AS Mengakhiri Perang Melawan Terorisme

Bagaimana Begundalnya?*

Ratusan ribu tentara AS depresi. Data terakhir mengungkapkan bahwa pengeluaran militer untuk membeli obat penyakit jiwa berjumlah $280 juta pada tahun 2010, dua kali lipat dari jumlah keseluruhan di tahun 2001.

Washington - Amerika Serikat nampaknya sudah kehilangan kemampuan menghadapi perang melawan al-Qaidah. Mereka mulai berpikir ulang, berperang melawan al-Qaidah tidak menguntungkan bagi masa depan Amerika Serikat, terkait dengan keamanan nasional negeri itu. Selain itu, Amerika Serikat yang sudah mengeluarkan dana triliunan dollar itu, sekarang mulai kehabisan energi dan kemampuan.
Pejabat Amerika Serikat secara resmi di depan publik meminta kepada pemerintah agar segera mengakhiri kampanye perang melawan terorisme secara global. Hal itu, dikemukakan seorang Jenderal di Pentagon, Johnson yang mengatakan hendaknya para pejabat Amerika Serikat harus bertanya kepada diri mereka sendiri, bagaimana mengakhiri konflik dengan al-Qaeda akan berakhir.
Kampanye militer Amerika Serikat melawan Al-Qaeda tidak harus dilihat sebagai konflik tanpa akhir, cetusnya. Jenderal Johnson yang menjadi kepala pengacara  Pentagon  mengatakan dalam sebuah pidato yang sangat dramatis, dan menyinggung subjek yang jarang dibahas di kalangan pejabat Amerika Serikat.

Pejabat Pentagon, Jenderal Jeh Johnson merupakan pertama kalinya seorang pejabat senior Amerika Serikat secara terbuka mengatakan kemungkinan Washington mengakhiri apa yang disebut “perang melawan teror,” yang dilancarkan oleh mantan Presiden George W Bush pasca serangan 9 / 11 terhadap Gedung WTC di New York dan Washington.

Pernyataan Johnson itu menegaskan perlunya Amerika Serikat segera mengakhiri kampanye perang melawan terorisme secara global, termasuk penahanan orang-orang yang dituduh melakukan aksi terorisme di Guantanamo, yang dilandasi keputusan hukum yang jelas. Kampanye anti terorisme justerus akan membahayakan bagi masa depan dan kepentingan Amerika Serikat secara global.

Johnson juga mengkritik terhadap kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menggunakan pesawat tanpa awak (drone) di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan, justeru memperluas dukungan terhadap kekuatan al-Qaidah di seluruh dunia Islam.

Bahkan, sekarang ada kecenderungan kekuatan al-Qaidah bukan semakin berkurang, tetapi pengaruhnya semakin kuat di setiap negara Islam; bersamaan terjadinya perubahan politik di negara-negara Islam secara luas. Jika ini terus dilakukan oleh Amerika Serikat, pasti akan membahayakan kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya. Sekarang Amerika Serikat sudah kehilangan sekutu utama di Timur Tengah, sejak berlangsungnya Arab Spring (Revolusi Arab).

Pernyataan Johnson, yang dirilis oleh Pentagon, bisa memicu perdebatan politik global dengan berbagai argumen yang pasti akan mendorong perubahan kebijakan, yang tidak mungkin lagi dapat dihindari. Amerika Serikat dan sekutunya, seperti Uni Eropa, sangat memahami arti perubahan di dunia Islam sekarang ini. Di mana sudah dapat dipastikan tidak akan mempunyai tempat lagi bagi Amerika dan Uni Eropa, bila tidak bersedia melakukan perubahan, khususnya kampanye yang bersifat latent melawan terorisme.

“Sekarang upaya militer Amerika Serikat melawan Al-Qaeda berada di tahun ke-12, dan kita juga harus bertanya kepada diri sendiri: “Bagaimana ini konflik akan berakhir ” kata Johnson, yang penasehat keamanan  Presiden AS Barack Obama. Johnson menyampaikan pernyataan di Oxford seperti yang disiapkan, kata seorang jurubicara.

Johnson telah disebutkan seorang jenderal yang menjadi pengacara militer  Amerika Serikat, melihat kemungkinan perubahan kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Barack Obama.

Sebuah “perang terbuka”  melawan terorisme itu  telah menjadi ciri apa yang sebagai “genocide” oleh Presiden George W. Bush, dan dimulai sejak serangan 11 September yang menghancurkan World Trade Center New York, merusak Pentagon dan menewaskan 3.000 orang. Kemudian, Presiden Bush membalas dengan melakukan invasi ke Afghanistan dan Irak, yang sangat menghancurkan. Tetapi, tidak menghasilkan apapun bagi Amerika Serikat, kecuali kebangkrutan ekonomi.

“Saya pikir suatu hari mereka akan kalah, tapi itu tidak akan terjadi setiap waktu dekat,” kata Senator Lindsey Graham, seorang Republikan, di Situs Huffington Post pekan ini. Jadi, Amerika Serikat akan pernah dapat mengalahkan para terorisme secara global. Justeru langkah dan kebijakan Amerika Serikat itu, semakin banyak orang ikut dalam kelompok teroris, dan ingin melawan Amerika Serikat.

Johnson adalah orang pertama dalam pemerintahan Obama yang secara  resmi mengatakan dengan jelas mengakhiri perang melawan terorisme, dan perang terhadap terorisme itu, tidak ada kaitannya dengan ideologi, kata Karen Greenberg, Direktur dari Pusat Keamanan Nasional di Fordham University di New York.

Amerika Serikat mulai berpikir ulang tentang perang melawan terorisme yang sudah kehabisan tenaga, lalu bagaimaa para begundalnya yang masih berkomat-kamit mengucapkan mantera pentingnya perang melawan terorisme seperti di Indonesia? Wallahu a’lam. (voa-islam.com) Sabtu, 01 Dec 2012

***

*be·gun·dal, kaki tangan penjahat dsb  (KBBI).

Ilustrasi foto arrhm

(nahimunkar.com)

email