Maraknya Kumpul Kebo dan Zina di Kos-kosan Meresahkan Masyarakat

Maraknya Kumpul Kebo dan Zina di Kos-kosan  Meresahkan Masyarakat

 

ISTILAH kumpul kebo berasal dari Jawa, maknanya hidup bersama antara lelaki dan perempuan tanpa ikatan nikah, hingga ibarat kerbau. Istilah itu mulai dikenal secara luas sejak tahun 1980-an, ketika media massa (cetak) kala itu menurunkan laporan utama tentang perilaku sejumlah mahasiswa dan mahasiswi di Jogjakarta yang mempraktekkan hidup bersama di luar nikah (samen leven). Hingga kini, istilah itu tetap populer sebagaimana juga perilaku buruk kumpul kebo yang makin menggejala.

Berdasarkan survei Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Jogjakarta tahun 2001, pola hidup seks bebas di kalangan anak remaja secara umum dan di pondokan atau kos-kosan, khususnya di daerah Kota Jogjakarta, berkembang semakin serius dengan makin longgarnya kontrol yang mereka terima.

Menurut Dra Trias Setiawati, MSi (Kepala PSW-UII), berdasarkan data tahun 2001 saja, jumlah pelajar di Kota Jogjakarta mencapai 121.000 orang, atau sekitar 25 persen dari penduduk Kota Jogjakarta yang berjumlah sekitar 490.000, telah mendorong makin suburnya bisnis rumah kos-kosan di kota ini. Sementara itu, tingkat pengawasan dari pemilik kos maupun pihak orangtua, semakin longgar. Sehingga, makin banyak remaja yang terjebak ke dalam pola hidup seks bebas karena berbagai pengaruh yang mereka terima, baik dari teman, internet, dan pengaruh lingkungan secara umum.

Berdasarkan fenomena tersebut, Trias pernah mendesak agar Wali Kota Jogjakarta segera memperhatikan ancaman dekadensi moral di kalangan remaja, dengan mengeluarkan ketentuan wajib adanya kontrol yang ketat bagi para pemilik rumah kos, serta menindak tegas warung-warung persewaan VCD dan warnet. (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0108/01/daerah/anca19.htm).

Pada tahun 2002, pernah dipublikasikan hasil survei Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) terhadap mahasiswa Jogjakarta. Penelitian itu dilakukan selama tiga tahun, mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Jogjakarta. Dari 1.660 responden itu, 97,05 persen mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah, karena pernah melakukan seks berpasangan atau berzina. Ditinjau dari tempat mereka melakukan seks bebas, sebanyak 63 persen melakukan seks bebas di tempat kos pria pasangannya. Sebanyak 14 persen dilakukan di tempat kos putri atau rumah kontrakannya. Selanjutnya 21 persen di hotel kelas melati yang tersebar di Jogjakarta dan 2 persen lagi di tempat wisata yang terbuka. Data di atas menujukkan bahwa tempat kos-kosan telah menjadi sarang kumpul kebo (seks bebas).

 

Sarang Kumpul Kebo

 

Kalangan ulama pun sudah mensinyalir, bahwa rumah pondokan (kos-kosan) telah menjadi sarang berlangsungnya praktik kumpul kebo. Setidaknya, sebagaimana pernah dinyatakan oleh Prof. Dr. Abdullah Syah, MA Ketua MUI Sumatera Utara. Oleh karena itu, menurut beliau, masyarakat beserta elemen pemerintahan dari tingkat terendah hingga tertinggi harus mengawasi ketat aktivitas di seputar rumah kos mahasiswa di daerahnya demi menjaga agar mahasiswa tidak terjerumus pada hal-hal yang bisa mengancam masa depannya. Apalagi saat ini pengelola rumah pondokan demi mendapatkan uang tidak melakukan pemisahan antara pemondok wanita dengan pria, sehingga sangat potensial memicu timbulnya praktek seks bebas.

Sebelumnya, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jember, Jawa Timur, pada 23 April 2007 pernah mendesak Dewan Perwakilan Rakyat setempat untuk segera menuntaskan peraturan daerah tentang anak kos. Sebab, dalam beberapa bulan terakhir, fenomena kumpul kebo di tempat kos-kosan di kalangan mahasiswa Jember semakin marak. Bukan hanya kumpul kebo (free sex), di tempat seperti ini bahkan pernah terjadi perkosaan yang dilakukan oleh sepuluh mahasiswa terhadap satu mahasiswi di tempat kos-kosan di Jalan Argopuro, Jember. Sebelumnya, para mahasiswa itu melakukan pesta minuman keras. (Koran Tempo, Senin, 23 April 2007).

