Emha Ainun Nadjib: Shalawatan di Gereja, Tengkar di Korban Lumpur Lapindo

Emha Ainun Nadjib: Shalawatan di Gereja, Tengkar di Korban Lumpur Lapindo

 

SALAH satu tokoh dari Jombang yang suka blusak-blusuk (keluar-masuk) ke gereja adalah Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Kedekatannya dengan gereja dan elitenya sudah tidak bisa diragukan lagi.

Cak Nun blusak-blusuk ke gereja, konon memang bukan untuk kebaktian, tetapi untuk mementaskan karya seni musiknya yang konon beraroma Islam. Ia memang punya kelompok kesenian bernama Kiai Kanjeng.

Di tahun 2008, Cak Nun beserta istri dan tentu saja Kiai Kanjeng, diundang oleh Protestant Church (Gereja Protestan) Belanda yang bekerjasama dengan Java Enterprise, untuk menggelar pentas musik dan dialog dengan berbagai komunitas di tujuh kota Belanda (Den Haag, Amsterdam, Rotterdam, Deventer, Leeuwarden, Windesheim, dan Utrecht). Pagelaran musik bertajuk Voices & Visions ini berlangsung pada tanggal 06 hingga 20 Oktober 2008 lalu.

Di tahun 2007, sekitar pekan kedua bulan Agustus, dalam rangka ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran (Jogjakarta), salah satu acaranya adalah menampilkan pementasan Kiai Kanjeng pimpinan Cak Nun. Selain pementasan Kiai Kanjeng, juga ada dialog antar agama (Katholik, Islam, Budha, Hindu, Kejawen).

Ketika itu, sekitar sepertiga dari peserta yang menghadiri ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran itu, adalah wanita berjilbab. Tidak ada yang bisa memastikan apakah mereka benar-benar Muslimah berjilbab, atau hanya sekumpulan perempuan yang sengaja mengenakan jilbab. Sebelum Kiai Kanjeng mentas, terlebih dulu ada pementasan dari ibu-ibu aktivis Gereja Pugeran menyanyikan lagu persembahan gerejawi.

Kiai Kanjeng dalam penampilannya malam itu, tidak hanya membawakan karya-karyanya seperti biasa, tetapi juga mengiringi para ibu-ibu aktivis Gereja Katholik Pugeran yang kala itu membawakan lagu-lagu gerejawi. Belum cukup sampai di situ, sebagai pamungkas penampilanya Kiai Kanjeng menyuguhkan medleylagu Ave Maria dan Sholawat Nabi dinyanyikan bergantian oleh Kyai Kanjeng dan ibu-ibu gereja.

Medley seperti itu bukan hal baru bagi Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Di tahun 2006, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya pernah membawakan medley lagu Malam Kudus (yang biasa dinyanyikan umat Nasrani dalam rangka peringatan Natal) dengan Shalawat. Bukan di gereja tetapi di Masjid Cut Mutia, Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2006, dalam sebuah acara bertajuk Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku, setelah shalat tarawih. (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul The Men From Jombang edisi August 11, 2008 9:42 pm).

Acara perayaan ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran yang berlangsung selama kurang lebih empat jam, hingga menjelang tengah malam, kemudian berhenti karena terasakan adanya gempa. Ini kedua kalinya Gempa melanda Jogjakarta dan sekitarnya. Sebelumnya, gempa di Jogjakarta dan sekitarnya terjadi pada 27 Mei 2006.

Tahun berikutnya, menurut catatan media massa, pada hari Rabu tanggal 20 Agustus 2008, sekitar pukul 23:19 wib Jogjakarta dan sekitarnya diguncang gempa bumi berkekuatan 5,2 skala richter.

Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer dan 87 kilometer tenggara Wonosari atau 113 kilometer arah tenggara Kota Yogyakarta. Tepatnya 8,72 Lintang Selatan (LS) dan 110,81 Bujur Timur (BT). Meski berpusat di laut, gempa tersebut tidak berpotensi menyebabkan tsunami. Menurut catatan Kompas, getaran cukup kuat dan cukup lama dirasakan di daerah Sleman. Sejumlah warga sempat keluar rumah saat merasakan getaran tersebut.

