Idul Ghadir, Perayaan Kebencian dan Dendam Syiah kepada Para Sahabat Nabi Muhammad SAW

Idul Ghadir, Perayaan Kebencian dan Dendam Syiah kepada Para Sahabat Nabi Muhammad SAW

  • Umat Islam Indonesia sengaja disuguhi acara ini hingga 400 polisi dikerahkan, plus disiapkan satu buah mobil water cannon dan mobil penghalau massa (Barracuda)?

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir menilai perayaan Idul Ghadir sebagai aktivitas kelompok Syiah Indonesia yang berupaya memecah-belah umat Islam. Hal itu disebabkan perayaan Idul Ghadir merupakan pelestarian dan perayaan kebencian dan dendam Syiah kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkemuka. Yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
“Perayaan Hari Raya Idul Ghadir ini semakin membuktikan bahwa Syiah memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum muslim lainnya,” katanya dalam rilisnya, Jumat (25/10) lalu.

MUI tel;ah kirim surat kepada pihak polisi untuk tidak member izin acara yang dinilai memecah belah umat Islam itu. Berbagai protes sebelum terlaksananya acara pun telah bermunculan. Namun acara syiah yang jadi symbol kebencian terhadap para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tetap digerlar, bahkan dijaga polisi sampai 400-an polisi. Juga pihak polisi bahkan menyiapkan untuk acara itu satu buah mobil water cannon dan mobil penghalau massa (Barracuda).

Syiah itu sendiri telah mengakibatkan konflik, pembunuhan di berbagai belahan dunia, seperti di Suriah, Syiah telah membunuh 110 ribu lebih orang Muslim Sunni selama dua tahun ini, menurut PBB. Di berbagai daerah di Indonesia, seperti Sampang Madura dan Jember Jawa Timur pun terjadi pembunuhan. Di Puger Jember, seorang Sunni dibunuh oleh pihak syiah. Walau yang dibunuh itu orang NU, namun petinggi NU diam kmembungkam entah kenapa.

Padahal pihak MUI telah memberikan fatwa untuk mewaspadai aliran syiah yang telah menyimpang dan berbeda secara pokok dengan Islam. Bahkan MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa bahwa syiah itu sesat menyesatkan.

Pertanyaannya, konflik dan kesesatan itu apakah ada indikasi dipelihara di negeri ini? Untuk apa? Untuk kapan-kapan mengalihkan isu bila ada kasus-kasus besar yang perlu ditutupi dan untuk kepentingan-kepentingan tertentu lainnya?

Bila demikian, maka Umat Islam sudah ada tuntunan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya ada doa beliau.

Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

Tentang terselenggaranya perayaan syiah yang jadi symbol mengutuk para sahabat Nabi, inilah beritanya.

***

Perayaan Idul Ghadir Syiah Didemo

Idul GhadirDEMO: Laskar Mujahidin Indonesia berunjuk rasa menuntut pembubaran perayaan Idul Ghadir yang dinilai bertentangan dengan Islam di Gedung SMESCO, Jaksel, Sabtu (26/10). VIV

“RESISTENSI” SYIAH DI TANAH AIR

29 DESEMBER 2011:
Pemukiman komunitas Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, dibakar massa. Ustadz Tajul Muluk dan 23 jemaahnya terpaksa mengungsi dan hidup berpindah-pindah. Tajul Muluk sendiri divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sampang pada pertengahan Juli 2012 lalu karena penistaan agama.

26 AGUSTUS 2012:
Kembali pecah kerusuhan di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Dua orang dari kelompok Syiah tewas. Lima lainnya luka-luka, empat di antaranya dari kelompok Syiah. Sembilan rumah terbakar. Seorang ditetapkan sebagai tersangka, Ros Al-Hukma, namun akhirnya divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya.

11 SEPTEMBER 2013:
Di Puger Kulon, Jember, pecah kerusuhan antara kelompok Habib Ali Bin Umar Al-Habsy penganut Syiah dengan kelompok Ustadz Fauzi yang berpaham Sunni. Satu orang tewas bernama Eko Mardi. Dua masjid dirusak. Puluhan perahu dan rumah warga hancur. Sebanyak 20 orang jadi tersangka.

*Prof Baharum: Tidak Ada Dalilnya di Islam

Idul Ghadir 2DUTAonline, BANTEN – Massa yang tergabung dalam Laskar Mujahidin Indonesia berunjuk rasa di depan Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10). Mereka menuntut pembubaran peringatan perayaan hari raya Syiah yakni Idul Ghadir yang digelar di gedung itu, karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam.
“Acara perayaan Syiah, Idul Ghadir, ini ilegal. Kami menuntut pembubaran acara ini,” Wakil Amir Mujahidin Indonesia, Abu Jibril, di lokasi.
Jibril menambahkan, kegiatan tersebut juga diketahui tidak memiliki izin. “Kami sudah cek ke Kementerian Agama dan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Bahkan, keberadaan kaum Syiah ilegal. Mereka tidak mempunyai kekuatan hukum sah untuk berada di Indonesia,” tegasnya.

