Hukum dan Tatacara Shalat Gerhana

Hukum dan Tatacara Shalat Gerhana

Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf

Khusuf adalah gerhana bulan total atau sebagian di malam hari sedangkan Kusuf adalah gerhana matahari total atau sebagian.

  • Hukum Shalat Khusuf dan Kusuf:

Hukum kedua shalat ini sunnat muakkadah bagi setiap muslim dan muslimah baik yang sedang mukim atau safar.

  • Mengetahui Waktu Gerhana.

Waktu gerhana matahari dan bulan memiliki waktu-waktu tertentu seperti halnya waktu terbit matahari dan bulan, Allah SWT telah menetapkan bahwa waktu gerhana matahari terjadi pada akhir bulan sedangkan gerhana bulan terjadi pada malam-malam purnama.

  • Sebab-sebab Gerhana

Apabila terjadi gerhana bulan ataupun matahari manusia dianjurkan untuk melakukan shalat di mesjid-mesjid atau di rumah-rumah sekalipun di mesjid itu lebih utama, sebagaimana gempa, petir, gunung berapi, memiliki sebab-sebab tertentu demikian juga gerhana matahari dan bulan juga telah Allah tetapkan penyebab keduanya. Dan hikmah dibalik itu adalah menakut-nakuti hamba-Nya agar kembali kepada Allah.

  • Waktu Shalat:

Shalat gerhana dimulai sejak terjadinya gerhana hingga gerhana tersebut hilang.

  • Tata Cara Shalat Gerhana:

Shalat gerhana tidak dimulai dengan azan dan qomat akan tetapi dengan panggilan: Ash-Shalaatu Jaami’ah sekali atau lebih.

Kemudian imam bertakbir dan membaca Al-Fatihah serta surat yang panjang dengan suara keras lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama

kemudian I’tidal dengan membaca Sami’allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu, tetapi tidak sujud (tetap tegak berdiri, red). Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan membaca surat yang lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dengan ruku’ yang lebih pendek dari yang pertama kemudian I’tidal, lalu turun sujud dengan sujud yang panjang dan sujud yang pertama lebih panjang dari yang kedua dan diselai dengan duduk diantara dua sujud kemudian berdiri untuk rakaat kedua lalu melakukan hal yang sama dengan rakaat pertama hanya saja lebih ringan dari yang pertama kemudian dilanjutkan dengan tahiyat dan salam.

  • Sifat Khutbah Shalat Gerhana

Disunnahkan bagi imam untuk melakukan khutbah setelah shalat gerhanauntuk mengingatkan manusia akan kejadian yang besar ini agar hati-hati mereka menjadi lunak kemudian meminta mereka untuk banyak berdoa dan istighfar. Dari Aisyah ra berkata,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْـهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ الله ﷺ، فَقَامَ رَسُولُ الله ﷺ يُصَلِّي، فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأطَالَ القِيَامَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ جِدّاً، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ.

ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القِيَامَ، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ، فَأطَالَ القِيَامَ، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ.

ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ الله ﷺ وَقَدْ تَـجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَـمِدَ الله وَأثْنَى عَلَيْـهِ، ثُمَّ قال: «إنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَـرَ مِنْ آيَاتِ الله، وَإنَّهُـمَا لا يَنْخَسِفَانِ لِـمَوْتِ أحَدٍ وَلا لِـحَيَاتِـهِ، فَإذَا رَأيْتُـمُوهُـمَا فَكَبِّرُوا، وَادْعُوا الله وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا، يَا أمَّةَ مُـحَـمَّدٍ! إنْ مِنْ أحَدٍ أغْيَرَ مِنَ الله أنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أوْ تَزْنِيَ أمَتُـهُ، يَا أمَّةَ مُـحَـمَّدٍ! وَالله! لَوْ تَعْلَـمُونَ مَا أعْلَـمُ لَبَكَيْتُـمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُـمْ قَلِيلا، ألا هَلْ بَلَّغْتُ؟». متفق عليه

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah saw lalu beliau melakukan shalat dan memanjangkan berdirinya lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang kemudian berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dan sujud dengan memanjangkan keduanya, lalu berdiri untuk raka’at kedua kemudian ruku’ yang panjang tetapi lebih pendek dari ruku’ yang pertama kemudian mengangkat kepalanya untuk berdiri lama tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian ruku’ dan sujud.

