Batak Kristen dan Konflik Horizontal

Batak Kristen dan Konflik Horizontal

KASUS tertusuknya Pendeta Luspida Simanjuntak dan penatua Hasian Sihombing dari HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) pada 12 September 2010 lalu, adalah salah satu peristiwa bernama konflik horizontal yang berkaitan dengan etnis Batak Kristen. Luspida Simanjuntak dan Hasian Sihombing adalah pemuka Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Bekasi, Jawa Barat.

Belasan tahun sebelumnya, pada konflik Poso yang sudah berlangsung sejak 25 Desember 1998, mencuat beberapa nama pemuka agama Batak Kristen dan tokoh Batak Kristen bernama Pendeta Renaldy Damanik dan Janis Simangunsong yang memprovokasi Tibo dan kawan-kawan untuk melakukan pembantaian di Pesantren Walisongo (28 Mei 2000). Tibo dan kawan-kawan akhirnya dihukum mati pada tanggal 22 September 2006, sedangkan tokoh-tokoh penting di belakangnya hingga kini tak tersentuh.

Keterkaitan etnis Batak Kristen di dalam konflik horizontal, memang tidak selalu berujung pada tragedi berdarah. Ada kalanya masih berupa potensi yang tentu saja mengkhawatirkan, seperti melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dilakukan salah seorang etnis Batak Kristen dengan menerbitkan komik digital.

Sekitar pertengahan November 2008, di situs www.lapotuak.wordpress.com sempat tayang komik berbahasa Indonesia dengan judul Muhammad dan Zainab serta Kartun Sex Muhammad dengan Budak. Komik penghinaan itu sudah tayang sejak 12 November 2008, namun baru membuat heboh sekitar sepekan kemudian.

Pada komik itu Nabi Muhamad SAW digambarkan sebagai laki-laki brewokan. Sedangkan Zainab dan Mariah ditampilkan dengan pakaian yang menggoda bahkan ada yang telanjang. Tidak sekedar memvisualisasikan sosok, komik itu juga mengkutip beberapa ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits, namun dengan penafsiran versinya sendiri yang tentu saja sangat menyesatkan.

Dari nama blog dan sejumlah tulisan yang pernah ditayangkan blog tersebut, sudah bisa diduga bahwa blog itu dibuat oleh etnis Batak, khususnya Batak Karo beragama Kristen yang sudah terpengaruh Yudaisme (Yahudi). Kesan ini semakin kuat setelah membaca artikel berjudul Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang yang ditayangkan sejak 11 Januari 2008.

Secara keseluruhan, isi situs yang sudah eksis sejak 05 Desember 2007 itu memang melecehkan agama Islam dan Nabi Muhammad SAW, seraya memposisikan agama Islam sebagai agama yang tidak benar. Antara lain, sebagaimana bisa dibaca melalui tulisan berjudul Agama Benar vs Agama Tidak Benar yang tayang pada 28 April 2008.

Setelah ramai diperbincangkan, akhirnya situs tersebut hilang dari peredaran. Bahkan, hingga kini perjalanan kasus penghinaan tersebut tidak pernah sampai pada ujung jalan yang terang, namun tetap gelap dan beku. Selain itu, tidak pernah ada satu pun tokoh Batak Kristen yang minta maaf. Jangankan meminta maaf, mungkin merasa bersalah saja tidak. Bagi mereka, kemungkinan itu merupakan bagian dari perang suci.

Arogansi dan sok kuasa Batak Kristen semakin jelas terlihat pada kasus tewasnya Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara dari Partai Golkar, pada tanggal 3 Februari 2009. Saat itu, sekitar seribu lebih massa bayaran yang mengajukan tuntutan pembentukan Provinsi Tapanuli (memisahkan diri dari Provinsi Sumatera Utara), tidak sekedar berdemo di halaman kantor DPRD, namun merangsek masuk gedung sambil mengumbar caci maki dan sumpah serapah yang ditujukan kepada Abdul Aziz Angkat selaku Ketua DPRD Sumatera Utara, karena dianggap mengabaikan tuntutan.

Menurut Fadly Nurzal (anggota DPRD Komisi D), massa memaksakan diri masuk ke ruang sidang dua menit setelah sidang paripurna selesai. Mereka merangsek masuk dan menuntut agar rekomendasi pembentukan Provinsi Tapanuli segera diputuskan. Tapi pada saat itu agenda tidak membahasnya. Karena kecewa, massa mulai bertindak anarkis. Sejumlah anggota DPRD segera lari menyelamatkan diri melalui pintu samping. Namun, demonstran mengetahuinya dan menghadang mereka sambil melepaskan pukulan dan melempar batu beberapa kali. Pada saat itulah Abdul Aziz Angkat terkena pukulan dan tersungkur. Abdul Aziz Angkat kemudian diselamatkan ke ruang Fraksi Golkar dalam kondisi pingsan. Beberapa saat kemudian, ia sudah tidak bernyawa. Abdul Aziz Angkat pun langsung dibawa ke rumah sakit Gleneagles Medan. (http://www.surya.co.id/2009/02/03/saksi-abdul-azis-angkat-tewas-dikeroyok-demonstran/)