Di Depok, pada tanggal 1 Muharam 1430 H (bertepatan dengan 29 Desember 2008) lalu, sejumlah 20 ormas Islam yang tergabung dalam Forum Mudzakarah Syariat Islam (Formasi) Kota Depok mengadakan pawai syariat Islam. Salah satu agendanya, mengajukan draf rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang penegakan syariat Islam, yaitu mengenai pelarangan seks bebas di Kota Depok. Menurut mereka, seks bebas di tempat kos sudah mengkhawatirkan, oleh karena itu diperlukan Perda yang dapat melindungi warga Depok dari ancaman dekadensi moral. Faktanya, akibat seks bebas jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Depok terhitung sejak tahun 2000 hingga 2008 mencapai 137 orang. (Republika, Kamis, 29 Januari 2009 pukul 09:16:00).

Para pengelola pondokan yang tidak melakukan pemisahan, pada umumnya berdalih, meski dicampur, namun ada ketentuan bagi pemondok pria tidak boleh masuk ke kamar pemondok wanita. Mereka juga berdalih, para penghuni pondokan pada umumnya tidak kenal satu sama lain. Namun kenyataannya, alasan-alasan itu sama sekali tidak dapat mencegah praktek kumpul kebo di kos-kosan.

Contohnya, sebagaimana terjadi di Kediri, Jawa Timur. Sebagaimana diberitakan okezone (Selasa, 3 Februari 2009 – 16:14 wib), ketika aparat kepolisian Resor Kota Kediri melakukan razia pada sekitar pukul 10.30 WIB, berhasil ditangkap enam pasangan kumpul kebo di rumah kos-kosan milik Edi Memet Jalan Semeru Gang VI, Kelurahan Lirboyo, Kec Mojoroto. Empat pasang diantaranya adalah mahasiswa, dan dua pasang lainnya pelacur.

Di Parongpong, Lembang, Kabupaten Bandung (Jawa Barta), sebelas remaja yang sedang pesta seks dan ganja di rumah kos-kosan, digrebek dan ditangkap aparat polres Cimahi. Terungkapnya pesta ganja diserta pesta seks dari video porno itu berawal dari laporan warga sekitar yang menyebutkan di tempat itu sering dilakukan ajang pesta narkoba dan seks. (http://hariansib.com/2008/09/07/11-remaja-pesta-seks-digerebek/)

Di Solo, harian Radar Solo edisi Kamis, 26 Juni 2008, memberitakan tentang lima mahasiswa UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), yang selain melakukan kumpul kebo juga melakukan perbudakan seks terhadap Nita, yaitu memaksa Nita berpose bugil. Foto-foto bugil itu ditemukan aparat pada CPU komputer pribadi milik tersangka. Peristiwa ini oleh pihak UNS disebut sebagai skandal seks. Meski pondokan pria dan wanita dipisah, namun karena lemahnya pengawasan, skandal seks (kumpul kebo, free sex) tetap saja terjadi. (http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=8923)

 

Di Sekitar Kampus

 

Seorang warga yang bermukim di sekitar kampus Universitas Bina Nusantara, Jakarta, pernah melayangkan keluhannya seputar praktik kumpul kebo yang dilakoni sejumlah mahasiswa-mahasiswi di tempat pemondokan mereka masing-masing, yang tersebar di sekitar kampus dan menjadi bagian dari pemukiman penduduk sipil. Selengkapnya sebagai berikut:

 

Pada awalnya kami sebagai warga di sekitar Universitas Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan) sangat senang dengan adanya universitas tersebut di wilayah kami, karena secara langsung dapat mengangkat perekonomian di wilayah kami atas dasar banyaknya warga sekitar yang juga bisa berjualan.

Namun, seiring berjalannya waktu kami juga mendapatkan banyaknya persoalan masalah-masalah sosial yang terjadi di tatanan kehidupan warga sekitar. Salah satu contoh masalah sosial yang sangat memprihatinkan di mata kami sebagai warga sekitar Universitas Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan) adalah banyaknya pasangan mahasiswa dan mahasiswi kampus Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan) yang tinggal dalam satu atap kos-kosan tanpa adanya ikatan yang sah sebagai suami-istri, karena bagi kami hal tersebut sangat memungkinkan bagi mahasiswa-mahasiswi tersebut untuk melakukan kegiatan sex bebas (kumpul kebo) di dalam kos-kosan tersebut.

Pertanyaan yang ada di dalam hati kecil saya dan warga sekitar universitas Bina Nusantara bertanya kenapa kok tidak adanya pengawasan kos-kosan di daerah kami oleh aparat setempat, semisal kecamatan dan kelurahan setempat yang melarang izin tinggal penghuni kos-kosan mahasiswa dan mahasiswi di campur dalam satu atap kos-kosan, karena hal tersebut sudah jelas dapat menimbulkan kegiatan sex bebas (kumpul kebo) di antara mahasiswa dan mahasiswi tersebut.

