Kebohongan Ajaran Manqul, Bikinan Islam Jama’ah/ LDII

Kebohongan Ajaran Manqul, Bikinan Islam Jama’ah/ LDII

Aliran Darul Hadits/Islam Jama’ah/Lemkari/LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) membuat ajaran namanya manqul , kemudian dijadikan landasan untuk menentukan sah tidaknya keislaman seseorang. Yang ikut manqul bikinan mereka itu maka Islamnya dianggap sah, sedang yang tidak ikutmanqul maka Islamnya dianggap tidak sah.

Manqul menurut mereka yaitu, Al-Qur’an maupun hadits harus berisnad/bersambung dari guru sekarang sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, hadits yang dinyatakan shahih (benar/sah) oleh Imam Al-Bukhari dan lainnya, belum cukup menurut mereka, masih harus ditambah dengan rawi (periwayat) atau isnad (pertalian riwayat) dari guru sekarang sampai kepada imam-imam hadits tersebut. Itu menurut teori mereka.

Dalam “makalah pelajaran kelompok Islam Jama’ah/LDII” yang berjudul Polnya Ilmu Manquldijelaskan, “Jadi manqul musnad muttashil artinya mengaji Al-Qur’an dan hadits secara langsung seorang atau beberapa orang murid yang menerima dari seorang atau beberapa orang guru dan gurunya tersebut asalnya menerima langsung dari gurunya dan gurunya menerima dari gurunya lagi, sambung bersambung begitu seterusnya tanpa terputus sampai kepada penghimpun hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, At-Tirimdzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain yang telah menulis isnad-isnad mereka mulai dari beliau-beliau (penghimpun Hadits) sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (Polnya Ilmu Manqul, hlm. 2)

Sanggahan:

Itu teori yang diajarkan Islam Jama’ah/ LDII. Namun secara praktek, ternyata semua ayat atau hadits, baik lafazhnya, maknanya, maupun keterangannya harus yang dikeluarkan oleh H. Nurhasan Ubaidah dan murid-muridnya yang sudah disahkannya. Bahkan pengesahannya itu pun pakai surat resmi ijazah manqul Qur’an, dengan mendakwakan (mengklaim) bahwa pemberi ijazah itu sanadnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Malaikat Jibril, sampai kepada Lauh Mahfudh, dan terakhir sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan klaim seperti itu, hingga kalau ada anggota jama’ahnya yang dianggap melanggar, maka manqulnya dicabut, dan dianggap tidak sah lagi.

Mereka Mewajibkan Manqul dan Mengharamkan yang Tanpa Manqul

Landasan manqul ini, menurut dia (Ubaidah, pendiri Islam Jama’ah yang kini bernama LDII), dan yang tertulis dalam makalah Polnya Ilmu Manqul, di antaranya adalah hadits,

مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَز (رواه أبو داود)

Maknanya menurut dia: Barangsiapa yang mengucapkan (menerangkan) kitab Allah yang Mahamulia dan Mahaagung dengan pendapatnya (secara tidak manqul), walaupun benar maka sungguh ia telah salah. (HR Abu Dawud).

Demikianlah cara mereka. Mereka menyelipkan kata bikinan “secara tidak manqul” dalam menerjemahkan hadits tersebut, yang dalam matan/teks hadits itu tidak ada kata-kata yang mereka bikin kemudian selipkan itu. Namun kata-kata bikinan yang diselipkan itu kemudian dijadikan landasan pokok untuk mewajibkan manqul. Setelah mewajibkan manqul, lalu mereka mengharamkan mengaji Al-Qur’an dan hadits yang tanpa manqul dengan ungkapan,

“Sedangkan mengaji Al-Qur’an dan hadits tanpa manqul atau ra’yi dilarang dalam agama Islam dan diancam dimasukkan ke dalam neraka. Berarti hukumnya “HARAM” berdasarkan dalil,

« مَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ». (رواه الترمذي)

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,“Barangsiapa membaca Al-Qur’an tanpa ilmu (tidak manqul), maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka.” (lihat, Polnya Ilmu Manqul, hlm. 5, I/96).

