantasan terhadap tontonan maupun bacaan yang tidak layak bagi anak-anak. (ANT/KOMPAS.com)

Murid SMP di daerah saja sudah sampai 91% yang terkena kegemaran gambar porno. Itu hasil penelitian di suatu daerah. Inilah beritanya:

Walah…91 Persen Pelajar SMP Di Mataram Suka Gambar Porno

Selasa,16 Juni 2009 | 19:57 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram: Penelitian masalah pornografi di Mataram, Nusa

Tenggara Barat, mengungkapkan bahwa pornografi sangat dekat dengan kehidupan

anak sekolah. Demam pornografi menjalar kesemua jenis kelamin dan antartingkatan

kelas sosial. Media yang paling sering digunakan adalah melihat gambar syur

melalui telepon genggam (handphone).

‘’Ternyata pemahaman siswa terhadap materi pornografi di Kota Mataram tidak

banyak berbeda dari kota yang memproduksi gambar pornografi seperti Swedia dan

Hong Kong,” ungkap Ani Mariani, guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 7 Mataram

yang juga dosen Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Mataram.

Ani bersama dosen Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan

Universitas Mataram Imam Bachtiar, melakukan penelitian itu. “Ini memang

mengejutkan,” kata Imam kepada Tempo, Selasa (16/6).

Sebelum penelitian dilakukan, bahwa VCD/DVD menjadi media utama penyebaran

pornografi. Ini karena cakram padat itu mudah diperoleh di pasar. Harga VCD/DVD

bajakan yang berisi pornografi sangat murah, jauh lebih murah dibandingkan

dengan harga majalah porno. “Sekarang telepon seluler memiliki keunggulan yang

jauh lebih baik dibanding cakram padat.”

Alasannya, menurut Ani dan Imam, penikmat pornografi menyukai media yang mudah

diakses dan mudah dinikmati secara pribadi. Telepon seluler menyediakan keduanya.

Ketika siswa sedang menikmati pornografi di telepon seluler, umumnya orangtua

tidak menaruh curiga.

Penelitian dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner pada siswa kelas

7-9 di empat SMP negeri di Kota Mataram. Jumlah siswa yang dilibatkan 36 kelas

atau 1.415 siswa. Hasilnya, sekitar 91 persen siswa mengaku melek pornografi.

Siswa laki-laki lebih cepat dan lebih banyak berinteraksi dengan gambar porno

ketimbang siswa perempuan.

Imam menjelaskan, di Hong Kong pornografi lebih banyak dinikmati melalui

Internet. Ini karena Internet di sana mudah diakses. Di Indonesia akses terhadap

Internet sebagian besar masih bersifat umum dan harus membayar.

Solusi yang ditawarkan peneliti, adanya pengendalian terhadap kecanggihan

pemakaian telepon seluler terhadap siswa SMP. Handphone yang memiliki kemampuan

MMS dan berkamera rentan terhadap pendedahan gambar pornografi. Dengan

kecanggihan teknologi seluler, siswa SMP dapat dengan mudah saling bertukar

materi pornografi.

Semakin tinggi tingkatan kelas siswa, kian banyak pula mereka terasuki materi

pornografi. Kelas 7 merupakan usia yang paling rawan, di mana sebagian besar

mereka pertama kali mengenal gambar porno. Hanya, penelitian ini tidak sampai

menemukan pengaruh pornografi terhadap siswa yang disurvei. Apakah mereka

memiliki perilaku permisif atau sebaliknya.

Sumber: TEMPO Interaktif

Bahkan anak-anak SD pun 66 persen dari mereka sudah terkena arus menonton materi porno, bukan baru sekarang tetapi sudah tahun 2008 lalu. Inilah beritanya:

66 Persen Siswa SD Jabodetabek 2008 Telah Menyaksikan Pornografi

Tuesday, 03 March 2009 09:39

**/Temuan Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas 4-6 SD di

Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, pernah menyaksikan materi seks /

*/Hidayatullah.com–/*Pernyataan ini disampaikan Ketua Pelaksana

Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Jangan BugilRisman, dalam seminar

bertema Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan

Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia, Senin

(2/3), di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta.

“Banyak orang tua tidak tahu harus berbuat apa ketika anaknya mogok

sekolah, mulai kelas lima sekolah dasar sampai sekolah menengah atas

karena main games, tak henti-hentinya,” kata Elly Risman menegaskan.

