Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati Ditinjau dari Ilmu Fiqh -1

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 1

Upacara tahlilan atau memperingati orang mati pada hari-hari tertentu dengan mengumpulkan orang dan membaca bacan-bacaan tertentu, apakah termasuk ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Di mana-mana di Indonesia, upacara tahlilan itu diselenggarakan orang. Kalau yang kematian itu eko-nominya cekak alias miskin, maka untuk menyelenggarakan tahlilan itu direwangi wani utang (sampai dibela dengan berani cari hutangan). Bahkan bisa juga sampai mencuri, seperti berita berikut ini:

Selasa, 09/06/2009 17:31 WIB
Butuh Dana Tahlilan, Jumadi Curi Kabel
Ari Saputra – detikNews

Jakarta – Makin pintar saja para pencuri beralibi. Kali ini Jumadi (31) mengaku membutuhkan uang untuk biaya tahlilan istrinya. Karena tidak punya uang, ia nekat mencuri kabel telekomunikasi yang melintang tak jauh dari rumahnya. “Istri saya meninggal gara-gara kena kanker payudara,” kata pelaku di Mapolsek Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (9/6/2009). Dalam menjalankan aksinya, Jumadi berkolaborasi dengan Sanjaya (35) dan Ahmad Robani . (35). Lalu mengendap-endap di malam hari dan memotong-motong kabel. “Saya membutuhkan Rp 700.000 untuk biaya tahlilan,” kelit Jumadi beralasan. Petugas memergoki dan meringkus ketiganya seketika. Mereka terancam pasal 363 KUHP dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun.

(Ari/nrl)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2009/06/09/173131/1145035/10/butuh-dana-tahlilan-jumadi-curi-kabel

Di dalam Islam, ada kewajiban zakat. Tetapi bagi orang yang tidak berharta maka tidak terkena kewajiban zakat itu, bahkan menjadi orang yang berhak menerima zakat (Mustahiq). Oleh karena itu, seandainya tahlilan memperingati orang mati itu termasuk ajaran Islam pun (dan sebenarnya tidak) pasti tidak perlu utang-utang apalagi sampai mencuri.

Untuk memberi gambaran duduk soal masalah tahlilan, berikut ini kami kutipkan dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan, Pustaka WIP, Solo, dalam bab lanjutan, setelah membahas masalah rancunya tarekat dan tasawuf.

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh

Setelah dibahas kesesatan dan kerancuan tarekat tasawuf serta buku-bukunya, kini mari kita bahas kebiasaan yang dipraktekkan dan didukung pula oleh kalangan tasawuf dan orang awam, yaitu tahlilan memperingati orang mati.

Dalam pembahasan ini pendekatan yang dipakai adalah ilmu fiqh. Obyeknya adalah kebiasaan sebagian banyak masyarakat Islam mengadakan makan-makan, kumpul-kumpul, dan selamatan dengan diadakan apa yang mereka sebut tahlilan berkaitan dengan orang meninggal.

Persoalan yang dipermasalahkan adalah kenapa umat Islam punya kebiasaan mengadakan selamatan orang mati, yaitu selamatan atau peringatan niga hari (hari ketiga), nujuh hari (hari ketujuh), matang puluh (hari ke-empat puluh), nyatus (hari keseratus), haul (ulang tahun kematian), nyewu (hari keseribu) dan sebagainya.

Kebiasaan masyarakat ini dilihat dari segi aturan Islam bagaimana.

Alat untuk mendekatinya adalah ilmu fiqh, dengan cara:

1. Mengkaji teks-teks fiqh.

2. Mengkaji fatwa-fatwa ulama fiqh dari berbagai madzhab.

3. Mengadakan perbandingan antara apa yang dilakukan di masyarakat diban-dingkan dengan ajaran Islam (yang hukum-hukumnya terkandung dalam fiqh).

4. Menyimpulkan, apakah memang kebiasaan umat Islam itu sesuai dengan ajaran Islam atau tidak.

Sebelum melaksanakan semua persoalan yang akan ditempuh itu, maka lebih dulu diperlukan pemaparan tentang ilmu fiqh itu sendiri.

Ilmu Fiqh

Para ulama fiqh mendefiniskan, Fiqih adalah pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i ‘amali (praktis) yang bersumber dari dalil-dalilnya yang rinci. Fiqh merupakan ilmu aturan perundang-undangan Islam. Tetapi tidak seperti aturan perundang-undangan buatan manusia, fiqh lebih mendalam, lebih lengkap, dan lebih luas cakupannya.[1]

Ilmu fiqh merupakan ilmu yang mengatur kehidupan pribadi dan masyarakat muslim serta umat Islam, negara Islam dengan hukum-hukum syari’at, baik yang berkaitan dengan hubungan seorang muslim dengan Allah, yang diatur oleh fiqh ibadah, ataupun yang berkaitan dengan hubungan antara seorang dengan dirinya sendiri yang diatur oleh fiqh halal haram dan etika kesopanan individual.