Sanggahan:

Islam Jama’ah/LDII telah menambah-nambahi makna hadits, sedang tambahan yang dibikin-bikin oleh Islam Jama’ah/LDII itu lantas dijadikan landasan untuk mewajibkan dan mengharamkan, yaitu mewajibkan manqul dan mengharamkan yang tanpa manqul.

Lafal bira’yihi dalam hadits riwayat Abu Dawud itu artinya, dengan pendapatnya. Tetapi oleh orang Islam Jama’ah/LDII diartikan, “dengan pendapatnya (secara tidak manqul)”. Perlu kita pertanyakan: Dari mana didapatnya kata-kata “secara tidak manqul” itu?

Demikian pula, lafal bighairi ‘ilmin itu artinya: tanpa ilmu. Tetapi oleh makalah pelajaran LDII/Islam Jama’ah, bighairi ‘ilmin itu diartikan, “tanpa ilmu (tidak manqul)”. Kita pertanyakan pula: Dari mana pula kata-kata “tanpa manqul” itu?

Anehnya, kata-kata “secara tidak manqul” dan “tanpa manqul” yang diada-adakan untuk dipaksakan dalam menerjemah hadits itu justru dijadikan landasan untuk mewajibkan manqul, dan mengharamkan yang tidak manqul.

Itulah cara-cara Yahudi yang memanipulasi wahyu Allah dan berani menghalalkan dan mengharamkan dengan landasan perkataan yang mereka ada-adakan.

Berani Menentukan Masuk Neraka

Selanjutnya, Islam Jama’ah/LDII lebih berani lagi untuk menentukan masuk neraka atas orang yang beribadah atau beramal tanpa ilmu manqul, dengan modal kata-kata bikinan mereka yang bunyinya “secara tidak manqul” atau “tanpa manqul” itu. Bukti keberanian mereka yang menandingi Yahudi itu marilah kita simak kutipan ayat dan kemudian terjemahan menurut Islam Jama’ah/LDII,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا(36)

“Dan janganlah kamu mengatakan/mengerjakan pada apa-apa yang tidak ada ilmu bagimu (ilmu manqul). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan ditanya/ diurus oleh Allah.” (Al-Isra’: 36).(Lihat, Polnya Ilmu Manqul, hlm. 6 I/96).

Di sini, Islam Jama’ah/LDII telah mengubah/menambah-nambah makna ayat. Lafal ‘ilmun dalam ayat itu artinya adalah ilmu. Tetapi oleh Islam Jama’ah/LDII diartikan: ilmu (ilmu manqul). Bisa kita ajukan pertanyaan: Dari mana mereka mendapatkan makna tambahan berupa “ilmu manqul” itu? Dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mana? Atau, dari keterangan sahabat yang mana?

Kata-kata tambahan dan bikinan yang tidak ada keterangan dari mananya itu justru untuk memvonis orang yang beramal tanpa ilmu manqul, maka masuk neraka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam teks Polnya Ilmu Manqul sebagai berikut,

Dengan ilmu manqul amal ibadah seseorang menjadi sah, diterima oleh Allah, diberi pahala oleh Allah, dimasukkan surga. Tetapi tanpa manqul atau ra’yi amal ibadah seseorang tidak sah, tidak diterima oleh Allah, tidak mendapat pahala bahkan dimasukkan neraka berdasarkan dalil,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا(36)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”(Al-Isra: 36) yang sudah diselewengkan seperti tersebut(Lihat Polnya Ilmu Manqul, hlm. 5-6 I/96).

Sebegitu beraninya orang Islam Jama’ah. Bukan sekadar menyamai keberanian Yahudi sesat yang berani menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, namun Islam jama’ah/LDII berani menentukan masuk surga dan masuk neraka dengan kata-kata bikinan mereka sendiri yang diselipkan pada makna ayat Al-Qur’an.