Lalu Rasulullah saw menyelesaikan shalatnya dan matahari telah kelihatan kembali maka beliau berkhutbah memuja dan meuji Allah SWT dan bersabda, Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah dan keduanya tidaklah terjadi gerhana dikarenakan hidup atau matinya seseorang maka apabila kalian melihatnya maka bertakbirlah dan berdoalah kepada Allah serta lakukanlah shalat dan bersedekahlah wahai umat Muhammad, sesungguhnya tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba-Nya melakukan perzinahan wahai umat Muhammad seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa, saksikanlah bukankah telah aku sampaikan.”(HR. Muttafaq ‘alaihi)

  • Mengqadha Shalat Gerhana

Jama’ah shalat Khusuf bisa diperoleh jika seseorang mendapati ruku’ yang pertama dari setiap raka’atnya dan jika gerhana telah hilang maka tidak ada qadha shalat gerhana.

Apabila gerhana telah berakhir dan mereka masih melakukan shalat maka shalat segera diselesaikan dengan ringan. Sebaliknya jika shalat telah selesai dan gerhana belum hilang maka dianjurkan memperbanyak doa dan takbir dan bersedekah hingga gerhana itu hilang.

  • Pelajaran yang Diambil dari Gerhana

Gerhana mendorong seseorang untuk ikhlas dalam mengesakan Allah serta melakukan keta’atan dan menjauhi kemaksiatan dan dosa serta takut kepada Allah dan kembali kepada-Nya.

1. Allah SWT berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآَيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا [الإسراء/59]

“Dan tidaklah Kami turunkan ayat-ayat Kami kecuali untuk menakut-nakuti (hamba).” (QS. Al-Isra’: 59)

2.

وعن أبي مسعود الأنصاري رضي الله عنه قال: قال رسول الله a: «إنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَـرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ الله يُـخَوِّفُ الله بِـهِـمَا عِبَادَهُ، وَإنَّهُـمَا لا يَنْكَسِفَانِ لِـمَوتِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، فَإذَا رَأَيْتُـمْ مِنْـهُـمَا شَيْئاً فَصَلُّوا وَادْعُوا الله حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ». متفق عليه

Dari Abu Mas’ud al-Anshary ra berkata, Rasulullah saw bersabda, ” Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah untuk menakut-nakuti hamba-Nya, dan keduanya tidaklah terjadi gerhana dikarenakan hidup atau matinya seseorang maka apabila kalian melihatnya maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah sehingga keduanya hilang.” (Muttafaq ‘alaih)

Ringkasan Fiqih Islam (3)

( Bab Ibadah )

﴿ مختصر الفقه الإسلامي (3) ﴾

العبادات

] Indonesia – Indonesian – [ إندونيسي

Penyusun : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri

Terjemah : Team Indonesia islamhouse.com

Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad & Muzaffar Sahidu. Lc

Sumber: www.islamhouse.com/…/id_03_summary_of_the_islamic_fiqh_tuwajre.doc

(nahimunkar.com)

http://www.nahimunkar.com/hukum-dan-tatacara-shalat-gerhana/

***

Siap-Siap, Gerhana Bulan Total 50 Menit

PALEMBANG–Pada 10 Desember nanti, prediksi astronomi akan terjadi gerhana bulan total. Hal ini sama dengan data empiris hisab rukyat 2011 yang dikeluarkan Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama RI.

“Tidak selama gerhana bulan Juni lalu yang mencapai 100 menit. Ini hanya sekitar 50 menit saja,” ujar Kakanwil Kemenag Sumsel Drs H Najib Haitami MM melalui staf tim hisab rukyat Jamilul Achmadi SAg, kemarin (5/11).

Menurut Jamilul, proses gerhana bulan total 10 Desember nanti termasuk cukup panjang. Bulan mulai masuk penumbra (bayang semu di sekitar umbra) pada 18.33.36 WIB (pukul 18. 33 menit. 36 detik) dan bulan keluar penumbra pada pukul 00.29.57 WIB.

Gerhana bulan total merupakan peristiwa dimana seluruh penampang bulan tertutupi oleh bayangan bumi. Peristiwa ini terjadi saat matahari,  bumi  dan bulan berada dalam satu garis lurus sehingga sinar matahari yang mestinya menyinari bulan terhalang oleh bumi.

