Emha Ainun Nadjib dan calo aliran sesat Syi’ah

Emha Ainun Nadjib dan calo aliran sesat Syi’ah

 

Bagaimana kalau ada calo bus yang menawarkan ke suatu jurusan tetapi ternyata diketahui oleh calon penumpang yang ahli bahwa ucapan calo itu dusta?

Calo itu akan dituduh sebagai pembohong dan bahkan menipu penumpang.

Calo itu pun tidak bisa beralasan bahwa dirinya tidak tahu arah yang dituju, karena bukan sopir. Itu tanggung jawab sopir. Saya tidak tanggung jawab apa-apa, karena hanya disuruh untuk memanggil-manggil calon penumpang.

Bila beralasan seperti itu, justru kemungkinan akan dijotosi orang atau bahkan digelandang ke polisi.

Hanya saja kalau itu cao aliran sesat, maka bahkan berani menunjuk-nunjuk orang yang tahu bahwa calo itu dusta, dan hanya untuk mencari anggota untuk masuk ke aliran sesat atau simpati padanya.

Inilah contoh kasusnya, yang sebenarnya memalukan bagi orang yang cukup mengerti masalahnya.

***

Cak Nun: “Saya Tidak Mempertanggungjawabkan Apa-apa”

“Saya tidak berpendapat dan berfatwa,” ujar Cak Nun

 Selasa, 23 Oktober 2012

Hidayatullah.com–Dialog publik bertema “Aliran-Aliran dalam Islam, Haruskah Syiah Ditolak” di IAIN Surabaya pada Senin (22/10/2012) ikut menampilkan budayawan Emha Ainun Nadjib atau kerap dipanggil Cak Nun menjadi salah satu pemateri.

Di awal berbicara, Cak Nun menyatakan perbedaan Sunnah-Syiah itu layaknya perbedaan NU-Muhammadiyah, namun di sesi tanya jawab ia mengaku tidak berpendapat apa-apa.Dia juga mengatakan dirinya bukan MUI dan kurang paham dalil dan hadits.

Saat acara sesi tanya-jawab, salah seorang peserta sempat bertanya kepada pria yang dikenal produktif menulis ini tentang perbedaan antara ikhtilaf dan iftiraq, antara perbedaan ijtihadiyah dan akidah. Menurutnya, pertentangan Sunnah-Syiah bukan persoalan ideologis.

“Saya tidak berpendapat apa-apa. Saya juga tidak paham khilafiyah. Hadits yang penanya maksud, saya baru dengar dari sampeyan”, jawab Cak Nun sambil nunjuk-nujuk jari kepada penanya.

Cak Nun mengaku, kapasitasnya tidak berfatwa dan tidak mempertanggungjawabkan apapun.

“Fatwa dan tanggung jawab itu kapasitas pemerintah dan ulama, bukan saya,” ujarnya.

Budayawan asal Jombang itu pun tidak menjawab pertanyaan penanya secara subtansial. Ia hanya menyatakan, “Saya tidak mempertanggung-jawabkan apa-apa, saya diundang diskusi di sini agar anak-anak mahasiswa semangat,” ujarnya.

Padahal sebelumnya, retorikanya diarahkan bahwa perbedaan Sunnah-Syiah dianalogikan dengan perbedaan NU-Muhamadiyah. Beberapa peserta menilai, pernyataan yang dikeluarkannya membingungkan.

Salah seorang penanya dari panitia bahkan sampai meminta kepada pembicara untuk menyatakan kejelasan kepada para pembicara. Ia ingin tahu, apakah Syiah itu ditolak apa diterima. Dan sekali lagi, Cak Nun hanya menanggapi, “Saya tidak berpendapat dan berfatwa!”.

Anggota Syuriah PWNU Jawa Timur Habib Ahmad bin Zein yang hadir pada acara dialog tersebut sempat berkomentar bahwa pernyataan Cak Nun itu sudah berbau Syiah.

“Dia justru lebih berbahaya dari pada Syi’i,” ungkapnya kesal di luar gedung usai acara.*/Kholili Hasib

Red: Cholis Akbar (hidayatullah.com)

***

Masalah Menqiyaskan Sunni dan Syi’ah seperi NU dan Muhammadiyah

Menqiyaskan Sunni dan Syi’ah seperi NU dan Muhammadiyah itu jelas qiyas atau analog/ perbandingan yang tidak nyambung. Istilahnya qiyas ma’al fariq alias qiyas bathil. Karena perbedaan Sunni (Islam) dengan Syi’ah jelas mengenai hal-hal yang prinsip.

Di antara perbedaan pokok adalah Sunni menghormati para sahabat, sedang syiah menghujat bahkan berkeyakinan mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kafir kecuali beberapa orang saja.

Sunni berkeyakinan A-Qur’an itu murni wahyu Allah Ta’ala, sedang Syiah menuduhnya sudah diubah-ubah oleh para sahabat.

Sunni menganggap Imam itu tidak maksum, sedang syiah menganggapnya maksum, bahkan lebih tinggi dibanding para nabi. Makanya, sebenarnya syiah itu lebih berbahaya dibanding Ahmadiyah, karena Ahmadiyah mengaku, Mirza Ghulam Ahmad itu nabi sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga Ummat Islam mudah faham bahwa Ahmadiyah itu sesat, karena dalam Qur’an maupun Hadits, Nabi Muhammad itu nabi terakhir, tidak ada nabi lagi sesudahnya. Nah kalau syiah, menyebut yang mereka percayai itu bukan nabi, tapi imam, tetapi diyakini lebih tinggi dibanding nabi. Itu sebenarnya lebih berbahaya dibanding nabi palsu, tapi disebutnya imam, jadi Ummat Islam tidak mudah faham.

Apalagi ada calo-calo yang model ini. Tentu akan menambah tersamarnya tipuan syiah.

Oleh karena itu, mengqiyaskan Sunni dan Syi’ah seperti NU dan Muhammadiyah, itu jelas tidak tepat sama sekali. Dan itu siapapun yang berbicara, apalagi di depan umum dalam acara yang tempatnya saja di perguruan tinggi Islam, maka harus dipertanggung jawabkan.

Di dalam Islam, perkataan manusia itu sangat diperhitungkan. Sehingga setiap muslim mestinya berhati-hati. Karena ada ancaman yang sangat mengerikan berkaitan dengan perkataan.

Ditegaskan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam masuk neraka atas orang yang hanya gara-gara ia mengucapkan satu perkataan.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah (satu kata) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat(Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ *.

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya bisa jadi seseorang mengucapkan suatu perkataan yang disangkanya tidak apa-apa, tapi dengannya justru tergelincir dalam api neraka selama tujuh puluh musim.” (HR At-Tirmidzi, ia katakan ini hadits hasan gharib dari arah ini, dan Ahmad – 6917).

(nahimunkar.com)

 

  • lebay

    biasa ..taqiyah…..

  • Thohiri

    Menurut saya hadis riwayat abu hraiirah tersebut tidak lengkap dan kemungkinan buatan abu hurairoh sendiri. Hal sepenting ini dengan resiko begitu dahsyat tidak seyogyanya disampaikan dengan ketidak jelasan. Dan ucapan yang tidak jelas, bukanlah ciri dari Rasulullah SAW.

  • almida

    biasa lah, agen liberal mang kaya gitu..
    Fulus hepeng yg penting lancar