Kenapa Banser NU Sebegitu Rakusnya Membela Gereja?

Kenapa  Banser NU Sebegitu Rakusnya Membela Gereja?

Ilustrasi: (kiri) Mojokerto- Rabu sore tadi (4/6/2008), sedikitnya 12 anggota Banser baru saja mengisi ilmu kebal di Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Rencananya, ilmu kebal ini juga akan diberikan kepada 8.000 anggota Banser lainnya yang tersebar di semua kecamatan. Pengisian ilmu kekebalan tubuh bagi anggota Banser itu dilakukan di sebuah mushalla dan dipandu oleh H Muhammad Ilyas serta Mbah Suwarno.  (Tritus Julan/Sindo/fit).

(kanan): Banser Turunkan Anggotanya untuk Amankan Natal dan Tahun Baru/ NU Online

Mungkin pembaca kurang sreg dengan lafal rakus dalam judul ini. Tetapi ini adalah lafal yang memang telah lekat dalam pengajian-pengajian kitab yang lafal itu dalam bahasa Arabya hirshun. Artinya rakus. Bahkan syair tentang menuntut ilmu dalam kitab Ta’lim al-muta’allim yang diajarkan di pesantren-pesantren NU (Nahdlatul Ulama), lafal rakus (hirshun) itu menjadi sayarat untuk memperoleh ilmu. Rakus di situ artinya adalah bersemangat. Jadi lafal rakus atau hirshun itu sudah akrab di kalangan santri terutama santri NU. Maka harap maklum ketika di sini kami pakai lafal itu.

Masalahnya, rakus apa. Dalam hal ini ada gejala yang nampak dan mengherankan bagi Ummat Islam yang masih mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal wala’ (kesetiaan) dan bara’ (lepas diri). Itu ada tuntunannya, sehingga ketika terbalik, yakni mencintai atau setia kepada yang kafir dan sebaliknya justru plerokan, mbencereng pasang wajah angker terhadap hamba-hamba Allah yang beriman, maka itu patut dipertanyakan. Nah, karena ada gejala seperti itu, yakni di antaranya mereka sebegitu rakusnya dalam membela gereja (sampai yang liar sekalipun), maka tentunya ada yang mempertanyakan, walau mungkin dalam hati, kenapa yak kok mereka seperti itu.

Untuk menjawabnya, sebenarnya cukup dilihat saja sepak terjang mereka. Di antaranya seperti uraian singkat yang diambil dari bagian akhir artikel “Pemilihan Umum dan Gejala Ulama Blusak-blusuk “ 6 June 2009 berikut ini. Dan di bagian bawah nanti pembaca akan memperoleh sajian, betapa bahayanya apa yang mereka sebut ilmu kebal itu, karena tergolong dalam praktek syirik, dosa paling besar. Selamat menyimak.

***

Rangkaian singkatnya sebagai berikut:

Ketua Umum PBNU periode 1984-1989 dengan Musytasyar KHR As’ad Syamsul Arifin bersama 8 Kiyai lainnya, dan Ro’is ‘Am Syuriyah KH Ahmad Siddiq. Kepemimpinan Gus Dur itu bisa terpilih lagi. Sampai saat Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI 1999, dia masih berstatus ketua Umum PBNU. Kemudian kedudukannya digantikan oleh Hasyim Muzadi setelah bersaing ketat dengan Dr Said Agil Siradj dalam muktamar NU di Jawa Timur, dengan isu jangan sampai memilih orang yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke Gereja, maksudnya adalah Said Agil Siradj.Meskipun isu itu bisa berhasil menggagalkan Said Agil Siradj hingga tidak mampu mengalahkan Hasyim Muzadi, namun hasilnya sama juga, yaitu gemar-gemar juga Hasyim Muzadi itu dalam hal berkasih-kasihan dengan gereja. Buktinya, justru dia mengadakan acara do’a bersama antara agama secara besar-besaran di senayan Jakarta Agustus 2000. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001, dalam judul bab NU dan Peran Kesejarahannya Mempraktekkan Nasihat Kruschov Berdampingan dengan Lawan, Berhadapan dengan Pembaharu).

Setelah kita runtutkan peristiwanya, Said Aqiel Siradj tahun 1998 melontarkan pemikiran bahwa sebaiknya NU (Nahdlatul  Ulama) dipimpin oleh wanita, supaya maju. Selama ini NU tidak  maju-maju karena selalu dipimpin laki-laki, katanya. Tahu-tahu dalam perjalanan kiprahnya, Said Aqiel Siradj mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke-30 di Kediri Jawa Timur tahun 1999. Apakah Said Aqiel Siradj merasa dirinya itu perempuan atau bagaimana, sehingga mencalonkan diri untuk memimpin NU saat itu. Kalau dia merasa laki-laki ya malu dong.Dia sendiri yang mengusulkan agar NU dipimpin oleh wanita, kok dia malah mencalonkan diri padahal berkelamin lelaki. Periode mendatang pun kalau dia mencalonkan diri untuk memimpin NU, berarti ia menganggap dirinya adalah perempuan!