Beberapa hari kemudian, 29 Agustus 2008, Jogja dan sekitarnya kembali diguncang gempa dengan kekuatan 2,3 skala richter yang terjadi pada pukul 08.03 wib pagi hari. Lokasi gempa berada di 110.35 BT dan 8.01 LS. Di tempat yang sama, pada 27 Mei 2006 pernah terjadi gempa berkekuatan 5,9 skala richter yang meluluh-lantakan Jogja dan sekitarnya.

Apakah ada kaitan antara gempa bumi yang terjadi berulangkali di Jogjakarta dan sekitarnya dengan pementasan Kiai Kanjeng di Gereja Katholik Pugeran (Jogjakarta) yang menyuguhkan medley lagu gerejawi dengan shalawat Nabi? Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Yang jelas, Cak Nun sendiri ‘mengabadikan’ peristiwa itu melalui sebuah tulisannya berjudul Ayat Kursi Di Halaman Gereja sebagaimana bisa ditemukan di http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/09/01/ayat-kursi-di-halaman-gereja/ yang dikelola oleh Musadiq salah seorang aktivis Ahlul Bait alias Syi’ah. Jangan lupa, Cak Nun juga termasuk pendukung aliran sesat Syi’ah, sebagaimana bisa dilihat di nahimunkar.com melalui tulisan berjudul Mas, Sampeyan Syi’ah? Yang dipublikasikan pada May 28, 2008 9:19 pm. Tulisan Cak Nun tersebut selengkapnya sebagai berikut:

Ayat Kursi di Halaman Gereja

EMHA AINUN NADJIB*

Posted on September 1, 2007 by Musadiq Marhaban

TATKALA acara di halaman Gereja Pugeran Yogyakarta itu akan saya akhiri pas tengah malam, pekan kedua Agustus, tiba-tiba gempa terasa. Panggung bergoyang. Semua hadirin di depan panggung mendadak berdiri dengan wajah cemas.

Tak terlalu keras sebagaimana gempa Yogya 27 Mei 2006, tetapi dua kali lebih lama. Orang menoleh ke sana ke mari dan saling mengonfirmasi satu sama lain bahwa ada gempa, tapi tidak mengerti akan berbuat apa. Di panggung bagian belakang, saya lihat teman-teman Kiai Kanjeng juga menunjukkan wajah cemas, bahkan panik.

Sial, saya tidak merasakan gempa itu, mungkin karena saya pas berposisi berdiri dan pikiran saya sibuk dengan berbagai hal dalam kelangsungan acara itu. Campur aduk umat Katolik se-DIY dan kaum muslimin di depan saya. Empat jam penuh suasana penuh tawa, akrab, dan sorak-sorai kerukunan dihentikan oleh ketegangan gempa. Spontan saya mohon izin kepada semua pihak bahwa dalam suasana darurat kami umat Islam membaca Ayat Kursi.

Langsung saya teriak membacakannya, diikuti semua teman Kiai Kanjeng dan para hadirin yang muslim. Pada kata ”wala ya’udhuhu hifzhuhuma” (tak ada yang bisa mengganggu penjagaan Allah atas langit dan bumi), kami ulang sembilan kali. Spontan juga kami mengangkat tangan tinggi-tinggi dan tak terasa hampir semua hadirin mengangkat tangan pula.

Bergemuruh bunyi Ayat Kursi, singgasana Allah, di halaman gereja Yogya selatan itu. Semua khusyuk mengangkat rasa ngeri dan menadahkan tangan permohonan perlindungan kepada Tuhan yang satu, yang satu-satunya, Tuhan yang mana lagi selain yang Itu. Seusai Ayat Kursi, gempa sudah tak terasa, tapi setiap orang cemas membayangkan keluarga mereka di rumah masing-masing.

