Gereja Liar di Cirebon: Ditutup Walikota, Dibela GP Ansor

Gereja Liar di Cirebon: Ditutup Walikota, Dibela GP Ansor

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ [المجادلة/22]

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya… (QS Al-Mujadilah/58: 22).

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ [الممتحنة/4]

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/60: 4).

Ilustrasi: Banser Amankan 3015 Gereja di Seluruh Indonesia/ NU Online 25/12/2006 19:59

Inilah di antara kiprah mereka.

  • Peran Banser (Barisan Ansor Serba Guna) dari Gerakan Pemuda Ansor alias Ormas pemuda di bawah naungan NU (Nahdlatul Ulama) Kabupaten Cirebon, sangat menonjol dalam pembelaannya terhadap keberadaan gereja-gereja liar yang telah ditutup oleh Pemerintah setempat. Otomatis berarti mereka yang walau di bawah naungan Ormas berlabel “Ulama” (Nahdlatul Ulama) namun justru bertindak melindungi kegiatan pemurtadan.
  • Kegiatan yang berkedok perayaan paskah dan syukuran kenaikan kelas, ternyata disertai juga dengan perayaan HUT Israel, yang dibuktikan dengan atribut-atribut yang sangat khas Israel, seperti lambang Bintang David. Situasi memanas, polisi Kota Cirebon turun tangan dan membubarkan acara itu 16 mei 2011. 
  • Tapi pada pagi hari 17 Mei, mereka mencoba menggelar acara itu di Hotel Apita Kabupaten Cirebon. Karena belum berijin, Polres Kabupaten Cirebon membubarkan acara itu. Pada saat itulah Banser berusaha melindungi agar kegiatan gereja dan pendukung Israel ini terus berjalan. Pihak gereja dan GP Ansor Kabupaten Cirebon kemudian melakukan kampanye besar-besaran di media massa, bahwa ormas Islam terutama GAPAS membubarkan perayaan Paskah. 
  •  Pihak GP Ansor Kabupaten Cirebon melalui ketuanya yaitu Nuruzzaman, menyatakan siapapun tidak berhak membubarkan acara itu, dia menyatakan hal itu menjelang waktu Zhuhur di kantin Masjid Raya At Taqwa Kota Cirebon. Pihaknya bahkan siap untuk “perang” dan merazia ormas-ormas Islam radikal.

Berikut ini berita di suaraislam online. Di bagian bawahnya lagi, ada laporan Humas Forum Ukhuwah Islamiyah Wilayah Cirebon yang dimuat eramuslim.com.

***

Gereja Liar di Cirebon: Ditutup Walikota, Dibela GP Ansor

Cirebon – Persoalan gereja liar dan pemurtadan di Cirebon, sejak 1984 menjadi persoalan yang sangat krusial dan tak ada ujungnya hingga sekarang. Gereja yang sangat militan –terus melakukan pemurtadan dan berbagai pelanggaran–  adalah Gratia Ecclestia yang berpusat di gedung Gratia (Gereja Jemaat Kristen Indonesia Anugrah). Gereja yang membandel lainnya –karena melakukan kegiatan diluar prosedur aturan– adalah Gereja Bethel. Berbagai musyawarah telah digelar tapi tidak ditaati, hingga akhirnya keluar surat keputusan Wali Kota menutup kegiatan di dua gereja tersebut. Sebelumnya juga telah keluar berbagai surat teguran dari Kementrian Agama dan Forum Kerukunan Antar-Umat Beragama (FKUB) Kota Cirebon.

