Kesaksian Keluarga Korban Telanjangi Kebiadaban Densus 88

Kesaksian Keluarga Korban Telanjangi Kebiadaban Densus 88

Penuturan Keluarga Korban Arogansi Densus 88

Oleh: Harits Abu Ulya

Pemerhati Kontra-Terorisme & Direktur CIIA (The Community of Ideological Islamic Analyst)

Kondisi Tamrin_832674327

MAKASSAR (voa-islam.com) -  “Amat disayangkan…”, itulah kira-kira ungkapan yang mewakili banyak orang. Ketika membaca tangapan dari pihak Polri  atas evaluasi Komnas HAM terhadap aksi Densus 88 dalam penindakan yang dipandang sudah banyak melakukan pelanggaran HAM. Pihak Polri berkelit, bahwasanya evaluasi itu boleh saja tapi perlu diingat para teroris itu juga melanggar HAM. Seperti yang diberitakan oleh laman detik.com, “Kita menghormati hasil evaluasi tersebut, tapi teroris yang membunuh orang juga melanggar HAM,” kata Karopenmas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar saat dihubungi detik.com, Selasa (15/1/2013).

Dari sini tampak alergi dan skeptisnya aparat terhadap kritik. Terkesan maunya urusan kontra terorisme minus kritik, khususnya terkait penindakan yang dilakukan oleh Densus 88.

Batapa bopengnya hukum dan penegakkannya di Indonesia, tidak lagi bisa dibedakan mana hukum dan penegak hukumnya. Maling itu melakukan pelanggaran hukum, koruptor itu melakukan pelanggaran hukum, pemerkosa itu melanggar hukum, menipu orang melanggar hukum dan pelakunya harus mendapatkan penindakan dan hukuman yang setimpal. Tapi apakah karena mereka dianggap atau diduga melakukan pelanggaran hukum lantas kemudian aparat penegak hukum bebas melakukan “pengadilan jalanan”? Dan boleh menabrak semua rambu-rambu hukum dan melanggar hak-hak dasar dan prinsip setiap individu yang dianggap kriminil.

Inilah ketimpangan pratek law enforcement pada kasus terorisme. Dalam kasus terorisme koridor-koridor (criminal juctice system) seolah di buang ke tong sampah, hanya karena dalih terorisme adalah extra ordinary crime. Padahal korupsi, pembalakan liar hutan dan pencurian kekayaan laut juga masuk katagori extra ordinary crime, tapi tetap saja berbeda perlakuan bagi pelakunya dari pihak aparat penegak hukum. Tindakan yang extra ordinary hanya untuk kasus terorisme.

Berikut beberapa penuturan dari keluarga korban di Makassar dan Kab.Enrekang terkait kasus terorisme versi Densus 88. Kita buka disini agar menjadi preferensi dan prespektif yang berbeda untuk memahami tentang pentingnya menghargai manusia layaknya manusia.

Jika harus pun seseorang dihukum karena tindak kejahatannya, maka biarlah berjalan mengikuti mekanisme hukum yang juga manusiawi. Dan untuk melahirkan kepercayaan masyarakat bahwa benar negeri ini adalah negeri yang tegak berdiri di atas hukum yang bisa dipertanggungjawabkan.

Maka tuntutannya adalah harus memiliki substansi hukum yang memadai dan penegak hukum yang bermoral dan kredibel selain punya kapasitas yang cukup profesional ketika kerja di lapangan.

Kali ini Komnas HAM juga diuji nyalinya, masyarakat luas berharap kasus ini tidak menjadi seperti lipstik yang demikian mudah luntur. Dari kasus saat ini komnas HAM harus mendorong pada langkah tegas untuk evaluasi kinerja Densus dan BNPT. Karena mereka semua bekerja dan makan dengan uang rakyat (APBN).

