Kejamnya Tentara Myanmar terhadap Muslimin Rohingya: Menembaki dan Memperkosa

Kejamnya Tentara Myanmar  terhadap Muslimin Rohingya: Menembaki dan Memperkosa
  • Nahas bagi yang ketahuan memeluk Islam atau malah sedang shalat. Dalam satu kesempatan, kata Rofik, tentara mendobrak rumah warga Rohingya. Mereka juga pernah menghabisi warga yang sedang shalat. “Masjid di tempat saya dibakar. Saudara saudara saya yang sedang shalat di dalamnya dibunuh. Ditebas pedang,” kata Rofik.
  • Anehnya, pemimpin NU di Indonesia, Said Aqil Siradj sepertinya tidak melek bahkan dalam berita dikabarkan berkata, bahwa itu bukan masalah agama. Menurut Said, sebenarnya konflik yang terjadi di Myanmar bukan merupakan konflik agama. Sehingga para mujahidin diimbau untuk tidak pergi berjihad ke Myanmar. (detikRamadan Rabu, 01/08/2012 18:34 WIB) Sebagaimana Ulil Abshar Abdalla –dedengkot JIL yang bersarang di satu partai yang dilanda korup–  malah menirukan iblis dalam berqiyas, maka dia bandingkan pembantaian terhadap Muslimin Rohingya itu dengan kasus Ahmadiyah di Indonesia. Benar-benar qiyas/ analog model Iblis. Sama sekali Muslim Rohingya tidak ada kesamaannya dengan Ahmadiyah.
  • Bukan dari pihak Islam pun kalau masih punya akal maka laporannya masih menegaskan bahwa tentara Myanmar menembaki Muslim Rohingya serta memperkosa wanita-wanita Muslimah. Anehnya, orang-orang seperti Said Aqil Siradj dan Ulil Abshar Abdalla dua-duanya dari NU itu terindikasi menirukan cara Iblis laknatullah. Sayang sekali!
***

Pasukan Keamanan Myanmar Tembaki Muslim Rohingya dan Memperkosa

BANGKOK — Pasukan keamanan Myanmar dilaporkan menembaki warga muslim Rohingya serta melakukan perkosaan. Pasukan keamanan juga disebut tidak bertindak sama sekali ketika massa yang berseteru saling menyerang dalam aksi kekerasan sektarian belum lama ini. Hal ini dilaporkan oleh satu kelompok HAM Human Rights Watch (HRW).

“Pihak berwenang gagal melindungi warga Rohingya yang Muslim maupun warga Buddha dan kemudian terjadi aksi kekerasan yang tidak terkendalikan dan massa menangkap para warga Rohingya,” kata kelompok HAM Human Rights Watch (HRW) yang bermarkas di New York dalam satu laporan.
HRW dalam laporannya mengatakan, kekejaman yang terjadi sudah sepatutnya mendapat reaksi cepat dan keras dari dunia Internasional.

“Tetapi masyarakat internasional tampaknya tengah disilaukan oleh cerita romantis di tengah perubahan di Burma (Myanmar), penandatanganan perjanjian perdagangan baru dan pencabutan sanksi-sanksi walaupun pelanggaraan HAM terus terjadi,” kata wakil direktur HRW untuk Asia.

Laporan yang didasarkan pada wawancara dengan puluhan saksi mata itu mengatakan, kejadian-kejadian di negara bagian Rakhine menunjukkan bahwa penyiksaan disponsori negara kendatipun  pemerintah telah berjanji untuk menghentikan kerusuhan etnik.

“Polisi dan paramiliter menembaki warga Rohingya dengan amunisi tajam,” tambahnya.

Laporan itu mengutip seorang pria Rohingya di ibu kota negara bagian itu, Sittwe, yang mengatakan bahwa pasukan keamanan menyaksikan ketika satu massa Buddha membakar rumah-rumah.

“Ketika orang berusaha memadamkan api, paramiliter menembak kami. Dan kelompok pembakar itu memukul orang dengan tongkat besar,” sebutnya.

Sebelumnya, seorang muslim Rohingya, Rofik, yang ditemui Republika juga mengakui hal yang sama. Ia mengungkapkan, umat Islam sukar hidup layak dan selalu mendapat perlakuan diskriminatif di Provinsi Arakan, Myanmar.