Ada yang menelepon, mengirim SMS atau menundukkan muka saja dalam kemuraman dan rasa cemas. Acara kami akhiri dengan tingkat kekhusyukan yang ideal. Kiai Kanjeng memberi nomor musik terakhir Hubbu Ahmadin yang berirama orkestratif gerejawi seolah-olah bunyi-bunyian dari Eropa Selatan.

Andaikan gempa itu mengguncang benar dan sekian hadirin terluka, kejatuhan tembok atau terperosok ke dalam patahan tanah, saya pastikan yang lain akan menolong siapa pun saja yang berada dalam jangkauan pertolongannya tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah yang akan ditolong itu beragama Islam atau Katolik. Andaikan petugas PPPK gereja mengambil obat-obatan dipastikan juga ia tidak lantas mengutamakan mengobati korban yang kristiani dulu.

Siapa pun saja yang terluka di dekatmu, engkau obati, meskipun ia memusuhimu. Siapa pun yang lapar di dekatmu engkau beri makan tanpa berpikir apakah identitas agama dan kebangsaan atau sukunya berbeda denganmu. Siapa pun saja yang kehausan di sekitarmu engkau sodori minuman tanpa syarat apa pun juga. Siapa pun saja yang hatinya kesepian di sisimu engkau menyapanya tanpa reserve, bahkan tanpa mewajibkan orang yang engkau sapa itu akan berterima kasih atau tidak kepadamu. Sebelum empat jam bernyanyi dan berdialog, kami semua bertanya jawab.

Apakah kalau Pak Kiai motornya mogok, Pak Pastur boleh memboncengkan dan mengantarkannya ke masjid? Para hadirin menjawab: boleeeeh! Demikian juga sebaliknya kalau Pak Pastur kehujanan basah kuyup, apakah Pak Kiai boleh meminjamkan bajunya untuk dipakai misa oleh Pak Pastur? Boleeeeh! Apakah genset dan sound system yang dipakai dalam acara ini harus milik sesama orang Katolik dan dilarang memakai penyewaan pengeras suara yang dimiliki oleh orang Islam? Tidaaaak!

Apakah kalau pulang dari acara ini kita naik angkot, yang muslim mencari angkot yang sopirnya muslim dan yang Kristen mencari angkot yang sopirnya Kristen? Tidaaaak! Apakah anggota kesebelasan sepak bola harus satu agama? Tidaaaaak! Bolehkah orang Katolik berurusan saham dengan tetangganya yang beragama Islam untuk buka warung angkringan bersama? Boleeeeeh! Bolehkah orang berlainan agama bekerja sama dalam ekonomi? Boleeeeeh!

Kerja sama kebudayaan? Boleeeeeh! Kesenian? Boleeeeeh! Apakah pemain biola beragama Islam harus menggesek biola Islami? Orang tertawa. Apakah kalau di gardu sebelah anak-anak muda Islam ngrumpi lantas terdengar bunyi orang bernyanyi di gereja, mereka boleh merespons dengan ketukan-ketukan kecil di kayu gardu? Boleeeeh! Apakah pemain gitar beragama Katolik boleh mengiringi pemuda Islam menyanyikan lagu kasidah? Boleeeeh!

Apakah parpol tertentu harus beranggotakan umat agama tertentu dan parpol lain harus beranggotakan umat agama lain? Tidaaaak! Bolehkah grup musik muslim meminjam lagu yang biasa dipakai di gereja untuk menyanyikan syair- syair Islam? Boleeeeh! Sebaliknya? Boleeeeh! Kok, semua boleh, yang tidak boleh apa dong? Saling bertukar istri. Yessss! Apa lagi? Yang muslim melanggar akidah dan syariatnya dan yang kristiani melanggar pagar teologinya. ***

Diperlukan ratusan halaman jika saya tuturkan dialog-dialog semacam itu dalam acara di mana semua umat beragama hadir bersama. Sesudah di Gereja Pugeran itu, Kiai Kanjeng beberapa hari kemudian mengadakan pengajian di desa Katolik di Yogya utara yang penduduk muslimnya hanya tiga keluarga.