Kami sebagai warga di lingkungan sekitar Universitas Bina Nusantara (Aggrek dan Syahdan) memohon kepada aparat terkait untuk membuat semisal semacam aturan yang melarang para pemilik kos-kosan di sekitar wilayah kampus Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan) untuk tidak mencampur para penghuninya antara mahasiswa dan mahasiswi, karena jelas lebih banyak mudharatnya.

Jelas fenomena ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, karena kalau kita membiarkanya sama saja kita menutup mata untuk mendukung adanya kegiatan sex bebas (kumpul kebo) terselubung antar mahasiswa dan mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan) yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan moralitas beragama.

Sangat besar harapan saya dan warga sekitar Universitas Bina Nusantara (Aggrek dan Syahdan) kepada aparat terkait untuk menindaklanjuti fenomena kehidupan bebas di wilayah kami ini agar supaya kedepannya dapat mencegah kehidupan sex bebas (kumpul kebo) antar mahasiswa dan mahasiswi Universitas Bina Nusantara (Anggrek dan Syahdan). (Dari Seseorang http://suplentonkjaya.com/kitab-keluhan/seks-bebas-terselubung-di-kos-kosan-sekitar-universitas-bina-nusantara/)

 

Harian Surya pernah menelusuri perilaku seks bebas (kumpul kebo) yang dilakoni para mahasiswa-mahasiswi di kota Malang, tahun 2007. Beberapa mahasiswa yang ditemui harian Surya di pemondokannya (kos-kosan) mengaku terbiasa melakukan seks bebas dengan pacarnya, antara lain karena akibat terlalu sering melihat adegan mesum di situs porno internet. Banyaknya mahasiswa yang suka tinggal bersama pacarnya tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) membuat sejumlah pengamat pendidikan menjadi miris. Oleh karena itu, menurut Sunarjo SH Mhum (Pembantu Dekan bidang kemahasiswaan Fakultas Hukum Unmer), pemerintah daerah harus turun tangan, kalau bisa Perda tentang Pemondokan yang sudah ada ditinjau jangan hanya mengupas tentang pungutannya saja tetapi juga moral mahasiswa yang tinggal di dalamnya. (http://www.surya.co.id/web/Malang_Raya/Menelurusi_Seks_Bebas_Kos-Kosan_Di_Malang_Situs_Porno_Internet_Jadi_Inspirasi_Seks_Bebas_.html)

Keinginan Sunarjo itu sangat wajar, karena di negara super liberal seperti Amerika Serikat saja, larangan kumpul kebo juga diterapkan. Di Negara Bagian North Dakota, Amerika Serikat (AS), pasangan yang hidup serumah tanpa ikatan pernikahan (kumul kebo) dikategorikan sebagai pelaku kriminal. Bagi mereka yang melakoni kumpul kebo secara terbuka, didenda hingga USD 1.000 (sekitar Rp 10-11 juta) atau dipenjara selama 30 hari. Selain North Dakota, aturan serupa juga berlaku di Florida, Michigan, Mississippi, North Carolina, Virginia, dan West Virginia. Di tujuh negara bagian tersebut, pasangan yang tinggal seatap tanpa ikatan pernikahan dan menjalankan hidup layaknya suami istri disejajarkan dengan penjahat seksual dan pemerkosa. (http://www.indonesiaindonesia.com/f/14445-kumpul-kebo-dianggap-kriminal/)

Bagaimana dengan di Indonesia? Masa’ sih pejabat kita (termasuk petinggi kampus) tidak tergerak hatinya untuk membuat aturan yang dapat mencegah para mahasiswa melakukan praktik kumpul kebo di tempat pemondokan (kos-kosan) mereka.

Apalagi, kenyataannya yang melakukan kumpul kebo bukanlah mahasiswa-mahasiswi yang tingggal di pemondokan, tetapi di Indonesia praktik kumpul kebo juga terjadi di kalangan mahasiswa-mahasiswi ikatan dinas, yang mondok di dalam areal kampus (asrama). Sebagaimana pernah disinyalir Inu Kencana (dosen Ilmu Pemerintahan IPDN, kini STPDN), praktik kumpul kebo terjadi juga di lembaga pendidikan ini.Menurut Inu Kencana, dari 660 kasus free sex di IPDN ini, tidak satu pun mahasiswa yang dikeluarkan, karena mereka bisa memberikan alasan. Data itu merupakan hasil risetnya yang kemudian dijadikan bahan disertasi doktor di Universitas Padjajaran yang saat itu belum disidangkan. Namun, data yang diungkapkan Inu Kencana itu dibantah oleh petinggi IPDN (STPDN) kala itu.  (http://www.dutamasyarakat.com/rubrik.php?id=11909&kat=Nasional)