Hampir tiap hari ada saja berita tentang anak dan remaja berbuat mesum

dan foto bugil yang ditayangkan di televisi maupun dinikmati rekan

sebaya mereka.

Dalam Pertemuan Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625

siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta Bogor, Depok, Tangerang,

Bekasi, tahun 2008 terungkap, 66 persen dari mereka telah menyaksikan

materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya

lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14

persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler,

majalah dan koran.

Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27

persen), terbawa teman (10 persen), takut dibilang kuper (4 persen).

Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar

pribadi (36 persen), rumah teman (12 persen), warung internet (18

persen), rental (3 persen).

“Kalau kita jumlahkan yang melihat di kamar pribadi dan di rumah teman,

berarti satu dari dua anak melihatnya di rumah sendiri,” ujarnya.

Sementara hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak

terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 lalu

menunjukkan, sebanyak 97 persen dari responden pernah menonton film

porno, sebanyak 93,7 persen pernah ciuman, petting, dan oral seks, serta

62,7 persen remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama pernah

berhubungan intim, dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah

menggugurkan kandungan.

Kondisi ini terjadi karena mereka sudah terpapar pada pornografi sejak

belia, kata Elly menegaskan. Dari pertemuan Yayasan Kita dan Buah Hati

dengan puluhan ribu orang tua di 28 provinsi ketika seminar, pihaknya

menemukan rata-rata hanya 10 persen dari para orang tua yang bisa

menggunakan peralatan atau permainan canggih yang mereka belikan untuk

anak-anak mereka.

Apalagi belakangan ini banyak situs internet dengan nama yang tidak

terkait dengan materi seks ternyata mengandung materi pornografi.

Beberapa dari situs itu bahkan menggunakan nama tokoh kartun yang

digemari anak-anak seperti Naruto, serta memakai istilah nama hewan

seperti lalat atau nyamuk yang biasanya dibuka anak-anak itu ketika

mengerjakan tugas sekolah.

Mereka umumnya tidak tahu dampak negatif video terhadap kerusakan otak

anak. “Kita berada dalam kultur abai pada anak sendiri. Di sisi lain,

kita semua belum menganggap bencana pornografi itu sama pentingnya

dengan masalah flu burung, HIV/AIDS, narkoba, dan penyakit-penyakit

menular lainnya,” ujarnya menambahkan.

Maka dari itu, ia mengajak agar para orang tua lebih terlibat dalam

pengasuhan anak-anak mereka sejak belia baik ayah maupun ibu. Kurangnya

peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak

lelaki, mengakibatkan terputusnya jembatan komunikasi antara orang tua

dan anak. Hal ini membuat banyak anak memilih mencari informasi dari

luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi.

Pemerintah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran materi

pornografi. “Antara lain dengan membatasi atau memblokir situs-situs

internet pornografi, menerapkan regulasi yang ketat terhadap video games

terutama yang mengandung materi tidak edukatif atau berbau pornografi,”

kata Elly menegaskan.

[kcm/www.hidayatullah.com </>]

===============

Untuk mengingatkan kembali bahwa selama ini Indonesia memang tega menyeret anak-anak ke pornografi, ini kami angkat kembali artikel berikut ini:

Indonesia Tega, Anak-anak pun Diseret ke Pornografi?!

5:05 am Artikel

Tayangan televisi kita memang sudah sering dinilai sarat pornografi. Bahkan di bulan Ramadhan sekalipun. Dalam bulan Ramadhan tahun lalu, misalnya, Depkominfo pernah membeberkan, terdapat sejumlah 114 adegan per hari yang ditayangkan tv swasta kita berisi adegan-adegan porno ataupun mistik. Padahal itu di bulan Ramadhan. (http://berita8.com/news.php?tgl=2008-09-13&cat=2&id=4389)

Menurut catatan Masnah, pada tahun 2006 didapati seorang murid kelas enam SD hamil akibat diperkosa kerabatnya sendiri yang seumuran. Di tempat lain, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia lima tahun. Kejadian tragis itu menurut Masnah, dipicu oleh makin tidak terkontrolnya tayangan, gambar, dan produk-produk pornografi lain yang beredar dan kemudian ditonton oleh anak-anak sejak usia dini.

Di tahun 2009, kualitas pornografi yang berkaitan dengan anak-nak semakin meningkat. Menurut Roy Suryo, pakar telematika, di Indonesia penyebaran video porno anak semakin merebak. Dalam satu pekan, menurut cacatan Roy, terbit empat video porno anak yang paling baru.