Ketika keberanian Said Aqiel Siradj dalam mendukung calon presiden sudah terbukti menabrak-nabrak ayat, hadits, dan organisasi seperti itu, lantas dukungannya sekarang (2009) terhadap capres dan cawapres (JK-Wiranto) yang tampak dekat dengan aliran-aliran sesat (LDII dan NII KW IX) itu apakah tidak mungkin dia akan membenarkan yang sesat, atau sebaliknya menyesatkan yang benar? Mudah-mudahan saja tidak. Sekalipun tidak, toh sudah jelas diablusak-blusuk. Jadi ya ataupun tidak, hampir tiada beda.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan ummatnya dari bahaya tokoh sesat lagi menyesatkan. Haditsnya sebagai berikut:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».

Dari Tsauban, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas ummatku hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR Ahmad, rijalnya tsiqot –terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih. Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas syarat Muslim).

Siapakah aimmah mudhillin (imam-imam/ pemimpin-pemimpin atau tokoh-tokoh yang menyesatkan) itu?

( إنما أخاف على أمتي الأئمة ) أي شر الأئمة ( المضلين ) المائلين عن الحق المميلين عنه(التيسير بشرح الجامع الصغير ـ للمناوى – (ج 1 / ص 728))

Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya seburuk-buruk imam/ pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan menyelewengkan darinya. (Al-Munawi, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir juz 2 halaman 728).

أئمة مضلين أي داعين إلى البدع والفسق والفجور (تحفة الأحوذي – (ج 6 / ص 401))

Imam-imam yang menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan). (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6 halaman 401). (haji/tede)

(lihat nahimunkar.com, Pemilihan Umum dan Gejala Ulama Blusak-blusuk, http://nahimunkar.com/487/pemilihan-umum-dan-gejala-ulama-blusak-blusuk/comment-page-1/#comment-4608)

***

Dalam membela apa yang mereka anggap harus dibela, dan menghadapi apa yang mereka anggap perlu dihadapi, mereka membekali diri dengan ilmu kebal.

Berikut ini kami kutip tulisan untuk member nasihat kepada Ummat islam agar menjaga aqidahnya. Selamat menyimak, semoga manfaat.

***

Syirik, Bahaya dan Fenomenanya

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آَبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ [الأعراف/172، 173]

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Rabb)”. Atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah menyekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu”. (QS. 7:172-173)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan disebabkan oleh dua hal dan secara otomatis dia telah melanggar perjanjian, ikrar dan persaksiannya sendiri terhadap keesaan Allah, dua hal tersebut adalah:

  • Jahil dan lalai terhadap tauhid dan syirik
  • Taqlid buta pada adat istiadat dan kebiasaan nenek moyang.

Permasalahan syirik bukanlah perkara yang remeh, sebab kelurusan seseorang dalam bertauhid dan beraqidah menjadi jaminan bagi keselamatannya di dunia dan akhirat. Apabila tauhid seseorang melenceng dari standar Al-Qur’an dan As-sunnah, maka pasti dia terjerumus pada kesyirikan.
Karena itu kita harus mengerti dan paham apa sebenarnya syirik itu, agar kita bisa terhindar dari bahaya dan malapetakanya di dunia dan di akhirat. Para ulama mengatakan, “Aku mengenali kejelekan bukan untuk melakukannya, tetapi agar terhindar darinya. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dengan kejelekan pasti terjerumus pada kejelekan itu.” Untuk itu, marilah kita mengenali apa syirik itu sebenarnya.

Syirik adalah menyejajarkan/menyamakan makhluk dengan Al-Khaliq (Allah swt) dalam perkara-perkara yang merupakan hak khusus (istimewa) Allah swt.
Hak istimewa Allah Subhannahu wa Ta’ala banyak sekali, seperti: Disembah, mencipta, mengatur, memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, menentukan baik dan buruk, membuat hukum dan undang-undang (syari’at) dan lain-lainnya.

