Husen Alatas Rasil AM720 Mengusung Syi’ah

Husen Alatas Rasil AM720 Mengusung Syi’ah

KALAU Ustadz Husen Alatas salah satu narasumber Radio Silaturahim AM720 selalu menyangkal bahwa dirinya berpaham sesat Syi’ah, itu amat sangat biasa. Semua misionaris paham sesat Syi’ah juga selalu menggunakan alasan itu. Namun, ibarat kata pepatah never judge a book by its cover, untuk menilai sebuah buku jangan lihat sampulnya tapi bacalah isinya.

Oleh karena itu, perhatikanlah isi ceramah mereka. Pasti ada saja pesan-pesan atau pemikiran-pemikiran sesat Syi’ah yang mereka munculkan. Namun berhubung sebagian (besar) audiensnya tidak paham, akibatnya para pendengar itu kurang menyadari. Sehingga, membuat sasaran dakwah paham sesat Syi’ah yang mereka bawakan tidak efektif sama sekali. Subhanallah.

Kenyataanya, para misionaris Syi’ah yang punya kesempatan berdakwah di media publik (seperti TV dan Radio), tidak melepaskan peluang untuk menyampaikan misi Syi’ah, misalnya Ustadz Omar Shihab di Trans TV, Husen Alatas di Rasil AM720. Bau sesat paham Syi’ah yang ditebarkan melalui frekwensi AM720, selain dilakukan oleh Ustadz Husen Alatas, juga oleh Ustadz Zen Al-Hady. (lihat tulisan berjudul Radio Silaturahim Pro Syi’ah? di http://nahimunkar.com/10988/radio-silaturahim-pro-Syi’ah/)

Mengenai Ustadz Zen Al-Hady, masyarakat sudah lama mengenali beliau sebagai misionaris Syi’ah, antara lain melalui kedudukannya sebagai Dewan Pembina di Yayasan Fathimah yang bermarkas di Jalan Batu Ampar III No.14, Condet, Jakarta Timur 13520. Yayasan Fathimah adalah salah satu dari sekian puluh Yayasan Syi’ah yang bertebaran di Indonesia (http://fatimah.org/pengurus/).

Indikasi syi’ah yang bisa ditemukan pada diri Ustad Husen Alatas antara lain ketika Ustadz Husen Alatas menjawab sebuah pertanyaan dari pendengar yang dibacakan pembawa acara Rasil AM720, yang terjadi pada Selasa malam (sekitar jam 23:00 wib) tanggal 25 Oktober 2011 (28 Dzulqa’dah 1432H), ia menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan syahwat paham sesat Syi’ah yang cenderung meremehkan Imam Bukhari dan Muslim yang diakui otoritasnya oleh ummat Islam di dunia sebagai perawi hadits shahih.

Ustadz Husen Alatas kala itu pernah mengatakan salah satu hadits riwayat Muslim dengan tudingan sebagai hadits palsu. Yaitu, hadits yang isinya antara lain mengatakan bahwa “orang tua Nabi di neraka”. Juga, ada satu hadits riwayat Bukhari yang dikatakannya menjijikkan. Yaitu, salah satu hadits yang mengatakan bahwa “Fathimah datang ke Nabi Muhammad dan berkata agar Nabi bersikap adil kepada istri-istrinya sebagaimana kepada Aisyah, dan ketika Fathimah datang kepada Nabi Muhammad, beliau sedang berada di pangkuan Aisyah”.

Bahkan, ustadz Husen Alatas seperti tidak mengakui eksistensi dan otoritas Imam Bukhari dan Muslim dengan seolah-olah memposisikan keduanya sebagai bukan termasuk ulama yang berhak menilai shahih tidaknya hadits. Karena menurut Husen Alatas, Bukhari dan Muslim hanya mengumpulkan riwayat. Sedang yang menentukan shahih atau tidaknya hadits adalah ulama rabbaniyyin berdasarkan Al-Qur’an dan akal. Husen Alatas mereduksi otoritas Imam Bukhari dan Muslim hanya sebagai pengumpul riwayat (hadits). Ini salah satu ciri khas watak penganut paham sesat Syi’ah yang senantiasa menentang hadits Bukhari dan Muslim. Bila dia menolak dianggap sebagai orang Syi’ah atau bermisi Syi’ah, faham yang disuntikkannya kepada pendengar Rasil itu sendiri sama sekali tidak menghargai ulama hadits paling terpercaya, sekaligus manafikan ilmu hadits dalam menentukan shahih tidaknya hadits. Hingga untuk menentukan shahih tidaknya hadits, yang dianggap berhak adalah ulama rabbaniyyin berlandaskan Al-Qur’an dan akal. Padahal kitab-kitab ulama hadits sendiri sering merujuk kepada persyaratan dua syaikh (Syaikhani – Bukhari dan Muslim) ini dalam menentukan shahihnya hadits.

