Dari Kenduri Sampai Kembar Mayang Dijelaskan, Itu Bukan dari Islam

Dari Kenduri Sampai Kembar Mayang Dijelaskan, Itu Bukan dari Islam
  • Abdul Aziz yang dikenal sebagai mantan orang Hindu sering menjelaskan sejumlah praktek yang berlangsung di kalangan sebagian Muslimin, namun sebenarnya bukan dari Islam. Dari kebiasaan berupa kenduri atau selamatan sampai kembar mayang untuk pengantin, semua itu bukan dari Islam.
  • Tampaknya ada kelompok yang tidak suka, hingga ada rencana –menurut laporan yang dimuat di suatu situs— untuk menghadapinya. Kemudian ketika berdakwah di Kulonprogo Jogjakarta, da’i ini dimintai keterangan di kepolisian setempat.
  • Inilah beritanya, dan di bagian bawah kami kutip isi ceramah Abdul Aziz yang dimuat situs Muhammadiyah Sragen. Selamat menyimak.

***

Jelaskan Islam yang Benar, Ustadz Abdul Aziz Mantan Pendeta Hindu Ditangkap

 

Jogja (an-najah.net) malam, 16 November 2011. Penangkapan Ustadz asal Blitar tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Informasi yang berhasil dihimpun an-najah menyebutkan, awalnya Ustadz Abdul Aziz mengisi tabligh di salah satu masjid di Kulonprogo.  Usai tabligh beberapa orang yang mengaku dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kulonprogo, mengajak untuk dialog.

Malam itu juga, Ustadz Abdul Aziz dibawa ke Mapolres Kulonprogo. Tanpa didampingi pengacara, Ustadz yang getol mengkampanyekan anti syirik tersebut diperiksa berjam-jam di Polres Kulonprogo. Sayangnya, semenjak kedatangan FKUB hingga di Mapolres Kulonprogo, tidak ada satu pun panitia tabligh yang membela dan mendampingi Ustadz. “Saya merasa ini adalah jebakan,” kata Ustadz.

Sekitar jam 12 WIB, Kamis,17 November, Mirzen, TPM Jogja, bersama Ustadz Abdurrohman  dan  MH Nafi’ mendatangi Mapolres Kulonprogo. “Bahwa saya di beritahu Pak Micdan, tolong dicek, katanya ada penangkapan tadi malam  di Kulonprogo,” kata Mirzen, ketika dihubungi lewat telepon.

Mereka bertiga  menanyakan bagaimana perkembangan Ustadz kepada Kapolres Kulonprogo. Mirzen menuturkan, “Dari Polres hanya pengamankan, bukan penangkapan,” jelasnya. Karena hanya pengamanan, maka Ustadz Abdul Aziz bisa dibawa pulang. Tetapi Ustadz , diminta untuk membut surat-surat pernyataan.

Ustadz Abdul Aziz menyerahkan surat kuasa kepada TPM Jogja. Mirzen meminta,” kalau  ada hal-hal yang berkenaan dengan pemeriksaan dan hal-hal lain, harus konfirmasi dengan pihak TPM” imbuhnya. Mirzen pun juga mengontak pihak panitia penyelenggara, menanyakan apakah isi ceramahnya Ustadz  ada provokasi. Pihak panitia menjelaskan , tidak ada provokasi, isiannya standar.

TPM mengajak beberapa elemen  yang terlibat dalam acara tablig akbar, untuk bisa duduk bersama, bagaimana kronologis sesungguhnya. Dengan harapan untuk bisa meluruskan informasi yang tidak benar, agar tidak ada fitnah dan saling curiga.

Sekitar pukul empat sore, ada elemen umat Islam yang menjemput Ustadz di Polres Kulonprogo. Kemudian Ustadz  singgah di markas Front Jihad Islam (FJI) Jogja. Karena Ustadz terlalu lelah , maka Mirzen menyarankan untuk istirahat terlebih dahulu.

