GOLKAR Disingkur Aliran Sesat LDII?

GOLKAR Disingkur Aliran Sesat LDII?


DALAM rangka pemilu legislatif dan pilpres 2009, Ketua Umum Golkar nampaknya cukup agresif mencari dukungan, sampai-sampai aliran sesat seperti LDII pun disambangi dan dimintai dukungan. Sebagaimana diberitakan Tempo Interaktif edisi Jum’at, 23 Januari 2009 | 18:49 WIB, di bawah judul Wapres Kampanyekan Calon Legislator di LDII, diturunkan berita sebagai berikut:

TEMPO Interaktif, Kediri: Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkampanyekan calon legislator dari Partai Golkar saat meresmikan menara Agung milik LDII di Markas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kediri, Jum’at (23/1). Ia juga meminta warga LDII untuk mencoblos Golkar dalam pemilu mendatang.

Kampanye sembunyi-sembunyi tersebut dilakukan Jusuf Kalla sesaat sebelum meresmikan menara Agung yang dibangun warga LDII dengan biaya Rp 15,8 miliar. Mengatasnamakan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla memperkenalkan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Letnan Jenderal Purnawirawan Sumarsono dan mantan Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid sebagai caleg Golkar.

“Saya atas nama Ketua Umum Partai Golkar meminta restu dan dukungan Saudara atas pencalonan caleg kami,” kata Jusuf Kalla yang disambut tepuk tangan ribuan warga LDII yang hadir.

Jusuf Kalla juga mengungkapkan kebanggaannya pada menara Agung milik LDII yang berwarna kuning. Menurutnya warna tersebut sesuai dengan kematangan warga LDII dan partai Golkar. Ia berharap kedekatan ini bisa berlanjut pada dukungan dalam pemilu mendatang.

Sementara itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat LDII KH Abdullah Syam mengaku belum memutuskan calon mana yang akan didukung dalam pemilihan presiden mendatang. Sesuai dengan mekanisme organisasi, pembahasan tersebut akan dilakukan satu bulan menjelang pilpres dilaksanakan.

“Kita akan membuat garis-garis kriteria yang harus dipenuhi oleh calon presiden,” kata Abdullah Syam.

Abdullah sendiri membantah dirinya lebih condong kepada Akbar Tanjung dibandingkan Jusuf Kalla dalam pencalonan ini. Meski mengaku cukup lama berkawan dengan Akbar Tanjung, ia tetap menyerahkan keputusan politik tersebut kepada warga LDII yang mencapai 15 juta di seluruh Indonesia.

Sebelumnya mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung mendeklarasikan pencalonannya sebagai calon presiden di markas LDII Kediri. Bahkan dengan terbuka ia meminta dukungan warga LDII untuk memberikan dukungan kepadanya. HARI TRI WASONO (http://wap.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/01/23/brk,20090123-156660,id.html)

Ironisnya, meski Ketua Umum Golkar dan mantan Ketua Golkar periode sebelumnya sudah secara terbuka meminta dukungan aliran sesat LDII, namun pihak aliran sesat LDII tampaknya masih jual mahal, sebagaimana tercermin melalui pernyataan Abdullah Syam (Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat LDII). Antara lain dikatakan, bahwa LDII memberikan kebebasan warganya untuk menentukan pilihan pada pilpres mendatang. Juga dikatakan, “Termasuk juga dengan Pak Wapres JK, kami masih sebatas memberikan doa restu…”

Ternyata, bukan cuma petinggi Golkar yang meminta restu kepada aliran sesat LDII, tetapi juga Ketua Umum DPP PAN (Partai Amanat Nasional) Soetrisno Bachir –beberapa hari setelah kedatangan Jusuf Kalla– juga bertandang ke ponpes LDII (http://news.id.msn.com/elections/okezone/article.aspx?cp-documentid=2222781). LDII menjadi menarik menjelang pemilu ini, karena berdasarkan kartu anggota yang diterbitkan DPP LDII, jumlah anggota mereka berkisar 15 juta orang.

