Bos Cina Kristen Hancurkan Masjid Landmark di Jalan Sudirman Jakarta

Bos Cina Kristen Hancurkan Masjid Landmark di Jalan Sudirman Jakarta

Masjid Landmark yang kini sudah dihancurkan jadi tempat parkir motor. Foto ksk

Jakarta- Merasa memiliki uang banyak dan dekat dengan kekuasaan, Onggo, bos Cina Kristen pemilik PT Ratu Sayang yang mengelola Gedung Landmark di jalan Jenderal Sudirman Jakarta, nekat memerintahkan penghancuran Masjid Landmark yang terletak di basement gedung kompleks perkantoran dengan 33 lantai tersebut.

Padahal masjid yang dibangun tahun 1993 itu selalu ramai digunakan untuk sholat lima waktu terutama sholat Dhuhur, Ashar dan sholat Jum’at oleh pegawai perusahaan yang menyewa Landmark dan kompleks perkantoran di sekitarnya. Kalau sholat Dhuhur dan Ashar bisa mencapai 400 orang, sedangkan sholat Jum’at 1.000 orang. Disamping itu sepanjang tahun, Masjid Landmark juga banyak kegiatan seperti pengajian, seminar, sunatan massal, membantu fakir miskin dan yatim piatu di sekitar Landmark dan sebagainya. Apalagi kalau Ramadhon, sebulan full penuh dengan kegiatan keagamaan.

“Mulai hari ini (Rabu, 7/12) Masjid Landmark sudah digunakan untuk parkir sepeda motor karena sejak beberapa waktu lalu sudah diratakan dengan tanah. Padahal tempat lahan parkir masih luas, karena tingkat ocupancyLandmark hanya 30 persen. Masjid megah yang mampu menampung sampai 1.000 jamaah, sekarang ditukar dengan mushola kecil dekat toilet yang hanya mampu menampung 50 jamaah saja. Ini suatu penghinaan terhadap umat Islam Indonesia,” ungkap Ketua DKM Masjid Landmark, Nanang, kepada Suara Islam Online di lokasi penghancuran Masjid megah tersebut, Rabu (7/12).

Bangunan Masjid tersebut sekarang sudah tidak tersisa sedikitpun, bahkan karpet-karpetnya juga ikut dihancurkan sehingga umat Islam terpaksa sholat menggunakan kertas koran di bekas lokasi Masjid tersebut. Inilah salah satu bentuk kebiadaban dan arogansi si Cina Kristen anti Islam, Onggo dan anaknya Ronald Onggo, yang mempelopori penghancuran masjid tersebut.

Padahal waktu zaman penjajahan kolonial Belanda, Cina Kristen selalu menjadi antek penjajah untuk menindas pribumi Muslim. Sekarang pada zaman kemerdekaan, meski minoritas tetapi karena merasa mempunyai banyak uang dan dekat dengan kekuasaan, gantian mereka menindas pribumi Muslim yang dulu berjuang dengan darah dan air mata untuk membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah Kristen Belanda, sedangkan mereka justru berkolaborasi dengan penjajah yang sama-sama Kristennya.

Sementara itu sebagai dampak dari laporan penghancuran Masjid Landmark kepada Gubernur DKI Jakarta, Walikota Jakarta Selatan, DPRD, Pangdam dan Kapolda; akhirnya Nanang sebagai Ketua DKM Masjid Landmark dipecat dan PT Ratu Sayang.

“Kalau tidak bisa memberi fasilitas umum seperti Masjid kepada umat Islam yang mayoritas, lebih baik Gedung Landmark ditutup saja karena hanya digunakan untuk memperbesar pundi-pundi dan membuncitkan perut si Cina Kristen Onggo,” ungkap salah seorang pengurus DKM Masjid Landmark yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Rep: Abdul Halim      (SI ONLINE)- Abdul Halim | Rabu, 07 Desember 2011 | 11:00:54 WIB |

***

Perjuangan untuk menyelamatkan masjid Landmark tergambar dalam surat pembaca di situs eramuslim berikut ini.

***

Gerakan Selamatkan Masjid Landmark

Jumat, 07/10/2011 14:37 WIB

Tujuan Utama Aksi :

Mendapatkan kembali Masjid yang telah dibongkar oleh pemilik/pengelola gedung dengan alasan akan dijadikan lahan parkir motor atau meminta pemilik/pengelola menyediakan Masjid dengan kapasitas yang sekurang-kurangnya berukuran sama dengan masjid yang telah dibongkar tanpa mengurangi fasilitas yang diberikan.