Yang berkaitan dengan hubungan antara seorang dengan anggota keluarganya diatur oleh fiqh keluarga yang bersisi soal perkawinan dan yang berkaitan dengannya, yang disebut sebagai ahwal syakhsyiyyah.

Yang berkaiatan dengan pengaturan tukar menukar (jual beli) dan hubungan-hubungan kemasyarakatan antara seseorang dengan orang lain disebut sebagai fiqh mu’amalah dan termasuk di dalam tata-aturan yang disebut undang-undang sipil.

Sementara itu yang berhubungan dengan kejahatan dan pidana disebut fiqh hudud, qishah, dan ta’zir, termasuk dalam tata aturan yang bernama tasyri’ jina’I (hukum pidana).

Sedangkan yang khusus mengenai hubungan antara negara dengan rakyat, antara pemerintah dengan warga negara disebut siyasah syar’iyyah, dan oleh para ahli hukum disebut peraturan perundang-undangan atau peraturan birokrasi.

Terdapat pula jihad dan gerakan yang menjadi bagian hubungan kenegaraan dan lain sebagainya.

Dengan demikian fiqh tidak hanya mengurusai hukum-hukum individual dan keluarga, tetapi juga meliputi kehidupan kemasyarakatan, politik, perundang-undangan, ekonomi, negara dan seluruh aspek kehiduapan.[2]

Kebiasaan kendurian atau selamatan orang mati sebagai obyek

Masalah yang dibicarakan dalam hal ini difokuskan kepada kebiasaan umat Islam mengadakan kendurian atau selamatan/ peringatan berkaitan dengan orang mati. Selamatan orang mati itu diadakan dengan mengadakan upacara kumpul-kumpul di rumah duka pada hari-hari tertentu, sejak hari kematian. Mereka menamakan selamatan itu dengan niga hari, nujuh hari, dua kali tujuh, empat puluh (matang puluh), seratus hari (nyatus), haul (ulang tahun kematian), seribu hari (nyewu) dan seterusnya.

Upacara kumpul-kumpul untuk selamatan orang mati pada hari-hari tertentu itu menurut Prof DR Hamka adalah menirukan agama Hindu. Namun dalam pelaksanaannya, hadirin yang kumpul di rumah duka pada hari-hari tertentu itu membaca bacaan-bacaan tertentu dipimpin oleh imam upacara. Rangkaian bacaan itu disebut tahlil, karena ada bacaan laa ilaaha illallah. Hingga upacara selamatan orang mati itu sendiri di masyarakat disebut tahlilan.

Biasanya pihak yang duka itu justru menjamu makanan, minuman, plus rokok (yang hukumnya dalam Islam rokok itu ada yang memakruhkan dan ada yang mengharamkan), dan kebanyakan masih pula pihak duka membekali makanan untuk dibawa pulang oleh para hadirin. Makanan yang dibawa pulang itu disebut berkat, yang diambil dari lafal Arab barokah, dalam Islam, lafal barokah itu artinya adalah banyak kebaikannya.

Di samping penderita duka itu menyediakan makanan, minuman, rokok, dan berkat, masih pula kadang harus menyediakan duit diselipkan di besek wadah berkat yang dibawa pulang oleh para hadirin itu. Sehingga beban pihak duka itu bertambah-tambah.

Sejak hari kematian, tentang kebiasaan kumpul-kumpul dan makan-makan di rumah duka itu telah berlangsung. Hingga pihak duka justru menyediakan makan, menyembelih hewan dan sebagainya.

Kenyataan tersebut sebenarnya apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, perlu dikaji. Dalam pembahasan ini dikaji dengan cara dibandingkan dengan ajaran Islam dengan cara:

1. Meneliti teks ayat ataupun hadits.

2. Meneliti hukum-hukum yang tertuang di kitab-kitab fiqh, dan

3. Meneliti pendapat-pendapat para ulama dari berbagai madzhab fiqh.

Teks ayat atau hadits mengenai jamuan makan kematian

Sebelum menentukan tentang kebiasaan selamatan peringatan orang mati itu benar atau tidak bila dilihat dari ajaran Islam, lebih dulu diteliti tentang teks-teks mengenai jamuan makan di kala kematian, dan bagaimana tatacara ta’ziyah menurut teks.

Kemudian bagaimana pula pendapat-pendapat para ulama fiqh di sekitar upacara kematian.

Teks hadits di antaranya bisa ditemukan.

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya ketika Ja’far ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia :

اِصْنَعُوْا ِلآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ

Artinya :“Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkannya.” (Hadits shahih riwayat Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Dawud, Tirmnidzi dan Ibnu Majah).

Kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta menyediakan makanan buat yang kumpul-kumpul itu merupakan macam niyahah (meratap yang hukumnya dilarang), karena menyusahkan keluarga si mayit dan mengingatkan mereka kepada si mayit, juga bertentangan dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Jarir ibnu Abdillah berkata:

كُنَّا نَعُدُّ الاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامَ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

Artinya :“Kami menganggap kumpul-kumpul ke (rumah) keluarga si mayit dan penyediaan makanan setelah penguburan si mayit merupakan bagian dari niyahah (meratap).” (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).

3. Niyahah itu merupakan dosa besar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اَلنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْباَلٌ مِنْ قَطِرَانٍ

Artinya :“Wanita yang meratapi (mayit) jika dia tidak taubat sebelum dia meninggal maka dia dibangkitkan di hari kiamat (dalam keadaan di azab) dengan mengenakan pakaian dari cairan tembaga yang meleleh.” (HR. Muslim).

Teks fiqh atau pendapat Imam-imam tentang ta’ziyah, makan-makan, dan selamatan orang mati.

Ta’ziyah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya dilakukan di jalanan atau ketika ada di pekuburan (ketika mau atau sudah mengubur) atau tidak apa-apa datang ke rumah keluarga si mayit tapi tak lama dan tidak duduk.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata di dalam Al-Umm:

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ , وَهِيَ الْجَمَاعَةُ , وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَإِنَّ ذَلِكَ يُجَدِّدُ الْحُزْنَ , وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مَعَ مَا مَضَى فِيهِ مِنْ الْأَثَرِ

“Saya membenci kumpul-kumpul (di rumah mayit) meskipun tidak di sertai tangisan, karena hal itu mengingatkan kesedihan dan menimbulkan beban serta bertentangan dengan atsar.”[3]

Imam An Nawawi berkata :

وَأَمَّا الْجُلُوسُ لِلتَّعْزِيَةِ فَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَالْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ الْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَتِهِ وَنَقَلَهُ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ فِي التَّعْلِيقِ وَآخَرُونَ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ . قَالُوا : يَعْنِي بِالْجُلُوسِ لَهَا أَنْ يَجْتَمِعَ أَهْلُ الْمَيِّتِ فِي بَيْتٍ فَيَقْصِدُهُمْ مَنْ أَرَادَ التَّعْزِيَةَ قَالُوا : بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَنْصَرِفُوا فِي حَوَائِجِهِمْ

Al Imam Asy Syafii dan para pengikut madzhabnya rahimahumullah berkata : “Dan sangat dibenci melakukan duduk untuk ta’ziyah,” mereka berkata :”Maksud dengan duduk ini adalah keluarga si mayit duduk berkumpul agar ada orang yang datang untuk berta’ziyah, seharusnya mereka pergi menunaikan tugasnya sehari-hari.”[4]

Bersambung ……


[1] Taisirul fiqh lilmuslimil mu’ashirah fii dhouil qur’an wassunnah, Fikih Taysir, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 2001, hal 3.

[2] Ibid, hal 3-4.

[3] Imam As-Syafi’I, Al-Umm, juz 1.

[4] Imam An-Nawawi, Majmu’ Syarah Al-Muhaddzab, juz 15.

email
  • orang umum

    @orang awam: 100rb mungkin cukup, tapi itu untuk hari pertama. untuk hari kedua, ketiga dan seterusnya bagaimana? dan apakah lumrah tiap hari selama tahlilan, tamu disuguhkan gorengan melulu?

  • Yuni

    Ijin copy paste, u saya safe. Dan bs jadi bahan pembelajaran.

  • orang awam

    gila tuh orang nyuri kabel.. ga takut kesetrum ya.. tapi.. 700 rbu.. ah alasan aja.. 100 rb aja cukup.. buat beli gorengan kacang.mkanan kecil 50 ribu.. beli akua gelas cukup. undang orang2 untuk bersama2 datang dan membacakan doa.. nantipun sebaliknya jika orang2 itu ada yg mninggal. kita yg datang untuk mendoakanya..

  • http://KISAHNABI adi.anshter.riadi

    asalamu ngalaikum …. setahu aku selamatan mayit pada hari hari tertentu itu sebenarnya tidak ada dalam ajaran agama atau sunah rosul maupun ajaran para nabi dll. harus bagai mana lagi itu sudah jadi tradisi turun temurun sulut untuk ngubah tradisi jaman dahulu………sukron

    • Guest

      > harus bagaimana lagi?

      Setidaknya bila ada keluarga kita yang meninggal maka kita TIDAK tahlilan, dan itulah yang sudah kami lakukan, karena kami lebih takut dan malu pada Allah SWT daripada malu dengan tetangga dan masyarakat sekitar, walaupun waktu itu kami tidak menjawab apa-apa kalau ada yang menanyakan mengapa kami tidak mengadakan acara (tahlilan). Dengan adanya tulisan seperti menjadi bagus buat jadi rujukan untuk mereka supaya belajar bangun dari tidurnya selama ini.

      • Prajuto Sukaeni

        Kalo gitu ntar modin nya gak dapat amplop sama berkat yg dibor itu dong.