Bayi-Bayi yang Dibuang Sepanjang 2010

Bayi-Bayi yang Dibuang Sepanjang 2010

1. Bayi-bayi tak berdosa dibuang di mana-mana di berbagai tempat dan wilayah Indonesia. Rusaknya moral dan merajalelanya zina adalah penyebab kesadisan tak berperikemanusiaan itu.

2. Sangat mendesak untuk dicegah makin rusaknya moral dan merajalelanya zina itu.

3. Dana 180 miliar rupiah sebenarnya sangat bermanfaat bila digunakan untuk memperbaiki moral masyarakat. Namun ternyata justru dialokasikan untuk ngurusin kuburan sosok yang ketika hidupnya dikenal sebagai pengusung bid’ah dan dikabarkan dilingkari oleh wanita-wanita yang mengaku dizinai.

Sepanjang tahun 2009 lalu, menurut catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) ada 186 bayi dibuang. Di tahun 2008, kasus serupa mencapai 102 laporan. Ini berarti kasus pembuangan bayi di tahun 2009 mengalami kenaikan sekitar 53 persen.

Dari 186 kasus di tahun 2009, sekitar 68 persen diantaranya ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia. Hanya sekitar 32 persen dalam keadaan hidup. Dari keseluruhan kasus di tahun 2009 tersebut, hanya satu persen yang berhasil ditemukan orangtua sang bayi terbuang tadi.

Latar belakang kasus bayi-bayi yang dibuang sepanjang 2009, antara lain akibat pergaulan bebas (hubungan gelap alias zina), korban perkosaan, dan kemiskinan. Cara yang ditempuh pelaku pembuang bayi antara lain: setelah dibungkus dalam kardus atau plastik, kemudian ditinggalkan di tong sampah, di selokan parit, di teras rumah seseorang. Ada juga yang dibuang di semak-semak, ditinggalkan dalam sebuah angkot (angkutan kota), diceburkan ke dalam sumur, ditinggalkan di toilet wanita, dibiarkan tergeletak di pinggir jalan, dan ditinggalkan begitu saja di sekitar jembatan.

Januari 2010

Modus serupa juga terulang di tahun 2010 ini. Pada hari Sabtu tanggal 9 Januari 2010, di depan pagar rumah anggota TNI Kapten Joko Santoso, ditemukan bayi perempuan berumur dua hari dalam balutan selimut dan dibungkus kantong plastik warna hitam. Pelaku pembuangan melengkapi bayi yang ditinggalkannya itu dengan baju, bedak, minyak telon, kain kasa dan betadine. Juga, pesan dalam tulisan tangan yang isinya menyatakan bahwa pelaku tidak mampu lagi merawat bayi tersebut sehingga ditelantarkan begitu saja dengan harapan ada yang menolong.

Bayi yang ditemukan sekitar pukul 22.15 WIB tersebut tentu saja menghebohkan warga Desa Karang Anyar II Kecamatan Kota Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Secarik kertas bertuliskan tangan juga menyatakan bahwa bayi yang lahir 7 Januari 2010 tersebut bernama Rizqi Dwi Aulia. Ketika itu, sang bayi dirawat oleh keluarga Tamaruddin, tetangga Kapten Joko.

Belum genap sepekan setelah kasus di atas, terjadi kasus serupa di Bojonegoro, Jawa Timur. Pada hari Jum’at pagi tanggal 15 Januari 2010, Mimin (40 tahun) warga Desa Tondomulo, Kedungadem, Bojonegoro, bermaksud buang hajat di sungai. Belum sempat terlaksana, pandangannya tertuju kepada buntalan kain yang mengambang di sungai. Karena penasaran, Mimin pun meraih dan membuka untuk melihat buntalan itu. Ketika dibuka, ia sontak kaget. Karena, buntalan kain itu berisi jenazah bayi perempuan yang ari-arinya masih belum lepas.

Mimin kemudian melaporkan temuannya itu ke aparat desa setempat dan diteruskan ke Polsek. Sejumlah aparat langsung mendatangi lokasi untuk melakukan penyidikan. Sementara itu, jasad bayi dikirim ke RSUD untuk diautopsi. Menurut dugaan pihak kepolisian, bayi itu hasil hubungan gelap (zina), dan kehadirannya tidak dikehendaki, sehingga dibuang ke sungai berikut ari-arinya.

Sekitar dua pekan kemudian, Kamis 28 Januari 2010, ditemukan jenazah bayi di kawasan Barito, Kelurahan Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Persisnya di pinggir jalan dekat Lampu Merah Barito (Pos Lantas). Mayat bayi terbungkus selendang batik ini, pertama kali ditemukan Muhidin (24 tahun), seorang pemulung pada pukul 21.40 WIB saat ia sedang mengumpulkan barang bekas di wilayah tersebut.

Menurut keterangan Muhidin, malam itu ia melihat seorang pengendara motor melemparkan sebuah tas hitam di dekat lampu merah. Naluri sang pemulung mendorong kakinya melangkah untuk mendekati tas hitam yang baru saja dilempar sang pengendara. Ketika tas hitam dibuka, Muhidin terkejut bukan buatan, karena dari dalam tas itu terlihat jenazah bayi dengan tangan terikat perban putih. Temuan itu segera ia laporkan ke petugas Polsek Metro Kebayoran Baru, Jakarta Selatan untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Februari 2010

Pertengahan Februari 2010, persisnya tanggal 14, terjadi kasus pembuangan bayi di Jalan Dg Pasau Kelurahan Tahoa, Kecamatan Kolaka, Sulawesi Tenggara. Saat itu, Ahad malam sekitar pukul 19.00 Wita, ketika Hj Ida sedang nonton teve, salah seorang tetangga melintas di samping rumahnya dan melihat sosok bayi tergeletak di sudut teras rumah yang bersangkutan. Tentu saja sang tetangga menyampaikan temuannya itu kepada tuan rumah.

Dengan perasaan kaget, Hj Ida menghampiri sudut teras rumah yang ditunjuk sang tetangga, dan menemukan sesosok bayi laki-laki terbungkus kain sarung dan di sampingnya tergeletak sebungkus susu formula, dan selembar surat yang ditulis tangan. Isi surat itu antara lain menyatakan bahwa anak tersebut bukan hasil hubungan gelap. Sang bayi dibuang karena orangtuanya mengaku tidak mampu menafkahi, dan berharap dapat dirawat oleh seseorang dengan sebaik-baiknya. Selama proses penyelidikan, bayi tersebut dirawat di Rumah Sakit Mekongga Kolaka atas biaya Polres Kolaka.

Hampir sepekan kemudian, tanggal 20 Februari 2010, ditemukan mayat bayi lelaki yang sudah membusuk di tempat pembuangan sampah yang terletak di pemukiman warga Jalan Malakasari RT 001 RW 009 Kelurahan Malakasari, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, tak jauh dari Universitas Darma Persada. Mayat bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang pemulung sekitar pukul 13.00 Sabtu siang.