Kronologis dan Latar Belakang :

Awal Juli 2011

Beberapa jama’ah melaporkan kepada pengurus masjid bahwa beberapa orang pegawai dan keamanan Gd. Landmark melakukan pemotretan dan pengukuran pada lokasi Masjid Landmark di Lt. Basement Tunnel. Tidak diketahui tujuan yang dilakukan, namun penjaga Masjid mendapatkan informasi secara tidak langsung (baca: issue) bahwa Masjid akan direlokasi.

Pengurus tidak terlalu merespon secara agresif atas apa yang sudah terjadi karena berasumsi pihak pengelola gedung akan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pengurus Masjid jika memang benar informasi (baca: issue) pengalihan Masjid akan dilakukan oleh pengelola/pemilik gedung.

Senin, 1 Ramadhan 1432 H / 1 Agustus 2011 M

Salah seorang jama’ah Masjid yang juga merupakan salah satu perwakilan manajemen perusahan tenant menyampaikan kebenaran issue yang beredar karena telah bertemu langsung dengan pihak pengelola/ pemilik gedung gedung. Ybs menginformasikan bahwa rencana relokasi ini sudah dibuat oleh pemilik gedung jauh sebelum Ramadhan dan akan dieksekusi pada bulan Ramadhan.

Ybs menyampaikan informasi tentang latar belakang dan rencana lokasi baru yang akan dipakai sebagai pengganti masjid yang ada saat ini dari pengelola/pemilik gedung. Ybs menyakini bahwa pengelola gedung belum berbicara dengan pengurus masjid mengenai rencana ini, dan telah meminta kepada pengelola gedung agar tidak dieksekusi pada bulan Ramadhan karena Masjid sudah memiliki banyak agenda kegiatan.

Pada fase ini pengurus masjid sama sekali belum terinformasikan secara resmi dari pihak pengelola/pemilik gedung tentang rencana relokasi masjid dan berupaya tetap melayani jama’ah serta melaksanakan agenda kegiatan Ramadhan, kemudaian pengurus berinsiatif untuk mengumpulkan beberapa perwakilan jama’ah untuk bermusyawarah dalam menentukan langkah-langkah antisipasi eksekusi rencana yang telah dibuat oleh pengelola/pemilik gedung.

Jum’at, 5 Ramadhan 1432 H / 5 Agustus 2011 M

Pengurus mengumpulkan beberapa perwakilan jama’ah untuk bermusyawarah dalam menentukan langkah-langkah antisipasi dan merencanakan untuk berdialog dengan pemilik/pengelola gedung.

Kamis, 11 Ramadhan 1432H/11 Agustus 2011

Pengurus masjid ini bersama beberapa perwakilan dari tenan perusahaan BNI, BNI Syariah, KBR, Indoturbin, dan Oberthur yang berjumlah 12 orang menemui pemilik/pengelola gedung Landmark untuk membicarakan seputar rencana relokasi masjid kita ini.

Pengelola/pemilik gedung menyampaikan latar belakang rencana relokasi dengan alasan adanya desakan permintaan dari beberapa tenant gedung Landmark untuk menyediakan lahan parkir motor yang lebih besar karena pertambahan jumlah pegawai dan lantai yang mereka sewa di gedung ini.

Pengelola/pemilik gedung juga menyampaikan lokasi dan denah rencana masjid baru yang akan dibangun sebagai pengganti masjid yang lama.

Pengurus masjid menyampaikan keberatan atas rencana yang akan dilakukan oleh pengelola/pemilik gedung dan mengusulkan beberapa alternatif agar solusinya win-win bagi kedua belah pihak:

  1. Mengusulkan areal parkir tambahan di tempat lain karena di gedung Landmark masih banyak yang kosong, apalagi tingkat occupancy gedung bisa dikatakan ‘rendah’.
  2. Menggunakan areal kosong di sekitar masjid untuk dipergunakan sebagai tambahan lahan parkir motor, tanpa harus membongkar masjid sehingga tidak perlu biaya pembuatan masjid yang baru.
  3. Mengurangi lahan masjid di belakang dan mengalihkan areal masjid di belakang ke area samping yang kosong sehingga kapasitas masjid tetap, tanpa harus membongkar masjid sehingga tidak perlu biaya pembuatan masjid yang baru.
  4. Jika pengelola/pemilik gedung tetap akan merelokasi masjid, maka peserta musyawarah mengusulkan lokasi lain yang memiliki kapasitas yang sebanding dengan masjid yang ada saat ini.