Dari kasus tesebut sejumlah tokoh Batak menjadi tersangka, yaitu Chandra Panggabean (Ketua Panitia Pemrakarsa Pembentukan Provinsi Tapanuli), Burhanuddin Rajagukguk, FM Datumira Simanjuntak, Viktor Siahaan, Gelmok Samosir, Parlis Sianturi. Karena Chandra Panggabean merupakan salah satu pemilik Universitas Sisingamangaraja XII, maka ia pun melibatkan sejumlah mahasiswanya. Di antaranya ada yang jadi tersangka, seperti Ganda Hutasoit, Dedi Nainggolan, Roy Sagala, Michael Johanes Sihite (Ketua Senat salah satu Universitas di Sumatera Utara), dan Ari Herianto Sitorus.

Kasus HKBP Bekasi

Rupanya sikap arogan dan sok kuasa Batak Kristen tidak hanya terjadi di pelataran politik kekuasaan, tetapi juga di domain agama. Terjadinya konflik horizontal antara warga dengan jemaat HKPB boleh jadi disebabkan oleh sikap tersebut.

Jemaat HKPB Pondok Timur Indah, Ciketing, Bekasi Timur, Jawa Barat terbentuk pada tahun 1990-an. Mereka melaksanakan kebaktian dari rumah ke rumah. Antara lain di rumah Olo Samosir di Jalan Puyuh Raya 14, RT 01 RW 15, Kelurahan Mustika Jaya, Bekasi.

Pada tahun 2004 mereka membeli lahan seluas 2.000 meter di RT 003/RW 06 Mustika Jaya, Bekasi. Menurut N. Sitorus, salah satu anggota Jemaat HKPB Pondok Timur Indah, mereka sudah memberi tahu warga sekitar bahwa tanah tersebut dibeli untuk didirikan gereja. Warga pun sudah memberi izin. Maka, dibuatlah gubuk-gubuk untuk ibadah. Namun, saat gubuk-gubuk itu belum sempat digunakan, sudah dihancurkan massa.

Akhirnya, kebaktian kembali berlangsung dari rumah ke rumah seperti sedia kala. Mereka merasa kesulitan, karena anggota Jemaat HKPB Pondok Timur Indah kian hari kian besar, hingga mencapai 200 Kepala Keluarga atau lebih dari seribu jiwa.

Menurut warga sekitar, selama ini tidak pernah ada permintaan izin dari pihak HKBP kepada warga sekitar untuk mendirikan gereja. Penyangkalan ini antara lain diutarakan seorang nenek empat cucu yang sudah mukim di Ciketing sejak masih anak-anak, dan lokasi tempat tinggalnya hanya berjarak 50 meter dari lahan milik HKBP Ciketing. Menurut sang nenek, ia sebagai sebagai warga tak pernah dimintai persetujuan. Kalau toh ada izin, menurut sang nenek ini, izin tersebut dikumpulkan pihak HKBP bukan dari warga sekitar lahan kosong. Hal senada juga diutarakan Parmi, warga Ciketing yang tempat tinggalnya berada persis di depan lokasi peribadatan HKBP. Sepengetahuan dia, belum ada dari warga di sekitar lokasi yang dimintai izin.

Menurut Badruzzaman Busyairi, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi, sudah sejak tahun 1990 jemaat HKBP PTI melakukan kebaktian di rumah Olo Samosir di perumahan PTI, Blok F, Jalan Puyuh Raya 14, RT 01 RW 15, Kelurahan Mustika Jaya, Bekasi. Kebaktian yang digelar secara rutin pada setiap Minggu ini, meski tidak dibarengi dengan upaya meminta izin kepada instansi terkait, namun tetap berlangsung damai selama 19 tahun.

Selama sekitar 19 tahun, masyarakat Mustika Jaya sudah toleran terhadap jemaat HKBP PTI. Konflik horizontal mulai terpicu ketika jemaat HKBP merayakan Natal tahun 2008 di luar tanggal 25 Desember, yaitu dilangsungkan pada hari Kamis tanggal 29 Desember 2008. Untuk keperluan tersebut, pihak HKBP PTI sengaja membuat tenda di depan rumah yang tak memiliki halaman. Sehingga menutup akses jalan.

Menurut FPI (Front Pembela Islam), “… setelah dua puluh tahun, seiring dengan makin banyaknya Jemaat HKBP yang datang ke tempat tersebut dari berbagai daerah, maka Jemaat HKBP mulai tidak terkendali. Bahkan Jemaat HKBP mulai arogan, tidak ramah lingkungan, tidak menghargai warga sekitar yang mayoritas muslim, seenaknya menutup jalan perumahan untuk setiap kegiatan mereka, bertingkah bak penguasa, merusak tatanan kehidupan bertetangga, menciptakan berbagai problem sosial dan hukum. Puncaknya, HKBP ingin menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai GEREJA LIAR.”