Ketika sang pemulung sedang memilah-milah sampah, ia menemukan tas hitam. Ketika dibuka, di dalam tas hitam itu ada kantong plastik hitam berisi mayat bayi yang sudah membusuk. Saat ditemukan, bayi itu dalam keadaan polos, dan pada leher bayi melingkar seutas kain yang melilitnya. Menurut dugaan, bayi tersebut sengaja dibunuh oleh orangtuanya lalu dibuang ke tempat pembuangan sampah di pemukiman.

Mayat bayi laki-laki berusia sekitar satu pekan juga ditemukan di Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat. Saat itu sekitar pukul 10:00 wib tangal 28 Februari 2010, Riski Suhendar bin Suarna (pelajar kelas 5 SD berusia 13 tahun), hendak memancing ikan di empang dekat sumur milik Heri yang sudah tidak digunakan.

Di sumur yang mempunyai kedalaman sekitar 3 meter itu, Riski melihat bungkusan kain putih. Karena merasa curiga, Riski pun memberitahu warga dan ketua RT setempat. Berdasarkan informasi dari Rsiki, salah seorang warga langsung mengambil buntalan kain putih yang ternyata berisi mayat bayi lelaki yang sudah membengkak. Temuan tersebut dilaporkan warga ke Polsek Cimanggis, dan selanjutnya mayat bayi laki-laki yang sudah bengkak itu dikirim ke RSCM, Jakarta, untuk dilakukan autopsi.

Maret-April 2010

Mayat bayi hanyut ditemukan warga pada Rabu pagi tanggal 3 Maret 2010. Mayat bayi laki-laki itu pertama kali ditemukan Kusnadi, di pinggir sungai Pesanggrahan, Jalan Pos Pengumben, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Kusnadi langsung melaporkan temuannya itu ke pihak kepolisian.

Menurut dugaan, bayi laki-laki itu dibuang di suatu tempat dan hanyut hingga ke sungai Pesanggrahan, dan menepi di lingkungan RT 006 RW 003. Awal Maret lalu, dua hari sebelumnya, terjadi kasus serupa. Yaitu, bayi yang digugurkan paksa dan ditelantarkan di pinggir tol Kembangan. Dengan demikian dalam sepekan di Kembangan terjadi dua kasus pembuangan bayi.

Sekitar sebulan kemudian, Kamis 1 April 2010, di Kampung Bekasi Bulak, RT 02 RW10, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat ditemukan sesosok bayi perempuan yang diperkirakan baru berumur lima hari. Saat ditemukan, kondisi bayi dalam keadaan hidup, berselimutkan kain gendongan dengan motif batik, di balik pot bunga di depan pagar teras rumah ketua RT setempat bernama Dudung.

Keberadaan bayi pertama kali ditemukan Feri (7 tahun), yang sedang melintas di samping rumah Pak Dudung dan tidak sengaja melihat benda yang terbungkus kain batik. Saat dilihat, isinya ternyata bayi. Feri kemudian melaporkan temuannya tersebut kepada pemilik rumah. Dudung dan Sainah istrinya tentu saja terkejut.

Untuk memastikan kesehatan bayi, Dudung dan istrinya serta petugas dari Polsek Bekasi Timur langsung membawa bayi mungil tersebut ke Rumah Sakit Daerah (RSUD) Bekasi sekitar pukul 13.00 WIB. Bahkan, pasangan suami-isteri ini berniat mengadopsi bayi tersebut jika memang tidak ada orangtua kandung yang mengakuinya sebagai anak.

Di Cimahi, Bandung, lebih parah lagi. Wanita muda berusia sekitar 22 tahun, lantaran berzina (seks bebas), mengalami kehamilan. Namun, kehamilannya sama sekali tidak diketahui orangtuanya, bahkan hingga usia kehamilan memasuki usia matang. Pada hari Ahad 11 April 2010, sang wanita muda minta diantar ibunya berobat ke rumah sakit dengan alasan sakit perut.

Pagi itu sekitar jam 08:00 wib, mereka sudah berada di rumahsakit. Sambil menanti giliran, sang wanita muda ini bolak-balik ke kamar kecil hingga enam kali. Kali keenam di kamar kecil, sang wanita muda ini dikejutkan dengan munculnya kepala calon bayi yang mencuat dari liang kelahiran.

Karena takut ketahuan sang Ibu, wanita muda ini serta-merta menarik kepala dan leher bayi itu dengan tangan kanannya hingga keluar. Saat bayi keluar, sama sekali sudah tak bernyawa. Sang wanita muda ini kemudian keluar dari kamar kecil, dan membeli pembalut untuk menghentikan darah yang keluar pasca melahirkan. Selang beberapa menit, dia masuk kembali kemudian membungkus mayat bayi tadi dengan kantung plastik. Usai membungkusnya, sang wanita muda ini kemudian menyimpan mayat bayi di bawah kloset. Setelah itu, sang wanita muda ini kembali keluar dari kamar mandi dan menemui ibunya dan minta pulang dengan alasan perutnya sudah tak sakit.

Tak berapa lama setelah sang wanita muda itu beranjak pergi, kegaduhan terjadi: sesosok mayat bayi ditemukan di bawah kloset. Satu jam kemudian, aparat kepolisian berhasil menangkap sang wanita muda di rumahnya.

Di Kediri, pelajar kelas tiga SMP hamil di luar nikah alias karena zina. Ketika usia kandungan memasuki bulan ketujuh, sang jabang bayi lahir hari Sabtu sore tanggal 11 April 2010, di kamar mandi rumah sepengetahuan kedua orangtuanya. Karena kalut dan tidak menginginkan kehadiaran bayinya, sang pelajar SMP ini pada dini hari Ahad 12 April membuang bayinya ke Kali Kresek. Sehari kemudian, Senin 13 April 2010, warga menemukan mayat bayi berkelamin perempuan dalam keadaan tewas mengambang di Kali Kresek.

Sang pelajar SMP ini ternyata dihamili oleh sang kakak ipar bernama Niko Andi Angtama (20 tahun), warga Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri, Jawa Timur.

Di Kampung Jombang, Ciputat, Tangerang, Jawa Barat, sepasang suami-isteri membuang bayi laki-lakinya yang baru berusia satu pekan di rumah salah satu warga. Mereka membuang bayi yang merupakan anak kandung keduanya, karena merasa tidak punya cukup biaya untuk merawat bayi tersebut.

Pasangan muda usia (sekitar 22-23 tahun) ini, belakangan merasa menyesal telah membuang bayi laki-lakinya. Karena itulah, 21 April 2010, mereka berusaha mendapatkan kembali sang bayi yang sudah terlanjur dibawa oleh warga ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan semestinya.

Upaya sepasang suami-istri ini mendapatkan kembali bayinya, akhirnya membawa mereka berurusan dengan aparat kepolisian.

Mei 2010

Pada hari Sabtu tanggal 1 Mei 2010, Akam bin Miskun (27 tahun), petugas sampah di kompleks Perumahan Duren Sawit Indah, Klender, Jakarta Timur, menemukan jasad bayi laki-laki di bak penampungan sampah kompleks perumahan tersebut. Temuan itu kemudian dilaporkan ke aparat terkait. Tak perlu waktu lama, sekitar lima hari kemudian polisi berhasil mengungkap identitas pelaku pembuang jasad bayi tersebut.