Militer, Rofik menyebutnya sebagai infanteri pembantai, kerap melakukan razia ke rumah rumah etnis Rohingya.
Nahas bagi yang ketahuan memeluk Islam atau malah sedang shalat. Dalam satu kesempatan, kata Rofik, tentara mendobrak rumah warga Rohingya. Mereka juga pernah menghabisi warga yang sedang shalat.

“Masjid di tempat saya dibakar. Saudara saudara saya yang sedang shalat di dalamnya dibunuh. Ditebas pedang,” kata Rofik.

Redaktur: Hazliansyah

Sumber: Antara/AFP

Rabu, 01 Agustus 2012, 21:00 WIB REPUBLIKA.CO.ID,

***

Muslim Rohingya: Kami tak Mau Pulang

REPUBLIKA.CO.ID, Muslim Rohingya yang bisa melarikan diri keluar dari Myanmar menyimpan trauma amat dalam soal penindasan dan pembantaian di negaranya.

Dua pengungsi Rohingya tahanan Ditjen Imigrasi yang ditemui Republika di Bogor, Jawa Barat, menceritakan kisah pilu bagaimana tersiksanya menjadi Islam di Myanmar.

Yang berbicara banyak adalah Rofik (17 tahun). Ia bersama rekannya, Ibrahim (16), terpisah dari rombongan besar mereka sebanyak 20 orang yang sebelumnya ditahan Ditjen Imigrasi. Namun, rekan mereka melarikan diri dan meninggalkan Rofik-Ibrahim tanpa uang. Mereka akhirnya menyerah kan diri ke Polresta Bogor yang kemudian mengontak Kantor Imigrasi Kota Bogor untuk membawa keduanya.

Saat ditemui di Kantor Imigrasi Bogor, keduanya tampak rapi dengan celana panjang dan kaus. Rambut mereka klimis. Tapi, kepala selalu menunduk dan diam. Keduanya memilih memainmainkan jari-jari tangan sebelum akhirnya menceritakan kisah mereka.

“Di Myanmar kita tidak diakui sebagai warga negara. Akibatnya kita sulit hidup,” ucap Rofik, pengungsi yang bisa berbahasa Melayu, menjawab pertanyaanRepublika.

Ia mengungkapkan, umat Islam sukar hidup layak dan selalu mendapat perlakuan diskriminatif di Provinsi Arakan, Myanmar. Militer, Rofik menyebutnya sebagai infanteri pembantai, kerap melakukan razia ke rumah rumah etnis Rohingya.

Nahas bagi yang ketahuan memeluk Islam atau malah sedang shalat. Dalam satu kesempatan, kata Rofik, tentara mendobrak rumah warga Rohingya. Mereka juga pernah menghabisi warga yang sedang shalat. “Masjid di tempat saya dibakar. Saudara saudara saya yang sedang shalat di dalamnya dibunuh. Ditebas pedang,” kata Rofik.

Melihat peristiwa tragis itu membuat Rofik dan pemuda Rohingya lainnya trauma. Mereka takut shalat. Tak jarang mereka sengaja melewatkan shalat karena khawatir terkena razia militer. Razia pun tak kenal waktu. Bisa siang atau malam. Rofik mengatakan, saat razia militer berlangsung malam hari terdengar jeritan-jeritan warga yang tengah disiksa. “Saudaraku dipotong dulu telinganya, lalu hidungnya kemudian tangannya, dan dibiarkan mati,” kata Rofik.

Ingin kembali ke kampung halaman? Tegas Rofik menjawab sambil menggeleng, “Tidak!“ Ketika ditunjukkan berita dengan foto pejuang demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi, Rofik mengatakan, “Aung San Suu Kyi pun diam untuk kami. Kami tak pernah dianggap menjadi seorang Myanmar.”

Rombongan Rofik dan Ibrahim mengaku baru keluar dari Arakan awal Juli. Mereka melarikan diri lewat jalur laut, menyusuri pesisir barat Thailand dan singgah sebentar di Malaysia. Mereka ingin ke Pulau Christmas, Australia.

Mengomentari tragedi Rohingya, Menteri Luar Negeri Myanmar Wunna Maung Lwin membantah pembantaian Muslim Rohingya oleh tentara Seperti dikutip dariAFP, negaranya mewaspadai ambisi pihak yang ingin isu Rohingya ini dipolitisasi dan diinternasionalisasi sebagai kasus HAM.

Redaktur: M Irwan Ariefyanto

Reporter: asep wijaya

Rabu, 01 Agustus 2012, 17:04 WIB

(nahimunkar.com)

email
  • edhyt

    haii myanmar..tunggulah pembalasan Allah….