Kemudian di Pasuruan, di sebuah pesantren yang universitasnya juga plural mahasiswanya, kami sepanggung dengan Pak Kiai dan romo-romo, juga tokoh-tokoh agama lain. Demikian juga yang Kiai Kanjeng alami di gereja-gereja Katolik di Helsinki, di Melbourne, di Vatikan, Teramo, dan lainnya sebelum ini.Teman-teman di Belanda juga sedang merancang untuk menghadirkan Kiai Kanjeng keliling sejumlah titik di Belanda, untuk ikut menyembuhkan luka yang tergores oleh kasus Theo van Gogh, Hersyi Ali, beberapa tahun silam.

*) Budayawan

Tulisan Cak Nun di atas, sungguh sangat humanis. Namun sesungguhnya, apa-apa yang ditulisnya itu memang merupakan hal-hal yang sudah berlangsung sejak lama tanpa konflik. Apa-apa yang ditulis Cak Nun itu semuanya berada di wilayah amaliah yang tidak ada larangan untuk bekerja sama dengan umat dari kalangan agama mana pun juga.

Tidak pernah ada anjuran atau larangan dari ulama atau tokoh Islam yang paling ekstrem sekalipun agar umatnya sebelum naik angkutan kota mencari informasi terlebih dahulu apakah sopirnya beragama Islam atau bukan. Bahkan hal itu sama sekali tidak pernah terjadi.

Cak Nun tentu saja tidak akan pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif, yang akan mengurangi citra pluralis dan humanisnya. Misalnya, pertanyaan: Apakah boleh mendirikan geraja di tengah-tengah penduduk yang hampir seluruhnya beragama Islam? Apakah boleh majikan non Muslim melarang pembantunya yang beragama Islam melaksanakan shalat lima waktu? Apakah boleh majikan non Muslim melarang karyawannya shalat Jum’at? Apakah boleh majikan non Muslim melarang karyawatinya berjilbab? Apakah boleh konglomerat non Muslim merampok uang rakyat kemudian membawanya kabur ke luar negeri? Juga, apakah boleh nyanyi-nyanyi di Mesjid setelah shalat tarawih, dengan diiringi berbagai alat musik?

Cak Nun Dimaki Korban Lapindo

Gambaran tentang Cak Nun sebagai sosok yang humanis, sebagaimana berusaha dibangun melalui berbagai tulisan dan aktivitas berkeseniannya, ternyata tidak hadir secara utuh di antara sebagian korban lumpur Lapindo.

Sekedar mengingatkan, kasus semburan lumpur Lapindo pertama kali terjadi 29 Mei 2006, namun hingga tiga tahun kemudian, belum selesai secara tuntas. Padahal, kasus itu sudah dinyatakan sebagai bencana alam, sehingga menjadi beban pemerintah (APBN). Pada lain waktu, terbetik kabar bahwa nilai kekayaan Aburizal Bakrie justru bertambah.

Bila ada kasus yang berlarut-larut penyelesaiannya, pastilah dari tengah-tengahnya muncul para mediator yang memposisikan diri bisa memuluskan jalan menuju kesepakatan dan win-win solution. Salah satu mediator itu adalah Cak Nun dan kelompoknya.

Berkat popularitas dan kesan humanis yang selama ini dibangunnya, maka Cak Nun pun bisa dengan mudah dipercaya menjadi wakil korban lumpur Lapindo. Bahkan Cak Nun bisa membawa persoalan korban lumpur Lapindo ke hadapan presiden SBY, di rumahnya di Cikeas.

Sebagaimana diberitakan media massa, awal Juli 2007, Cak Nun yang setelah mendapat mandat tertulis dari para korban lumpur Lapindo, berhasil menemui presiden SBY pada Ahad sore di kediaman pribadinya. Cak Nun membawa sejumlah 20 orang korban lumpur Lapindo. Sebagai ketua rombongan, Cak Nun sekaligus mewakili sekitar 11 ribu korban lumpur Lapindo.