Ternyata, pelakunya adalah Siti, wanita berusia 27 tahun asal Brebes, Jawa Tengah, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sejak lima tahun lalu Siti menjanda akibat ditinggal mati suaminya. Setahun lalu, Siti berkenalan dengan Iwan di Tangerang. Mereka kemudian bertemu lagi di Tegal, Jawa Tengah. Keduanya kian dekat, hingga kebablasan melakukan zina sekitar Agustus 2009. Meski hanya sekali, Siti ternyata hamil. Sedangkan Iwan, tak diketahui keberadaannya.

Ketika usia kandungannya memasuki bulan kelima, Siti pergi ke Jakarta dan beruntung bisa bekerja di rumah Ny Wiwin, perumahan Duren Sawit Indah Blok A RT 06 RW 18, sejak Januari 2010. Agar tidak diketahui sedang hamil, Siti selalu mengenakan pakaian yang longgar saat bekerja.

Pada hari Kamis tanggal 29 April 2010 sore, Siti melahirkan di kamar mandi rumah majikannya. Ia sempat pingsan setelah melahirkan bayinya. Saat siuman, Siti mendapati sang bayi dalam keadaan sudah tidak bernyawa. Dalam keadaan lemah pasca melahirkan, Siti membungkus jasad bayinya dengan baju kaos miliknya. Dia menyimpan jasad bayinya itu dan kembali bekerja.

Jum’at siang, 30 April 2010, Siti membuang sampah, termasuk bungkusan baju kaos berisi jasad bayinya, ke tempat sampah di depan rumah majikannya. Keesokan harinya, Sabtu sore tanggal 1 Mei 2010, petugas sampah menemukan jasad bayi Siti, dan melaporkannya ke aparat kepolisian.

Di Pasuruan, Jawa Timur, bayi berumur sehari hasil hubungan gelap malah dibuang di atas atap rumah kosong di perumahan Tembok Indah, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Bayi laki-laki dengan panjang 45 cm dan berat 3 kilo gram ini, pertama kali ditemukan oleh Luluk Ciptaningsih (41 tahun).

Saat itu, Jum’at siang sekitar pukul 11:00 wib tanggal 14 Mei 2010, Luluk yang sedang mencuci piring di dapur, tiba-tiba mendengar suara tangis bayi. Karena Luluk kesulitan menemukan asal suara, maka ia pun mengajak kakak iparnya Yundaningrum, yang rumahnya bersebelahan dengan Luluk.

Setelah dilakukan pencarian lebih serius, akhirnya sumber suara tangis bayi ditemukan di atap rumah kosong tetangganya. Saat itu juga atap rumah kosong tersebut dinaiki dan tampaklah sosok bayi dikerubuti semut dengan kondisi menggigil kedinginan dan basah kuyup. Saat ditemukan, bayi itu hanya beralaskan karung plastik bekas bungkus beras, tanpa kain, dan tali pusarnya tampak baru digunting. Temuan tersebut segera mereka laporkan ke aparat kepolisian.

Bayi malang itu akhirnya diadopsi Yundaningrum, istri Aiptu Mucharrom (Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Reserse Kriminal Polresta Pasuruan), dan diberi nama Muhammad Rizky Anugrah.

Beberapa jam kemudian, Jum’at malam tanggal 14 Mei 2010 sekitar pukul 19:00 wib, ditemukan bayi perempuan usia dua hari di depan rumah Tri Mulyani, warga Perumahan Alam Indah Blok B2 Nomor 54, RT 01 RW 05, Cipondoh, Kota Tangerang, Jawa Barat. Saat itu, Tri mendengar suara tangisan bayi tak jauh dari rumahnya.

Karena penasaran, Tri bergegas mencari asal suara tangisan bayi tersebut. Betapa kagetnya Tri, saat ia membuka pintu rumah ada bayi berjenis kelamin perempuan di depan rumahnya. Bayi perempuan itu masih dalam kondisi merah dan terbungkus rapi. Temuan tersebut dilaporkannya ke ketua RT setempat, yang langsung meneruskan laporan tersebut ke pihak kepolisian. Pelaku diduga bukan dari warga sekitar.

Juni 2010

Pagi hari sekitar pukul 07:15 wib, Jumadi (37 tahun) hendak buang air besar di Kali Gandul yang terletak di Dukuh Sobayan RT 17/VI, Desa Kateguhan, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Tiba-tiba pandangan matanya melihat mayat bayi tersangkut batu besar, dalam keadaan tengkurap dan masih membawa ari-ari. Jumadi pun langsung memanggil Walidi (40 tahun), untuk membantu mengevakuasi mayat bayi tersebut. Kemudian, keduanya melaporkan temuannya itu ke Muspika dan Polsek Sawit, saat itu juga (Kamis 10 Juni 2010).

Menurut dugaan aparat, mayat bayi tersebut tidak berasal dari desa setempat, kemungkinan dari daerah di kawasan hulu sungai. Dugaan lain, bayi tersebut konon dibuang ke sungai karena orangtuanya malu melahirkan bayi dari hasil hubungan gelap (zina).

Dua hari kemudian, Sabtu 12 Juni 2010, di Balikpapan ditemukan bayi laki-laki di areal kebun bambu belakang TK Merpati Pos dan Panti Asuhan Manuntung di Jalan A Yani RT 47 (belakang TK Merpati), Kelurahan Gunung Sari Ilir, Balikpapan Tengah, Kalimantan Timur. Ditemukan pertama kali oleh Ibu Minafsiah alias Ibu Broto (64 tahun).

Saat itu, sekitar jam 11 siang waktu setempat, Bu Broto mendengar suara tangis bayi. Namun tidak terlalu dihiraukannya, karena ia sedang sibuk memasak di dapur. Namun, karena suara tangis bayi itu kian keras, Bu Broto pun tergerak untuk mencari sumber suara tadi. Untuk keperluan ini, Bu Broto memutuskan untuk mengajak Ibu Tuti, tetangganya. Berdua dengan Ibu Tuti, Bu Broto menuju areal kebun bambu. Ia menduga, kemungkinan ada seseorang yang melahirkan bayi kemudian dibuang di kebun tersebut.

Dugaan Bu Broto ternyata benar. Ketika Bu Borot dan Ibu Tuti beserta sejumlah ibu-ibu lainnya sedang menuju areal kebun bambu dimaksud, tiba-tiba seorang anggota polisi bernama Warno menyampaikan temuannya bahwa ada bayi dibuang di areal kebun bambu tersebut.

Bayi itu kemudian diambil oleh Warno dan diserahkan ke Bu Broto. Saat itu kondisi bayi masih lengket kena air ketuban, sehingga semut dan sampah menempel di badan sang bayi. Tangan bayi mengepal dan kakinya membiru, kedinginan, karena hanya diselimuti kaos dan celana dalam wanita warna putih. Dengan sigap Bu Broto membersihkan dan menyelimuti sang bayi tak berdosa tadi dan seterusnya dibawa ke Rumah Sakit Restu Ibu untuk mendapatkan perawatan semestinya.

Di Ngawi, Jawa Timur, juga ditemukan bayi perempuan yang ditelantarkan di sebuah rumah kosong. Untungnya, warga sekitar segera menemukan keberadaan sang bayi. Juga pelakunya.