Yang jelas, GATRA online edisi 19 April 2004 14:08, pernah menurunkan laporan berjudul Pesta Seks Praja STPDN Masih Disidik Polisi. Antara lain diberitakan, “… sejumlah pemuda bersama Ketua RT 03 Ujang Jejen dan Ketua RW 01 Muhammad Dhuha bersama warga Desa Cibeusi petugas ronda malam tanggal 27 Maret lalu menangkap 10 orang praja STPDN yang kedapatan tanpa busana bersama lima wanita di sebuah rumah kos setempat… kelima orang wanita yang mereka bawa ke tempat kos tersebut juga masih berstatus sebagai mahasiswi di sejumlah perguruan tinggi di Bandung… berdasarkan laporan warga masyarakat mereka ditangkap karena banyak warga yang gelisah dengan ulah mereka yang kumpul-kumpul sampai larut malam dari berlainan jenis, lebih-lebih di sekitar tempat kos tersebut ada sebuah pondok pesantren… Setelah digerebek warga, mereka mengaku sedang asyik nonton video porno. Saat ditangkap, mereka hanya mengenakan pakaian dalam…”

Inu Kencana yang saat itu menjabat sebagai anggota Senat STPDN, membenarkan adanya kejadian tersebut. Inu sangat menyesalkan kejadian yang memalukan itu. Menurut Inu pula, polisi seharusnya bertindak tegas terhadap perilaku praja yang meresahkan masyarakat. (http://www.gatra.com/artikel.php?id=35859)

 

Bukan Sekedar Kumpul Kebo

 

Kos-kosan tidak saja menjadi sarang kumpul kebo (free sex, pesta seks), tetapi bisa juga merangkap menjadi sarang perbuatan kriminal lainnya. Di Jakarta, sebuah rumah kos yang terletak di jalan Percetakan Negara IX Nomor 76-C Jakarta Pusat, Sabtu 15 Maret 2008 malam, digrebek petugas. Dari tempat itu berhasil diringkus enam orang saat pesta narkoba dan seks. Terungkapnya kasus ini setelah gencarnya masukan warga yang melihat banyak tempat kos di wilayah itu disinyalir kerap dijadikan ajang pesta narkoba dan seks. (http://202.169.46.231/News/2008/03/18/Jabotabe/jab02.htm)

Praktisi kumpul kebo, pada tahapan tertentu cenderung menjadi pelaku kriminal atau tindak pidana lainnya. Misalnya, sebagaimana terjadi di Ternate (okezone edisi Kamis, 22 Januari 2009 – 00:19 wib): dua mahasiswa pasangan kumpul kebo yang berdomisili di RT 3 RW 2 kelurahan Akehuda, Ternate Utara, kedapatan warga setelah menghabisi bayi yang baru dilahirkan dengan mencekik leher dan membekap mulut bayi tersebut hingga tewas. Warga kemudian melaporkan temuannya itu ke Polres Ternate. Berdasarkan hasil otopsi pihak RSUD Chasan Boesoeri, keduanya terbukti menghabisi bayi perempuan hasil hubungan gelap mereka yang baru saja dilahirkan. Pasangan kumpul kebo ini adalah MI alias Mirsan (23), mahasiswa semester sembilan fakultas pertanian Universitas Khairun Ternate asal Kayoa, Halmahera Selatan. Sedangkan pasangannya adalah  NN alias Noni (20) mahasiswa semester enam fakultas yang sama asal Tobelo, Halmahera Utara. Keduanya mengaku telah merencanakan untuk membunuh bayi tersebut. (http://news.okezone.com/read/2009/01/21/1/185152/mahasiswa-kumpul-kebo-habisi-bayi-usai-dilahirkan)

Di Sidoarjo, pasangan kumpul kebo terlibat perampokan sepeda motor. Mereka adalah Eko Wahyuni (30), tinggal di Jl. Pucang Gang Kelurahan RT 13 RW 03 Kecamatan Kota Sidoarjo, dan Ema Ratna Devi (23), pasangan kumpul kebonya, tinggal di Desa Wringin Pitu Kecamatan Mojowarno, Jombang. Mereka juga melibatkan adik ipar Eko Wahyuni, bernama Nunuk Irawati (16), tinggal di Desa Pager Wono, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Ketiganya diringkus, karena melakukan perampokan terhadap Agus Salim, dan dua korban lainnya. Modus operandinya, pelaku mengajak korban berkenalan. Jika sudah kenal, korban diajak minum kopi dan saat korban lengah, salah satu pelaku mencampuri kopinya dengan racun bunga kecubung hingga teler. Motornya dirampas, sedangkan korban yang dalam keadaan teler ditinggal di tempat yang sepi dan gelap. (http://www.antara.co.id/arc/2008/3/4/pasangan-kumpul-kebo-merampok/)