Dari peristiwa di atas, ada sebagian kalangan yang menilai kejadian itu begitu aneh. Karena, SBY sebagai presiden tinggal bersikap tegas, memerintahkan Aburizal Bakrie dan keluarganya beserta seluruhnya jajaran manajemennya untuk menyelesaikan kasus korban lumpur Lapindo secepatnya dengan kekuatan keuangan mereka sendiri, bukan mengambil alih kasus itu menjadi beban pemerintah.

Bahkan ada yang mengatakan, kehadiran Cak Nun tokoh penjaja pluralisme agama ini, justru merendahkan posisi SBY sebagai presiden, dan meninggikan posisi Aburizal Bakrie sebagai bawahan SBY. Artinya, kehadiran Cak Nun ke kediaman SBY dengan membawa sejumlah korban lumpur Lapindo, adalah peristiwa mempecundangi SBY sebagai presiden. Urusan keluarga Bakrie kok dibawa-bawa ke tingkat nasional. Siapa sesungguhnya yang telah dipinteri? Begitu kata sebagian orang.

Sebagai mediator Cak Nun dan kelompoknya berhasil melahirkan Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL). Namun belakangan GKLL yang pernah memberi mandat tertulis kepada Cak Nun itu telah terbelah, dengan berdirinya kelompok bernama Gerakan Pendukung Peraturan Presiden 14/2007 (Geppres) yang berbalikan arah dengan GKLL binaan Cak Nun.

Perilaku kelompok pendukung GKLL binaan Cak Nun yang menjengkelkan adalah berupa memungut ‘uang jasa’ dan menakut-nakuti korban lumpur Lapindo yang tidak mau menerima skema cash and resettlement yang digagas Cak Nun dan elite GKLL bersama PT Minarak Lapindo Jaya.

Cak Nun bersama Khairul Huda orang kepercayaanya yang menjadi pengurus GKLL, penah terbang ke Jakarta dalam sebuah acara yang juga dihadiri Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (TP2LS) DPR. Perlu diketahui, TP2LS DPR ini pernah merekomendasikan bahwa semburan lumpur Lapindo itu akibat gempa Jogja (27 Mei 2006), bukan akibat kesalahan prosedur pengeboran.

Ada yang menduga, kehadiran Cak Nun dan kelompoknya ke tengah-tengah korban lumpur Lapindo, untuk memecah belah kesatuan korban lumpur Lapindo. Kalau para korban itu bersatu-padu, maka kekuatanya akan penuh dan fokus. Tapi dengan adanya perpecahan di antara korban lumpur Lapindo sendiri, maka potensi perlawanan bisa direduksi seminimal mungkin. Begitu kata sebagian dari mereka.

Kiprah Cak Nun dan kelompoknya di tengah-tengah para korban lumpur Lapindo itu, sempat meramaikan Forum Pembaca Kompas, dengan subject Soal Lapindo, Emha Ainun Najib Dinilai Telah Jadi Garong. Tentu saja Cak Nun mendapat pembelaan antara lain dari Anton yang agak narsistis (sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan), sebagai berikut:

Dari: anton_djakarta <anton_djakarta@ yahoo.com>

Topik: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Soal Lapindo, Emha Ainun Najib Dinilai Telah Jadi Garong

Kepada: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com

Tanggal: Kamis, 31 Juli, 2008, 11:15 AM

Berita tentang cak nun lebih mirip gosip ketimbang fakta. Lebih baik kita endapkan dulu, liat perkembangan. Bagaimanapun jasa Cak Nun bagi bangsa ini sudah kelanjur besar, sayang kalau kita terjebak pada serangan informasi yang belum jelas.