Pagi itu, Senin 21 Juni 2010, waga mendengar suara tangis bayi di sebuah rumah kosong. Ternyata suara itu berasal dari sosok bayi perempuan dengan berat badan 3 kilogram dan panjang badan 50 sentimeter. Dalam waktu singkat, pelakunya dapat diidentifikasi, yaitu Niken Larasati (19 tahun), warga Desa Keniten, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Niken melahirkan pada hari Ahad tanggal 20 Juni 2010. Ia membuang bayi yang baru dilahirkannya itu ke rumah kosong yang masih milik neneknya sendiri. Niken merasa takut dan malu, karena bayi yang dilahirkannya itu merupakan hasil hubungan gelap (zina) dengan pacarnya, saat mereka sama-sama bekerja di Batam. Kini sang pacar masih berada di Palembang.

Meski Niken gagal menelantarkan bayi mungil dan gemuk yang baru berumur sehari itu, namun ia tetap diperiksa aparat kepolisian.

Di Kabupaten Balangan, ditemukan bayi perempuan berumur kurang dari sepekan, pada hari Sabtu tanggal 19 Juni 2010 sekitar pukul 21:50 Wita. Bayi itu pertama kali ditemukan oleh Nurhayati (65 tahun) di samping pintu depan rumahnya yang terletak di Kompleks 25 Paringin Kota, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Malam itu, ketika Nurhayati sedang asyik menonton teve bersama anak dan cucunya, terdengar suara tangis bayi. Semula ia mengira suara tangisan itu suara kucing yang banyak berkeliaran di sekitar rumahnya. Namun, suara itu tak kunjung berhenti bahkan semakin kencang. Maka Nurhayati pun mencari sumber suara tersebut. Setelah dicari, sumber suara itu berada di balik pintu rumahnya. Ketika pintu rumah dibuka, suara tangis itu semakin jelas. Mata Nur pun tertuju pada bungkusan dari kain. Ketika dibuka, berisi sesosok bayi yang masih merah, hanya diselimuti selembar kain, tali pusar belum puput.

Dengan sigap Nurhayati langsung menyampaikan temuannya itu kepada tetangga dan anggota keluarga lainnya. Selanjutnya, bayi yang baru ditemukan itu dibawa ke rumah dokter Kasmiliawati untuk diberikan perawatan semestinya.

Selang tiga hari kemudian, Selasa 22 Juni 2010, terjadi kasus serupa di Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Malam itu, sekitar pukul 19.35 wita, Gatot menemukan sosok bayi laki-laki di depan pasar Lokok Rangan, Desa Kayangan. Setelah dilaporkan ke aparat terkait, saat itu juga bayi malang itu dibawa ke Puskesmas Kayangan.

Menurut keterangan Nyoman Sukartia Ningsih, salah satu bidan Puskesmas Kayangan, bayi tersebut di bawa ke puskesmas sekitar pukul 20.00 wita oleh salah satu staf Kecamatan Kayangan. Berat badan bayi hanya 2220 gram dan panjang 47 sentimeter. Usia bayi saat ditemukan diperkirakan baru mencapai satu hari. Informasi tentang kasus bayi dbuang ini ternyata meluas, bahkan menimbulkan reaksi positif, yaitu banyaknya warga yang berminat mengadopsi bayi tersebut.

Juli 2010

Selasa pagi hari sekitar jam 07:00 wib, tanggal 6 Juli 2010, seorang penjual sayur bernama Sutirah (49 tahun) saat berkeliling menjajakan jualannya mendengar tangisan bayi. Setelah dicermati, sumber suara itu berasal dari tempat pembuangan sampah di Jalan Lingga Raya Karang Tempel, Semarang.

Naluri keibuan Sutirah pun bangkit. Ia mendekati asal suara itu. Ternyata benar. Di tempat sampah itu ia menemukan sesosok bayi perempuan tengah menangis keras dalam kondisi terbungkus plastik. Saat ditemukan, bayi tersebut sudah membiru, tali pusar dan ari-ari bayi masih menempel. Sutirah sontak terkejut, trenyuh, dan bahkan menangis. Namun ia tidak larut dalam suasana yang sangat emosional itu, ia langsung menggendong dan membungkus bayi tersebut dengan selendang. Sutirah bermaksud menyelamatkan si Bayi.

Untungnya, saat itu melintas seorang mahasiswa yang sedang mengendarai sepeda motor. Sontak Sutirah menghentikan si mahasiswa dan memohon pertolongan mengantar ke bidan. Saat itu, Sutirah meninggalkan gerobak sayurnya, demi memberikan pertolongan bagi sang bayi malang tersebut. Mereka bergegas ke tempat Bidan Uut untuk mendapatkan perawatan semestinya. Dari Bidan Uut, Sutirah kembali bergegas ke tempat semula untuk melanjutkan berjualan sayur.

Menurut Bidan Uut, meski si bayi sudah membiru, namun kondisi kesehatannya cukup baik, namun memerlukan perawatan. Panjang bayi 48 sentimeter dan beratnya 2200 gram. Saat dibawa ke klinik yang dikelolanya, sang bayi masih berdarah dan tali pusarnya masih menempel. Diduga bayi itu akan dibunuh. Sebab di lehernya terlilit plastik. Alhamdulillah, bayi itu masih hidup dan ditemukan oleh Sutirah.

Usai menangani bayi malang itu, Bidan Uut melapor ke Polsek Sidodadi. Beberapa jam kemudian, pelaku berhasil ditangkap. Ternyata, pelakunya adalah Rusmidah (23 tahun), seorang pembantu rumah tangga yang baru bekerja di sebuah rumah di Jalan Lingga Raya dalam kondisi hamil. Rusmidah malu, karena bayi yang dilahirkannya hasil hubungan gelap (zina) dengan sang pacar yang tak bertanggung jawab.

Beberapa hari kemudian, Sabtu 10 Juli 2010, ditemukan janin usia 4 bulan di ruang ganti sebuah pusat perbelanjaan elite di kawasan Jakarta Selatan. Calon bayi itu pertama kali ditemukan oleh Ani Sumiyati, salah seorang Sales Promotion Girl (SPG) yang bekerja di pusat perbelanjaan Sogo, Mal Pondok Indah II, Jakarta Selatan.

Ani terdorong memeriksa ruang-ganti nomor dua, karena ada laporan dari pengunjung. Waktu itu sekitar pukul 12:20 wib. Menurut laporan pengunjung, di kamar-ganti tersebut banyak darah berceceran. Setelah memastikan kebenaran laporan dari pengunjung, Ani sempat terkejut, dan langsung melaporkan temuannya ke petugas keamanan. Selanjutnya, laporan dari Ani diteruskan ke Polsek Kebayoran Lama.

Menurut dugaan, janin berasal dari wanita yang mengalami keguguran dan ditinggalkan begitu saja. Untuk mendapatkan kepastian, janin calon bayi laki-laki itu dikirim ke Rumah Sakit Fatmawati untuk proses otopsi.

Tidak sampai sepekan kemudian, di Medan, ditemukan mayat bayi perempuan berusia sekitar 6 bulan yang dibuang dipinggiran Sungai Bagan, di kawasan Kampung Besar, Desa Cinta Damai, Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan.