Berita penangkapan ini juga sampai ke Solo. Dengan 6 mobil dan puluhan motor, FPI Solo dan Klaten nglurug ke Kulonprogo. “Kita akan mengerahkan massa ke Mapolres Kulonprogo, sampai Ustadz Abdul Aziz dibebaskan,” kata Khoirul, ketua FPI Solo. Namun begitu mengetahui Ustadz sudah dibebaskan, rombongan langsung ke markas FJI. Kedatangan massa dari Solo dan Klaten ini disambut langsung oleh Ustadz Abdul Aziz. Anto/ Ridho, Rabu, 23 November 2011 02:25 administrator

***

TPM : Tak Ada Provokasi dari Ustadz Abdul Aziz

Rabu, 23 November 2011 02:28 administrator

Jogja (an-najah.net)-Terkait kejadian yang menimpa Ustadz Abdul Aziz di Kulonprogo, Kamis lalu, TPM menyatakan tidak ada motif provokasi dalam ceramah Ustadz yang mantan pendeta Hindu itu. TPM Jogja yang diwakili Mirzen, SH. menyatakan telah menanyakan ke pihak panitia penyelenggara tabligh terkait konten ceramah Ustadz Abdul Aziz. “Tidak ada provokasi. Isiannya standar,” ujar Mirzen mengutip keterangan dari panitia.

Tentang penangkapan Ustadz Abdul Aziz, Mirzen sendiri mendapat kabar dari TPM Pusat Jakarta. “Saya diberitahu Pak Michdan yang meminta saya mengecek berita (penangkapan) itu,” katanya yang dihubungi an-najah melalui telepon. Selanjutnya, ditemani Ustadz Abdurrohman dan MH Nafi’, Mirzen mendatangi Mapolres Kulonprogo, Kamis 17 Nop.

Dari keterangan petugas di Mapolres ditegaskan bahwa tidak ada penangkapan. “Yang ada hanya pengamanan, bukan penangkapan,” kata Mirzen. Karena hanya pengamanan, Ustadz Abdul Aziz pun bisa segera pulang, meski sebelumnya diminta membuat surat pernyataan. Selanjutnya, Ustadz menyerahkan urusannya kepada TPM Jogja. Belum diketahui apa isi surat pernyataan yang disyaratkan pihak Polres kepada Ustadz Abdul Aziz tersebut. (anto/ridho)

http://an-najah.net/index.php?option=com_content&view=article&id=351:news&catid=58:nasional&Itemid=102

http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/26866

***

MANTAN PENDETA HINDU DI KAJIAN AHAD PAGI

Ditulis oleh Administrator

Senin, 13 Desember 2010 05:11

Sragen (Ahad, 12 Des 2010) Dalam rangka membentengi aqidah umat dari pendangkalan aqidah, Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus mendatangkan Mantan Pendeta Hindu sebagai pembicara Pengajian Rutin Ahad Pagi. Beliau, ustadz Abdul Azis, S.Ag mantan pendeta hindu dari Blitar membeberkan berbagai praktek hinduisme di kalangan Islam.

Berikut materi:  Banyak upacara adat yang menjadi tradisi di beberapa lingkungan masyarakat Islam yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Islam. Tradisi tersebut ternyata bukan bersumber dari agama Islam, tetapi bersumber dari agama Hindu. Agar lebih jelasnya dan agar umat Islam tidak tersesat, marilah kita tela’ah secara singkat hal-hal yang seolah-olah bermuatan Islam tetapi sebenarnya bersumber dari agama Hindu.

  1. 1.    Tentang Selamatan yang Biasa Disebut GENDURI [Kenduri atau Kenduren]

Genduri merupakan upacara ajaran Hindu. [Masalah ini] terdapat pada kitab sama weda hal. 373 (no.10) yang berbunyi “Antarkanlah sesembahan itu pada Tuhanmu Yang Maha Mengetahui”. Yang gunanya untuk menjauhkan kesialan.