Meski Jusuf Kalla sudah repot-repot menyambangi markas aliran sesat LDII, namun aliran sesat LDII tetap tidak berminat mendukung Golkar. Sebagaimana diberitakan okezone edisi Jum’at, 6 Maret 2009 – 16:20 wib, di bawah judul Temui JK, LDII Tolak Dukung Golkar, LDII nampaknya tidak akan kembali menjadi organisasi sayap Golkar, bahkan dalam Pemilu mendatang. Selengkapnya sebagai berikut:

JAKARTA – Meski memiliki ikatan sejarah cukup kuat dengan Partai Golongan Karya (Golkar), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) tidak akan kembali menjadi organisasi sayap Golkar, bahkan dalam Pemilu mendatang.

“Itu kan dulu, sekarang anda lihat sendiri,” ujar Ketua DPP LDII Chriswanto Santoso usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jum’at (6/3/2009).

Sesuai amanat Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) beberapa waktu lalu, kata dia, dalam Pemilu 2009 ini secara institusional posisi LDII netral. “Artinya kita bebaskan kepada warga, pengurus dan anggota untuk meilih partai apapun,” tambahnya.

Dalam pertemuan kali ini, anggota LDII juga sempat menanyakan kesiapan JK untuk maju menjadi capres dalam pemilihan presiden mendatang.

“Beliau sempat menyampaikan, dan itu karena desakan dari daerah-daerah. Beliau tetap akan memutuskan setelah pemilihan legislatif, karena belum tahu peta kekuatan jadi tidak etis bicara sekarang,” urainya.

Dalam kesempatan itu, LDII meminta kepada JK yang juga ketua umum Golkar untuk menciptakan kampanye yang kondusif, berkualitas dan menjauhkan black campaign.

Menurutnya, black campaign dikhawatirkan bisa mendorong tingginya angka golput di masyarakat. “Karena masyarakat menilai mereka tidak ada yang baik. Sehingga, peran masyarakat semakin rendah,” pungkasnya. (teb)

Biasanya, bila pimpinan ormas mendatangi petinggi partai atau petinggi pemerintahan seperti Jusuf Kalla, yang mereka utarakan dan sampaikan adalah berupa dukungan. Namun kedatangan LDII menghadap Jusuf Kalla kali ini, bukan untuk mendukung Golkar pada Pemilu Legislatif 2009 dan bukan untuk mendukung JK pada Pilpres 2009, tetapi justru untuk TIDAK MENDUKUNG GOLKAR. Ini entah apa maknanya, tetapi di luar kebiasaan. Apakah itu artinya meremehkan dan menyingkur Golkar?

Lha, kalau aliran sesat seperti LDII saja menolak mendukung Golkar dan JK, apalagi yang tidak sesat. Jangan-jangan, ‘ledekan’ Ahmad Mubarok dari Partai Demokrat tempo hari merupakan pertanda buruk bagi Golkar. (lihat juga tulisan berjudul Golkar Tidak Percaya Diri Jusuf Kalla Minta Dukungan Aliran Sesat LDII, March 2, 2009 10:44 pm di nahimunkar.com).

Pada satu sisi, JK dan Golkar bermesraan dengan aliran sesat LDII, bahkan sampai menyambangi markas dan pondok pesantren aliran sesat LDII, namun pada sisi lain JK pernah menyatakan, gerak pesantren (yang non LDII tentunya) perlu dibatasi karena ada kecurigaan bahwa pesantren terkait dengan terorisme.

Kalau Jusuf Kalla bisa mencurigai pondok pesantren, maka orang-orang pondok pesantren juga bisa mencurigai Golkar sebagi sarang koruptor. Karena tidak sedikit petinggi Golkar yang ditangkap aparat karena korupsi. Sepanjang Golkar berkuasa (32 tahun), korupsi sulit diberantas bahkan menjadi semacam ‘budaya’ tersendiri. “Memangnya di Golkar ada kurikulum melakukan korupsi yang baik dan benar?”

Boleh jadi, Jusuf Kalla dan petinggi Golkar pada umumnya, memang benar-benar tidak paham dengan Islam dan dinamika yang menyertainya. Mereka tidak bisa membedakan antara Islam dan aliran sesat yang menggerogoti Islam. Karena aliran sesat selalu menggunakan simbol-simbol yang nyaris mirip dengan Islam. Setidaknya, mestinya Jusuf Kalla dan Golkar belajar dari kesalahan masa lalu orang-orang yang cenderung meminta dukungan aliran sesat, namun justru mengalami kekalahan pada pemilu legislatif dan pilpres 2004 lalu.