Peristiwa yang terjadi pada hari Jum’at siang tanggal 16 Juli 2010 ini sempat membuat masyarakat geger. Mayat bayi yang diletakkan di dalam sebuah ember itu, diperkirakan sudah dua hari dibuang karena keadaannya sudah membiru dan bau. Untuk mendapatkan kepastian, mayat bayi itu dibawa ke Rumah Sakit Pirngadi Medan untuk proses otopsi.

Dua hari kemudian, Ahad 18 Juli 2010, ditemukan bayi mungil berjenis kelamin perempuan dalam keadaan hdiup, tergeletak di dalam bak sampah di kawasan Jalan Manyar Kertoadi, Surabaya, Jawa Timur. Pertama kali bayi ditemukan oleh Haniatun (21 tahun). Semula ia masih ragu, apakah suara yang didengarnya dari bak sampah itu suara kucing atau suara tangis bayi.

Setelah didekati, ternyata suara tangis bayi dalam kemasan plastik hitam. Saat ditemukan, pagi menjelang siang, bayi dalam keadaan menangis, tubuhnya ditutupi kain dan ari-ari di perutnya sudah terpotong. Haniatun segera melaporkan temuannya itu ke Ketua RT setempat. Selanjutnya, bayi tersebut dibawa ke Bidan Indahsah Muchi yang tempat prakteknya tidak jauh dari lokasi kejadian.

Oleh Bidan Indah, bayi itu kemudian dimandikan dan dirawat semestinya. Warga yang mengetahui kasus ini, banyak yang berminat mengadopsi bayi tersebut.

Satu hari kemudian, Senin 19 Juli 2010, masih di Surabaya, ditemukan bayi perempuan di bak sampah Perumahan Griya Kebaron Utama, Surabaya. Sebagaimana bayi di atas, temuan kali ini pun dapat diselamatkan.

Pada hari yang sama, Senin 19 Juli 2010 sekitar pukul 12:00 wib, ditemukan bayi laki-laki yang masih berumur satu hari, di Tempat Pembungan Akhir (TPA) Supit Urang, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun Kota Malang. Bayi tersebut ditemukan dalam tumpukan sampah dibungkus dengan plastik warna putih.

Bayi itu pertama kali ditemukan seorang pemulung bernama Romli Adi Setiawan (25 tahun). Saat itu Romli mau menemukan bungkusan plastik warna putih. Ketika dibuka, berisi bayi. Temuan itu langsung dilaporkannya kepada Sugeng (kepala TPA Supit Urang). Kemudian dibawa ke Puskesmas Mulyorejo.

Menurut Romli, saat ditemukan bayi masih dalam kondisi hidup, tidak dibungkus sehelai kainpun dan masih dalam kondisi telanjang. Akhirnya meninggal. Dari Puskesmas Mulyorejo, jenazah bayi dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), Malang, untuk dilakukan visum.

Di Sampang, Madura, Jawa Timur juga pernah ditemukan bayi laki-laki dalam keadaan hidup. Peristiwa ini terjadi Ahad dini hari tanggal 25 Juli 2010. Ketika itu, Arsidi yang tengah tertidur bermimpi memperoleh anak laki-laki. Selama ini, Arsidi sudah punya sembilan anak yang kesemuanya perempuan, buah pernikahannya dengan Musmirah yang dinikahinya sejak 40 tahun lalu.

Arsidi adalah warga Dusun Ancalan, Desa Karangpenang Oloh, Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara tangis bayi yang berasal dari tegalan di dekat rumahnya.

Arsidi kemudian bangkit dari tidurnya, melangkahkan kaki keluar menuju tegalan tempat suara tangis bayi berasal. Di tegalan, Arsidi melihat ada benda bergerak-gerak dan terdengar suara tangisan. Ternyata, ada bayi laki-laki. Ia kemudian membawa bayi tersebut ke seorang Bidan terdekat. Menurut rencana, Arsidi akan mengadopsi bayi laki-laki tersebut karena selama ini ia belum punya anak laki-laki.

Sehari kemudian, Senin 26 Juli 2010, kasus bayi dibuang kembali terjadi di Surabaya. Kali ini, bayi malang dalam keadaan tak bernyawa itu ditemukan di kamar mandi SMA 12, Jalan Sememi, Benowo, Surabaya, Jawa Timur. Diduga, bayi itu dibunuh. Terdapat luka bekas cekikan pada lehernya, dan ditemukan seutas kabel yang diperkirakan digunakan untuk mencekik bayi malang tersebut. Na’udzubillah…

Agustus 2010

Masih di Surabaya, hari Ahad dini hari tanggal 8 Agustus 2010 sekitar pukul 03:30 wib, ditemukan bayi perempuan berumur satu hari di teras salah satu rumah pondokan yang terletak di Simorejo Timur X No. 18 RT 05 RW 14 Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya.

Bayi mungil itu pertama kali ditemukan oleh Ibu Rom, salah seorang penghuni rumah pondokan. Pagi itu Ibu Rom mendengar suara tangisan bayi. Semula ia mengira suara tangisan bayi itu berasal dari rumah Ibu Susi, tetangganya. Namun ketika Ibu Rom keluar kamar pondokannya, ia terkejut, karena sumber suara tangis bayi yang didengarnya tak jauh dari tempatnya saat itu berdiri.

Bayi perempuan itu diletakkan begitu saja di kursi di depan pintu rumah pondokan. Kondisi bayi tanpa busana dalam balutan secarik kain, badannya masih berlumuran darah tetapi sudah tidak punya ari-ari. Diperkirakan sang bayi baru saja dilahirkan sore hari sebelumnya (Sabtu 7 Agustus 2010).

Sekitar sepekan kemudian, di Sumenep ditemukan bayi perempuan yang dibuang di pinggir jalan Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Bayi itu pertama kali ditemukan Raihana (30 tahun), sekitar jam 6 pagi, Sabtu 14 Agustus 2010.

Saat itu, Raihana hendak membuang sampah di pinggir jalan tempat bayi tersebut dibuang. Dari kejauhan, Raihana mendengar tangisan bayi. Maka Raihana pun mencari sumber tangisan tersebut. Tak berapa jauh dari tempatnya berdiri, ditemukan sesosok bayi hanya beralaskan daun. Raihana pun melaporkan temuannya kepada aparat terkait.

Sehari kemudian, Ahad 15 Agustus 2010, terjadi kasus pembuangan bayi di NAD (Nangro Aceh Darus Salam). Pagi itu, sekitar pukul 07:00 wib, Mayyuzar (55 tahun) warga Gampong Tangkung, Kecamatan Sakti, Pidie, pergi ke sawah dengan menyebrangi Sungai Krueng Mali. Saat itulah ia melihat jasad bayi perempuan mengambang di sungai. Dengan bantuan sejumlah warga, mereka berusaha mengevakuasi jasad bayi tersebut.

Saat diangkat dari sungai, tubuh bayi dalam keadaan mengembung dan mengeluarkan bau tidak sedap, serta sebagian kaki kanan bayi telah hilang. Tali pusat masih belum puput. Jasad bayi itu kemudian dirujuk ke Puskesmas Kecamatan Sakti.