ANTON

Anak didik Umbu Landu Paranggi

Novia Kolopaking, Istri Cak Nun, pernah berinisiatif menggelar mubahalah sehubungan disebut-sebutnya nama Cak Nun sebagai garong dalam kasus Lapindo. Mubahalah berlangsung pada hari Senin tanggal 11 Agustus 2008. Novia menjelaskan, “Saya melakukan ini atas inisiatif saya sendiri dan tidak didorong oleh siapa pun. Termasuk Cak Nun. Ini saya lakukan karena saya berkeluarga dengan Cak Nun ini tidak main-main. Insya Allah dunia akherat. Saya yang tidak rela jika Cak Nun dituduh seperti ini. Kalau dalam bahasa saya: difitnah. Karena saya tahu betul apa yang terjadi.”

Mubahalah selain dihadiri oleh Novia dan Cak Nun juga oleh Progress (saksi dari Jogja), GKLL, warga korban lumpur Lapindo, dan beberapa pendamping. Pada kesempatan itu, Novia Kolopaking menjelaskan, bahwa Cak Nun tidak ikut menyetujui MoU (Memorandum of Understanding) antara GKLL dan Lapindo, namun hanya menyaksikan. “Ibaratnya, penghulu dalam pernikahan.” Begitu kata Novia.

Lebih lanjut Novia menjelaskan, bahwa Cak Nun telah menyarankan kepada Lapindo untuk membuka 3 loket pembayaran dengan sistem Cash and Carry, Relokasi, serta Cash and Ressetlement. Sehingga warga korban lumpur Lapindo dapat memilih salah satu dari tiga alternatif tadi sebagai hak pribadi masing-masing.

Menurut Progress, tuduhan bahwa Cak Nun adalah orang Bakrie, itu sangat tidak logis. Sebab, Cak Nun-lah yang menyebabkan Bakrie harus membayar korban Lumpur. “Mana mungkin Bakrie menyewa orang yang justru merugikannya.”

Sehubungan dengan tuduhan garong yang dialamatkan kepada Cak Nun, Rahmat menjelaskan, bahwa itu fitnah. Karena, sebelum ada mandat dari GKLL kepada Cak Nun sudah ada kesepakatan warga untuk mengalokasikan ‘uang jasa’ sebesar 1% dan 0,5% dari besaran dana yang mereka terima. Kesepakatan itu terjadi antara warga dengan perwakilan desa, bukan dengan Cak Nun. Khoirul Huda menambahkan, “… karena selama memperjuangkan korban Lumpur, memang memerlukan dana operasional. Perlu biaya dan lain-lain, dan itu merupakan keikhlasan dari warga. Lalu ada sebagian orang yang belum menyetorkan itu dan mereka koar-koar diluar tentang pungutan…”

Khoirul Huda yang selama ini menjadi orang kepercayaan Cak Nun mengurus GKLL, mengatakan, “Kami malu dengan kehadiran Cak Nun dan Mbak Via pada sore hari ini. Saya ingat 27 Mei 2007, saya pertama bertemu dengan Cak Nun, 24 Juni 2007, kami dibawa oleh Cak Nun ke Presiden tanggal 26 Juni. Presiden datang ke Sidoarjo dan 20% yang sebelumnya tidak cair setelah kami dibawa Cak Nun ke Presiden yang 20% itu cair. Pada saat yang sama Cak Nun punya anak dan istri. Bukan hanya waktu dan pikiran saja yang beliau korbankan saat kami riwuki, tapi juga –nuwun sewu– Cak Nun wira-wiri Jogja-Surabaya untuk mengurus ini semua, kami pun juga tidak pernah nyangoni Cak Nun. Dan sekarang, orang yang telah menolong kita, yang sampai kemudian mencairkan yang 20% itu dan Cash and Resetlement merupakan solusi terbaik saat ini, datang ke sini untuk klarifikasi dan mohon maaf. Sementara mereka yang memfitnah itu hari ini tidak datang. Lalu siapa yang pengecut?”

Sedangkan berkenaan dengan mandat kepada Cak Nun, memang ada surat resmi dari GKLL yang menyatakan bahwa GKLL memberikan mandat kepada Cak Nun dengan pendekatan kultural, bukan ekonomi.