Bulan masuk umbra (bayangan pusat atau inti gelap) pada pukul 19.45.43 WIB. “Awal gerhana bulan pada pukul 21.06.16 WIB dan puncak gerhana pada 21.31.49 WIB,”ucapnya. Sedangkan akhir gerhana bulan total pada 21.57.24 WIB dan bulan keluar dari umbra pada 23.17.58 WIB.

Gerhana bulan total 10 Desember ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia sejak awal hingga akhirnya gerhana. Tentu saja jika cuaca dalam kondisi bagus. Terkait kejadian alam ini, Kanwil.

Kemenag Sumsel mengirimkan edaran kepada seluruh kepada Kantor Kemenag kabupaten/kota se-Sumsel.

Intinya meminta agar Kemenag kabupaten/kota menyosialisasikan kepada masyarakat tentang gerhana bulan total yang akan terjadi pada 10 Desember itu. “Sekaligus mengimbau kepada masyarakat agar melaksanakan shalat khusuf (shalat gerhana bulan) di setiap masjid/mushola,”imbuh Jamilul.

Diketahui, gerhana bulan total pertama tahun ini terjadi pada 16 Juni lalu. Kejadian alam spektakuler ini dapat diamati di sebagian besar Amerika Selatan, Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Gerhana bulan tersebut berdurasi fase gerhana total 1 jam 40 menit 52 detik, fase kontak umbra 3 jam 39 menit 58 detik dan fase kontak penumbra 5 jam 39 menit 10 detik.(46) http://www.jpnn.com/read/2011/12/06/110302/Siap-Siap,-Gerhana-Bulan-Total-50-Menit-

Selasa, 06 Desember 2011 , 09:58:00

***

Kaum Muslim Diimbau Shalat Gerhana

JUMAT, 9 DESEMBER 2011 | 18:42 WIB

 

Image by Hendro Setyanto

GERHANA BULAN – Proses saat terjadinya gerhana bulan total yang terjadi pada Kamis (16/6) dinihari. Foto diambil menggunakan kamera Canon 450ED dengan Refractor Telescope on Equatorial Mount 90 milimeter, di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

BATUJAJAR, TRIBUN - Fenomena gerhana bulan yang terjadi Sabtu (10/12), bisa dijadikan momen oleh umat muslim untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga atau kerabat lainnya dengan cara yang berbeda. Bersama keluarga atau kerabat, umat muslim bisa melaksanakan shalat khusuf atau shalat sunat pada saat gerhana bersama-sama di masjid.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung Barat (KBB), Imron Rosyadi, mengatakan pihaknya telah mengimbau semua masjid di KBB untuk menggelar shalat khusuf. Menurutnya, fenomena gerhana ini bisa dijadikan sebagai alat untuk mempererat hubungan dan kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat.

Gerhana bulan, kata Imron, selayaknya bisa menjadi pengingat bagi umat muslim akan kebesaran Allah SWT. Karenanya, masyarakat diimbau untuk melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak sedekah pada saat gerhana terjadi sehingga momen ini akan terasa lebih bermakna.

“Dalam rangkaian shalat khusuf, warga diimbau untuk berdoa supaya Indonesia aman, sejahtera, dan diselamatkan dari bencana. Shalatnya sendiri dilakukan dalam dua rakaat. Pada setiap rakaatnya terdapat dua kali ruku dan dua kali sujud,” ujarnya saat dihubungi melalui ponsel, Jumat (9/12).

Shalat khusuf, menurutnya, bukan ditujukan untuk meminta bulan dikembalikan dalam keadaan yang normal. Shalat sunat ini dilaksanakan layaknya perintah untuk melaksanakan shalat subuh atau shalat lainnya. Contohnya, umat muslim melaksanakan shalat subuh tidak dengan tujuan meminta supaya matahari segera terbit.

Pada saat terjadi gerhana, menurutnya, umat muslim hanya disunatkan untuk melaksanakan shalat khusuf dan bersedekah. Bukannya melakukan ritual yang kurang masuk akal seperti menyembunyikan perempuan hamil di kolong ranjang atau memukul kentungan dengan keras supaya bulan kembali bersinar.

“Masyarakat sudah sangat cerdas dan telah memahami fenomena gerhana secara ilmiah. Mungkin pandangan tentang kejadian gerhana yang bermacam-macam itu masih ada tetapi di KBB sendiri sepertinya sudah tidak ada masyarakat yang mengikuti ritualnya,” katanya. (aa)

http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/124647/kaum-muslim-diimbau-salat-gerhana

(nahimunkar.com)