DALAM kaitan dengan pornografi, anak-anak sebenarnya sudah sering menjadi korban orang yang mau enak sendiri sehinga pura-pura tidak bisa membedakan antara seni dan pornogafi. Melalui tayangan iklan, foto-foto yang katanya artistik, tabloid dan majalah dewasa yang dipajang di tempat penjualan koran kaki lima, berbagai acara teve, dan sebagainya.

Bukan cuma itu, di tahun 2008 pernah ditemukan materi pornografi di dalam VCD anak-anak. Hal ini terjadi di Solo, Jawa Tengah. Andrea, siswa kelas 5 sebuah sekolah dasar di Solo, memang gemar menonton aksi Power Rangers (film dengan pelaku pakai topeng). Oleh karena itu, suatu hari ia membeli VCD Power Rangers di salah satu pertokoan (mall) di bilangan jalan Slamet Riyadi. Andrea ketika itu ditemani ibunya, Margaretha.

Sepulang dari sana, Andrea pun menonton VCD yang baru dibelinya dengan harga Rp 9.000 itu. Tanpa dinyana, pada menit ke 10 dari VCD tersebut terselip adegan film porno yang sangat vulgar dengan durasi sekitar 15 menit. Andrea shock. Ia nyaris tidak mampu berkata-kata. (http://www.indosiar.com/fokus/68232/video-anak-diselipi-adegan-porno)

Kemajuan teknologi informatika seperti internet dengan situs pornonya, telah membuat anak-anak di bawah umur sudah kenal pornografi sejak dini. Menurut pengalaman Nery, pengelola warnet Bahri di Jalan Ulin Samarinda, Kalimantan Timur, sebagian besar siswa Sekolah Dasar (SD) yang datang ke warnet untuk membuka situs porno.

Sebagai pengelola Warnet, Nery sudah megupayakan untuk memblokir situs-situs porno melalui servernya. Namun ada situs-situs tertentu yang ia tidak ketahui tetapi pengunjung sudah lebih tahu.

Pengalaman yang hampir sama juga terjadi pada Ruli, pengelola warnet Cendana, di Samarinda. Menurut Ruli, pengunjung yang sering membuka situs porno didominasi siswa SD dan SMP; sedangkan siswa SMA yang mengunjungi warnetnya, kebanyakan buka friendster. (http://balitasayang.wordpress.com/2009/01/28/situs-porno-banyak-diakses-pelajar-sd/)

Ada yang lebih parah lagi, yaitu anak-anak dijadikan model bagi jutaan situs porno. Menurut Masnah Sari dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), dari sekitar 4,2 juta website porno yang beredar di seluruh dunia, sebanyak 100.000 website diantaranya menjadikan anak-anak berusia di bawah 18 tahun sebagai modelnya. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar diantaranya ditengarai adalah anak-anak Indonesia. Data yang dikutip Masnah tersebut merupakan hasil survey di tahun 2006 yang diselenggarakan oleh To Ten Review.

Gambar-gambar yang ditampilkan dalam website dengan model anak-anak itu, tidak hanya mempertontonkan sosok anak-anak dalam keadaan telanjang, tetapi sejumlah gambar di antaranya menyuguhkan adegan hubungan seksual antara orang dewasa dengan anak-anak (paedofilia).

Anak-anak dari kalangan usia sekolah dasar mudah dijerumuskan menjadi objek pornografi atau korban pedofilia. Cukup bermodalkan sejumput permen dan sedikit uang, anak-anak itu sudah bisa digarap. Hal ini banyak terjadi di Bali, Jakarta dan Tangerang. Bahkan, menurut Masnah, kalangan anak-anak tertentu kini dengan mudah menjalankan perilaku seksual layaknya orang dewasa atas kemauan sendiri, dengan menjadikan teman sekolah, teman bermain dan sebagainya sebagai partner seksnya.

Menurut catatan Masnah, pada tahun 2006 didapati seorang murid kelas enam SD hamil akibat diperkosa kerabatnya sendiri yang seumuran. Di tempat lain, tiga remaja di Ambon yang masih berusia di bawah 15 tahun, terpaksa divonis 4-10 bulan penjara karena telah memperkosa anak usia lima tahun. Kejadian tragis itu menurut Masnah, dipicu oleh makin tidak terkontrolnya tayangan, gambar, dan produk-produk pornografi lain yang beredar dan kemudian ditonton oleh anak-anak sejak usia dini.