Lain soal, jika mereka dibayar oleh asing. Tapi akan menambah panjang pertanyaan, jadi aparat penegak hukum di negeri ini bekerja untuk kepentingan siapa? Jika kasus ini menguap begitu saja, maka ini sama saja semacam provokasi terhadap umat Islam untuk melakukan advokasi dengan cara yang mereka suka. Ada yang bermain api dengan umat Islam yang dinamis menggeliat menuju kebangkitannya. Sangat riskan! Berikut ini penuturan keluarga korban arogansi Densus 88, hasil investigasi CIIA di pada13 Januari 2013, di Makassar.

Bunga Rosi (Istri Tamrin bin Panganro)

Rosi menuturkan kepada CIIA; Tamrin di Makassar tinggal di Jalan Pajai, di belakang pasar Daya. Nama lain  Tamrin yang di ketahui istrinya tidak ada. Dan beberapa latar belakang sebelum kejadian yaitu pada hari Kamis 3 Januari 2013, berangkat dari Kajang Bulukumba dan tiba di Makassar sekitar jam 23.00 WITA.

Kemudian kejadian esok harinya Jum’at tanggal 4 Januari 2013, sekitar jam 14.00 WITA (setelah shalat jumat).  Selama ini kami menekuni usaha dagang Gula Merah. Ke Makassar dalam rangka ingin membenahi rumah yang pernah dibeli untuk kemudian ditinggali.

Dari Kajang beliau mengendarai sepeda motor Shogun- R warna hitam. Rencananya ingin membeli kap motor dan membayar pajaknya yang sudah tiga tahun menunggak. Juga Ingin ganti plat kendaraan dan perbarui STNK. Tamrin bolak balik Makassar-Bulukumba kurang lebih sudah sebulan.

Hari Jum’at saat kejadian, beliau keluar setelah shalat jumat di masjid dekat rumah untuk mengganti kap motor. Rencana setelah ganti kap motor ingin mengganti (memperbarui) STNK. Keluar hanya membawa dompet.

Dalam perjalanannya beliau bertemu dengan Arbain yang menanyakan hendak kemana tujuan Tamrin.Tamrin kemudian menjelaskan maksud dan tujuannya untuk membeli kap motor namun mengaku belum menguasai seluk beluk jalan yang akan dilaluinya karena baru datang.

Arbain pun kemudian menawarkan jasa untuk mengantarkan beliau sambil menunjukkan jalan. Saya (Rosi) sama sekali tidak tahu apa salahnya Arbain hingga ikut di tangkap Densus juga.

Saya (Rosi) tidak menyaksikan proses penangkapan suami saya. Dan mengetahui jika beliau ditangkap hanya dari orang-orang di luar. Sebagian informasi kami dapatkan dari media. Saya kemudian menduga jika suami saya menjadi salah satu korban penangkapan.

Sampai detik ini tidak ada satu pun aparat yang pernah menghubungi saya menyampaikan perihal keberadaan suami saya sekarang padahal sudah dua pekan lebih sejak penangkapan. Saya tidak pernah melihat suami saya lagi sejak Jumat itu. Saya dan keluarga sudah keliling mencari dan bertanya namun tidak menemukan.

Selama ini Tamrin hanya menggeluti usaha gula merah yang sebelumnya pernah menjadi tukang kayu, dagang sapi, dan menyadap kelapa untuk membuat gula merah. Kami pindah ke Makassar atas usul dari salah satu saudara saya dan kemudian saya menjual tanah saya di Kajang.

Sebelumnya saya tidak merasa dibuntuti atau diikuti. Karena selama ini kami hanya menggeluti usaha gula merah.Tamrin juga sangat jarang keluar rumah.

Saya tidak mengenal Arbain bin Yusuf karena dia orang sini (Makassar). Mungkin juga dia punya usaha lain. Saat ini saya tidak tahu bagaimana keadaan Tamrin. Saya ingin sekali mendapat kabar tentang suami saya.