Sanggahan Lanjutan

Itulah bukti-bukti kebohongan teori dan praktek manqul bikinan Islam Jama’ah/LDII. Selanjutnya, mari kita lacak secara ilmu, apakah sebenarnya manqul itu.

Di dalam ilmu ushul fiqih ada dalil ‘aqli (akal) dan dalil naqli (dinukil/dikutip dari ayat atau hadits).

Kata “manqul” itu dari naqala yanqulu naqlan fahuwa naaqilun wa dzaaka manquulunManquulun itu arti harfiyahnya adalah yang dipindahkan, dinukil, dikutip. Dalil yang diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits itu namanya manqul, artinya dinukil dari Al-Qur’an atau Hadits. Jadi bukan seperti yang mereka (LDII) fahami.

Sedangkan untuk memahami ayat atau hadits manqul (yang dikutip), maka perlu dicari penafsiran yang benar. Mengenai penafsiran yang benar itu Ibnu Katsir berkata: Kalau ada orang bertanya, manakah jalan terbaik dalam ilmu Tafsir? Jawabnya adalah: Sesungguhnya jalan terbaik dalam ilmu tafsir adalah Al-Qur’an ditafsirkan dengan ayat. Yang mujmal (global/garis besar) dalam satu ayat maka akan diperinci dalam ayat lain. Apabila belum cukup jelas, maka dengan As-Sunnah atau Hadits, karena sunnah adalah penjelas dari Al-Qur’an, seperti firman Allah,

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ(64)

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an), melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl:64).

Dan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَه

Ketahuilah aku diberi Al-Qur’an dan semisalnya bersamanya, yakni As-Sunnah Al-Muthahharah. (HR. Abu Dawud)

Kesimpulannya, carilah Tafsir Al-Qur’an dari Al-Qur’an. Jika tak dijumpai, maka dari As-Sunnah. Apabila tidak kita jumpai pula, maka kita kembalikan kepada perkataan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka itulah yang lebih tahu tentang ayat-ayat itu.

Dari sini, manqul ajaran Nurhasan Ubaidah/Islam Jama’ah/LDII itu sangat berlainan, sangat menyimpang bahkan sesat dan menyesatkan; padahal dalilnya sama.

Contoh Kebohongan Manqul

Contoh manqul menurut Nurhasan Ubaidah yang diajarkan kepada jama’ahnya (Islam Jama’ah yang kini bernama LDII) sebagaimana dituturkan oleh Hasyim Rifa’i yang berguru kepada Ubaidah selama 17 tahun: Dalam surat Al- Isra’ ayat 71,

يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)

Terjemahan ayat itu: “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya, dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (Al-Isra’: 71).

Menurut tafsir manqul H. Ubaidah; Pada hari kami panggil setiap manusia dengan imam mereka (maksudnya dengan Amir mereka), sehingga yang tidak punya Amir maka masuk neraka.

Padahal kalau kita kembalikan ke penafsiran otentik/asli, makna imam; pertama artinya: Al-Kitab Lauh Mahfudh ataupun kitab (catatan amal), sesuai dengan surat Yasin ayat 12,

وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ(12)

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yasin: 12)

Kemudian mari kita perhatikan bunyi ayat selanjutnya: (Al-Isra’: 71)

فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا(71)

“Dan barangsiapa yang diberi kitab amalannya di tangan kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan tidak dianiaya sedikit pun.”

Di dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim diterangkan, setiap umat akan didatangkan di Hari Kiamat bersama nabi/rasulnya masing-masing.