SK Wali Kota No. 011/1477-Adm Kesra tanggal 26 September 2011, menetapkan kembali gedung Gratia sebagai Gedung Pertemuan Umum, sesuai ijin yang dikeluarkan Dinas PU no 645/548/IB-PU/92 tanggal 16 januari 1992, perihal IMB no 645/74/IB-PU/96 tanggal 15 mei 1996. Dan menetapkan tidak boleh lagi menjadi tempat peribadatan. Sedangkan untuk Gereja Bethel Indonesia Pekiringan, jalan Pekiringan no 165 berdasarkan SK Wali Kota No. 452.2/1478-Adm Kesra. Pertimbangan kedua tempat itu antara lain karena warga keberatan. Sementara salahsatu keberatan dari Ormas-Ormas Islam, karena pihak gereja sangat agresif melakukan pemurtadan, berdasarkan bukti termasuk video CD, diantaranya pemurtadan para waria sewilayah Cirebon .

Momentum paling fenomenal adalah saat pihak Gratia meminta maaf pada Ummat Islam di Gedung Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Jalan Drajat kota Cirebon 21 Oktober 2008. Dari pihak Gratia waktu itu mengatakan permintaan maaf atas sikapnya yang meresahkan ummat Islam, mohon maaf atas semua kekhilafan, ucapan terima kasih. Dan harapan sebagai ummat beragama untuk saling memaafkan.

Mereka antara lain Pendeta Anton dari Plumbon, Mulianto dari Jakarta, Ny Nani Susanti Tokoh dan Aktivis persekutuan doa Gratia dari Cirebon, Ny Ina dari Cirebon, A Budi Hartono dari Cirebon. Ny Nani minta maaf tapi belum bersedia menandatangani surat pernyataan dan permohonan maaf, karena belum diangkat jadi pendeta, belum punya otoritas, gereja belum  berjalan. Belum jadi ketua yayasan Gratia/Radio Gratia, sedangkan masalah pendirian stasiun TV Kristen dia tidak punya urusan. Dari ucapannya terdengar sangat rancu. Dan ternyata kemudian mereka tetap membandel dan memicu perlawanan dari Ummat Islam.

Densus 99 Bela GBI

Sayangnya tidak semua Ummat Islam setuju dengan langkah-langkah hukum yang ditempuh oleh Pemerintah maupun Ormas Islam. GP Ansor Kabupaten Cirebon dengan Densus 99-nya yang dipimpin oleh Nuruzzaman, berusaha menjegal langkah pemerintah Kota Cirebon dan Ormas-Ormas Islam itu. Mereka terus melakukan pengawasan hingga pengamanan dengan menerjunkan personel Banser berseragam menjaga gereja-gereja yang kerap diprotes Ummat Islam.

Peran Banser (Barisan Serba Guna) dari Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Cirebon, menjadi sangat menonjol dalam pembelaannya terhadap keberadaan gereja-gereja liar, dan secara otomatis berarti juga melindungi kegiatan pemurtadan, terjadi pada tanggal 16-17 mei dan tanggal 20 juli 2011 lalu. Sementara sikap GP Ansor Kota Cirebon sendiri pasif. Berita-berita itu dimuat di sebuah Koran lokal dan internet.

Pada 16 mei 2011 warga sekelurahan Kesambi yang diwakili tujuh Ketua RW dan elemen pemuda, mengadakan rapat di Kelurahan Kesambi Kota Cirebon, hadir juga Kapolsek Utara Barat Kota Cirebon, Dan Ramil, Camat, perwakilan dari Kementerian Agama, DPRD dan dari pihak Gratia adalah Pendeta Jimmy Loekito. Musyawarah menetapkan, warga menolak kegiatan yang digelar Gratia yang mendatangkan sekitar 6000 orang dari berbagai pelosok Jawa, yang akan digelar pagi 17 mei.

Tapi pihak Gratia bandel, acara dimajukan sore itu juga. Warga marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ormas-ormas Islam yang tergabung dalam wadah Gapas (Gerakan anti Pemurtadan dan Aliran Sesat) dan GMC (Gerakan Muslim Cirebon) turun tangan. Ternyata kegiatan yang berkedok perayaan paskah dan syukuran kenaikan kelas itu, disertai juga dengan perayaan HUT Israel, yang dibuktikan dengan atribut-atribut yang sangat khas Israel, seperti lambang Bintang David. Situasi memanas, polisi Kota Cirebon turun tangan dan membubarkan acara itu.