Kini istri Tamrin bersama anak-anak kecilnya tidak tau harus berbuat apa.Karena sampai penuturan ini dipublish juga belum ada informasi dari Densus 88 perihal Tamrin. Dan hari-harinya menjadi serba tidak menentu dengan beban pikiran dan perasan yang tidak bisa dilukiskan. Semua jadi serba berat menjalani tanpa kehadiran seorang suami.

Samad (adik Tamrin), menambahkan penuturanya Rosi

Saya tidak ada dilokasi saat penangkapan tapi di kota. Saya tidak tahu kasus penangkapan itu dan belum ada informasi dari pihak kepolisian bahwa kakak saya ditangkap. Belum ada penjelasan kepada keluarga. Hari jumat ditangkap sekitar jam 14.00 WITA di belakang pasar Daya lama di Jalan Paccerakkang.Tamrin boncengan sama Arbain bin Yusuf keluar dari Kompleks Graha Pesona.

Belum ada informasi dimana tempat penahanannya kalau ditahan dan kalaulah luka dimana diobati. Sudah ada beberapa tempat saya cari, di markas Brimob di Jl. KS. Tubun, di Brimob di Jl. St. Alauddin, RS Bayangkara tidak ada dan istrinya kemarin ke rumah sakit Daya juga tidak ada. Hanya di Polda belum dicoba. Pernah jumpa pers di depan media Celebes TV dan Metro TV untuk meminta informasi tentang keberadaan kakak saya.

Saya kehilangan jejak kakak saya. Saya pernah ke LBH tapi saya tidak dapat jalan keluar. LBH juga tidak memberi petunjuk tentang keberadaannya kakak saya. Namun belum tahu langkah apa yang mau diambil karena belum ditahu dimana tempatnya Tamrin.

Hari jumat siang anaknya Tamrin dari RS Bhayangkara, 1 minggu dirawat namun sudah keluar pagi tadi. Yang mau saya tau dimana lokasi kakak saya. Tidak pernah ada yang datang untuk menggeledah rumah. Hanya dipasar Daya saja langsung diculik.

Kalau polisi punya indikasi terhadap Arbain kan dicari dulu dirumahnya, dan memberi tahu keluarganya jika ada kejadian/tindakan. Tapi tidak pernah ada pencarian yang berarti tidak ada indikasi. Sekarang kehilangan jejak tentang keberadaan Tamrin. Tamrin tiga anaknya masih kecil-kecil juga.

Kondisi keluarga masih bingung karena belum ditahu keberadaannya. Seandainya dibertahu keberadaannya bisa diobati atau dibesuk. Dia keluar jam setengah dua ba’da Jum’at untuk beli alat-alat motor. Kamis malam sekitar jam 23.00 WITA dari Bulukumba.

Tahu Arbain bin Yusuf tapi tidak terlalu kenal. Baru 2 bulan tinggal disini tanggal 3 Desember 2012. Ia ditangkap 2 orang yang ditembak Tamrin. Tolong fasilitasi saya untuk mencari tahu keberadaan kakak saya. TAMRIN kelahiran 1972. Kalau dia (Densus) melakukan ini luar biasa, langsung menembak saja tidak pernah ada pemberitahuan kepada keluarga padahal bawa tanda pengenal (sebagai penegak hukum). Saya rencana ke Polda sekarang.

Kalau upaya hukum, insya Allah masih hidup dia sendiri yang akan menyampaikan sama kita. Sekarang tidak bisa karena tidak diketahui statusya sehingga langkah hukum tidak bisa dipastikan. Yang penting dulu menemukannya. Karena banyak ketidak jelasan jadi saya tidak bisa menyampaikan apa-apa. Terhadap pengelola negara sangat mengharapkan informasi tentang keberadaan kepada kakak saya.Dimana dia? Kok seperti lenyap ditelan bumi. Padahal jelas-jelas Densus yang ambil.