“Sloka prastias mai pipisatewikwani widuse bahra aranggaymaya jekmayipatsiyada duweni narah”.

[Hal ini] bertentangan dengan  Firman Allah :

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (٥٧)

”Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat [51]:57)

Juga terdapat pada kitab siwa sasana hal. 46 bab ‘Panca maha yatnya’. Juga terdapat pada Upadesa hal. 34, yang isinya:

  1. a.    Dewa Yatnya [selamatan]

Yaitu korban suci yang [secara] tulus ikhlas ditujukan kepada Sang Hyang Widhi dengan jalan bakti sujud memuji, serta menurut apa yang diperintahkan-Nya (tirta yatra) metri bopo pertiwi.

  1. b.    Pitra Yatnya

Yaitu korban suci kepada leluhur (pengeling-eling) dengan memuji [yang ada] di akhirat supaya memberi pertolongan kepada yang masih hidup.

  1. c.     Manusia Yatnya

Yaitu korban [yang] diperuntukan kepada keturunan atau sesama supaya hidup damai dan tentram.

  1. d.    Resi Yatnya

Yaitu korban suci [yang] diperuntukan kepada guru atas jasa ilmu yang diberikan (danyangan).

  1. e.    Buta Yatnya

Yaitu korban suci yang diperuntukan kepada semua makhluk yang kelihatan maupun tidak, untuk kemulyaan dunia ini (unggahan).

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٧٠)

”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.(QS. Al-Baqoroh[2]:170)
[Lihat juga QS. Al-Maidah[5]:104, Az-Zukhruf [43]:22)

Tujuan dari yang [disebutkan] di atas merupakan usaha untuk meletakkan diri pada keseimbangan dalam hubungan diri pribadi dengan segala ciptaan Tuhan, [serta] untuk membantu kesucian/penghapus dosa.

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Allah :

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (٢)

”Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Az-Zumar [39]:2). Periksa juga surat 18: 110, 39: 65, 16: 36, 7: 59,65,73,85, 4: 116, 6: 88, 17: 39.
2. Tentang Sesajen

“Makiyadi sandyan malingga renbebanten kesaraban kerahupan dinamet deninhuan keletikaneng rinubebarening………..”

Sesajen tujuannya memberi makan leluhur pada waktu hari tertentu atau dilakukan pada setiap hari.
[Dilakukan] untuk memberikan keselamatan kepada yang masih hidup, juga persembahan kepada Tuhan yang telah memberikan sinar suci kepada para Dewa. Karena pemujaan tersebut dianggap mempengaruhi serta mengatur gerak kehidupan, bagi mereka yang masih menginginkan kehidupan [dan] hasil/rezeki di dunia akan mengadakan pemujaan dan persembahan ke hadapan para Dewa. [Hal ini] juga terdapat pada kitab Bagawatgita hal. 7 no. 22, yang artinya “Diberkati dengan kepercayaan itu, dia mencari penyebab apa yang dicita-citakan”.

[Masalah ini] bertentangan dengan Firman Allah :

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (١٠٦)

”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.(QS. Yunus [10]:106) Periksa juga surat Ghofir :60.

3. Tentang Wanita Hamil

Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan (telonan, tingkepan). [Hal ini] terdapat dalam kitab Upadesa hal. 46. Dan setelah bayi lahir, ari-ari[nya] terlebih dahulu dibersihkan dan dicampurkan dengan bunga, dan kemudian dimasukkan dalam kelapa/kendil untuk kemudian ditanam. Bila perempuan di kiri pintu, bila laki-laki di kanan pintu dan diadakan genduri (sepasar, selapan, telonan, dst)

Tentang bunga:

Putih : Dewa Brahma

Merah : Dewa Wisnu

Kuning : Dewa Syiwa

4. Tentang Penyembelihan Kurban

Penyembelihan kurban untuk orang mati pada hari naasnya (hari 1,7,4,….1000) [terdapat] pada kitab Panca Yadnya hal. 26, Bagawatgita hal. 5 no. 39 yang berbunyi “Tuhan telah menciptakan hewan untuk upacara korban, upacara kurban telah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan dunia.” (Mewedha, yasinan, tahlilan)

Bertentangan dengan Firman Allah :

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS.An-Al’aam [6]: 162). Lihat juga 27: 80, dan 35: 22

5. Tentang Kuade/Kembar Mayang

Kuade merupakan hasil karya dan sebagai simbol pada manusia atas kemurahan para Dewa-Dewa. Sedang kembar mayang sebagai penolak balak dan lambang kemakmuran.

Kita harus yakin atas pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta’ala

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٦٠)

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imron [3]: 160)

Sesuai perintah Alloh [mengenai] jalan keselamatan

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا (١٥)

”Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS.Al-Isro’[17]: 15). Periksa juga 39: 55

6. Tentang Mendirikan Rumah

Pada dasarnya rumah yang baru lulus [selesai dibangun], melakukan [hal-hal] sebagai berikut:

a. Membuat carang pendoman (takir)

b. Peralatan jangga wari (tikar, kasur, bantal, sisir, cermin)

7. Tentang Hari/Saptawara [berkaitan dengan mencari rezeki]

Minggu Raditya 5 [arah Timur]

Senin Soma 4 [arah Utara]

Selasa Anggoro 3 [arah Barat Daya]

Rabu Buda 7 [arah Barat]

Kamis Respati 8 [arah Tenggara]

Jum’at Sukra 6 [arah Timur Laut]

Sabtu Sanescara 9 [arah Selatan]

Palawara hari:

Tumanes Legi 5

Pahing 9

Pon 7

Wage 4

Kliwon 8

8. Tentang Pujian [yakni yang dilakukan sesudah adzan untuk menunggu iqomat]

Terdapat pada kitab Rig Weda hal. 10 :”Tunja tunji ya utari stoma indrastya wajrinah nawidhi asia sustutim” Artinya: ‘Makin tinggilah pujian kami dalam nyanyian kepada Dewa Indra Yang Perkasa’.

[Hal ini] bertentangan dengan Firman Alah :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ (٢٠٥)

”Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’roof[7]: 205). Periksa juga 7: 55, 19: 1,2,3

BERIKUT INI DIKUTIP DARI : TIM PENYUSUN DAN PENELITI NASKAH BUKU – DIREKTORAT JENDERAL BIMBINGAN HINDU DAN BUDHA

  • Roh itu bertingkat kedudukannya, berfungsi menunjang kelestarian alam dan kita yang masih hidup.
  • Menunjang kehidupan roh tersebut.
  • Meningkatkan kedudukan roh walau di alam Dewata, agar akhirnya manunggal dengan Brahma dan agar tidak terlahir lagi dalam bumi [reinkarnasi].
  • Bahwa amerta adalah santapan yang diperlukan untuk kelestarian para dewa dan roh dewa dan roh suci lainnya. Dan apabila kita berhasil mempersembahkan amerta itu ke hadapan para dewa, maka sebagai imbalan, roh tersebut yang ada hubungannya dengan kita diampuni dan dibebaskan serta berhak mendapat tempat yang lebih tinggi.
  • Bahan baku amerta ialah makanan, minuman serta sari rasa yang sedap. Inilah yang dibutuhkan makhluk itu.
  • Dengan memenuhi persyaratan, kita bisa memohon amerta untuk kepentingan pribadi maupun dewa dan roh yang lain. Dengan mengorbankan makanan [dan] minuman tertentu dapat dijadikan bahan dasar permohonan. Semakin banyak persembahan atau kurban akan semakin baik. Dan amerta semakin banyak, akhirnya roh pemohon bersama dengan bahan [menyebar] ke alam sekitar melalui suara dengan pemujaan, genta, dan asap dupa.
  • Slametan memberikan kekuatan hidup para dewa, memberikan ampunan kepada roh yang berdosa, [dan] dapat memberikan kesucian pada roh yang sudah diampuni dosanya.
  • Akan tetapi kalau tidak, slametanasura akan bebas mengganggu manusia. Banyak orang sakit, kesurupan, roh orang yang baru meninggal mengikuti sanak keluarga.
  • Para dewa akan puas kalau [diadakan] genduri. Sesaji roh suci itu pun akan sering turun ke bumi sebagai tamu luhur bagi masyarakat pemuja sekaligus menurunkan berkah subur makmur panen berlimpah. Dewa akan turun keseluruhan dengan berpasangan, menyantap genduri [dan] sesajen yang dipersembahkan.