Yayasan Kita dan Buah Hati sepanjang Januari-Desember 2007 pernah melakukan sebuah survei terhadap 1.705 siswa kelas 4, 5, dan 6 se-Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Hasilnya, media terbanyak yang dipakai untuk mengakses pornografi adalah games, disusul berikutnya komik, film/televisi, dan situs-situs di internet. (http://www.chip.co.id/internet-networking/100.000-website-porno-memakai-model-anak-anak.html)

Tayangan televisi kita memang sudah sering dinilai sarat pornografi. Bahkan di bulan Ramadhan sekalipun. Dalam bulan Ramadhan tahun lalu, misalnya, Depkominfo pernah membeberkan, terdapat sejumlah 114 adegan perhari yang ditayangkan tv swasta kita berisi adegan-adegan porno atau mistik. Padahal itu di bulan Ramadhan. (http://berita8.com/news.php?tgl=2008-09-13&cat=2&id=4389)

Di tahun 2008, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) pernah melakukan survei terhadap 1625 siswa kelas IV-VI SD di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Mereka menemukan data, sekitar 66 persen anak-anak usia 9-12 tahun telah menyaksikan materi pornografi, dari komik (24%), games (18%), situs porno (16%), film (14%) dan sisanya dari VCD/DVD, ponsel, majalah dan koran.

Sekitar 27 persen dari mereka, memperoleh materi pornografi tanpa sengaja (berawal dari iseng-iseng), sedangkan yang terpengaruh teman sekitar 10 persen. Dapat diartikan, materi pornografi sudah sedemikian tersedia, sehingga tanpa sengaja pun materi itu bisa dengan mudah diperoleh. Ironisnya lagi, sekitar 36 persen dari mereka, menikmati materi pornografi di rumah (kamar pribadi), sedangkan di rumah teman hanya 12 persen. Ini bisa diartikan, rumah telah menjadi tempat pertama bagi mereka memperoleh materi pornografi.

Penyebaran Pornografi Makin Merebak

Di tahun 2009, kualitas pornografi yang berkaitan dengan anak-nak semakin meningkat. Menurut Roy Suryo, pakar telematika, di Indonesia penyebaran video porno anak semakin merebak. Dalam satu pekan, menurut cacatan Roy, terbit empat video porno anak yang paling baru.

Fakta itu pernah diungkap Roy ketika menjadi saksi ahli di PN Serang, Banten, untuk memeriksa keabsahan gambar tarian striptease (telanjang) di ponsel yang dilakukan dua gadis SMP asal Kabupaten Lebak dan Cilegon. Keduanya merupakan penari striptease di sebuah tempat hiburan di kota itu.

Sekitar Januari 2009, kota Cilegon digegerkan oleh beredarnya video tarian telanjang yang dilakukan dua bar girl sebuah tempat hiburan, yang direkam oleh dua pria dewasa. Kedua pria dewasa itu bisa merekam adegan tari telanjang di atas meja karaoke itu, berkat bantuan seorang germo di tempat hiburan tersebut. Video berdurasi 1 menit 8 detik itu sempat beredar dari ponsel ke ponsel milik sejumlah warga Cilegon, sebelum akhirnya bermuara ke kantor polisi.

Dalam tayangan video tersebut, dua anak belasan tahun (usia mereka antara 15-16 tahun), menari telanjang tanpa sehelai benang, di atas meja pada sebuah ruangan. Keduanya menari bugil sambil diiringi alunan nada house music. Menurut informasi, kedua anak belasan itu merupakan warga Pandeglang yang nekad melakukan aksi tarian bugil seperti itu karena dibayar oleh dua orang lelaki tak dikenal yang menjadi pelanggan tempat hiburan tadi. Kejadian itu berlangsung sekitar pertengahan Januari 2009 lalu. Dan kedua penari telanjang tadi dibayar masing-masing sebesar Rp 500 ribu.