Hanadiah (Istri Asmar/korban meninggal)

Ia istri dari Syamsuddin alias Asmar alias Abu Uswah menuturkan; pas saat jelang kejadian, Asmar sempat masuk ke dalam rumah sakit, tiba-tiba dia keluar pergi wudhu terus masuk masjid untuk shalat Dhuha. Tiba-tiba temannya ditembak. Kemudian selang beberapa menit dia nyusul dari belakang karena tidak tahu mungkin tentang hal itu. Ia pun kemudian ditembak di paha kirinya.

Setelah itu dia bangun, mungkin mau lari atau apalah saya tidak tahu, karena almarhum sendiri tidak tahu apa kesalahnnya. Saat itu kakinya dilumpuhkan dua-duanya. Ini menurut penuturan orang  yang menyaksikan disana kepada saya. Almarhum  kemudian saat akan dibawa masih sempat disiksa, dipukuli dan ditendang pake sepatu laras. Kemudian ditembak lagi didadanya, diberondong peluru setelah tewas kemudian dimasukin kedalam kantong plastik baru dimasukin kedalam mobil.

Saya tidak pernah melihat jenazah almarhum. Hanya foto yang saat kejadian yang saya sempat lihat, itupun dari mereka yang menyaksikan dilokasi. Mereka mendokumentasikan dengan HP. Hari itu dia cuma pamit katanya ingin menjenguk teman di rumah sakit.

Tidak ada sama sekali dia membawa apa yang seperti dituduhkan. Dia dituduh membawa granat, granat dari mana? Yang saya tahu dia berangkat hanya untuk menjenguk temannya yang lagi sakit. Katanya ke rumah sakit diantar teman, tatapi saya sendiri tidak tahu temannya itu siapa.

Sampai saat ini tidak ada informasi dari Densus. Saya hanya ikuti melalui berita di televisi saja. Tidak ada pemberitahuan atau surat penangkapan.

Saya tinggal disini, KTP suami saya di BTN Mangga Tiga karena saya pernah tinggal di sana. Menurut saya kelakuan Densus seperti binatang. Mereka seenaknya memberondong. Orang yang lagi shalat kok ditembak, tanpa ada pemberitahuan dan peringatan.

Bagi saya, almarhum seperti halnya orang kebanyakan, ya biasa-biasa. Meski pendiam tapi biasa juga Bermain dengan anak-anak, bergaul dengan masyarakat. Biasalah. Tidak ada yang aneh-aneh dari beliau.

Beliau sering dirumah. Kalau keluar paling dia ke masjid untuk shalat, atau keluar belanja. Tidak ada kegiatan yang aneh. Sehari-hari almarhum kerjanya serabutan, kerja apa yang bisa. Kadang diajak oleh temannya kerja bangunan.

Saya juga kaget dengan adanya peristiwa di rumah sakit itu. Tiba-tiba kok begitu kejadiannya. Saya tidak tahu apa kegiatannya, apa pekerjaannya terkait peristiwa itu. Demikian juga yang sudah saya sampaikan di Polda beberapa hari setelah kejadian. Sekitar tiga atau empat hari setelah kejadian saya menyampaikan bahwa saya tidak tahu semua tentang yang mereka tuduhkan.

Polisi sempat mengatakan bahwa mungkin mereka (polisi) lebih tahu. Kemudian saya jawab, iya, kalian yang lebih tahu berarti kalian sendiri yang menciptakan ini semua. Saya tidak tahu dan tidak pernah bertanya tentang itu. Kalau pulang kerumah, paling-paling bergurau dengan anak-anak.

Almarhum meninggalkan tiga orang anak. Yang paling tua, Uswatun Mawaddah saat ini kelas 5 SD. Yang kedua laki-laki 5 tahun, Muhammad Fatih, dan yang ketiga, Lulu, 2,4 tahun.

Almarhum adalah tulang punggung keluarga selama ini. Entahlah, kedepannya seperti apa setelah almarhum tidak ada. Belum jelas karena masih dalam keadaan berduka.