Tapi pada pagi hari 17 Mei, mereka mencoba menggelar acara itu di Hotel Apita Kabupaten Cirebon, karena belum berijin, Polres Kabupaten Cirebon membubarkan acara itu. Pada saat itulah Banser berusaha melindungi agar kegiatan gereja dan pendukung Israel ini terus berjalan. Pihak gereja dan GP Ansor Kabupaten Cirebon kemudian melakukan kampanye besar-besaran di media massa, bahwa ormas Islam terutama GAPAS membubarkan perayaan Paskah.  Berita-berita itu dimuat di sebuah Koran lokal dan internet.

Pihak MUI Kota Cirebon sendiri melalui ketuanya KH Sholihin Uzer mempertanyakan mengapa pihak gereja melakukan perayaan paskah pada hari libur Peringatan Waisak (hari raya umat beragama Buddha untuk memperingati kelahiran, pemenangan (ilmu), dan wafatnya Buddha, KBBI – kamus besar bahasa Ind). Padahal pemerintah sudah menyediakan hari libur paskah pada 22 April, dan hari libur kenaikan Isa Al Masih pada 2 juni. Tapi pihak GP Ansor Kabupaten Cirebon melalui ketuanya yaitu Nuruzzaman, menyatakan siapapun tidak berhak membubarkan acara itu, dia menyatakan hal itu menjelang waktu Zhuhur di kantin Masjid Raya At Taqwa Kota Cirebon. Pihaknya bahkan siap untuk “perang” dan merazia ormas-ormas Islam radikal. Dia menyebutkan adanya 28 ormas Islam radikal di Cirebon, dimana ormas-ormas ini menurutnya adalah ganjalan terciptanya kerukanan antar ummat Beragama.

Situasi makin buruk, saat Nuruzzaman membentuk Densus 99 pada tanggal 1 Juli 2011. Tujuan pembentukan Organisasi yang sampai sekarang belum jelas badan hukumnya (menurut kantor Kesbanglinmas Kabupaten Cirebon, melalui Kabid Tahbang Drs Muhammad Hafni, Densus 99 belum terdaftar) adalah, membasmi gerakan Islam Radikal. Salah satu gerakan Islam radikal menurut Nuruzzaman adalah Jama’ah Tabligh. salah satu kriteria mendasar yang dipakai menilai gerakan itu radikal atau tidak adalah, jika organisasi atau gerakan tersebut sangat kental Keislamannya seperti pemakaian atribut pakaian, istilah-istilah bahasa atau kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi, dan sering mengusung kata “jihad”.

Belum satu bulan berdiri, tepatnya tanggal 20 Juli 2011 Densus 99 beraksi. Saat itu Ketua GAPAS, Andi Mulya bersama enam pimpinan ormas Islam, dengan meminta izin kepada aparat berwenang, mendatangi gedung Gratia untuk klarifikasi kenapa gedung itu masih digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Tapi saat selesai dan keluar dari gedung itu mereka berhadapan dengan puluhan anggota Densus 99 yang dipimpin oleh Nuruzzaman menghadang dan memaki para aktivis Islam tersebut dan menimbulkan kegaduhan, sekalipun tidak ada perlawanan dari aktivis Islam.

Akhirnya persoalan itu diselesaikan di Mapolresta. Anehnya, menurut Andi Mulya (ketua GAPAS), pihaknya bukan berhadapan dengan Densus 99 atau dengan Nuruzzaman, tapi berhadapan dengan Ketua GP Ansor Kota Cirebon yakni Muhammad Yani, dan mengadakan perjanjian damai dengannya.

Padahal antara Ormas-Ormas dengan GP Ansor Kota Cirebon tidak ada persoalan. Menyikapi hal itu Andi Mulya menegaskan, “Sekarang siapa yang radikal, kami atau mereka (Densus 99), katanya mereka anti radikalisme, dan akan memberantas Ormas Islam radikal, nyatanya mereka juga sangat radikal dan kasar” ungkapnya. Menurut Andi Mulya, kehadiran Densus 99 malah menambah masalah rumit di Kota Cirebon, ketimbang menyelesaikan masalah.