Dari pernyataan Husen Alatas itu, kalau diikuti, berarti Imam Bukhari dan Muslim pun tidak termasuk apa yang dia sebut ulama rabbaniyyin. Ketika hadits shahih Bukhari dan Muslim ditolak oleh Husen Alatas dengan alasan seperti itu, berarti Imam Bukhari dan Muslim dianggapnya tidak mengerti Al-Qur’an, dan akalnya juga tidak bisa dipakai, makanya Husen tolak. Atau dengan kata lain, Husen Alatas secara tidak langsung berarti mendudukkan dirinya sebagai ulama rabbani (karena tidak dia sebutkan siapa ulama rabbaniyyin yang dia maksud), dan dia mengerti betul isi Al-Qur’an dan akalnya memenuhi syarat yang dia bikin, sehingga berani menolak hadits shahih Bukhari dan Muslim seperti tersebut.

Tidak usah disifati apa-apa, itu sudah jelas. Hanya orang bodoh saja yang mau untuk dibodohi.

Bila di Rasil AM720 Ustadz Husen Alatas meremehkan Imam Bukhari dan Muslim, di tempat lain ia pernah menghujat Abu Hurairah secara terang-terangan. Padahal Abu Hurairah adalah salah satu perawi hadits terkemuka. Hujatan itu kemudian mendapat bantahan dari ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, seorang guru hadits.

Menurut ustadz Farid Ahmad Okbah, ternyata landasan ustadz Husen Alatas di dalam menghujat Abu Hurairah adalah buku karya Abu Rayyah berjudul Adhwau ‘alas Sunnatil Muhammadiyah (Sorotan Terhadap Sunnah Muhammadiyah) yang telah dibantah oleh Dr Musthafa As Siba’i dengan judul As Sunah wa Makaanatuha fit Tasyri’il Islami.

Selain As Siba’i masih ada sekitar sepuluh ulama terkemuka lainnya yang membantah Abu Rayyah. Antara lain Shalih Abdul Mun’im dengan bukunya Difa’an Abi Hurairah yang merupakan sanggahan terbagus.

Contoh lain yang mempertegas kaitan ustadz Husen Alatas dengan Syi’ah adalah sebagaimana diungkap dalam buku berjudul Aliran dan Paham Sesat di Indonesia yang terbit sejak 2002, bahwa ustadz Husen Alatas cukup aktif menghadiri acara-acara yang diselenggarakan kalangan syi’ah di gedung Darul Aitam, Tanah Abang,  Jakarta Pusat.

Ketika Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Abu Hurairah –sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang didoakan khusus untuk mendapatkan karunia dari Allah Ta’ala sehingga hafal banyak hadits– itu semua telah diremehkan sama sekali oleh Husen Alatas, maka pihak Rasil yang mengusung Husen Alatas untuk menceramahi Ummat Islam mesti bertanggung jawab. Ummat Islam mestinya yang menuntut pihak mereka, bukan sebaliknya. Karena mereka sudah melukai dan menjerumuskan Ummat  Islam. (haji/tede/nahimunkar.com)

(nahimunkar.com)

email
  • ibnu amir

    se baik nya kita yg di bawah hendak nya jangan gegabah ikut2an menguhujat……mereka para Ustd itu tentu telah mengalami pendidikan dan pengalaman>>>>>>>>>>> jadi memang sebaik nya mereka para Ustd itu dudukbersama dan menjelaskan ilmu yg mereka pahami….toh kalo ada perbedaan itulah manusia walau rambut sama hitam pemikran bisa ber beda…apalagi di dalam hati mereka hanya Allah SWT yg tau…..di akherat nanti biar lah Allah yg akan menghisap amal ibadah kita…….

  • http://nahimunkar.com ADNANWALI

    Radio Siluman = RaSil.

  • http://yusuf-istiqomah.blogspot.com Yusuf

    mending dengarkan yang sudah jelas A hlussunah, yaitu fajri fm

  • Ida Hidayah Assa'dy

    Saya kira percuma berdialog dengan Syi'ah selama mereka ber"TAQIYYAH"

  • Abu Syahrul

    Alangkah baiknya jika diadakan dialog antara yang menuduh dan yang dituduh, akan terlihat dengan terang benderang siapa kira kira yang benar.