Secara umum jenis syirik itu ada dua: Syirik Akbar (besar) dan Syirik Ashghar (kecil). Perbedaan antara syirik akbar dan syirik asghar adalah:

Syirik akbar;

  • Syirik akbar menghancurleburkan seluruh amal ibadah pelakunya.
  • Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik akbar maka tidak mendapat ampunan Allah Subhannahu wa Ta’ala.
  • Pelakunya tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Syirik Asghar (kecil);

  • Dosa syirik kecil tidak merusak seluruh amal ibadah.
  • Pelakunya diampuni apabila Allah Subhannahu wa Ta’ala menghendakinya.
  • Pelakunya tidak tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya tidak akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Beberapa Fenomena Syirik

A. Ngalap (mencari) berkah di kuburan wali, kiyai dan selainnya.

Sudah menjadi hal yang umum dan membudaya di masyarakat, dan bahkan dianggap ibadah yang sangat afdhal bahwa pada hari-hari/bulan-bulan tertentu, misalnya Maulud (Rabiul awal), menjelang Ramadhan, menjelang lebaran (Syawwal) dan lain sebagainya, banyak orang yang mendatangi kuburan-kuburan kyai, orang-orang yang dianggap wali, atau kuburan orang shalih. Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dengan mencurahkan tenaga, waktu, pikiran, dan harta. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

« لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى ».

“Janganlah kalian mengadakan perjalanan jauh (untuk beribadah, berziarah, mencari berkah) kecuali hanya ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawy), dan Masjid al-Aqsha.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dengan melakukan ritual ziarah ke kuburan-kuburan wali/kiyai dari tempat yang jauh, maka itu sudah merupakan suatu pelanggaran terhadap konsekwensi hadits di atas.

Kalau ternyata tujuan dari ziarah kubur itu menyimpang dari tuntunan syari’at Islam yang suci ini, seperti: Mencari berkah, meminta-minta kepada penghuni kuburan itu, atau mencari syafa’at, maka perbuatan itu jelas merupakan syirik akbar. Apabila pelakunya tidak bertaubat hingga datang kematiannya, maka Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak mengampuninya dan dia kekal dalam neraka, semoga kita terhindar dari hal itu.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء/48]

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. 4:48)

B. Mencari kesaktian lewat amalan, dzikir atau ritual tertentu.

Fenomena ritual seperti ini sudah berurat dan berakar, bahkan menjadi trend dalam masyarakat kita. Dan yang terbelit dan terperangkap dalam lingkaran syetan ini mulai dari orang awam sampai para pejabat, rakyat jelata sampai orang berpangkat. Bahkan kalangan “terpelajar” yang mengaku “intelektual”pun menggandrungi klenik-klenik seperti ini. Mereka menyebutnya dengan “membekali diri dengan ngelmu (ilmu), kekebalan, kesaktian”.

Untuk mengelabui orang-orang awam terkadang “orang pinter” itu menyandangkan titel mentereng seperti: KH (Kyai Haji), Prof, DR, padahal semua itu mereka lakukan untuk melanggengkan bisnis mereka sebagai agen-agen dan kaki tangan syetan dan jin.

Untuk meraih kesaktian ini, ada yang dengan cara-cara klasik kebatinan, dengan istilah black magic (ilmu hitam) maupun white magic (ilmu putih), dan ada pula dengan cara-cara ritual “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu”, dan cara yang terakhir ini lebih banyak mengelabui kaum muslimin, karena seakan-akan caranya Islami dan tidak mengandung kesyirikan.

Dan perlu diketahui bahwa”dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” yang tidak ada syari’atnya dalam Islam, merupakan rumus dan kode etik untuk berhubungnan dengan alam supranatural (alam jin), hal seperti ini merupakan perangkap syetan yang menjerumuskan orang pada perbuatan syirik. Untuk mengetahui bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan syirik adalah sebagai berikut:

Pertama, bahwa “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” tersebut bukanlah syari’at Islam, karena tidak memakai standar Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullahshllallahu ‘alaihi wa sallam, dan ini termasuk dalam kategori bid’ah, yang mana syetan lebih menyukai bid’ah daripada perbuatan maksiat sekalipun.

Ke dua, apabila tujuan seseorang melakukan “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” tersebut untuk memperoleh kesaktian, kekebalan, dan hal-hal yang luar biasa, maka sudah pasti itu bukan karena Allah Subhannahu wa Ta’ala, seperti membaca Al-fatihah 1000 X, Al-ikhlas 1000 X dan lain sebagainya dengan tujuan agar kebal terhadap senjata tajam, peluru dan tahan bacok. Atau membaca salah satu shalawat bikinan (baca; bid’ah) dengan iming-iming kesaktian tertentu seperti bisa menghilang dari pandangan orang, bisa makan besi, kaca, beling dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah karomah tetapi merupakan hakikat syirik itu sendiri, karena telah memalingkan tujuan suatu ibadah kepada selain Allah Subhannahu wa Ta’ala.