128 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمِ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمِ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمِ الَّذِينَ لَا يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ *

“Ditampakkan kepadaku (Muhammad) umat-umat sebelumku. Ada seorang nabi datang diikuti beberapa orang antara tiga sampai sembilan. Ada yang diikuti satu orang, dua orang, dan ada juga yang tiga orang. Bahkan ada nabi yang datang sendirian tanpa pengikut satu pun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku golongan yang besar. Aku menyangka mereka adalah umatku. Tiba-tiba dikatakan, mereka adalah Musa dan umatnya. Kemudian ditampakkan padaku, golongan yang lebih besar lagi, dan dikatakan lihat lah di ufuk sana, lihatlah di ufuk sana, lihatlah di ufuk sana, semuanya penuh, dan dikatakan kepadaku, mereka itulah umatmu. Dari mereka akan masuk surga 70.000 orang tanpa hisab, dan tanpa siksa sama sekali. Kemudian setelah para sahabat bertanya, siapa mereka ya Rasulallah? Rasulullah menjawab, mereka adalah orang-orang yang tidak minta suwuk (ruqyah/jampi) dan tidak bertathoyyur (menganggap suara-suara burung dsb sebagai alamat-alamat sial dsb), dan tidak berobat dengan kei (jos dengan besi panas). Kemudian ‘Ukasyah bin Mishan berdiri dengan melambai-lambaikan selimutnya. Ya Rasulallah, berdo’alah kepada Allah, supaya Dia jadikan aku termasuk golongan mereka. Dan beliau jawab: Ya, engkau masuk golongan mereka. Kemudian berdirilah orang berikutnya, berkata juga seperti itu, dan Rasulullah menjawab, ‘Ukasyah telah mendahuluimu dengannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits ini jelas bahwa setiap umat di Hari Kiamat datang bersama imam, atau nabinya masing-masing dan tidak menafikan mereka datang dengan membawa kitab catatan amalnya masing-masing. Sedangkan H. Ubaidah menafsirkan dengan tafsir yang lain, yaitu amir, bukan nabi, agar anak buahnya selalu patuh kepadanya, yaitu keamirannya. Ketika ada yang tidak patuh maka ia tidak diaku sebagai anak buahnya, dan dinyatakan di Hari Kiamat tidak punya imam, lalu ditakuti dengan haditsmauquf (tidak sampai pada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) dari Umar bin Khatthab,

“Laa Islaama illaa bil jamaa’ah, walaa jamaa’ata illaa bil imaarah, walaa imaarata illa bil bai’ah, walaa bai’ata illaa bit thaa’ah” (menurut mereka riwayat Ahmad). Artinya, “Tidak ada Islam kecuali dengan jama’ah, dan tidak ada jama’ah, kecuali dengan amir, dan tidak ada amir kecuali dengan bai’at, dan tidak ada bai’at kecuali dengan taat.”

Kemudian oleh dia (Ubaidah) dijelaskan dengan dibaca terbalik:

Jika tidak taat kepada amir, maka lepas bai’atnya, jika lepas bai’atnya, maka tidak punya amir. Jika tidak punya amir, maka bukan jama’ah. Jika bukan jama’ah, maka bukan Islam. Jika bukan Islam, maka apa namanya, kalau tidak kafir.

Sampai-sampai, kalau mereka memberi penjelasan tentang pentingnya jama’ah mereka katakan: “Saudara-saudara sekalian, jika di antara saudara ada yang punya pikiran, ada yang punya sangkaan bahwa di luar kita (di luar jama’ah Ubaidah) masih ada yang akan masuk surga tanpa mengikuti kita, maka sebelum berdiri, saudara sudah faroqol jama’ah (sudah terpisah dari jama’ah) sudah kafir, dia harus taubat dan bai’at kembali. Jika tidak , maka dia akan masuk neraka selama- lamanya.”

Itulah bukti kebohongannya yang amat dahsyat, hingga mengkafirkan segala, hanya berlandaskan manqul bikinan dan dikuatkan dengan hadits mauquf dari Umar. Padahal hadits mauquf itu tidak bisa jadi landasan, tetapi oleh imam Islam Jama’ah/LDII justru untuk menentukan kafir tidaknya seseorang.