Harapannya agar jenazah almarhum segera dikembalikan. Karena keluarga menunggu untuk dimakamkan. Densus juga harus benar dalam melakukan tugasnya. Teliti dangan baik, Selidiki dulu dengan benar.  Apalagi jika peristiwa itu terjadi di rumah Allah SWT (masjid), sangat disayangkan. Ini sudah menyepelekan kaum muslimin!.

Athrizah Dwi Hatmawan (Istri Arbain bin Yusuf)

Arbain di tangkap bersama Tamrin saat mau belanja barang di pasar daya. Dwi menuturkan; Pagi sekitar jam 09.00 WITA Arbain masih dirumah,  tidur di rumah dan mau shalat  Jum’at di mesjid setempat. Tapi saya ada jadwal masak untuk santri, makanya saya minta tolong suami saya untuk belanja ke pasar.

Dia ngajak pak Tamrin karena katanya sekalian mau beli kap motor.  Habis shalat jumat sampe sore suami saya tidak pulang. Lalu saya lihat berita kalau ada yang ditangkap dipasar Daya. Lalu Saya liat di internet kalo Arbain dan Tamrin dibuntuti dari sini.

Sempat ada kabar kalau Arbain sudah meninggal. Namun ada teman yang cari info ternyata sudah ada di Jakarta. Dikasih nomor telpon atas nama pak Norman (081280464020) pengacara Densus dari Jakarta. Teman saya cuma pesan sebatas itu saja dan pada Hari Jum’at dapat surat penangkapan 1 minggu setelah kejadian.

Ada rencana mau dipindahkan tahunya dari berita saja. Sekarang masih belum tahu bagaimana kepindahannya. Sempat ada kabar dan kasih informasi ke ke saya. Hari kamis bapak saya yang di Jawa berangkat ke Jakarta sempat melihat kondisi suami saya. Kondisinya luka ditangan bekas penangkapan namun tidak tau pasti karena penjagaannya ketat sekali. Dan tidak sempat banyak bertanya jadi tidak tahu persis. Tapi masih baik kondisinya. Saya tidak melihat kejadian secara langsung tapi hanya melihat dari berita.

Harapan saya, Kalau pun suami saya memang salah, harusnya sesuai dengan prodesur yaitu dikasih surat penangkapan dulu. Kalau pun suami saya disangka terlibat dalam jaringan teroris faktanya suami saya itu sehari-harinya hanya menjual dan tidak pernah kemana mana.

Namun pun demikian jika bersalah harusnya sesuai prosedur penangkapan dengan memberikan surat penangkapan bukan langsung main tangkap.  Saya berharap bisa lebih maksimal dukungannya dari umat Islam.

Muthmainna (istri Syarifuddin)

Densus juga mengobok-ngobok daerah Enrekang (sekitar 5 jam perjalanan darat dari kota Makassar), dan ada 9 orang lainya yang ditarget untuk di ambil. Dan yang menjadi target utama oleh Densus adalah Syarifudin, dengan alasan menyembunyikan bom rakitan yang siap digunakan. Dan istri Syarifudin menuturkan seputar penangkapan sebagai berikut;

Saya berada di lokasi tapi tidak melihat kejadian, tetapi adik saya yang lihat. Saya saat itu akan shalat maghrib, dan diberitahu setelah shalat. Kejadiannya malam Sabtu pukul 18.30 WITA. Katanya, saat itu suami saya (Syarifuddin) baru mau naik ke jalanan masuk masjid untuk shalat maghrib, tiba-tiba motornya ditendang sama Densus dan jatuh dari motor dan diringkus Densus. Dan ketika bilang mau solat magrib, dibentak Densus “tidak perlu solat!”. Dan bahkan izin mau pakai celana dalam dulu, itupun ditolak karena saat itu dia hanya pakai sarung untuk pakaian bawahnya. Adik saya yang lihat karena suaminya juga sempat ditangkap Densus namun telah dilepaskan.

