Densus 88 Dinilai Beringas dan Bengis

Densus 88 Dinilai Beringas dan Bengis

Densus88_8346237412

Makassar – KabarNet: Eksekusi pelumpuhan orang yang diduga teroris oleh Densus 88 di Masjid Al Nur Afiah Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan Jumat (4/1/2013) dinilai sebagai aksi beringas dan bengis yang sama sekali tidak mencerminkan profesionalitas sebuah institusi penegak hukum.

“Densus 88 ini sama dengan satuan tugas yang bertindak sebagai bandit, “ tandas mantan anggota Komite Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Dr Saharuddin Daming, MH.

Anggota Dewan Pusat HAM Islam (Pushami) Indonesia ini mengecam keras tindakan Densus 88 itu. Satuan ini, kata dia, telah berulang-ulang melakukan tindakan eksekusi pada orang yang mereka anggap sebagai pelaku teroris dengan melanggar prosedur hukum dan juga unsur kemanusiaan.

“Ini jelas merupakan pelanggaran HAM serius, sekaligus pelanggaran hukum. Dalam peraturan perundangan, penegak hukum wajib menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Tetapi Densus 88 justru melampaui batas kewenangannya melakukan operasi penembakan mematikan kepada target sasaran hanya dengan bermodalkan prasangka,” kecam Saharuddin seperti dikutip JPNN, Jum’at (4/1/2013).

Malah Saharuddin menyebutkan, aksi Densus 88 ini melanggar peratuan Kapolri, khususnya peraturan No.8 tahun 2009 tentang pelaksanaan prinsip dan norma HAM dalam menjalankan tugas Polri. Itu juga melanggar Undang-undang Nomor 15 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme. “Aparat penegak hukum dalam menangani kasus terorisme tetap mengacu pada mekanisme hukum secara umum dan wajib menghormati HAM,” terangnya.

Sebenarnya, bila Densus 88 profesional dan murni untuk penegakan hukum, kata Saharuddin, maka proses penangkapan dilakukan secara hidup-hidup. Sebab mereka akan mendapatkan informasi yang lebih berguna untuk penyelidikan lebih lanjut. Tapi dengan tindakan gegabah, hingga mengeksekusi, maka itu berarti mereka sendiri menghilangkan barang bukti dan sumber informasi yang berharga. [KbrNet/JPNN/adl]

Posted by KabarNet pada 06/01/2013

***

Pernyataan PUSHAMI Tentang Penangkapan dan Pembunuhan Brutal Densus 88 Terhadap Aktivis Islam yang Diduga Teroris

PERS RELEASE PUSHAMI

TENTANG PENANGKAPAN DAN PEMBUNUHAN BRUTAL DENSUS 88 TERHADAP AKTIVIS

ISLAM YANG DIDUGA TERORIS

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Sepak terjang Densus 88 kini mulai mencuat lagi pasca menebar teror dengan menembak mati 7 “terduga” teroris dan menangkap 4 lainnya dalam waktu 2×24 jam. Dalam salah satu penangkapan, Densus 88 layaknya dead squad tanpa ampun membunuh 2 orang aktivis Islam di halaman Masjid Al Nur Afiah, Makasar.

Berdasarkan monitoring PUSHAMI, Densus 88 telah berulang kali melakukan abusing powers, baik dalam penggunaan anggaran yang tidak independen. Selama ini tidak jelas operasi besar–besaran Densus 88 yang didanai oleh negara maupun asing tidak pernah jelas penggunaannya. Misalnya Detasemen 88, menerima pelatihan, perlengkapan dan dukungan operasional yang luas dari Polisi Federal Australia (AFP). Antara 2010 dan 2012 ini nilainya mencapai $ 314.500 kemana semua dana tersebut.

Densus 88 juga sering kali terlibat dalam penyiksaan dan extra-judicial killings, membunuh menggunakan senjata tanpa Standard Operational Procedure (SOP) kepada “terduga” teroris yang tanpa senjata dan tanpa perlawanan. Densus 88 bersama Amerika dan Australia tidak hanya melancarkan kampanye tuduhan teroris terhadap aktivis Islam tetapi juga melakukan pembantaian khususnya terhadap aktivis Islam.