Ada juga pelaku kumpul kebo yang serta-merta menjadi pembunuh, karena korbannya menasihati pelaku untuk berhenti melakukan kumpul kebo. Hal ini terjadi pada Danovan Sailenda (27), warga Batu Merah I, RT 03/05, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sehari-hari Danovan bekerja sebagai pegawai sipil Departemen Pertahanan. Ia ditangkap karena melakukan pembunuhan terhadap Erik (22) warga Johar Baru, yang adalah juga adik mertuanya. Saat itu, 23 Oktober 2008, Erik menasihati Donovan agar jangan kumpul kebo. Sambil mengejek, Erik menakut-nakuti pelaku dengan menggunakan sebatang kayu. Danovan tidak terima, kemudian menghajar Erik sampai babak belur dan menderita luka cukup parah di bagian kepala, ahkhirnya Erik meninggal di Rumah Sakit.

Di tempat lain, pasangan kumpul kebo merangkap jadi pasangan pengedar pil ekstasi. Jumlahnya, tidak main-main, mencapai 1.990 butir. Mereka adalah Charles (saat itu berusia 25 tahun ) dan pasangan kumpul kebonya bernama Rosi (saat itu berusia 22 tahun). Awalnya, aparat Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menaruh curiga terhadap sebuah paket yang dialamatkan ke Perumahan Kris Kencana, Jalan Kencana Sari Timur XI, Surabaya, Jawa Timur. Setelah dibuka, isi paket tersebut ternyata berisi pil ekstasi 1.990 butir. Temuan tersebut segera dilaporkan ke kepolisian bandara Soekarno-Hatta. Polisi pun menyamar, dan berhasil menangkap pasangan kumpul kebo yang merangkap pengedar pil ekstasi. (detiknews, Selasa, 26/08/2008 23:50 WIB).

Masih di Jakarta, pasangan kumpul kebo yang tidak punya uang, nekat mencuri susu di Carrefour Mega Pluit. Mereka adah Vivi (saat itu berusia 37 tahun) dan Deddy (saat itu berusia 38 tahun). Modus operandinya, Vivi berpura-pura menjadi perempuan hamil, dengan busana rangkap yang banyak kantong. Sedangkan Deddy bertugas mengamati suasana. Pasangan kumpul kebo ini dibekuk saat tertangkap tangan mencuri 4 kaleng susu merk Weight Gain masing-masing seberat 900 gram dan seharga Rp 200 ribu per kaleng. (detiknews, 18/04/2007 15:39 WIB).

Bahkan ada pelaku kumpul kebo yang dalam rangka menafkahi pasangannya sampai harus mencuri sepeda. Peristiwa ini terjadi di Surabaya. Parmin (saat itu berusia 54 tahun) nekat mencuri sepeda tetangganya sendiri. Rencananya, sepeda itu akan dijual di jalan Raden Saleh seharga Rp 60 ribu. Hasilnya, akan diserahkan kepada pasangan kumpul kebonya. Namun Parmin keburu ketangkap sebelum berhasil menjual sepeda hasil curiannya itu. (detiknews, Senin, 17/09/2007 18:34 WIB).

Kasihan sekali orang seperti Parmin ini. Selain miskin dan sudah berumur tua, ternyata masih suka berzina (kumpul kebo). Selain itu, dalam rangka menafkahi pasangan kumpul kebonya, ia nekat mencuri, sehingga harus meringkuk di tahanan. Perbuatan Parmin itu termasuk dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan kalau sudah pernah nikah maka termasuk tiga orang yang halal darahnya alias halal dibunuh. Dalam hadits dijelaskan, ada tiga yang halal darahnya, yaitu duda/ janda (yang sudah pernah nikah) yang berzina, orang yang membunuh jiwa (tanpa hak), dan orang murtad. Haditsnya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِبن مسعود رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِ وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak halal darah seorang muslim yang bersyahadat bahwa tiada Tuhan –yang disembah dengan haq– kecuali Allah dan sesungguhnya aku (Muhammad Saw) adalah rasul Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga: duda/ janda (orang yang telah pernah nikah) yang berzina, (membunuh) jiwa (dibalas) dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jama’ah”. (HR Al-Bukhari dan Muslim, lafal ini bagi Muslim).