Kedua penari bugil itu dijerat pasal 34 Undang-undang RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, sedangkan sang germo dijerat pasal 34 Undang-undang RI No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi Jo pasal 88 Undang-undang RI No: 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Meski sudah ada Undang-undang Pornografi dan sebagainya, keberanian sejumlah orang menjadikan pornografi dan pornoaksi sebagai komoditas, boleh jadi karena selama ini mereka –para pelaku porografi dan pornoaksi– telah terbiasa berada dalam kondisi yang kondusif untuk menjajakan pornografi dan pornoaksi. Dengan demikian, yang diperlukan adalah sikap konsisten aparat penegak hukum di dalam memerangi pornografi dan pornoaksi, tanpa pandang bulu, siapapun pelakunya harus diproses melalui koridor hukum yang semestinya.

***

Pornografi dan pornoaksi telah merusak jutaan manusia, bahkan kelompok usia anak-anak pun jadi sasaran empuk. Secara kenyataan, kerusakan akibat meruyaknya pornografi dan pornoaksi kian hari kian bertambah. Sementara itu, penanganannya belum tampak sungguh-sungguh. Tidak seserius ketika menangani aksi terorisme. Padahal, jutaan manusia termasuk anak-anak telah menjadi korban. Jumlah korban pornografi dan pornoaksi, jauh lebih banyak dari korban terorisme.

Coba mari kita berfikir sejenak, kita buat perbandingan. Betapa jauhnya bila yang jadi korban itu bangunan fisik, seperti gedung atau hotel yang hanya rusak sebagian, sebagian mungkin hangus, namun tidak sampai roboh. Dan korban fisik berupa manusia (korban luka-luka) juga hanya sedikit. Tidak sampai ratusan apalagi jutaan. Namun, dalam penanganannya betapa serunya dalam mengerahkan tenaga untuk menguber dan membunuh seseorang atau sekelompok orang yang diduga sebagai pelakunya. Sampai-sampai ketika berhasil membunuh seseorang yang belum jelas identitasnya, puji-pujian sudah datang berhamburan.

Ungkapan ini sama sekali bukan mencela upaya gigih itu. Ini hanya sebagai perbandingan secara naluri akal sehat, karena begitu njomplangnya (tidak seimbangnya) dalam bersikap dan bertindak saat menghadapi perusakan bangsa.

Kenyataannya, selama ini kita tidak pernah mendengar atau menyaksikan sekelompok orang pelaku pornografi dan pornoaksi digrebek, dikepung, kemudian dihujani tembakan. Begitu juga dengan produsen narkoba dan antek-anteknya, tidak pernah disikapi sebagaimana pelaku terorisme. Padahal, terbukti korban yang mereka hasilkan jauh lebih besar, daya rusaknya pun jauh lebih dalam dan luas. Namun tidak kasat mata.

Dalam kasus terorisme pun, bila korbannya adalah pribumi Indonesia, apalagi bila pribumi itu adalah muslim, maka respon aparat dan masyarakat dunia tidak terlalu heboh. Perhatikan saja perbedaan antara Bom Bali pertama dan Bom Bali kedua. Respon masyarakat saat memperingati tragedi Bom Bali pertama lebih semarak dibanding Bom Bali kedua. Mungkin karena jumlah korban tewas yang terjadi pada tragedi Bom Bali Kedua ‘hanya’ 20 orang, itu pun sebagian besar orang Indonesia sendiri. Namun demikian, masih mending bila dibandingkan dengan kasus lain yang korbannya seratus persen orang Indonesia (mayoritasnya Muslim), sebagaimana terjadi pada kasus pembantaian di Tobelo (Desember 1999-Januari 2000), dan pembantaian di Pesantren Walisongo yang terjadi pada 28 Mei 2000 (lihat tulisan berjudul Memperingati Tragedi Bom Bali, Pembantaian Muslimin di Tobelo-Galela dan Pesantren Walisongo di nahimunkar.com edisi October 19, 2008 10:27 pm).

Kasus Tobelo (Halmahera) terjadi pada 27 Desember 1999, saat warga desa sedang menjalankan ibadah puasa. Tanpa diduga sebelumnya, ribuan masa kristen yang berasal dari desa tetangga (antara lain, Telaga Paca, Tobe, Tomaholu, Yaro, dan lain-lain) menyerang desa Togoliwa di saat subuh. Akibat serangan mendadak tersebut ribuan warga muslim di desa tersebut menemui ajal. Kebanyakan dari mereka terbunuh saat berlindung di masjid. (Ambon, Laskarjihad.or.id 16 03 2001).