Subhanakallohumma wa bihamdihi, asyhadu an laa ilaaha illa anta, wa astaghfiruka wa atuubu ilaika Wa akhiru da’wana, walhamdulillahirobbil ‘alamin

http://muhammadiyah-sragen.org/component/content/article/34-mantan-pendeta-hindu-di-kajian-ahad-pagi?showall=1

(dilengkapi teks ayat oleh nahimunkar.com)

***

Allah tidak meridhai kekafiran

Allah Ta’ala tidak meridhai kekafiran, telah ditegaskan dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7].

Sedangkan terhadap Islam, Allah Ta’ala telah meridhainya sebagai agama, dan telah Dia sempurnakan untuk manusia. Jadi Islam ini tidak memerlukan tambahan ataupun campuran dari manapun, apalagi dari kekafiran. Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku- cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.”[Al- Ma‘idah :3].

Di samping itu telah ditegaskan pula, tidak boleh mencampur adukkan yang haq dan yang batil:

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٤٢)

42. Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah/2: 42).

Dari ayat-ayat itu telah jelas, Allah tidak ridha terhadap kekafiran, Dia meridhai Islam dan menyempurnakannya, tidak boleh kita mencampur adukkan yang haq / benar dengan yang batil dan bahkan tidak boleh menyembunyikan kebatilan. Bila kita mengaku Muslim, namun justru meridhai bahkan membela kekafiran, itu artinya adalah menentang Allah Ta’ala. Kepada yang menentang seperti itu, maka diancam oleh Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (115) إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا  [النساء/115، 116]

115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (Q.S An-Nisa’: 115-116)

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Mungkin di dunia bisa tertawa-tawa sambil mendapat sponsoran atau bergandeng tangan dengan kafirin. Tetapi di akherat kelak, bila di dunia tidak sempat atau tidak mau bertaubat, maka ancaman dahsyat itulah yang akan diderita.Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian itu!

(nahimunkar.com)

email
  • brjo musti

    yang jadi masalah sang ustadz memakai identitas palsu, mengaku pendeta Hindu mengaku keturunan Brahmana, memakai nama palsu bahkan KTP Palsu. kalau semuanya palsu apa masih yakin ajarannya Asli, kalau sudah berbohong pasti akan menutupi kebohongan yang lainnya, ya silahkan mempercayai si Ustadz palsu itu.

  • http://www.facebook.com/maulana.adrian.5 Maulana Adrian

    Ustadz abdul aziz hanya menjelaskan berbagai ritual agama hindu. Kenapa mesti marah marah dan kebakaran jenggot klo bukan orang hindu nagapain mesti marah ?? Sy dulu jg sama orang yg paling getol bikin sesajen dan getol selamatan tp alhamdulilah Allah memberikan hidayah dengan bisa menerima kebenaran walaupun awalnya pahit. Semoga dengan banyak nya orang-orang hindu yg masuk islam membuat saudara-daudara yg punya keyakinan batil itu segera safar fan mendapatkan hidayah Allah azawajala amiiin.