Kekhawatiran para ulama dan tokoh masyarakat terhadap kos-kosan yang menjadi sarang kumpul kebo, memang sangat beralasan. Apalagi, praktik kumpul kebo tidak hanya berlangsung di tempat kos-kosan, namun terjadi juga di pemukiman biasa. Praktik kumpul kebo ini tak bisa sirna bahkan terus berlangsung dengan aman, disamping karena tidak adanya aturan yang ketat, juga karena sikap sebagian masyarakat yang kurang peduli. Apalagi, dalam perspektif hukum pidana, hukuman bagi pelaku kumpul kebo lebih ringan dari pelaku perzinaan. Padahal, dalam perspektif Islam, kumpul kebo itu ya zina juga.

 

Kos-kosan untuk zina dan menyebarkan kesesatan

Kumpul kebo, zina, dan berbuat kejahatan dengan bersarang di kos-kosan atau tempat kos telah terjadi di mana-mana. Bahkan ada yang lebih sangat buruk lagi, yaitu kos-kosan dijadikan tempat praktek zina, yang dizinai pun isteri dari tuan rumah, masih pula di hadapan si suami yang punya rumah kos itu dan bahkan ditonton pula oleh orang-orang lainnya. Masih pula tempat kos ini jadi sarang untuk praktek dan  menyebarkan aliran sesat. Itulah yang terjadi dan beritanya heboh, yaitu aliran sesat Satria Piningit Weteng Buwono yang disebarkan oleh Agus Imam Solihin. Berikut ini beritanya:

 

Agus Perintahkan Umatnya Bugil & Bersetubuh

 

JAKARTA – Isu adanya eksploitasi seksualitas dalam ajaran aliran Satria

Piningit Weteng Buwono terbukti. Dalam penyidikan polisi, pemimpin

aliran mesum ini, Agus Imam Solihin mengaku beberapa kali meminta

pengikutnya berbugil ria.

 

Dan beberapa kali, dia (Agus) meminta pasangan suami isteri maupun

anggota lain untuk telanjang. Salah satunya pasangan pemilik rumah yakni

Kartiningsih dan Kusmanah,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes

Pol Zulkarnain.

 

Hal ini diungkapkan Zulkarnain saat ditemui wartawan di ruang kerjanya,

Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (29/1/2009).

 

Bahkan, lanjut Zulkarnain, isteri Kusmana, Kartiningsih, diajak

bersetubuh dengan Agus. “Agus melakukan persetubuhan dengan Kartiningsih

di depan suami dan para pengikutnya,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Agus menyerahkan diri ke Mapolres Jakarta Selatan pada Kamis

pagi. Saat ini, Agus masih menjalani pemeriksaan untuk mengetahui motif

dan tujuannya. (okezone.com – 1/29/2009 12:06 PM Local Time

http://www.okezone.com)

 

Dalam kasus ini, menurut berita tersebut, rumah kos milik Kusmana yang disewa oleh Agus ini untuk sarang praktek aliran sesat disertai zina. Kusmana pemilik rumah di Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Selatan yang disewa oleh Agus itu tertimpa aneka derita. Sudah isterinya dizinai oleh Agus di depan mata Kusmana sendiri (menurut berita dari polisi itu), masih pula –menurut berita lainnya– anak perempuan Kusmana meninggal gara-gara sakit dan dilarang oleh Agus untuk diobati. Tidak boleh diobati oleh pemimpin aliran sesat itu, sehingga meninggal. Ketika ternyata pengikutnya meninggal, Agus tidak dapat berbuat apa-apa, padahal dia mengaku Tuhan.

Betapa ruginya pemilik rumah kos itu. Anak perempuan Kusmana meninggal dalam keadaan mengikuti aliran sesat yang meniadakan shalat (malah diberitakan kadang diganti dengan nyanyi cocak rowo dan semacamnya), masih pula ibu dari anak yang meninggal itu dizinai pemimpin aliran sesatnya. Lagi pula menzinainya di depan suaminya (Kusmana) sendiri. Jadi habis-habisan.

-Rumah Kusmana yang disewakan untuk kos itu dijadikan sarang praktek dan penyebaran faham sesat menyesatkan (sampai Agus selaku pemimpinnya mengaku Tuhan) disertai zina.

-Kusmana sekeluarga terjerumus masuk ke aliran sesat Satria Piningit Weteng Buwono pimpinan Agus Imam Solihin yang mengontrak rumah itu.