Baginya, perayaan Idul Ghadir dikhawatirkan dapat memecah belah mayoritas muslim di Indonesia. Menurut dia, umat muslim di Indonesia hanya mengakui Idul Fitri dan Idul Adha.”Tidak ada Idul Ghadir,” jelasnya.
Jibril meminta pihak kepolisian untuk membubarkan perayaan kaum Syiah, Idul Ghadir, karena dianggap akan menyesatkan umat. Ia bahkan akan mengancam untuk membubarkan acara perayaan ini. “Kami sudah nasihati mereka. Mereka tidak dengar. Kami minta polisi untuk membubarkan, jangan sampai kami melakukan dengan cara kami,” ancamnya.

Orasi Laskar Majelis Mujahidin Indonesia sempat membuat kemacetan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Massa terlihat berbaris di jalan, sehingga membuat penyempitan pada jalur, tepat di depan gedung Smesco.
Sebelumnya, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengecam keras perayaan Hari Raya Besar Syiah yang diselenggarakan di Gedung SMESCO, Jakarta, kemarin. Dalam pandangan mayoritas umat Islam Indonesia yang menganut Ahlu Sunnah wal Jamaah, hanya ada dua hari raya besar, yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Sekjen MIUMI Ustadz Bachtiar Nasir menilai perayaan Idul Ghadir sebagai aktivitas kelompok Syiah Indonesia yang berupaya memecah-belah umat Islam. Hal itu disebabkan perayaan Idul Ghadir merupakan pelestarian dan perayaan kebencian dan dendam Syiah kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkemuka. Yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
“Perayaan Hari Raya Idul Ghadir ini semakin membuktikan bahwa Syiah memang satu aliran yang secara mendasar berbeda dengan kaum muslim lainnya,” katanya dalam rilisnya, Jumat (25/10) lalu.

Penolakan dan penistaan kepada para sahabat Nabi yang utama justru dirayakan sebagai ibadah yang agung menjadi hari raya tersendiri. Mereka menganggap Idul Ghadir adalah hari raya terbesar yang melebihi keagungan Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Ghadir adalah sebuah perayaan atas anggapan mereka mengenai pengangkatan Ali bin Abi Thalib ra sebagai khalifah di kebun Ghadir Khum. “Perayaan Hari Raya Idul Ghadir itu memang tidak ada dalilnya dalam Islam,” tegas Prof Dr Mohammad Baharum, pakar tentang Syiah dari MUI Pusat.

Sudah Berizin Lengkap
Namun, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat menegaskan tidak akan membubarkan perayaan Idul Ghadir yang tengah diselenggarakan di Gedung Smesco. “Pembubaran hanya bisa dilakukan bila ada unsur pidana,” ujar Wahyu di lokasi.
Menurut Wahyu, tidak ada alasan kepolisian membubarkan acara perayaan hari raya terbesar umat Syiah itu. Sementara itu, kepolisian juga telah memberikan izin acara tersebut. “Yang kami terima izin lengkap, semua untuk kegiatan. Makanya kami izinkan,”katanya.

Untuk pengamanan perayaan Idul Ghadir dan aksi menentang pembubaran ini, menurut Wahyu, kepolisian menurunkan kekuatan 400 anggotanya. Selain itu, dia telah menyiapkan satu buah mobil water cannon dan mobil penghalau massa (Barracuda).
“Kami melakukan pengamanan di luar dan dalam. Anggota melakukan pengamanan secara terbuka dan tertutup. Kami ingin semua aman dan tertib,” jelasnya.
Untuk pengamanan, diturunkan 400 personel. Namun, aksi Laskar Mujahidin tidak sampai anarkis. Massa akhirnya membubarkan diri.

Sementara itu, ada yang menarik di acara perayaaan hari raya Syiah Idul Ghadir berkedok seminar Internasional Imam Ali yang digelar di Gedung SMESCO, Jakarta, kemarin. Acara itu dihadiri beberapa tokoh seperti Duta besar Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, tokoh betawi kontroversial Ridwan Saidi dan juga tokoh perempuan PP Muhammadiyah Siti Masyitoh Chusnan. Acara yang digelar IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ini juga menjual produk-produk berbau Syiah.
Selama ini banyak masyarakat umum tidak mengetahui yang namanya batu Karbala yang biasa dipakai untuk shalat kaum Syiah. Namun dalam acara perayaan Idul Ghadir kaum Syiah, pihak penyelenggara secara terang-terangan menjual ‘batu keramat’ yang konon katanya produk dari tanah Karbala tersebut.

Batu berbentuk segi enam berwarna cokelat muda ini dijual bebas di salah satu stand yang terletak di depan ruangan convention Hall tempat digelarnya perayaan Idul Ghadir. Dalam pantauan Islampos.com, batu ‘pelengkap’ ibadah shalat kaum Syiah ini dijual dengan dua jenis, yang berbentuk kecil seukuran koin dan satu lagi agak lebih besar. “Dan ada yang produk Iraq juga ada yang produk Iran dan sama-sama berasal dari Karbala,” klaim penjualnya.
Selain menjual batu Karbala, juga dijual buku-buku Syiah, seperti buku penjelasan yang melegitimasi kawin mut’ah ala Syiah, pokok-pokok aqidah Syiah dan sebagainya. (viv, islamopos) http://dutaonline.com, 26/10/2013 |

(nahimunkar.com)

email