Rabu, 29 Desember 1999, di Mesjid Al Ikhlas (Kompleks Pam) tempat diungsikanya para ibu dan anak-anak, terjadi pembantaian terhadap sekitar 400 (empat ratus) jiwa. Menurut penuturan saksi mata, ada korban yang sempat jatuh dicincang dan dijejerkan kepala mereka di ruas jalan. Ada juga beberapa wanita yang dibawa ke Desa Tobe (sekitar 9 KM ) dari Desa Togoliwa, kemudian dikembalikan dalam keadaan telanjang. Modus operasi yang dilakukan oleh kelompok merah mula-mula melakukan pemboman kemudian dilanjutkan dengan pembakaran, sehingga tidak ada satu pun yang lolos dari sasaran mereka.

Menurut sebuah sumber, total korban di Tobelo dan Galela mencapai 3000 jiwa, 2800 di antaranya Muslim. Namun demikian, angka yang diakui Max Marcus Tamaela yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Pattimura adalah 771 jiwa.

Sedangkan tragedi pembantaian terhadap ratusan warga Pesantren Walisongo, terjadi pada hari Minggu tanggal 28 Mei 2000. Tragedi ini merupakan rangkaian dari kekejaman serial yang terjadi di Poso yang sudah terjadi sejak 25 Desember 1998 (di saat-saat umat Islam sedang menjalankan ibadah Shaum Ramadhan 1419 H).

Menurut laporan hidayatullah.com ketika itu puluhan warga Pesantren Walisongo dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat: ada yang bertiga, berlima, berenam atau berdelapan orang per kelompok. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan. Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segar pun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai. Demikian laporan hidayatullah.com tentang tragedi pembantaian di Pesantren Walisongo.

Dengan pemandangan yang njomplang seperti itu, yakni kalau tindakan merusak itu merusak jiwa manusia sampai sehancur-hancurnya pun, seperti meracuni dengan pornografi-pornoaksi hingga menghancurkan manusia sampai tingkat anak-anak sekalipun, bahkan jumlahnya sampai berjuta-juta pun, maka tidak ada greget untuk memberantasnya, kecuali ala kadarnya. Bahkan terkesan bukan merupakan pekerjaan yang perlu dikerjakan. Misalnya ketika aparat merazia tempat kos-kosan, kemudian berhasil memergoki sekian banyak pasangan yang tertangkap basah sedang melakukan perzinaan, pelakunya dilepas begitu saja tanpa banyak persoalan. Yang diberitakan justru bahwa razia itu dilakukan dalam rangka memberantas penyalahgunaan narkoba, atau menertibkan KTP (kartu tanda penduduk), misalnya. Weleh, weleeh… seakan-akan tidak punya atau belum memegang KTP lebih berdosa dibandng zina dan merusak moral anak manusia?

Lebih dari itu, justru rusaknya moral sebagian orang-orang yang sebenarnya di pundak mereka sebagai orang yang bertanggung jawab tentang moral, seringkali lebih parah. Sehingga walaupun Undang-undang pornografi telah disahkan, namun justru pornografi dan pornoaksi kian merajalela dan merusak masyarakat.

Ketika keadaannya seperti itu, bila tidak ada perbaikan cara pandang dan kebijakan, maka dapat diperkirakan, memang Indonesia ini tega dan lego lilo (ridho) menyeret bangsanya sampai anak-anak sekalipun, ke jurang nista, maksiat, hancurnya moral, yang sangat dimurkai Allah Ta’ala. Itupun masih diliputi rasa bangga atas dosa dan pelanggaran itu, misalnya diadakanlah kontes ratu-ratuan, dan kemudian dikirimkanlah wanita untuk ikut kontes ratu-ratuan ke luar negeri dengan jelas-jelas mereka berlaga dengan telanjang. Ketika datang lagi ke Indonesia bukannya ditindak sebagai penghancur moral, tetapi dielu-elukan. Bah! Memang para pendukung program syetan telah merajalela!

Ketika keadaannya demikian, maka takutlah kepada janji dan ancaman Allah, wahai saudara-saudaraku:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu desa maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

Mumpung sekarang masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan dan bertaubat, maka marilah kita perbaiki keadaan ini, dan bertaubat dari segala dosa serta tidak mengulanginya. Kasihanilah diri-diri kita dan anak-anak negeri ini, sebelum orang lain akan mencibir dengan ungkapan yang menyakitkan: kasihan deh Lu! Sudah utangnya makin menumpuk, moralnya pun hancur lagi. (haji/tede) (nahimunkar.com)