Contoh Kebohongannya Lagi:

Dia (Ubaidah) menakut-nakuti jama’ahnya, jika tidak taat amir satu peraturan saja, maka dia masuk neraka selama-lamanya, berdasarkan surat Thaha ayat 74,

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَا(74)

“Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam, dia tidak mati di dalamnya tidak (pula) hidup di dalam neraka jahannam.(Thaha: 74)

Penafsiran Nurhasan Ubaidah dengan mengaitkan amir pada ayat itu jelas penafsiran yang salah. Sebab pada ayat berikutnya diterangkan,

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا(75)

“Dan barangsiapa datang kepadaNya dalam keadaan beriman, lagi sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi.” (Thaha: 75)

Berdasarkan dalil itu, mujriman adalah lawan kata dari mu’minanMujriman itu maknanya adalah orang yang mati kafir, musyrik, atau munafiq. Karena hanya orang yang mati kafir, musyrik, atau munafiq sajalah yang akan masuk neraka selama-lamanya, serta tidak hidup dan tidak mati di dalamnya. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab syafa’at:

Adapun ahli neraka yang mereka adalah penduduk neraka (kafir, musyrik, munafiq) mereka tidak hidup dan tidak mati di dalamnya (lihat Al-Bayyinah: 6, juga An-Nisa’: 145).

Adapun orang yang masuk neraka karena dosa-dosa mereka, mereka dimatikan betul-betul di dalam neraka, sehingga ketika mereka sudah menjadi arang, maka diizinkanlah syafa’at bagi mereka. Maka mereka dikeluarkan dari neraka, kelompok demi kelompok, kemudian disebar di sungai surga, kemudian diperintahkan kepada ahli surga, guyurlah mereka dengan air, maka mereka tumbuh menjadi manusia yang kuning-kuning bagaikan kecambah (toge) yang tumbuh di lumpur banjir, kemudian mereka dimasukkan ke dalam surga. (Silakan baca Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-A’la, (tsumma laa yamuutu fiihaa walaa yahyaa).

Contoh Lain Lagi, Aturan Ubaidah yang Memain-mainkan Agama.

Misalnya, panggilan pengajian jam 9. Umpama seorang pengikut datang jam 10, maka dia harus bertobat. Dalam arti bertobat pakai surat pernyataan tobat, dengan 4 syarat:

1. Mengakui kesalahannya, telah tidak taat kepada amir.

 2. Merasa menyesal, kapok, tidak akan mengulangi lagi.

3. Minta maaf dan membaca istighfar.

4. Sanggup menunaikan kafarah (denda) yang ditentukan oleh Amir. Contoh kafarah: Umpama infaq yang ditentukan, atau disuruh melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Amir, bahkan pernah ada yang disuruh ambyur di kolam yang banyak tainya.

Contoh, Pak Nasifan (pengikut Islam Jama’ah, kini telah keluar dan jadi imam masjid di Surabaya) pernah disuruh ambyur/mencebur dan menyelam ke air tai. Juga Drs. Nur Hasyim dihukum dengan disuruh ambyur ke kolam tai, dengan jaket-jaketnya. Perkaranya, Nur Hasyim akan ke Makkah bersama Ahmad Subroto ingin menanyakan kepada guru-guru di Makkah, benarkah (sahkah) keamiran H. Nurhasan Ubaidah itu. Lalu Nur Hasyim dinyatakan salah, karena berprasangka jelek kepada Amirnya, maka disuruh tobat dan dihukum ambyur ke air tai.

Saya sendiri (kata Hasyim Rifa’i) pernah menghadiri undangan pengajian jam 8, tetapi terlambat 15 menit. Kemudian saya dihukum kerja bakti. Yang seharusnya sudah selesai jam 4 sore, maka harus kerja bakti sampai jam 11 malam. Di antaranya, mengangkuti pasir, batu merah, mengaduk bahan bangunan dan sebagainya. Itu kafarahnya (tebusan) dalam bertobat di samping surat pernyataan.