Pada pilpres putaran pertama 5 Juli 2004 lalu, Wiranto (yang kala itu masih tokoh Golkar) berduet dengan Salahuddin Wahid (dari NU). Pasangan ini sangat mesra dengan aliran sesat NII-AlZaytun. Saking mesranya, di Ma’had Al-Zaytun Indramayu Jawa Barat didirikan TPS (tempat pemungutan suara) khusus yang keberadaannya sudah ada sejak pemilu legislatif 5 April 2004. Bila pada pemilu legislatif jumlah TPS khusus di Al-Zaytun mencapai 39 buah, maka khusus untuk pilpres putaran pertama, TPS khusus itu membengkak menjadi 84 buah.

Pembengkakan jumlah TPS khusus di Al-Zaytun kala itu, tentunya untuk menampung suara peserta pemilu yang juga membengkak. Jika pada pemilu legislatif 5 April 2004 peserta pemilu dari Al-Zaytun hanya mencapai 11.563 jiwa, maka pada pilpres putaran pertama membengkak menjadi 24.878 jiwa. Ketika pencoblosan berlangsung (pilpres putaran pertama), suara yang sah mencapai 24.839 jiwa. Dari jumlah ini hampir seluruhnya yakni sekitar 99,80 persen atau 24.794 jiwa memilih pasangan Wiranto-Salahuddin. Karena dinilai ada kejanggalan, maka hasil pencoblosan di 84 TPS kala itu dianulir. Bahkan, secara nasional pasangan Wiranto-Salahuddin gagal memasuki putaran kedua.

Jusuf Kalla dan Golkar sudah seharusnya menyadari, meminta dukungan dan restu kepada aliran sesat seperti LDII, hanya akan semakin ditinggalkan konstituen berbasis Islam. Apalagi, belum apa-apa Jusuf Kalla sudah ‘ditakut-takuti’ oleh sejumlah kalangan yang tak bertanggung jawab, tentang adanya bahaya Wahhabi. Misalnya, bila JK berpasangan dengan salah satu tokoh partai tertentu (yang berbasis Islam) sebagai cawapres kelak, maka ancaman disintegrasi akan menjelma.

Karena, tokoh tersebut adalah penganut paham Wahhabi yang anti tahlilan, anti maulidan dan sebagainya, padahal umat Islam di Indonesia adalah tidak anti tahlilan dan muludan, katanya. Terhadap penyesatan seperti ini, nampaknya Jusuf Kalla harus berhati-hati. Kalau tidak paham dan tidak hati-hati, maka ia akan semakin jauh ditinggalkan konstituen berbasis Islam. Beberapa waktu belakangan ini memang dihidup-hidupkan hantu jadi-jadian bernama ‘paham Wahhabi’ terutama oleh kalangan Sepilis (liberal) dan Syi’ah serta praktisi bid’ah yang gerah dan merasa terancam lahannya ketika bid’ah-bid’ahnya ditunjukkan sesatnya secara dalil yang benar.

Yang jelas, di dalam Islam tidak dikenal paham Wahhabi. Namun, terlepas dari apa pun namanya, jika paham tadi mengajak kepada ajaran Islam yang benar sesuai dengan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka paham itu adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sedangkan Sepilis (liberal) adalah aliran dan paham sesat yang telah difatwakan sesatnya oleh Munas (Musyawarah Nasional) MUI 2005. Begitu juga dengan Syi’ah yang merupakan induk kesesatan. Sedangkan mereka yang selama ini gemar mempraktikkan bid’ah, bukanlah komunitas Islam berpaham Ahlus sunnah wal Jama’ah. Karena yang mereka praktikkan adalah bid’ah, maka mereka selayaknya dijuluki sebagai pengikut Ahlul Bid’ah Wal Dlolalah atau sebagai pengikut Ahlul Bida’ wal Ahwa’.