Densus 88 dengan segala fasilitasnya telah menjadi pelaku inpunitas (pelaku penghilangan nyawa yang lolos dari investigasi tanpa proses hukum) dan pelanggar HAM berat. Kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh Densus 88 sampai saat ini masih berlajut dan belum ada yang bisa menghentikannya. Sampai detik ini, masih banyak praktik impunitas dalam bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh Densus 88 di dalam tahanan maupun diluar tahanan terhadap para “terduga” teroris. Lalu apa gunanya pemerintah Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Against Torture) dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1998 tentang Pengesahan Konvensi Penyiksaan pada 28 September 1998.

Sehubungan terhadap hal – hal di atas, dengan ini kami Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) menyatakan sebagai berikut :

  1. Mendesak DPR khususnya KOMISI III memanggil KaDensus 88, Bareskrim Mabes Polri & BNPT untuk mempertanggungjawabkan tindakan kewenangannya terhadap korban terbunuh maupun korban salah tangkap.
  2. Mendesak DPR khususnya KOMISI III untuk segera melakukan proses hukum kepada KaDensus 88, Bareskrim Mabes Polri dan BNPT, karena jelas dan tegas telah melakukan PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 39 Tahun 1999 Tentang HAK ASASI MANUSIA dan terhadap personil Densus sebagai aparat kepolisian penegak hukum NKRI yang telah melakukan penembakan harus ditindak tegas sebagaimana pula diatur dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2000 Tentang PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA.
  3. Mendesak DPR khususnya KOMISI III untuk mengaudit atas Kewenangan dalam menggunakan senjata api oleh Densus 88. Karena Densus 88 telah melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002  tentang Polri dan Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian
  4. Mendesak DPR bersama PPATK untuk mengaudit anggaran Densus 88 dan BNPT baik yang berasal dari anggaran pemerintah maupun hibah dari pihak asing.
  5. Mendesak DPR khususnya KOMISI III untuk segera seketika merekomendasikan pembubaran Densus 88 dan BNPT yang telah tidak menjunjung tinggi norma hukum di NKRI yang berasaskan Negara Hukum dan aparat penegak hukum di NKRI.

Demikian disampaikan demi tegaknya Hukum dan Berkeadilan di NKRI.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Jakarta, 7 Januari 2013

PUSAT HAK ASASI MUSLIM INDONESIA (PUSHAMI)

M. YUSUF SEMBIRING

DIREKTUR KONTRA TERORISME DAN KONTRA SEPARATISME

081210089997

Si online. syaiful falah | Senin, 07 Januari 2013 | 15:29:19 WIB

***

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS An-Nisaa’: 93).

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُعُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَتَكَلَّمُ يَقُوْلُ: وُكِلْتُ الْيَوْمَبِثَلَاثَةٍ؛ بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ، وَمَنْ جَعَلَ مَعَ اللهِإِلَهًا آخَرَ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ فَتَنْطَوِيعَلَيْهِمْ فَتَقْذِفُهُمْ فِيْ غَمَرَاتِ جَهَنَّمِ

Sebuah leher keluar dari neraka, ia bisa berbicara. Ia pun mengatakan: “Pada hari ini aku dipasrahi (menyiksa) tiga golongan manusia: setiap orang yang sombong lagi membangkang, orang yang menjadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama-Nya, dan setiap orang yang membunuh sebuah jiwa bukan karena qishash.” Sehingga leher tersebut melilit mereka dan melemparkan mereka ke dalam dahsyatnya azab jahannam. (HR. Ahmad)

Sumber: http://www.asysyariah.com/ Penulis : Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc Judul: Sifat-sifat Penghuni Neraka

(nahimunkar.com)

email
  • http://mustamar.s.krsk.@Gmail.com Mustamar

    Katanya penganut Muslim mayoritas di Indonesia, kok jadi Tirani, kok jadi bulan-bulanan, kok mudah di obok-obok, ini tak lain tak bukan karena penganut Islam di Indonesia sudah menjadi sektarian. Sekarang bagaimana membuktikan bahwa yg tertembak itu betul-betul umat islam (yg agak mengerti dan mengamalkan islam), kan bisa saja "Free man". Tindakan densus 88 saya teringat dengan ucapan Waperdam Subandrio, waktu ditanya oleh hakim dipersidangan mahmilub tahun 1966: "TEROR DIBALAS DENGAN TEROR". Hakim bertanya 1 + 1 berapa pak, dijawab Subandrio 2, bertambah banyak atau bertambah sedikit?, dijawabnya Subandrio "BERTAMBAH BANYAK" saya mohon kepada pak Presiden kaji ulanglah penugasan "densus 88"!!!.