Red: Shodiq Ramadhan

Rep: Humas FUI-Cirebon

Thursday, 20 October 2011 13:21 | Written by Shodiq Ramadhan/ suara islam online (SI ONLINE)

***

Ulama Cirebon Ummat Harus Bersatu Hadapi Arogansi Kristen

Ketua MUI Kota Cirebon, KH Sholihin Uzer, dalam acara Kerukunan Internal Ummat Beragama (25/10/2011) di Gedung Islamic Centre Cirebon lalu, meminta kepada seluruh unsur Ummat Islam Cirebon agar bersatu menghadapi arogansi kaum Kristen yang terus melakukan pembangunan gereja-gereja dengan cara melanggar hukum, dan melakukan pemurtadan serta menantang dan memancing ummat Islam agar berlaku anarkis.

Menurut KH Sholihin Uzer, kenapa ummat Islam harus bersatu melawan arogansi kaum Kristen ini, karena mereka setidaknya memiliki enam modal yang sulit ditandingi Ummat Islam. Pertama, kekuatan uang yang sangat berlimpah. Kedua, kualitas pendidikan mereka yang tinggi. Ketiga, persatuan mereka kuat. Keempat, mereka sangat gigih dan disiplin dalam memperjuangkan keyakinannya. Kelima, penguasaan atas akses informasi, lobby dan diplomasi. Dan keenam, dukungan kekuatan politik.

“ Tetapi kekuatan mereka itu sebenarnya tidak ada artinya, jika ummat Islam bersatu dan berani menghadapi mereka. Kenapa mereka bisa berani, karena ummat Islam sekarang sangat cinta pada dunia serta takut akan mati, itulah dinamakan wahhan oleh Rosulullah SAW. Sehingga Allah mencabut rasa takut dari musuh-musuh Islam. Karena Wahhan ini, Ummat (Islam) menjadi takut dan akhirnya menjadi mangsa yang kapan saja bisa dimakan oleh mereka, “ demikian KH Sholihin Uzer menjelaskan. Beliau menambahkan, jika ummat Islam bersatu dan berani, maka pertolongan Allah akan turun, sehingga kedudukan Ummat Islam akan kuat, barulah akan tercipta Rahmatan Lil ‘alamin.

Senada dengan KH Sholihin Uzer, ulama lainnya Prof Dr KH Salim Badjri Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah, dalam khotbah ‘Iedlul Adha di jalan Pekiringan, di depan ruko yang dijadikan Gereja Bethel Indonesia (GBI), menyerukan kepada ribuan jama’ah agar terus melakukan upaya perlawanan dengan berbagai cara, agar kaum Kristen tidak semena-mena dan menantang warga serta pemerintah yang telah membuat hukum. Sholat ‘Ied Adha itu digelar di tempat itu oleh masyarakat karena jengkel dengan ulah gereja.

Wali Kota Cirebon telah membuat SK bulan september lalu, yang isinya melarang adanya kegiatan keagamaan di dua gedung, yaitu ruko jalan Pekiringan no 165, yang dijadikan gereja Bethel Indonesia, dan gedung pertemuan umum Gratia, di jalan dr Sudarsono no 32. SK Wali Kota no 011/1477-Adm Kesra tanggal 26 September 2011, menetapkan kembali gedung Gratia sebagai Gedung Pertemuan Umum, sesuai ijin yang dikeluarkan Dinas PU no 645/548/IB-PU/92 tanggal 16 Januari 1992, perihal IMB no 645/74/IB-PU/96 tanggal 15 Mei 1996. Dan menetapkan tidak boleh lagi menjadi tempat peribadatan. Sedangkan untuk Gereja Bethel Indonesia Pekiringan jalan Pekiringan no 165 berdasarkan SK Wali Kota no 452.2/1478-Adm Kesra.

