Korban tipuan bisnis Maryoso di lingkungan LDII mulai beraksi

Korban tipuan bisnis Maryoso di lingkungan LDII mulai beraksi
  • Ratusan massa korban bisnis tipuan Maryoso menduduki dan menyegel tiga bidang tanah dan bangunan di dua tempat di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Jum’at (30/11 2012). Yang mereka segel itu disinyalir aset milik Mariyoso, anggota LDII yang kini raib akibat terbongkarnya kasus investasi bisnis abu-abu sepuluh tahun lalu yang diduga melibatkan para petinggi LDII  dan memakan korban dua ribu orang lebih.
  • “Satu-satunya cara, yakni ‘menggugat’ oknum oknum petinggi LDII yang saat itu diduga menikmati hasil penipuan Mariyoso,” kata Teguh Starianto, kuasa hukum korban penipuan Mariyoso. 

Menipu atas nama agama

Salah satu ciri khas aliran sesat seperti LDII adalah ketegaannya menipu atas nama agama. Ketegaan itu tentu saja membuahkan hasil tidak sedikit. Bahkan mencapai triliunan rupiah. Koran Radar Minggu, Jombang, pernah menurunkan tulisan tentang LDII sejak 21 Februari 2003 sampai beberapa bulan kemudian (Agustus). Di antaranya, diberitakan tentang kasus penipuan yang mencapai triliunan rupiah. Peristiwa yang terjadi pada tahun 2002-2003, di Jawa Timur, mengungkap banyaknya korban penipuan LDII melalui sebuah kegiatan keuangan non Bank yang disebut investasi.

Kegiatan penipuan tersebut dikelola dan dikampanyekan oleh para tokoh LDII dengan iming-iming bunga 5% per bulan. Ternyata investasi itu ada tanda-tanda duit yang telah disetor sangat sulit diambil, apalagi bunga yang dijanjikan. Padahal dalam perjanjian, duit yang disetor bisa diambil kapan saja.

Jumlah duit yang disetor para korban mencapai hampir 11 triliun rupiah. Di antara korban itu ada yang menyetornya ke isteri amir LDII Abdu Dhahir yakni Umi Salamah sebesar Rp 169 juta dan Rp 70 juta dari penduduk Kertosono Jawa Timur. Dan korban dari Kertosono pula ada yang menyetor ke cucu Nurhasan Ubaidah bernama M Ontorejo alias Oong sebesar Rp 22 miliar, Rp 959 juta, dan Rp800 juta. Korban bukan hanya sekitar Jawa Timur, namun ada yang dari Pontianak Rp 2 miliar, Jakarta Rp 2,5 miliar, dan Bengkulu Rp1 miliar. Paling banyak dari penduduk Kediri Jawa Timur ada kelompok yang sampai jadi korban sebesar Rp 900 miliar. (Lihat Buku HMC Shodiq, Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, LPPI, Jakarta, Cetakan Pertama, Januari 2004).
Para korban penipuan bisnis “bodong” Maryoso di lingkungan LDII itu kini mulai beraksi. Bahkan telah diucapkan bahwa satu-satunya cara, yakni ‘menggugat’ oknum oknum petinggi LDII yang saat itu diduga menikmati hasil penipuan Mariyoso.

Inilah berita tentang aksi para korban tipuan bisnis Maryoso yang dapat dimaknakan pembongkaran kejahatan penipuan di lingkungan LDII dimulai, dan sasaran terpentingnya adalah oknum-oknum petinggi LDII yang diduga menikmati hasil tipuan triliunan rupiah itu.

***

Ratusan Massa Segel Aset Mariyoso

Written By SatuJurnal on Jumat, 30 November 2012 | 17:21

Massa korban Mariyoso saat di Balongsari 7 Kota Mojokerto, Mojokerto-(satujurnal.com)

Ratusan massa menduduki dan menyegel tiga bidang tanah dan bangunan di dua tempat di Kota Mojokerto yang disinyalir aset milik Mariyoso, anggota LDII yang kini raib akibat terbongkarnya kasus investasi bisnis abu-abu.

Mereka yang mengaku korban Marioso bergerak dengan menggunakan lima unit bus menuju tiga sasaran. Sasaran pertama, rumah di Balongsari VII nomor 55, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Di depan rumah perkampungan ini perwakilan korban Mariyoso berorasi dan membakar photo Mariyoso n ‘beku’. Tak syak, warga setempat pun tumpah ruah menyaksikan aksi yang dijakan puluhan aparat kepolisian ini. Usai menyegel rumah yang saat ini ditempati H Teguh, jamaah LDII tersebut, massa bergerak ke dua sasaran berikutnya, di Jl Pandan, Perumnas Wates dan di Griya Permata Meri.

Mereka pun menyatakan menyegel aset Mariyoso di tiga rumah yang disinyalir kuat aset Mariyoso tersebut. “Mariyoso merugikan ribuan orang. Yang disayangkan, kasus yang terjadi sepuluh tahun lalu itu sampai sekarang tidak jelas arahnya. Tidak ada kepastian hukum terhadap kasus ini. Bisa demikian, karena ternyata banyak oknum-oknum yang tega menikmati hasil kejahatan Mariyoso” ujar Effendi, warga Kabupaten Jombang, koordinator massa korban Mariyoso mengaku dirugikan sebesar Rp 40 miliar.

Selain Effendi, dua orang koordinator aksi korban Mariyoso, yakni Sutris, warga Kabupaten Gresik dan Didik Dwi Krisbiantoro, warga Kota Kediri melontarkan hal yang sama. Selama orasi, tiga koordinator bersama ratusan massa mengecam modus Mariyoso. Sutris yang mengaku tertipu Rp 20 miliar mengungkap, jika Mariyoso oleh Polda Jatim dinyatakan sebagai DPO sejak 1 Juni 2011.

Maryoso adalah salah seorang jamaah LDII yang memiliki menawarkan bunga tinggi bagi masyarakat yang bergabung dengan bisnis dia. Dalam jangka waktu tertentu akan diberikan bagi hasil sebagai imbalan atas investasi yang dimasukkan. Lebih dari dua ribu orang, jamaah LDII dan non jamaah menanamkan modal ke Mariyoso, dari mulai Rp 1 juta hingga miliaran rupiah. Namun ternyata bisnis Mbah Gombel ini mirip Ponsi Scheme, yang berujung pada usaha ‘gali lubang tutup lubang’, uang dari investor baru digunakan untuk membayar investor lama.

Teguh Starianto, kuasa hukum korban penipuan Mariyoso alias Mbah Gombel mengatakan, aksi yang digelar tadi merupakan bentuk kegeraman warga. Sebagai langkah awal, Teguh mengaku akan melakukan inventarisir data dan bukti. Selanjutnya, ia juga akan mencoba melakukan pendekatan dengan petinggi LDII serta Pejabat Polres Mojokerto dan Polda Jatim. “Satu-satunya cara, yakni ‘menggugat’ oknum oknum petinggi LDII yang saat itu diduga menikmati hasil penipuan Mariyoso,” kata Teguh. (one) -(satujurnal.com)

(nahimunkar.com)