Di Depok, sehari setelah kasus Pidie, Senin 16 Agustus 2010, ditemukan bayi laki-laki dalam kardus bekas minuman air mineral yang baru berusia beberapa hari. Bayi itu ditemukan pertama kali oleh Melly Darmayanti (25 tahun), sekitar pukul 17.00 wib. Saat itu Melly sedang melintas di depan gardu Pos Kamling dan tak sengaja melihat sebuah kardus yang bergerak-gerak. Karena curiga, Melly pun mendekati kardus tadi. Ternyata, di dalamnya ada sesosok bayi.

Saat ditemukan, bayi hanya berselimut kain berwarna hijau dengan corak tokoh kartun Mickey Mouse dan Donald Bebek. Di sisi kiri kanan bayi, terdapat dua bantal yang mengapit. Di dalam kardus juga ditemukan botol susu serta popok. Beruntung bayi tersebut cepat ditemukan. Bila tidak, sang bayi bisa saja dimakan biawak yang banyak berkeliaran di sekitar kali tersebut.

Selanjutnya, keberadaan bayi malang itu dilaporkan ke Polres Depok, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk mendapatkan pemeriksaan semestinya.

Sehari kemudian, masih di Depok, ditemukan sesosok bayi laki-laki di poskamling RT 04 RW 18, Perumahan Pondok Tirta Mandala, Sukamaju, Depok, Jawa Barat. Saat itu, Selasa 17 Agustus 2010, seorang warga bernama Welmi (30 tahun), hendak ke warung guna membeli keperluan untuk makan sahur. Ketika melewati pos siskamling, dia melihat sebuah kardus bekas kemasan minuman. Dari dalam kardus terdengar suara tangis bayi. Ketika didekati, di dalam kardus itu tergeletak sesosok bayi yang masih merah. Bayi itu lantas diserahkan kepada polisi di Polsek Sukmajaya.

Bila di tempat lain bayi dibuang di tempat sampah, di sungai atau di pinggir jalan, di Lombok justru dibuang di sebuah Mushalla. Peristiwa ini terjadi di malam Ramadhan. Saat itu, Ahad 22 Agustus 2010, sekitar pukul 19:45 Wita, Haji Selamat dan sejumlah warga sedang melaksanakan Shalat Tarawih, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Ia kemudian mencari sumber suara tadi yang ternyata berasal dari sebuah tas yang tergeletak di dalam Mushalla Tintin Maliki, Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

Bayi di dalam tas itu terbungkus kain dengan kondisi sangat lemah. Dari dalam tas juga ditemukan susu dan sabun serta uang tunai sebesar Rp 200.000. Juga, sepucuk surat yang berisi permohonan kepada warga yang pertama kali menemukan sang bayi untuk merawatnya selama satu bulan, dan akan diambil kembali pada September 2010 oleh pihak keluarga bayi.

Di dalam surat itu juga ada permohonan agar penemu pertama bayi tidak menyerahkan sang bayi kepada orang lain. Haji Selamat kemudian melaporkan temuannya itu kepada Kepala Desa dan aparat kepolisian. Selanjutnya bayi berusia lima hari itu dibawa ke Puskesmas Dasan Lekong untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

September 2010

Masih di malam Ramadhan, kali ini terjadi di Samarinda. Hari Sabtu pagi tanggal 4 September 2010 sekitar pukul 09:00 wita, sesosok jasad calon bayi laki-laki dibuang di areal pemakaman Muslimin Swadaya di Jl Anggur Dalam, Kelurahan Sidodi, Kecamatan Samarinda Ulu, Kalimantan Timur.

Pertama kali jasad calon bayi itu ditemukan oleh Supardi, penjaga makam. Ketika Supardi membuka pintu pagar pemakaman, ia melihat tas plastik berwarna hitam tergeletak di atas bahan material untuk memperbaiki kuburan. Semula Supardi hendak langsung membuang tas plastik itu, karena dikiranya sampah biasa.

Namun, ketika ia buka, ternyata berisi jasad calon bayi dalam keadaan masih berlumuran darah. Pada kantong plastik terpisah, Supardi menemukan ari-ari bayi yang sudah terpotong. Diperkirakan calon bayi tersebut berusia antara 6 hingga 7 bulan saat lahir.

Supardi kemudian melaporkan temuannya kepada warga sekitar dan ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polsekta Samarinda Ulu. Untuk keperluan penyelidikan, jasad calon bayi itu dibawa ke kamar mayat RSUD AW Sjahranie, Samarinda.

Di Bekasi, menjelang Idul Fitri 1431 H, terjadi kasus buang bayi. Saat itu, Rabu malam tanggal 8 September 2010, sekitar pukul 22:00 wib Sugiman mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Sugiman merupakan warga Durenjaya, Gang Anggrek RT 05 RW 04, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sugiman pun membuka pintu, namun ia tidak menemukan seseorang pun di depan rumahnya. Akhirnya Sugiman memutuskan untuk menunggu di teras rumah selama beberapa saat, namun tidak ada satu orang pun yang ia temui. Sugiman kemudian tergerak memeriksa bagian depan rumahnya. Di situ, ia kaget karena menemukan sesosok bayi laki-laki mungil di depan garasi rumahnya.

Saat ditemukan, bayi itu berbalut baju hangat warna putih dengan corak boneka beruang, dan beralaskan kain batik ungu. Sugiman kemudian membawa bayi itu ke dalam rumah dan memeriksa kondisi bayi itu. Sejurus kemudian, ia memberi tahu warga dan tokoh masyarakat setempat, dan selanjutnya melaporkan temuannya itu ke aparat kepolisian. Sugiman dan istrinya merawat bayi laki-laki itu.

Sekitar sepekan setelah itu, Kamis 16 September 2010, warga Pahandut, Palangka Raya dihebohkan oleh penemuan bayi di dekat tempat pembuangan sampah di Jalan Kinibalu Kompleks Bukit Hindu Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Pagi itu, sekitar pukul 07:30 wita, Romaida (44 tahun) berhenti di tempat pembuangan sampah di sekitar Jalan Kinibalu, hendak mencari sisa-sisa makanan untuk ternaknya.

Saat itulah ia mendengar suara tangisan bayi. Semula tak dihiraukannya, karena menduga itu suara bayi salah satu rumah warga di sana. Namun, karena suara tangis itu terus terdengar, Romaida pun berusaha mendatangi sumber suara tangis tersebut.

Ternyata dalam area pekarangan kosong yang ditutupi pagar seng, tepatnya di bawah pohon nangka, terlihat karung beras yang bergerak-gerak. Saat Romaida melihat isinya, ada sesosok bayi tanpa diselimuti sehelai kainpun. Kondisinya seperti baru dilahirkan, karena tali pusarnya masih ada. Romaida pun segera melaporkan temuannya ke aparat terkait.

Bayi malang itu sempat dirawat di rumah sakit Bhayangkara, kemudian dititipkan ke panti asuhan. Selama berada di panti, setidaknya ada sekitar 20 keluarga yang berminat mengadopsi bayi tersebut.