Pada peristiwa ini pengelola/pemilik gedung menunjukkan sikap kesewenang-wenangan dalam berdiskusi dengan menempatkan posisi yang arogan dan bertindak tidak peduli atas aspirasi dan tidak menghargai pendapat/masukan dari seluruh peserta musyawarah dari pihak pengurus Masjid dan perwakilan tenant yang hadir.

Pengelola/pemilik gedung merasa tidak berkewajiban menyediakan fasilitas ibadah kepada tenant dan mempersilahkan tenant mencari tempat ibadah lain di luar gedung Landmark. Pengelola/pemilik gedung merasa sudah berbaik budi kepada tenant dengan menyediakan masjid yang akan dibongkar tsb.

Pada fase ini pengurus Masjid mulai mencurigai adanya upaya-upaya untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan kemakmuran Masjid oleh pihak-pihak yang memiliki akses yang bagus dengan pemilik gedung yang tidak berkeinginan adanya perkembangan Islam di lingkungan gedung Landmark, mengingat rencana yang dilakukan tidak dikomunikasikan dengan baik dengan stakeholders dari masjid dan terkesan tergesa-gesa.

Libur Lebaran s.d. akhir September :

Gedung tidak dibongkar dan pengurus masjid tidak mendapatkan informasi apapun dari pihak pengelola/pemilik gedung. Ketua DKM bahkan mendapatkan informasi yang sebaliknya dari salah satu perwakilan manajemen perusahan tenant yang bertemu langsung dengan pemilik gedung bahwa masjid tidak jadi direlokasi. Sampai fase ini pengurus masjid berasumsi relokasi masjid tidak jadi. Pengurus dan jama’ah merasa tenang beribadah.

Sabtu, 22 September 2011

Arsitek gedung menelepon HP pribadi kepada Ketua DKM memberitahukan pelaksanaan pembongkaran gedung dilaksanakan hari ini (22 September 2011). Ketua DKM menyatakan keberatan dan ketidaksetujuan kepada arsitek gedung karena secara tiba-tiba dan sepihak akan melakukan eksekusi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ketua DKM meminta agar proses dilakukan dengan etika dan prosedur yang lebih baik.

Senin-Selasa, 26-27 September 2011

Pengelola gedung baru mengirimkan rencana eksekusi pada tanggal 26 September 2011 dengan melampirkan jadual rencana kerja yang seharusnya sudah dimulai sejak tanggal 20 September. Pelaksana eksekusi mendesak agar jadual eksekusi pembongkaran dilakukan dalam pekan ini (pekan terakhir) karena sudah bergeser dari skedul yang ada.

Mengingat kondisi yang ada: persiapan di tempat yang baru sudah dilakukan; dan untuk menghindari eksekusi pembongkaran secara paksa, maka pengurus masjid mempersilahkan dilaksanakan pembongkaran setelah dilakukan sosialisasi kepada jama’ah masjid dan untuk menyelamatkan aset-aset masjid dari kerusakan akibat pembongkaran.

Sabtu, 30 September 2011

Masjid dibongkar pada hari Jum’at, 30 September 2011 (2 Dzulqa’dah 1432 H) mulai pukul 16.30 WIB. Sejak dilakukan pembongkaran seluruh kegiatan dilaksanakan pada areal terbuka bekas pembongkaran dengan segala keterbatasan yang ada.

Data dan Fakta Tentang Masjid Landmark

Masjid yang Sudah Dibongkar:

  1. Lokasi : Basement Tunnel Gd. Landmark.
  2. Tahun didirikan : 1993.
  3. Ukuran : Indoor (150 m2), Outdoor (±400 m2), dan areal samping dan depan (±450 m2).
  4. Tinggi : ±3 m (Indoor) dan ±4 m (Outdoor).
  5. Daya tampung : ±250 orang (Indoor) dan ±600 orang (Outdoor).
  6. Fasilitas : AC Split 6 buah (Indoor), Kipas angin (outdoor), Tempat wudhu (5 pancuran), Tidak ada Toilette/WC.
  7. Kegiatan rutin :

a)    Shalat Jum’at: Jumlah jama’ah dipekirakan sekitar 700-800 orang.

b)    Shalat Rawatib Zhuhur dan Ashar: 250-300 orang berjama’ah.

c)    Bimbingan baca dan hapalan al-Qur’an (Senin siang – Kamis sore).

d)    Kajian Islam ba’da Zhuhur (Selasa – Kamis).

e)    Kegiatan Kajian Ramadhan (setiap hari kerja).

f)     Ta’jil harian Ramadhan (setiap hari kerja).