  • http://www.facebook.com/burhanuddin.jambi1 Burhanuddin Jambi

    memang ada ayat atau hadis SAMPAIKANLAH WALAUPUN HANYA SATU AYAT, tetapi kebanyakan umat islam senang yang instan hanya mencontoh apa yang diliat, yang didengar dsb, jarang ada yang mau meneliti kebenaran dari suatu amalan yang akan di kerjakan pada hal ada UNGKAPAN THOLABUL ILMI FARIDHOTUN "ALAKULIMUSLIM sedangkan ilmu yang utama yang dicari/dituntut adalah Al Qur'an, SUNNAH/ hadist dan ilmu Faro'id jadi kalau menurut saya kalau orang luar islam masuk kepada agama islam pasti dia punya argumentasi yang ilmiah

  • Boedi Ione

    Alhamdulillah saya mantap setelah dapat buku2 dr H Mahrus Ali dan lihat ceramah mantan pendeta,karena saya hidup berdampingan bahkan bawahan saya ada yang beragama hindu, sy selidiki benar2 bahwa 3, 7, 40 hr dan strsnya adlh bukan ajaran Islam, dan benar mereka (Hd) bangga dgn ajaranya yg telah mayoritas diikuti oleh Kita yg muslim, sy malu menjadi umat islam kalo masih mengikuti budaya agama lain, smoga Allah SWT memberikan hidayah kepada sy dan teman2 muslim yg lainya (salam dari Warga Bangka Belitung)

  • joeco

    satu lagi.. TUMPENG/Tumpengan : biasanya diwujudkan dalam bentuk seperti gunung (nasi), merupakan bentuk pengakuan (syahadatnya orang hindu) terhadap dewa mereka.. dan dilakukan oleh kelompok dalam strata/kasta rakyat/rendah.. jadi tumpengan merupakan syahadatnya orang hindu..

  • Uyun Nurul

    Alhamdulillah,msh ada hamba Allah yg peduli dg ilmu-Nya.Sya mengikuti kajian beliau di Magelang sangat baik dan tdk ada bentuk provokasi atau memecah belah umat Islam………

  • http://www.facebook.com/Sugik1190 Sugiyanto Pamungkas

    Allahu Akbar,,,

  • http://www.alsofwah.or.id sandhi

    Berkata Imam Asy-Syafi’i رحمه الله di dalam Al-Umm 1/248: "Aku membenci ma'tam, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit), meski di situ tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru."

    Lihat juga: Raudhatut Thalibin, Imam An-Nawawi 2/145, Mughnil Muhtaj 1/268, Hasyiyatul Qalyubi 1/353, Al-Majmu' Syarah Muhadzab 5: 286, Al- Fiqhu Alal Madzahibil Arba'ah 1/539, Fathul Qadir 2/142, Nailul Authar 4/148.

    Lebih lanjut di Kitab I'anatut Thalibin, Syarah Fathul Mu'in, juz 2, hal.145 –Kitab rujukan Nahdlatul Ulama – disebutkan:
    نَعَمْ , مَايَفْعَلُهُ النَّاسَ مِنَ اْلإِجْتِمَاعِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلىَ مَنْعِهَا
    “Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID'AH MUNGKARAT yang bagi orang yang mencegahnya akan diberi pahala."

  • http://www.amrull.com amrull

    setuju, islam adalah islam, ga boleh bercampur dg budaya adat, apalagi bs menjadikan syirik & bid'ah……..

  • sang joewara

    ASSALAMUALAIKUM

  • darwin

    semoga ini menjadi awal/tonggak pencerahan bagi umat muslim d jawa jg Indonesia yg masih mencampuradukan mana budaya/ agama,, jg ada tuntunan/Dalil yg bsa menguatkan bahwa suatu ibadah hukumnya haram jika tidak ada Dalil baik Al Qur'an jg Sunnah .. smg bermanft.. coz smw kebenaran datangnya hanya dari ALLAH SWT jg Rosul2nya termasuk Nabiyulloh Muhammad SAW.. Amin Y Rabb…