Tempatnya kejadian di Kampung Kalimbua Kelurahan Kalosi Selatan, Kecamatan Alla Enrekang. Kejadiannya sangat tiba-tiba saja. Saya sama sekali sebelumnya tidak pernah dihubungi atau tahu kejadian apa. Sebelum kejadian saya sekeluarga hanya di Enrekang saja.

Saya pernah baca di media bahwa  suami saya pernah keluar selama dua bulan, saya bilang ini omomg kosong dan saya bantah karena kenyataanya suami saya selama ini berada di Enrekang sejak tahun lalu sampai tahun sekarang.

Suami saya kegiatannya hanya sehari-hari jual tahu sama tempe. Kalau pagi berangkat jual tahu tempe sampai jam 9 pagi, lalu berangkat ke kebun sampai dhuhur. Setelah itu membuat tahu tempe sampai sore, begitu terus kegiatannya sampai penangkapan.

Saya setelah maghrib mencari suami saya namun sudah tidak ketemu dan masjid sudah kosong. Saya cuma diberitahu bahwa tadi ada penangkapan Densus yang datang dengan 9 mobil avansa, mereka berpakaian preman yang jumlahnya lebih dari 50 orang.

Setelah penangkapan saya sudah dihubungi dan katanya sekarang dia sudah di Mabes. kalau mau menghubungi (Syarifuddin) harus melalui pengacara  saya yang sudah disiapkan Densus.

Saya tidak menerima kalau suami saya dituduh karena pernah lama ke luar kota, karena suami saya tidak pernah tinggalkan daerah. Hanya pernah ke luar ke Makassar paling lama 5 (lima) hari pergi pengajian, tidak lebih dari itu dan itu pun bersama saya.

Kejadian penangkapan sekitar 100 meter dari rumah saya, kejadian dekat masjid At-Taqwa. Saat kejadian tiga orang yang ditangkap Densus, terakhir lagi kemenakan saya Fadil alias Fahri juga diambil Densus. Yang diambil sama Densus semua keluarga saya.

Di rumah saya Densus mengambil barang-barang tombak, bensin 5  liter yang saya baru beli untuk pabrik tahu, parang, pupuk untuk berkebun, bahkan celengan kaleng yang berisi duit sekitar 400 ribu juga di ambil, Densus juga membawa ember-ember.

Barang-barang yang dibawa itu selama ini dipakai untuk buat tahu tempe. Rumah saya sudah dua kali digerebek dan katanya ada senjata. Motor cicilan saya juga diambil sama Densus. Setahu saya yang ada di pabrik tahu saya cuma parang. Yang dikasih garis polisi kebun saya yang katanya ada senjata, jaraknya 5 kilo meter dari rumah saya. Saya merasa suami saya tidak punya salah atau bukti kejahatan karena saya tahu kegiatnnya sehari-hari.

Mutthoharah (Istri  Sukardi)

Istri Sukardi menuturkan; Kejadiannya Jumat sore pukul 18.30 WITA, saya tidak lihat pas kejadian seperti apa dan bagaimana, sampai bapaknya Abu Dzar (Syarifuddin) jatuh, cuma pas jatuh saya sempat dengar dia berteriak “apa salah saya”. Dia sempat memberotak tapi langsung dibekuk tangannya kemudian kakinya, setelah itu dia diangkat dinaikkan ke mobil Avanza, kalau tidak salah warna hijau, karena saya melihatnya dari atas rumah. Jadi agak jauh.

Waktu itu Saya kira ada kejadian biasa seperti  tabrakan. Saya tidak tahu kalau kejadian ternyata lain. Jadi saya masuk kembali kedalam rumah, turun untuk ambil air wudhu kemudian naik lagi ke atas dan saya liat sudah penuh dengan Densus. Saya melihat Densus dengan bersejata lengkap. Ada satu orang tinggi besar, memakai semacam rompi  mendekati  jamaah sambil bertanya;”siapa namanya Fadli?” Suami saya menjawab bukan.