Pada kesempatan itu, Cak Nun seperti biasanya mampu merangkai kata-kata dan argumentasi yang licin. Seutuhnya sebagai berikut:

Dalam setiap hari kita terus belajar. Dan hari ini, salah satu hal yang kita pelajari soal batas-batas organisasi. Misalnya bahwa forum ini adalah forum Mbak Via. Mbak Via berbeda dengan GKLL. Dan saya berada dalam aura itu. Dalam hal ini saya bertindak sebagai penghulu. Kalau ada pernikahan yang berhak menentukan kan pengantinnya. Saya sudah sampaikan, saya ini bukan korban Lumpur, saya bukan Lapindo, saya bukan pemerintah, bahkan bukan orang Sidoarjo. Yang saya miliki adalah kewajiban sebagai manusia dan sesama ummat. Kalau ditanya apakah Cash and Carry saya setuju? Setuju. Apakah Cash and Ressetlement saya setuju? Setuju. Apakah saya setuju relokasi? Setuju. Kalau saya ditanya apa yang paling setuju? Tidak usah ada lumpur, sehingga tidak harus ada ini semua.

Saya datang kesini tidak untuk klarifikasi. Saya tidak butuh klarifikasi. Saya tidak butuh mengklarifikasi karena saya tidak perlu membela diri. Tapi saya kan punya keluarga, punya istri, dia punya hak atas diri saya. Saya punya anak, mereka punya hak atas saya. Jadi, saya bersedia diperintah (perintah dalam hubungan suami istri adalah bentuk kemesraan) oleh Mbak Via untuk diklarifikasi.

Karena secara pribadi, saya dituduh apa pun akan saya telan. Tak eleg. Saya anggap itu rezeki dari Allah. Tidak ada masalah. Toh cepat atau lambat itu kan akan menjadi tabungan saya di hadapan Allah. Nek aku pribadi mbok fitnah aku sampek dobol, aku gak masalah. Posisi difitnah itu di hadapan Allah lebih aman daripada yang memfitnah.

Selanjutnya, saya serahkan semuanya kepada Allah yang bisa mengatur segala sesuatunya dengan sekejap mata.

Mubahalah itu ditujukan untuk meredam suara-suara yang selama ini bernada minor terhadap kiprah Cak Nun di tengah-tengah semburan kasus lumpur Lapindo. Di antara suara-suara itu, sebelum Mubahalah berlangsung, ada yang mengatakan: “Wahai korban lapindo yg dituduh Ngainun Nadjib ngaku2 korban! Kalian silahkan ngaku-ngaku Ngainun, pasti dia tdk bisa ngaku korban. Malam ini saya bersama korban lapindo Renokenongo menyatukan tekad: bersatu dlm perjuangan! Jika dg jalan damai pemerintah tetap membiarkan lapindo memaksa tdk mau membayar tanah2 petok D, leter C, gogol dan yasan sesuai pasal 15 Perpres 14/2007 maka kami akan membuat pasal sendiri di atas tanggul lumpur dan jalanan.”

Ada juga yang mengatakan: “Saya lebih percaya puluhan (diantara ribuan yang lain) korban Lapindo yang saya temui secara langsung (ibu2 yang menangis, pemuda dan bapak2 yang mengumpat dan bahkan bersumpah berani membunuh karena merasa tertipu). Kalau anda masih tidak percaya juga, silahkan datang ke Posko Bersama di Porong, dengan senang hati akan kami antar anda ke mereka.”

Selain itu, ada juga yang mengatakan, “…Ribuan korban Lapindo yang memberi mandat ke dia menunggu penjelasan dan pertanggungjawaban secara langsung. Kalau untuk urusan dengan Minarak Lapindo Jaya Cak Nun enteng datang ke Sidoarjo, kenapa kalau urusan dengan korban yang sudah dia kecewakan tidak didatangi langsung?”

Di antara yang kecewa, ada yang mengatakan, “…keluhan korban yang dipecundangi Cak Nun tidak akan pernah bisa muncul di media massa Mainstream, sehingga bagi anda dan mungkin banyak rekan yang lain, nasib mereka bukan FAKTA. Dan media kami (www.korbanlapindo.net) yang dibangun dengan susah payah untuk menyuarakan nasib korban, seberapapun akurat, tetap anda anggap sebagai GOSIP.”