Dalam pandangan FPI, jemaat HKBP semakin hari semakin arogan, bahkan nekat memanipulasi perizinan warga sekitar untuk mengurus perizinan mendirikan gereja. Maka warga pun memprotes dan menggugat secara hukum calon gereja HKBP tersebut. Akhirnya, calon gereja tersebut disegel oleh Pemkot Bekasi, namun pihak HKBP tetap ngotot. Bahkan, solusi yang diberikan Pemkot Bekasi untuk dipindahkan ke tempat lain secara sah dan legal pun ditolak.

Tidak sekedar ngotot, pihak HKBP pun menebar fitnah. Seolah-olah, umat Islam Bekasi melarang mereka beribadah dan mengganggu rumah ibadah mereka. Belum cukup sampai di situ, secara demonstratif jemaat HKBP setiap Ahad melakukan aksi jalan kaki sambil menyanyikan lagu-lagu gereja, dari lahan kosong calon gereja yang telah disegel menuju sebuah lapangan terbuka yang berada di dalam perumahan PTI.

Akibat arogansi HKBP

Provokasi jemaat HKBP untuk menarik simpati masyarakat luas akhirnya berhasil membuahkan sebuah insiden berupa bentrokan, yang terjadi pada hari Ahad tanggal 8 Agustus 2010. Pada insiden tersebut, dua pendeta HKBP sempat mengeluarkan pistol dan menembakkannya.

Lebih dari satu bulan kemudian, sekitar 12 September 2010, kembali terjadi provokasi. Sekitar 200 jemaat HKBP kembali melakukan aksi jalan kaki sambil menyanyikan lagu-lagu gereja. Rombongan HKBP ini berpapasan dengan sembilan orang pemuda muslim dalam balutan baju koko. Dari momen itu, terjadilah bentrokan tak seimbang (saling pukul, saling serang, saling tusuk dan sebainya). Kesembilan pemuda muslim tadi semuanya mengalami lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada yang tertusuk.

Dari pihak lawan, yang jadi korban hanya dua orang, yaitu Pendeta Luspida Simanjuntak dan penatua Hasian Sihombing. Namun, yang mendapat simpati –media-media fitnah yang bernada anti Islam dalam memprovokasi yang kemudian diikuti banyak pihak– adalah dua tokoh HKBP ini. Bahkan, dalam hitungan hari, kedua korban dari pihak HKBP sudah dikunjungi oleh Shinta Nuriyah, isteri mendiang mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Shinta mengunjungi pendeta Luspida Simanjuntak dan penatua Hasian Sihombing di ruang perawatan RS Mitra Keluarga Bekasi Timur pada hari Selasa tangal 14 September 2010, ditemani oleh salah seorang anaknya, Alissa Wahid. Selain mendoakan keduanya, Shinta juga mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap peristiwa tersebut.

Seperti biasa, selain Shinta sang ibu, pasti ada Yeni sang anak. Dalam hal ini Yeni tidak sekedar mengecam pelaku, tetapi juga mengatakan bahwa oknum-oknum yang melakukan aksi kekerasan pada insiden HKBP tak pantas disebut umat Islam. Karena, menurut Yeni, “Islam tak pernah mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama yang cinta damai.”

Cinta damai bagi Yeni mungkin berupa mengkafirkan orang Islam dalam rangka membela orang kafir. Ini juga merupakan bentuk kekerasan verbal.

Sikap Shinta dan Yeni serta sejumlah kalangan lain (termasuk DS dan SAS dari dua Ormas Islam besar) serta media-media massa yang secara tidak cerdas dan demonstratif berpihak kepada HKBP, hanya akan membuat kebencian terhadap HKBP tumbuh subur. Barangkali inilah goal yang ingin mereka capai: supaya konflik tetap hidup, sehingga mereka punya kerjaan, punya momen untuk tampil di masyarakat.

Masih mending yang terjadi cuma tertusuk dan terpukul. Lha kalau saat konvoi ramai-ramai dengan nyanyi-nyanyi yang bermakna memprovokasi massa dengan dalih menuju tempat kebaktian (padahal liar) itu tiba-tiba turun hujan deras dan disambar petir, sehinga ratusan jemaat HKBP gosong jadi mayat bergelimpangan dengan bau busuk sangat menyengat, apakah mereka mau menyalahkan sang Pencipta petir?

Kenapa bicara begitu? Mungkin ada yang mangkel dan mencak-mencak membaca tulisan ini.

Sabar dulu Mas. Bukankah Allah Ta’ala benar-benar tidak suka kepada orang yang arogan, sombong, mentang-mentang? Itu saja terhadap siapa saja, artinya orang per orang. Lha ini malahan arogan bukan hanya orang per orang tetapi beramai-ramai, lalu didukung secara beramai-ramai pula oleh media-media massa sombong lagi menyebar fitnah, masih pula didukung lagi oleh manusia-manusia yang sampai mengecam orang-orang yang jelas Muslim dengan perkataan: tak pantas disebut umat Islam.

Jadi, siapa yang berlebihan. Tulisan ini, atau mereka??! (haji/tede)

(nahimunkar.com).