-Lalu rumah itu ditempati untuk praktek sesat, bugil, persetubuhan ramai-ramai dengan ditonton oleh Agus, masih pula Agus menzinai isteri pemilik rumah itu di depan matanya (si suami, pemilik rumah) dan pengikut-pengikut aliran sesat ini, menurut berita dari polisi tersebut di atas. Waduh-waduh… ini lakon apa…. Manusia atau bukan?

Mungkin itu kos-kosan yang paling menyedihkan bagi pemiliknya karena komplit kesesatan dan kebejatannya, dan menimpa induk semang dan pemiliknya sendiri di samping orang-orang lainnya.

Dalam aneka kasus yang telah diuraikan ini, aneka peristiwa kumpul kebo dan zina, bahkan penyebaran aliran sesat yang bersarang di rumah kos-kosan yang data dan faktanya merebak di mana-mana itu menjadi tanggung jawab siapa?

Bila kita biarkan saja korban-korban kejahatan seks, kriminal, dan bahkan kesesatan yang menghancurkan aqidah / keyakinan itu berlangsung terus, maka tentu akan menjadi-jadi dan merajalela.

Padahal ketika kita membiarkannya, berarti sama dengan menolong berlangsungnya bahkan makin meruyaknya aneka kejahatan itu di mana-mana. Sedangkan kalau kita mencegahnya, maka berarti menolong masyarakat agar terhindar dari aneka kejahatan itu. Allah Ta’ala memperingatkan:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا(85)

Barangsiapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS An-Nisaa’: 85).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, maksudnya, barangsiapa yang mengupayakan suatu perkara yang membawa kebaikan, niscaya ia akan mendapatkan bagiannya dalam kebaikan itu. Dan barangsiapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya, yakni akan mendapatkan dosa dari keburukan yang ia usahakan dan ia niatkan. (Tafsir Ibnu Katsir, ayat 85 Surat An-Nisaa’).

Kenyataan merajalelanya zina itu telah diancam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي  أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka melakukan kemaksiatan (zina) secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, dari Ibnu Umar, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

            Allah subhanahu wata’ala telah memperingatkan dengan firman-Nya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(25)

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS Al-Anfaal/ 8: 25).

Sudah saatnya para penguasa, ulama, tokoh masyarakat dan anggota dewan (minimal DPRD) memperjuangkan lahirnya perda (peraturan daerah) yang melarang hidup seatap tanpa ikatan nikah, melahirkan aturan yang ketat bagi pengelola rumah pondokan/ kos-kosan ataupun kontrakan, sehingga praktik kumupl kebo alias perzinaan dapat diberantas tuntas. Di samping itu razia-razia dan penggerebekan dari pihak yang berwenang perlu diintensipkan dan digiatkan lagi, agar praktek kumpul kebo dan zina serta kejahatan lainnya yang bersarang di kos-kosan di mana-mana itu dapat disapu bersih. Sehingga masyarakat hidup dalam ketenangan dan damai dalam ridho Allah Ta’ala, insya Allah.  (haji/tede)

 

  • Bang Uddin

    Pengertian Kumpul Kebo dan Kawin Sirri

    Istilah ‘kumpul kebo’ sepanjang hemat penulis merupakan istilah asli Indonesia. Kata ‘kumpul’ yang artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : bersama-sama menjadi satu kesatuan atau kelompok (tidak terpisah-pisah); berhimpun; berkampung; berapat (bersidang); berkerumun. Lalu ‘kebo’ artinya : kerbau (http://bahasa. kemdiknas.go.id/). Sudah tentu yang dimaksudkan adalah arti kiasan, bukan arti yang sebenarnya : kerbau berkumpul, tetapi pasangan laki-laki dan perempuan kumpul seperti kerbau. Oleh sebab itu ada yang mengartikan ‘kumpul kebo’ adalah suatu perbuatan tinggal bersama antara laki-laki dan perempuan tanpa diikat oleh suatu tali perkawinan yang sah (http://edukasi.kompasiana.com; http://smartpsikologi. blogspot.com/).

    Sedang untuk istilah ‘kawin sirri’ secara etomologi (kebahasaan) kata ‘as-sirr’ berarti : sesuatu yang disembunyikan, yang dirahasiakan (Fairuz Abadi, Al-Qamus al-Muhith : 518; Al-Mu’jamu al-Wasith, 1 : 426; Muhammad ar-Razi, Mukhtaru sh-Shihhah : 326). Kata ini dalam al-Qur’an dihadapkan atau akronim kata ’alaniyyah’ yang berarti terang-terangan, jelas, terbuka (QS. Al-Baqarah, 2 : 274; Ar-Ra’d, 13 : 22; Ibrahim, 14 : 31; Fathir, 35 : 29) dan kata ‘jahran’ yang merupakan sinonim (muradif) kata ‘alaniyyah’ (QS. An-Nahl, 16 : 75). Menurut ulama tafsir kata ‘sirr’ antara lain berarti ‘ar-rafats’ yang artinya : ucapan keji, persetubuhan; dan zina (Sayid Thanthawi, Tafsir Al-Wasith, 1 : 429; Al-Mawardi, An-Nukt wa al-‘Uyun, 1 : 304).