Sekitar dua hari kemudian, Sabtu 18 September 2010, ditemukan jasad bayi perempuan mengambang di Sungai Welang, Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Siang itu, Abdul Ghafur (14 tahun) sedang memancing ikan di Sungai Welang. Tiba-tiba matanya melihat ada mayat bayi mengambang di sungai. Abdul Ghafur ketakutan. Namun ia sempat memberi tahu warga sekitar, antara lain Ahmad (37 tahun). Dengan dibantu Ahmad, mereka mengevakuasi jasad bayi yang sudah mengeluarkan bau busuk itu.

Setelah berhasil dievakuasi, temuan itu kemudian dilaporkan ke aparat kepolisian. Lalu polisi merujuk mayat bayi ke Puskesmas Ngempit untuk divisum. Berdasarkan hasil visum dokter Hikmah, diperoleh informasi bahwa bayi malang tersebut baru berusia tiga hari dan sengaja dibuang sesaat setelah dilahirkan. Saat ditemukan, tali ari-ari bayi belum puput. Juga diduga, proses persalinan dilakukan sendiri tanpa bantuan bidan atau dukun bayi.

Masih pada hari yang sama, Sabtu 18 September 2010, ditemukan jasad bayi berusia dua hari di sawah milik warga Kampung Karandang Desa Mekarjaya Kecamatan Padakembang, Kab Tasikmalaya, Jawa Barat.

Jasad bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh Roni (9 tahun). Saat itu Roni yang sedang bermain bersama Arif, mengira jasad bayi itu hanyalah sebuah boneka. Namun setelah dilihat lebih dekat, ternyata sesosok bayi yang masih lengkap dengan ari-arinya yang belum puput. Diduga, bayi malang itu dibuang ibu kandungnya, karena malu menanggung aib. Saat ditemukan bayi perempuan tersebut mengambang di saluran air pinggir sawah.

Setelah dilaporkan kepada aparat terkait, jasad bayi tersebut dibawa ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Tasikmalaya untuk keperluan otopsi. Setelah otopsi, dimakamkan di Kampung Karandang, Padakembang.

Dari Tasikmalaya, pada hari yang sama, Sabtu 18 September 2010 sekitar pukul 21:45 wib, ditemukan sesosok bayi di belakang sebuah kios di Gampong Blok Sawah, Sigli, NAD.

Bayi malang itu pertama kali ditemukan oleh Rosmani (45 tahun) warga Gampong Blok Sawah. Semula, Rosmani mendengar suara seperti tangisan bayi. Saat itu ia berpikir itu hanyalah ilusi. Namun karena suara tangisan bayi semakin menjadi, Rosmani pun semakin penasaran, dan bergegas mendekati asal suara. Ternyata, suara tangis itu berasal dari sesosok bayi mungil berbalut kain batik coklat dan telah dibungkus dengan kain popok putih. Kondisi bayi sangat sehat dan tali pusar telah diikat dengan pengaman.

Bayi yang diduga baru dilahirkan sekitar enam jam lalu itu, berdasarkan analisis medis dapat disimpulkan bahwa ia dilahirkan dengan normal melalui bantuan bidan.

Satu hari kemudian, Ahad siang 19 September 2010 sekitar jam 12:05 wib, ditemukan sesosok bayi perempuan yang sudah tidak bernyawa di perairan Teluk Keriting, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Pertama kali ditemukan oleh Uci (36 tahun), yang bekerja sebagai tukang bangunan di dekat bibir perairan Teluk Keriting.

Semula, Uci melihat jasad bayi itu seperti boneka yang tergeletak di bibir pantai. Namun setelah dilihat dari dekat ternyata mayat bayi yang baru dilahirkan. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada petugas yang berjaga di pos Lantamal IV/Tanjungpinang, yang berada sekitar 50 meter dari tempat kejadian.

Berdasarkan penyelidikan polisi, ditemukan bekas pukulan benda tumpul di mata kanan bayi tersebut. Juga, ditemukan darah segar di mulut bayi. Diduga bayi itu dibunuh sebelum dibuang di perairan Teluk Keriting.

Keesokan harinya, Senin 20 September 2010, ditemukan jasad bayi perempuan di bak mandi Engkan (40 tahun), warga Kampung Cinumpang, Desa/Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Diperkirakan jasad bayi berusia sekitar 3 hari itu dibuang orangtuanya, karena merupakan hasil hubungan gelap alias zina.

Pertama kali, ditemukan oleh istri Engkan yang pagi hari itu hendak ke kamar mandi. Di kamar mandi, sang istri berteriak melihat sesosok bayi di bak mandi dalam keadaan tak bernyawa. Setelah dilaporkan ke aparat terkait, kemudian jasad bayi tersebut dibawa ke Mapolres Garut untuk penanganan lebih lanjut.

Enam hari kemudian, Ahad sore tanggal 26 September 2010, sekitar pukul 16:00 wib, Bambang Irawan bersama rekan-rekannya sedang mancing di Sungai Batanghari. Saat itulah dia melihat benda mencurigakan tersangkut di atas balok kayu di pinggir sungai, tak jauh dari tempat mereka memancing. Kejadian itu kemudian mereka laporkan kepada petugas piket SPK dan Reskrim Polres Batanghari.

Setelah dilakukan penyisiran, ternyata ditemukan jasad calon bayi di atas balok kayu di pinggir sungai. Untuk proses lebih lanjut, polisi membawa jasad calon bayi berusia sekitar 15-20 pekan itu ke Rumah Sakit HAMBA Muarabulian untuk divisum. Saat ditemukan, jasad calon bayi dalam posisi tersangkut pada sebuah balok kayu, di logpon pasir milik Acong. Bambang Irawan yang pertama kali menemukan jasad calon bayi tadi, sehari-hari bekerja pada logpon pasir milik Acong.

Diduga, bayi itu adalah hasil aborsi dan pelaku berusaha menghanyutkannya di Sungai Batanghari, namun tergesa-gesa saat membuang jasad calon bayi itu ke sungai, sehingga tersangkut di atas balok kayu.

Oktober 2010

Toilet SPBU rupa-rupanya telah menjadi salah satu tempat favorit pelaku pembuangan bayi untuk melaksanakan niatnya. Salah satunya terjadi di toilet SPBU Jl KH Mochammad Mansyur, RT 03 RW 03, Tambora, Jakarta Barat. Pagi itu, Rabu 06 Oktober 2010, sekitar pukul 07.45 wib, Herman salah seorang petugas SPBU tersebut sedang menuju toilet. Ketika melintas di toilet wanita ia melihat sebuah tas kain berwarna coklat.

Semula ia menduga tas itu milik pengunjung SPBU yang tertinggal. Ketika diperiksa, ternyata berisi bayi laki-laki. Temuannya itu ia laporkan kepada atasan dan aparat terkait, dan selanjutnya dirujuk ke Puskesmas Tambora.

Menurut dokter Silvia (Kepala Puskesmas Tambora), saat dibawa ke Puskesmas bayi dengan panjang badan 40 cm dan berat badan 1,9 kg itu dalam kondisi kedinginan. Dokter pun langsung bertindak sigap dengan memberikan perawatan, menghangatkan, dan memotong tali pusar bayi. Diperkirakan, bayi laki-laki itu dilahirkan sekitar 1-2 jam sebelum ditemukan.

Meski pelaku sempat terekam CCTV SPBU, tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup helm. Yang pasti, pelaku adalah perempuan muda berusia sekitar 20 tahun.