C. Meminta bantuan arwah rasul, wali, atau tokoh tertentu agar terhindar dari marabahaya. 

Ritual-ritual seperti ini dapat kita saksikan pada acara-acara malam 1 Syuro (Muharram). Diantara mereka ada yang mengadakan acara ritual di pantai laut selatan, mereka ramai-ramai melepaskan bermacam-macam sesajen seperti hewan yang masih hidup, aneka makanan, bunga-bungaan dan kemenyan sambil memanggil-manggil arwah Nabi Muhammad, Syekh Abdul Qodir Jailani dan memanggil Nyi Roro Kidul. Tujuan mereka melakukan ini agar Nyi Roro Kidul yang “katanya” menjadi penguasa di pantai laut selatan itu tidak minta korban pada tahun ini.
D. Membuat sesajen untuk menolak roh jahat.

Kegiatan ritual syirik ini bisa kita temui ketika ada pembangunan jembatan, gedung atau rumah. Pada acara peletakan batu pertama, biasanya diadakan pemotongan hewan kemudian darahnya disiramkan atau dioleskan, dan kepala hewan itu ditanam di situ. Tujuannya agar bangunan itu kokoh, kuat, lancar dalam pembangunannya serta tidak meminta korban, terhindar dari bahaya, serta agar makhluk halus yang ada di situ tidak mengganggu. Ada juga yang meletakkan sesajen di atas tiang utama bangunan, agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang berada di daerah itu.

Demikian pula, ketika orang merasa takut melewati pohon besar, kuburan, hutan atau lembah yang dianggap angker. Lalu dia mengirimkan berbagai macam bentuk sesajen. Kalau lewat di daerah itu harus minta izin terlebih dahulu, seperti mengucapkan “Mbah permisi saya mau lewat” sambil menundukkan badan pertanda tunduk, atau dengan membunyikan klakson kendaraan sambil menjalankannya dengan pelan-pelan, dan lain sebagainya.

E. Memakai Jimat-Jimat.

Ketika batu akik diyakini memiliki daya magic karena telah “diisi” oleh dukun atau orang pintar, maka menjadikan akik itu sebagai jimat pembawa keberuntungan berarti telah menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.

Ketika bambu kuning atau potongan tulisan arab yang maknanya tidak jelas diletakkan di atas pintu rumah, agar “si kolor ijo” tidak bisa masuk rumah, maka berarti telah mempertuhankan jimat itu, dan ini adalah bentuk kesyirikan yang sangat nyata terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Demikian pula apabila al-Qur’an Stambul (Al-Qur’an berukuran sangat kecil yang tulisannya tidak bisa dibaca kecuali dengan mikroskop) dijadikan jimat untuk menolak marabahaya, maka pelakunyapun sudah terjerumus pada lingkaran syetan yaitu syirik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ ».

artinya, “Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (sebagai jimat), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada jimat itu”. (HR.Imam Ahmad dan at-Tirmizi)

F. Ramal-Ramalan

Yaitu segala bentuk ramalan, mulai dari ramalan keadaan Indonesia sampai keadaan pribadi seseorang untuk rentang waktu sepekan, sebulan atau setahun ke depan, baik mengenai ekonominya, politiknya dan lain sebagainya. Ini semua adalah klenik-klenik yang menghancurkan negara besar ini yang katanya mayoritas muslim terbesar di dunia. Klenik ini juga yang menjadi faktor utama datangnya musibah-musibah yang silih berganti dan tidak akan pernah hengkang dari tanah air kita ini selama kemaksiatan syirik ini dan dosa-dosa besar lainnya masih gentayangan menghancurkan sendi-sendi kehidupan beragama kita. Wallahul Musta’an, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Mudah-mudahan tulisan singkat ini menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Kamis, 13 Mei 04

Artikel Buletin An-Nur

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=272

(nahimunkar.com)

 

 

email
  • eko

    hahaha betul ntu

  • sabil

    banser dan NU itu sesat atau bagaimana?

  • abdul karim

    banser sarang kemyusrikan, lbh bahaya dari orang kafir yang sesungguhnya

  • agus sumarsono

    Naudzubillahi min dzalik, perilaku syirik di Indonesia memang banyak pengikutnya dan sulit diberantas karena pelakunya bukan saja masyarakat awam akan tetapi justru para ulama dan bahkan punya gelar akademis yang tinggi Jai, supersulit diberantas

  • JforJihad

    Kasihan deh luuu jadi budak Kuffar