    Sedangkan secara terminologi ‘kawin sirri’ adalah perkawinan ‘bila tasyhir’ (tanpa diumumkan, tanpa disaksikan orang lain) (Az-Zurjani, At-Ta’rifat : 315). Lebih jelas lagi, ‘kawin sirri’ adalah suatu perkawinan yang diakadkan tanpa dua orang saksi yang adil. Pendapat lain ‘kawin sirri’ adalah suatu perkawinan yang saksi-saksinya disembunyikan sewaktu akad (Ibnu Arafah, Syarhu Hudud, 1 : 330).

    Dalam kitab-kitab fiqih, baik yang klasik seperti Muwaththa’ Malik, Al-Umm Asy-Syafi’i, Al-Majmu’ An-Nawawi, maupun kontemporar seperti Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh Wahbah Zuhaili, sewaktu membahas tentang ‘kawin sirri’ pengertian pokoknya adalah suatu perkawinan yang pada waktu akadnya tidak disaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Hal ini mengacu pada kejadian di zaman Nabi saw dan para sahabat. Umar bin Khaththab pernah menolak (tidak mengakui) perkawinan yang tidak ada saksinya dan menyebutnya sebagai kawin sirri, bahkan jika dilaksanakan akan dirajam (Muwaththa’ Malik, 3 : 94; Musnad as-Syafi’i : 291; Al-Umm Asy-Syafi’i, 5 : 23; Al-Majmu’ An-Nawawi, 16 : 402; Mukhtashar al-Muzani : 164).

    Dengan demikian sejak zaman Nabi saw dan para sahabatnya pengertian ‘kawin sirri’ adalah suatu perkawinan yang tidak ada saksinya yang sah. Perkawinan ini menurut ulama fiqih tidak memenuhi syarat rukunnya, sehingga mayoritas ulama menghukuminya tidak sah, batal, fasakh, dan yang paling ringan makruh. Bahkan dikatakan perkawinan semacam ini sebagai perkawinan lacur (Al-Mausu’atu al-Fiqhiyyah al-Muyassrah fi Fiqhi al-Kitabi wa as-Sunnah al-Muthahharah, 5 : 59) dan di masyarakat kita jika pasangan yang bersangkutan tetap tinggal serumah sebagaimana layaknya suami isteri yang sah, popular dengan istilah ‘kumpul kebo’. Meskipun tidak diingkari ada pendapat yang menyatakan dua orang saksi bukan syarat sah, tetapi dibantah oleh mayoritas ulama mengingat dalil-dalil yang masyhur.

    Mengumumkan Perkawinan (Al-I’lan)

    Semua ulama sepakat bahwa suatu perkawinan diperintahkan untuk diumumkan (diberitahukan kepada orang lain). Perbedaanya hanya terletak pada perintah itu wajib atau hanya mustahab (sunnah/mandub). Pengumuman (al-i’lan), yaitu memberitahukan kepada orang lain, jika yang dimaksudkan sebagaimana adanya dua orang saksi berarti hukumnya wajib. Tetapi jika yang dimaksudkan tambahan seperti memberitahukan adanya perkawinan dengan walimah (pesta) dan menabuh rebana hukumnya mandub (sunnah) (Badai’u ash-Shanai’ fi Tartibi asy-Syarai’, 5 : 392).

  • http://problembisnis.co.cc Ciput Cs.

    memang, skrg jmannya seperti ini, tp… mnrt sy jaman dan kos'an tdk bs dibuat pedoman! karna cuma Iman yg bisa. . .

  • http://www.nurul-abyadh.com Abdul Cholik, S.S.

    Emm…. sepertinya ada beberapa bahasa yang harus dihaluskan, dan saya pikir nama pelaku dan asala institusi, sebaiknya juga jangan disebutkan, cukup inisial saja.

  • http://www.duta4future.com rohim

    lakukan jihad anda dengan

    1. harta anda

    2. jiwa anda

    kita tegakan syariah

    man laa yahtam bi amril muslimin falaisa minhum ok

    rohim_daarulhuda99

  • http://www.duta4future.com rohim

    harus dirajam

  • http://asparag.blogspot.com hendra

    emang kenyataannya seperti itu!!!

    kos emang salah satu gerbang kemaksiatan bagi orang yang ga kuat iman…