Tapi hingga akhir pekan kedua 8 November 2011 Rabu malam dengan alasan ada acara ulang jemaat, GBI tetap melakukan berbagai kegiatan, dan hampir terjadi insiden benturan seperti terjadi di Gedung Gratia 19 Oktober lalu. Warga yang memantau melihat sendiri adanya acara peribadatan. Pimpinan GBI, Pendeta Heru beralasan, SK Wali Kota itu hanya edaran yang bersifat tidak mengikat. Saat H Abdul Kholil tokoh warga Pekalipan, juga tokoh dari Gerakan Pagar Aqidah (Gardah), Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (Gapas), Gerakan Muslim Cirebon (GMC), meminta adanya surat pernyataan di atas segel kepada pihak GBI, yang salahsatu pointnya tidak akan lagi mengadakan acara peribadatan di tempat itu, pihak GBI menolak, dan mereka bertekad akan terus bertahan.

Yang patut disayangkan, pihak pemerintah termasuk Wali Kota yang mengeluarkan SK penutupan gereja-gereja liar itu, terkesan tidak mau berjuang untuk memenuhi tuntutan warga. Sehingga warga yang dipimpin H Abdul Khalil melakukan lobby ke berbagai pihak supaya Wali Kota ikut turun dan menekan pihak gereja, yang melecehkan SK Wali Kota, sayangnya hingga kini Wali Kota selalu tidak bisa ditemui.(Humas Forum Ukhuwah Islamiyah Wilayah Cirebon)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com

Publikasi: Jumat, 11/11/2011 14:11 WIB

***

Di akherat, seseorang itu bersama yang dicintainya di dunia

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

{ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ } ” أخرجه البخاري برقم (6168-6170) ومسلم برقم ( 2640 و2641)وهو حديث متواتر

(Di akherat kelak) seseorang itu bersama orang yang ia cintai. (HR Al-Bukhari dan Muslim, mutawatir).

Juga hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مُرَّ بِجَنَازَةٍ فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا خَيْرًا فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَمُرَّ بِجَنَازَةٍ فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَجَبَتْ قَالَ عُمَرُ فِدًى لَكَ أَبِي وَأُمِّي مُرَّ بِجَنَازَةٍ فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا خَيْرٌ فَقُلْتَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَمُرَّ بِجَنَازَةٍ فَأُثْنِيَ عَلَيْهَا شَرٌّ فَقُلْتَ وَجَبَتْ وَجَبَتْ وَجَبَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ وَمَنْ أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ

Dari Anas bin Malik ia berkata; Suatu ketika iringan jenazah lewat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mayit itu dipuji dengan kebaikan, maka beliau pun bersabda: “Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.” Kemudian lewatlah iringan jenazah lain di hadapan beliau, namun mayat itu dicaci dengan keburukan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.” Maka Umar berkata, “Ibu dan ayahku menjadi tebusan bagimu, telah lewat iringan jenazah lalu mayit itu dipuji dengan kebaikan kemudian Anda mengatakan: ‘Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.’ Setelah itu, lewatlah jenazah lain, dan mayit itu dicaci dengan keburukan lalu Anda pun mengatakan: ‘Telah wajib baginya, telah wajib baginya, telah wajib baginya.'” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Siapa yang telah kalian puji dengan kebaikan, maka telah wajib baginya surga. Dan siapa yang telah kalian cela dengan keburukan, maka telah wajib pula baginya neraka. Kalian adalah Syuhada`ullahi (para saksi Allah) di muka bumi, kalian adalah Syuhada`ullahi (para saksi Allah) di muka bumi.” (HR Muslim)

Bagaimana kalau saksi-saksi telah menyatakan bahwa mereka itu berkasih-kasihan dengan orang kafir? Betapa ruginya. Bahkan ada juga yang mati ketika sedang membela tempat penyembahan orang kafir. Na’udzubillahi min dzalik.

(nahimunkar.com)