Saya berpikir, kok mirip sekali dengan orang Katolik yang membuat surat pengampunan dosa, sampai timbul orang yang berprotes, hingga jadi protestan.

Kafarah menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits itu adalah berupa perbuatan baik atau amal sholeh. Di antaranya: shadaqah, seperti dalam surat At-Taubah: 103. Juga puasa, shalat, zakat, jihad dan lain-lain seperti dalam Ash-Shaf: 10-13. Juga dalam hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِى أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ

“Dosa seseorang dalam keluarganya, hartanya, dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa, dan shadaqah. (HR Al-Bukhari, Bab Puasa).——-

Jadi, dalam Islam sebenarnya tidak ada kafarah yang bentuknya penyiksaan atau kerja paksa. Namun hal itu dipaksakan di dalam Islam Jama’ah yang kini namanya LDII itu.

Kesimpulannya, ajaran manqul model Ubaidah ini hanyalah untuk mengikat anak buahnya agar tidak belajar ke orang lain. Sebab kalau belajar ke orang lain akan ketahuan belangnya dan kebohongannya.

Kesimpulan

1. Ajaran manqul yang diciptakan Nurhasan Ubaidah itu tidak ada dasarnya, dan hanya dengan cara menyelipkan terjemah dari hadits, lafal bighairi ‘ilmin yang artinya tanpa ilmu, lalu diberi tambahan dalam kurung kata-kata ‘tanpa manqul’. Demikian pula lafal hadits “bira’yihi” yang artinya “dengan pendapatnya”, lalu ditambahi dalam kurung ‘tanpa manqul’.

2. Istilah manqul yang hanya dibikin-bikin itu kemudian dijadikan alat untuk memvonis bahwa yang sah itu hanya Islam yang diajarkan oleh Amir Islam Jama’ah/kini LDII, sedang Islam selain yang mereka ajarkan itu tidak sah, maka orangnya masuk neraka. Jadi yang masuk surga hanya orang dari kelompok mereka (Islam Jama’ah/LDII).

3. Istilah manqul yang tanpa landasan kuat itu dijadikan alat untuk menyelewengkan makna ayat-ayat, di antara tujuannya adalah untuk mensahkan ajaran, yaitu yang sah hanyalah dari Amir mereka (Islam jama’ah/LDII). Jadi pembuatan istilah manqul itu sendiri dijadikan jalan untuk mensahkan penyelewengan arti ayat-ayat Al-Qur’an sekehendak Amir.

4. Ajaran manqul dan rangkaiannya yang dicetuskan Nurhasan Ubaidah dalam wadah yang berganti-ganti nama yaitu Darul Hadits, Islam Jama’ah, JPID, Lemkari dan terakhir bernama LDII itu hanyalah untuk menipu dan menjerat anak buahnya agar tidak belajar ke orang lain. Sebab kalau belajar ke orang lain maka mereka akan ketahuan belangnya dan kebohongan-kebohongannya yang sangat luar biasa sesatnya. 1)

1(. Disusun oleh penulis bersama KH. Hasyim Rifa’i bekas da’i Islam Jama’ah yang keluar dari aliran sesat itu setelah mengetahui kesesatan-kesesatannya yang nyata. Beliau jadi murid Nurhasan Ubaidah pendiri Islam Jama’ah yang kini bernama LDII itu selama 17 tahun. Kini KH. Hasyim Rifa’i jadi da’i Yayasan Al-Sofwa Jakarta, tinggal di Kediri Jawa Timur.——

aliran dan paham sesat

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2002).

(nahimunkar.com)

  • [email protected]

    dah lama jadi jamaah tapi bodoh dariisegi apa makna mangkul,,,,,,, seolah22 memalukan diri sendiri……….