Waktu itu suami saya duduk di teras masjid. Karena tiga kali dipanggil tidak bergerak, akhirnya orang tadi mendekatinya dan membekuk lehernya kemudian dibawa pergi. Karena kaget saya kemudian turun dan lompat dari rumah, masuk gorong-gorong. Begitu mereka  lihat saya keluar lalu mengarahkan senjata sambil membentak menyuruh masuk. Katanya “Masuk!”, trus saya bilang saya mau pergi ambil anakku, jadi saya bilang “anakku, anakku”.

Saya kemudian mendatangi anak-anak dan bertanya “mana bapaknya syahrul?” Saat saya bertanya itulah saya melihat dia diseret bersama tiga orang lainnya. saya mendengar suami saya bilang “apa salah saya?” mereka lalu bilang “kamu keluar!, kamu keluar!” suami saya bilang “saya ndak keluar-keluar”. Terus dia lari sambil bilang “anakku, anakku”, terus mereka jawab bawa saja dengan anakknya. Jadi saya mecoba menarik tangan suamiku sambil berkata “tunggu dulu, apa salahnya suamiku?” jadi dua tangan saya masing-masing menarik suami dan anak saya.

Terus mereka bilang “Bapak keluar, bapak keluar toh?”, saya jawab “kemana? Tidak, bapak tidak pernah keluar. Tunggu dulu, apa salahnya suamiku ?” mereka bilang “sebentar bu, kita mau minta keterangan saja”.

Keterangan apa? Suamiku tidak bersalah saya bilang. Nah, disaat saya sedang menarik tangan suamiku, kemudian datang lagi satu orang yang badannya besar dan berkata “kalo memang tidak mau, tembak saja dia!” jadi saya bilang tunggu dulu. Saya kemudian berhenti menarik, dan setengah berbisik  ke telinga  suami saya “Pergimiki. Isya Allah itu Allah melindungiki kalo kita tidak pernah salah. karena kita memang tidak pernahji keluar.”

Karena waktu itu banyak sekali mobil, saya tidak tahu ke arah mana suami saya dibawa. Jadi waktu penangkapan itu  ada banyak orang, ada  jamaah di dalam masjid. Jadi Waktu suami saya ditangkap dia sedang menemani anak saya ke belakang yang ingin buang air besar. Itu yang kemudian Densus katakan bahwa suami saya ingin melarikan diri. Bagaimana dia mau melarikan diri sedang saat itu dia sedang bersama anaknya.

Pak Sukaradi ditangkap pas setelah salat maghrib. Kalau pak syarifuddin pas saat shalat, kalau tidak salah saat rakaat pertama. Yang saya dengar, Saat itu dia minta untuk shalat dulu. Kata penduduk ditunggui ji memang tapi mereka menendang motor pak Syarifuddin. Karena kaget, dia balik dan bertanya, ada apa ini? Apa salah saya, saya mau solat dulu. Tapi mereka bilang “tidak usahmi solat!”. Lokasi kejadiannya di Masjid Taqwa. Saat itu ada sekitar sepuluh jamaah di dalam.

Nurlaila (Istri Fadli)

Nurlaila menuturkan kepada CIIA; Tidak tahu apa alasan penangkapan karena saat itu pas lagi solat maghrib. Pak Syarifuddin ditangkap saat solat, tapi Fadli setelah solat maghrib.

Barang yang diambil jirigen, juga uang. Rumah digeledah isinya. Ada tiga rumah yang digeledah. Setelah penangkapan tidak ada yang dihubungi. Ada beberapa berita dari internet yang kurang sesuai. Diberitakan suami saya melakukan perlawanan padahal tidak ada sama sekali perlawanan waktu ditangkap. Densus Waktu itu ada sekitar sembilan mobil. Jadi waktu malam sabtu itu ada tiga orang yang dibawa. [Ahmed Widad] Jum’at, 25 Jan 2013

(nahimunkar.com)