Sehari kemudian, Kamis 07 Oktober 2010, warga Depok digegerkan dengan penemuan seorang bayi laki-laki yang dimasukkan ke dalam kardus di sebuah pos siskamling di kawasan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Diduga, bayi berumur tiga bulan itu dibuang orangtuanya. Setelah ditemukan, warga melaporkan temuan tersebut ke aparat kepolisian. Selanjutnya, dari polisi bayi tersebut dirujuk ke panti asuhan terdekat untuk mendapatkan perawatan semestinya.

Selang sehari kemudian, di Surabaya, Jum’at 08 Oktober 2010, sekitar pukul 18:00 wib, Suwarno warga Perumahan Dosen Untag di kawasan Semolowaru, mencurigai keberadaan tas kresek warna hitam yang ada di depan rumah. Kecurigaan tersebut terbukti. Saat ia membuka tas kresek itu, ternyata di dalamnya berisi bayi laki-laki yang sudah tidak bernyawa.

Suwarno pun langsung melaporkan temuannya itu ke pihak keamanan setempat. Kemudian laporan tersebut diteruskan ke aparat kepolisian. Di dalam tas kresek itu tidak ada keterangan apa pun. Kondisi jasad bayi dibungkus kulit sofa, dalam posisi tengkurap. Dari ciri-ciri fisik, tidak ditemui tanda-tanda kekerasan atau percobaan pembunuhan. Diduga, usia bayi baru beberapa jam, masih merah seperti baru saja dilahirkan.

Di Malang, beberapa hari kemudian, Senin pagi 11 Oktober 2010, ditemukan mayat bayi perempuan di areal Pemakaman Islam Sumbersari, Jalan Kertoaji, Malang, Jawa Timur.

Perama kali, mayat bayi tersebut ditemukan oleh Suparto (35 tahun). Saat itu sekitar pukul 05:30 wib, Suparto yang berniat mencari burung, mencium aroma tidak sedap di seputar areal pemakaman. Hatinya terdorong mencari sumber aroma tak sedap tersebut. Dia menemukan kotak sepatu berwarna merah berada di tepi pemakaman, berdekatan dengan jalan, dalam keadaan dikerubuti lalat.

Ketika dibuka, Suparto sontak terkejut. Karena, isi kotak kue itu adalah jasad bayi lengkap dengan ari-ari. Suparto pun berlari memanggil warga, dan selanjutnya melaporkan temuannya itu ke Polsekta Lowokwaru. Pihak kepolisian kemudian membawa bayi tersebut ke kamar mayat Rumah Dr Sakit Syaiful Anwar (RSSA) Malang untuk diotopsi.

Diduga, bayi malang tersebut sengaja dibuang lantaran hasil dari hubungan gelap. Diperkirakan, bayi itu dilahirkan dua hari sebelum ditemukan dalam keadaan mulai membusuk.

Sekitar tiga hari kemudian, Kamis 14 Oktober 2010, ditemukan mayat bayi perempuan di toilet kantor BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan TKI) di Selapajang Kota Tangerang, Jawa Barat. Penemuan bayi tersebut berawal saat salah seorang petugas kebersihan membersihkan kamar mandi. Ia mencium bau menyengat. Setelah diperiksa ternyata di dalam penampungan air untuk kloset terdapat mayat bayi perempuan. Oleh polisi, bayi malang itu dikirim ke RSUD Tangerang.

Keeseokan harinya, Jum’at 15 Oktober 2010, sekitar jam 13:00 wib, ditemukan bayi laki-laki di selokan Sungai Cisadane Jalan Batuceper Kota Tangerang, Jawa Barat. Bayi yang masih lengkap dengan ari-arinya itu terbungkus kardus bekas. Bayi dengan berat 3 kilogram itu ditemukan Sarman (40 tahun) karena tangisannya begitu keras terdengar. Bayi itu diduga dilahirkan sekitar 4 jam sebelum ditemukan, dan dibuang karena malu tidak ada bapaknya yang bertanggung jawab. Oleh polisi bayi tersebut kemudian dititipkan kepada bidan Lilie Ernawati, yang keberadaannya tak jauh dari lokasi kejadian.

Masih pada hari yang sama, Jum’at 15 Oktober 2010, ditemukan sosok mayat bayi laki-laki yang masih dilengkapi tali pusat dan ari-ari mengambang di aliran Kanal Banjir Barat (KBB), Jalan Pelita III, RT 05 RW 04, Kelurahan Jatipulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Diduga, bayi tersebut dilahirkan dengan cara normal dan bukan korban aborsi. Sebab, kondisi bayi tampak gemuk dan tampaknya dilahirkan cukup bulan. Diduga, bayi sudah dibuang sekitar 1-2 hari sebelum ditemukan, karena kondisinya sudah membusuk.

Sehari kemudian, Sabtu 16 Oktober 2010, ditemukan sosok bayi laki-laki yang dibuang di ruang sholat khusus perempuan di Masjid Al-Nadloh Kalideres, Jakarta Barat. Diperkirakan bayi tersebut berusia sekitar 6 bulan, dan ditemukan oleh sejumlah jemaah masjid dalam keadaan tergolek di sudut ruang sholat perempuan dengan kondisi tengah menangis.

Bayi tersebut kemudian dibawa ke Puskesmas Kalideres untuk diperiksa. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, bayi tersebut menderita Hydrocephalus dan Hernia Pusar. Diduga, orang tua bayi terpaksa menelantarkan anaknya karena tidak memiliki biaya pengobatan.

***

Rangkaian kasus buang bayi sepanjang Januari-Oktober 2010 sebagaimana terjadi di seantero Nusantara, tentu sangat memprihatinkan kita. Rusaknya moral dan perzinaan menjadi dua sebab utama yang mendorong kasus tersebut. Keduanya harus diberantas tuntas. Tidak hanya ulama yang bertanggung jawab memberantas sumber kasus pembuangan bayi tersebut, namun yang utama merupakan tangung jawab pemerintah.

Rusaknya moral dan perzinaan yang terjadi merupakan tanggung jawab pemerintah. Kalau dana Rp 180 milyar digunakan untuk memberantas bejatnya moral dan mencegah perzinaan, tentu akan lebih bermanfaat ketimbang menghabiskan dana sebanyak itu untuk ngurusin kuburan sosok yang ketika hidupnya dikenal sebagai pengusung bid’ah dan dikabarkan dilingkari oleh wanita-wanita yang mengaku dizinai. Na’udzubillahi min dzalik! (Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian itu). (tede/haji)

(nahimunkar.com)

  • Aini Muhtar

    Astagfirulloh….bersyukurlah umat karena mendapat amanah dari yang kuasa…tapi knapa harus sekeji membuang mereka yang tak tahu dosa??? jika pelaku itu anggota PNS dua duanya…apa yang akan diperbuat oleh negara??? Sedangkan sampai sekarang tidak ada yang mengetahuinya,alias..anak dititpkan di panti asuhan sedang pelaku tetap bekerja sebagaimana mestinya,mendapat kesejahteraan yang biasa didapat PNS pada umumnya…akankah ada tindakan yang demikian ini???? Klo aparat saja sudah begini moralnya…??? apalagi rakyat jelata..???