  1. Kegiatan tambahan:
  2. Santunan dan perlombaan anak yatim dan dhu’afa di bulan Ramadhan (±75 anak/tahun) mengundang beberapa yayasan, di antaranya: Yayasan Pewaris Negeri/Masjid Sa’id Naum (Kebon Kacang), Yayasan Griya Arafah Semesta (Kebon Melati), Yayasan Amanah (Kampung Bali), dan TPA al-Amal (Setiabudi).
  3. Khitanan anak yatim dan dhu’afa pada liburan sekolah (±30 anak/tahun) bekerja sama dengan Hilal Ahmar Jakarta.
  4. Bingkisan bagi pegawai dhu’afa di lingkungan Gd. Landmark (tiap tahun).
  5. Pameran dan Bazaar produk-produk Islami.
  6. Bedah buku dan pelatihan fiqih Islam.
  7. Pembukaan gerai lembaga ZIS dan Qurban (dgn Portal Infaq).
  8. Penggalangan bantuan bencana dan musibah.
  9. Penggalangan bantuan peduli dunia Islam, khususnya Palestina (dgn KISPA).
  10. Penggalangan bantuan pembangunan Masjid, pendidikan Islam, dll.
    1. Pendanaan : Semua fasilitas (incl. listrik dan air) tidak dipungut biaya oleh manajemen gedung. Seluruh kegiatan yang diadakan didanai oleh jama’ah Masjid tanpa melibatkan bantuan dana dari pemilik gedung.

Data dan Fakta di Atas Menunjukkan Bahwa:

  1. Masjid kami tidak pernah sepi dan sangat ramai dipergunakan tenant dan orang-orang di sekitar gedung untuk beribadah. Semakin hari jumlah jama’ah shalat berjama’ah (Zhuhur dan Ashar) semakin bertambah banyak. (Lihat poin 7 dan 8).
  2. Gedung Landmark pada mulanya sepi, namun masjid tetap ramai dengan kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk kegiatan sosial yang mengatasnamakan jama’ah Gd. Landmark. Pada setiap kegiatan kami meminta kepada anak-anak yatim dan dhu’afa agar mendo’akan supaya gedung ini bisa lebih banyak tenantnya sehingga lebih banyak infaq yang terkumpul, sehingga lebih banyak lagi anak-anak yatim dan dhu’afa yang dapat santunan dan dikhitan massal.
  3. Areal kosong di gedung Landmark masih banyak. Tingkat occupancy-nya juga masih dapat dikatakan rendah. Masih banyak alternatif lokasi lain yang bisa dipergunakan sebagai lahan parkir motor dan masih banyak lahan yang luas untuk dipergunakan sebagai lokasi masjid yang baru dengan kapasitas yang sebanding tanpa harus membongkar masjid yang sudah berada di situ sejak tahun 1993 dan dialihkan ke tempat yang dapat dikatakan tidak layak sebagai sebuah rumah ibadah.
  4. Tenant perusahaan di gedung ini mayoritas adalah pegawainya muslim dan berjenis kelamin laki-laki yang memiliki kewajiban melakukan shalat Jum’at berjama’ah di Masjid.
  5. Gedung penyedia tempat ibadah shalat Jum’at di sekitar gedung Landmark jumlahnya sedikit dan kapasitasnya sangat terbatas, sehingga akan membuat kesulitan sebagian besar jama’ah yang bekerja di Gd. Landmark untuk mencari tempat beribadah, khususnya untuk melaksanakan shalat Jum’at.
  6. Sekiranya pemilik gedung mempermasalahkan keberadaan Masjid kami membebani biaya operasional gedung akibat penggunaan air dan listrik secara gratis oleh pengelola gedung, semestinya hal ini dapat dibicarakan dengan cara musyawarah yang lebih baik.

Dengan memohon kekuatan dan bimbingan-Nya, kami bertekad mempertahankan Masjid ini dan mempersembahkan usaha dan jerih payah ini semata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

Jakarta, 07 Oktober 2011

M. Isa Syahroni
Ketua DKM Masjid Landmark
0852 8777 3935 / PIN: 212718FB
Email: [email protected]

http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/gerakan-selamatkan-masjid-landmark.htm

(nahimunkar.com)

 

  • suherman obon

    Setuju !! kita baikot setan yahudi Indonesia ini. Mengapa orang-orang nasrani begitu ngotot untuk mendirikan gereja di Bogor sementara mesjid kita di hancurkan ?? Hayo kita berjuang jangan biarkan kafir-kafir melakukan seenaknya.Mana FPI dan oramas-oramas muslimlainnya ??

  • Djoko Sujono

    Mulailah jangan berbelanja di Landmark dimana saja kapan saja dan untuk keperluan apapun….siap.