Korban lumpur Lapindo sampai ada yang menulis di situs berpolitik.com dengan judul: Soal Lapindo, Emha Ainun Najib Dinilai Telah Jadi Garong. Tulisan panjang itu diakhiri dengan ungkapan:

Pada tanggal 16 Juli 2008 dalam sebuah acara yang bertajuk Diskusi Evaluasi Tim TP2LS DPR terhadap program cash and resettlement dari MLJ (yang entah kenapa lolos dari liputan hampir semua media), Cak Nun dikutip Tribun dan dimuat di website padhangmbulan.com, mengatakan :

Mereka yang dibayar 20 persen saja sudah makmur apalagi kalau sampai sisa pembayaran 80 persen dibayar. Padahal, apa yang sebenarnya terjadi pada Lapindo, wong belum ada yang diputuskan bersalah tapi sudah dibayar ganti rugi. Ibarat kata, Lapindo itu sudah memberikan sadakoh kepada warga,” katanya.

Pernyataan yang tidak hanya melukai perasaan korban, tetapi membuat beberapa warga yang saya temui menyatakan niatnya untuk mampu membunuh.

Ditulis Oleh korbanlapindo

Monday, 28 July 2008

Diposting oleh: Agenda Rakyat

http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/08/myposting_14890.html

Emha dan Presiden Balkadaba

Sampai kini, persoalan korban lumpur Lapindo belum tuntas. Sementara itu, Cak Nun tak terusik dengan suara-suara yang mengecamnya. Kini ia sedang sibuk mempersiapkan diri untuk sebuah pagelaran berjudul “Presiden Balkadaba” yang akan berlangsung pada tanggal 09 hingga 10 Juni 2009 di Balai Pemuda Surabaya, Jawa Timur.

Sebagaimana dirilis media massa, Balkadaba adalah salah satu binatang yang tergabung dalam rombongan perahu Nabi Nuh untuk menyelamatkan diri dari banjir besar akibat pencairan kutub selatan yang kemudian mengubah dataran sangat luas dari timur Afrika hingga Papua menjadi gugusan ribuan pulau. Sementara itu, iblis sebagai makhluk Tuhan yang sangat dahsyat, memiliki kekuatan dan kemampuan kontroversial, antara lain mampu menyelundupkan dirinya ikut dalam perahu Nabi Nuh dengan bergelayutan pada ekor Balkadaba.

Terhadap pentas dengan cerita yang dikaitkan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam itu, kami (nahimunkar.com) belum tahu, cerita menyangkut iblis (makhluq yang paling jahat, dan itu ghaib) ini apakah diambil dari riwayat yang shahih. Sebab secara aqidah Islam, kita tidak boleh berbicara hal ghaib kecuali ada dalilnya yang shahih. Kalau itu cerita reka-rekaan (bukan riwayat yang shahih), dan dikaitkan dengan iblis, bahkan Nabi Nuh ‘alaihis salam; maka pelakunya ditangkap dan dipenjarakan. Karena telah membuat-buat cerita atas nama agama tanpa periwayatan yang shahih. Penangkapan dan pemenjaraan itu telah diterapkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa tahun 99-101H. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

Di samping itu, apakah dalam pentas keseniannya kali ini Cak Nun akan melibatkan sejumlah Biarawati atau tidak. Beberapa waktu lalu, Cak Nun dan Kiai Kanjeng-nya pernah melibatkan tiga biarawati dari Gereja Albertus Agung Jetis (Yogyakarta) dalam pementasan keseniannya.

Rasanya, Cak Nun tidak akan terusik oleh sumpah serapah korban lumpur Lapindo yang merasa tertipu. Karena, aktivitas keseniannya begitu padat. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di berbagai negara, terutama di sejumlah gereja. Ibarat kata pepatah, “…anjing menggonggong, Balkadaba tetap berlangsung…” (haji/tede)