Karena, semasa hidupnya Rasulullah tidak pernah mengerjakan tahlilan dan maulidan. Begitu juga dengan pada masa sahabat dan sesudahnya, aktivitas itu tidak pernah dilaksanakan. Oleh karena itu, siapa saja yang melaksanakan kegiatan berbau agama Islam namun tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang mereka lakukan adalah bid’ah. Mereka tidak layak mengaku sebagai Ahlus sunnah wal Jama’ah tetapi pengikut Ahlul Bid’ah Wal Dlolalah yang karena dosa-dosanya mempraktikkan dan mensosialisasikan bid’ah telah diancam neraka.

Jusuf Kalla dan Golkar pada umumnya, sudah saatnya memahami Islam dan dinamika yang menyertainya, sehingga bisa membedakan mana yang sesat dan bukan. Bila tidak, akan dipermalukan. Sudah repot-repot minta dukungan aliran sesat LDII, malah dibalas dengan sikap yang tidak mendukung. Di mana harga diri Golkar yang merupakan partai terbesar dan partai pemenang pemilu 2004 yang ketua umumnya dijuluki Ayam Kinantan Dari Timur? (haji/tede)

email
  • santoz

    jamaah 354 itu sebenarnya "perusahaan-keluarga" Nurhasan dan kroninya. cara kerja bisnisnya:

    1. pengikut didoktrin bahwa jamaah 354 itu jalan tunggal masuk surga selamat dari neraka

    2. pengikut didoktrin bahwa ilmu yang sah harus melewati cara jokam, dan dikonsepsikan bahwa ilmunya orang-luar itu nggah sah

    3.pengikut didoktrin klo sampai keluar dari jamaah 354 maka hukumnya murtad sehingga pengikutnya tersugesti takut untuk mencari kebenaran diluar kelompoknya

    4.pengikut didoktrin bahwa hidup tanpa imam itu hidupnya ngga sah dengan rujukan imamnya itu adalah imam golongannya

    ya ini semua adalah transaksi bisnis jual beli:

    pengikut dapat ilusi masuk surga

    elit 354 dapat loyalitas,uang isrun,pemujaan,monopoli ilmu,kepatuhan

    secara real, yang dapat keuntungan konkrit sebenarnya itu ya elit-elit 354. pengikut 354 itu cuma dapat sugesti-sugesti, ilusi, delusi, mimpi,kesemuan malahan sebenarnya pengikut 354 tidak dapat keuntungan melainkan kerugian-kerugian antara lain:

    1.terjerumus dalam akidah khawarij

    2.terjerumus dalam akidah hibiyah dan firkoh

    3.mengkerdilkan pencarian ilmu karena hanya boleh mencari ilmu dari golongannya saja

    4.terikat pada kepatuhan pada yang sebenarnya tidak ada hak untuk dipatuhi (imam batil)

    5.terikat pada peraturan/ijtihad imamnya yang sebenarnya tidak punya kekuatan hukum syariat sama sekali

    6.sombong dakam beribadah

    7.takabur,ujub

    8.sholat jumat musti menempuh berkilo-kilometer padahal didekat dirinya ada masjid umat islam

    9.dipajaki isrun (perpuluhan)

    10.terpecahnya silaturahim dan rumah tangga

  • http://[email protected] Bagus tisaga

    Wahai teman2 yg msh di ldii, sadarlah bahwa kalian tlh berbuat syirik, berupa ketoatan mutlak kpd sang amir, dgn alasan sdh menjadi ijtihad keamiran.

    Ketahuilah dr mulai almarhum H.Nurhasan,sampai sekarang cak azis, keamirannya batal, hanya jadi amir boneka/amir ludruk/ketoprak humor,krn tdk punya wilayah, kekuatan dan kekuasaan, ingat kasus maryoso,cak azis dan KH.Kasmudi terlibat, sadar dan sadarlah sebelum ajal menjemput !!!!!!

  • Jimmy

    Ustadz, LDII di daerah saya selalu menggunakan ciri; kode 354 entah itu stiker di kendaraan atau rumahnya, di rumahnya kebanyakan menanam pohon murbei, eksklusif dan memang menganggap kita2 ini najis.

    Yg saya ingin tanyakan pd mereka, kalo mereka berdagang di pasar apakah uang-uang dari kita juga dicuci ya.