Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 2

Sambungan dari …….. Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 1

Masalah Tahlilan Memperingati Orang Mati

Ditinjau dari Ilmu Fiqh – 2

Al Imam Ahmad rahimahullah mengingkari duduk-duduk itu dan beliau berkata :Hal itu termasuk perbuatan jahiliyyah.[1]

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Mufti Syafiiyyah di Makkah mengatakan ketika ditanya tentang hal itu : “Ya, apa yang dilakukan orang-orang berupa kumpul-kumpul di rumah keluarga si mayit serta penyediaan makanan itu adalah merupakan bid’ah munkarah, dan orang yang mengingkarinya mendapatkan pahala.” Kemudian beliau menukil perkataan Ahmad Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfatul Muhtaaj: “… Dan apa yang biasa dilakukan (orang-orang) berupa penyediaan makanan yang dilakukan ahli mayit untuk mengundang orang-orang ke rumahnya adalah merupakan bid’ah yang dibenci dan begitu juga memenuhi undangan itu…” Kemudian Mufti itu menukil perkataan lain dari Hasyiyah Al-‘Allamah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Minhaj, “Dan di antara bid’ah munkarah yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari….. dan dihari ke 40 nya. Semua itu haram hukumnya.”

Dalam Kitab Fathul Bari ditegaskan, “Dibenci hukumnya menerima jamuan (hidangan) dari makanan ahli mayit, karena yang namanya hidangan itu disyariatkan ketika ada suatu kebahagiaan, sedangkan penyediaan hidangan di hari-hari kematian adalah bid’ah.”

Dalam Al-Bazzaziyah, “Dan dibenci membuat hidangan di hari pertama, ketiga dan ketujuh…..”

Fatwa-fatwa itu dikemukakan oleh semua Mufti keempat mazhab.[2]

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri khatib dan pengajar tetap di Masjid Nabawi Madinah berkata: “Dan diantara hal yang wajib ditinggalkan dan dijauhi adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang karena kebodohan (terhadap ajaran Islam) berupa kumpul-kumpul di rumah-rumah (ahli mayit) untuk ta’ziyah serta penyediaan jamuan juga mengeluarkan harta untuk itu (sehingga berbangga-bangga). (Itu tidak boleh) karena salafush shalih (generasi Islam terdahulu yang shalih) tidak pernah kumpul-kumpul di rumah mayit. Tapi mereka saling menta’ziahi di pekuburan, ketika kebetulan berjumpa di mana saja. Dan tak apa menuju ke rumahnya jika tidak mungkin menemuinya di pekuburan atau di jalan. Yang muhdats (bid’ah) adalah kumpul-kumpul yang khusus dan dipersiapkan secara sengaja.[3]

Imam Abu Ishaq Ay-Syairaziy Asy-Syafi’i berkata:

وَيُكْرَهُ الْجُلُوسُ لِلتَّعْزِيَةِ , لِأَنَّ ذَلِكَ مُحْدَثٌ وَالْمُحْدَثُ بِدْعَةٌ

“Dan diantara bid’ah yang sangat dibenci adalah duduk-duduk untuk ta’ziyah karena hal itu adalah muhdats (baru) dan semua yang muhdats itu adalah bid’ah.”[4]

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, “Dan apa yang dilakukan orang –orang pada masa sekarang ini berupa kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, mendirikan tenda-tenda, membentangkan hamparan, menghambur-hamburkan harta yang banyak demi gengsi adalah merupakan hal-hal yang baru dan bid’ah munkarah yang wajib dijauhi oleh semua orang muslim, Dan haram melakukannya, apalagi sering dibarengi dengan hal-hal yang bertentangan dengan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berjalan sesuai dengan adat jahiliyah seperti melagukan Al- Qur’an dan tidak mematuhi adab tilawah, meninggalkan inshat (diam dan tidak ribut) dan menyibukkan dengan merokok dari mendengarkan Al-Qur’an, bahkan mereka itu tidak cukup sampai di sini. Mereka tidak hanya terbatas melakukannya di hari-hari pertama saja, tapi mereka menjadikan hari ke-40 sebagai hari pengulangan kemugkaran-kemungkaran dan bid’ah ini. Dan juga mereka mengadakan peringatan temu tahun (Haul istilah orang Indonesia, pent) pertama, kedua dan seterunya. Hal-hal yang tidak sesuai dengan akal sehat dan dalil yang kuat.[5]

Hal serupa dikemukakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut Syaikhul Azhar (Universitas Al-Azhar Mesir), beliau menambahkan, “……Dan ta’ziyah itu tidak ada di abad-abad pertama (Islam) kecuali ketika mengiringi jenazah atau ketika bertemu pertama kali bagi orang yang tidak ikut mengiringi jenazah,” kemudian dia berkata lagi, “dan dari sini tidak pernah dikenal di dalam ajaran Islam apa yang disebut pada masa sekarang ini dengan nama Kamis kecil atau Kamis besar, apalagi yang namanya ke 40 (matang puluh), temu tahunan (haul) yang mereka gunakan untuk mengingat kesedihan lagi dan mereka mengulang kumpul-kumpul lagi di hari itu dengan meninggalkan pekerjaan rutinnya yang bermanfaat.[6]

Syaikh Abdur Rahman Al-Juzairiy berkata: “Di antara bid’ah yang dibenci adalah yang dilakukan pada masa sekarang ini seperti menyembelih hewan ketika mayit dibawa keluar dari rumah atau (menyembelih) di dekat kuburan dan (seperti) menyediakan makanan buat orang yang berkumpul untuk ta’ziyah dan menghidangkannya kepada mereka seperti dalam acara suka cita. Dan jika di antara ahli waritsnya ada yang belum baligh maka (pihak yang kematian itu, pen) menyiapkan makanan serta menyajikannya kepada mereka (para tamu) adalah haram.” [7]

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata: Dan bukan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kumpul-kumpul untuk ta’ziyah, begitu juga membaca Al-Qur’an buat si mayit, tidak di kuburannya, tidak juga di tempat yang lainnya. Dan semua ini adalah bid’ah haditsah (diadakan secara baru) yang dibenci.[8]

Perbandingan

1. Jamuan makan dan upacara kumpul-kumpul yang berkaitan dengan kematian adalah merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia.

2. Teks hadits mengenai kematian, justru pihak kematian itulah yang harus dibantu disediakan makan. Bukan menyediakan makan untuk penta’ziyah.

3. Teks hadits tentang kumpul-kumpul dengan penyediaan makan oleh pihak si mayit adalah termasuk niyahah, yaitu meratap yang hukumnya haram, karena termasuk tingkah jahiliyah.

4. Teks fiqh dan fatwa para ulama dari empat madzhab dan ulama masa kini, semuanya menilai bahwa acara kumpul-kumpul dan makan-makan berkaitan dengan kematian adalah bid’ah munkaroh yang harus dijauhi.

Kesimpulan

Dari kenyataan itu bisa diperbandingkan dan disimpulkan:

Adat kebiasaan berkaitan dengan kematian yaitu jamuan makan, kumpul-kumpul, dan peringatan orang mati yang berlangsung di kalangan ummat Islam ternyata bertolak belakang dengan ajaran Islam, baik teks hadits maupun teks fiqh serta fatwa para ulama dari berbagai madzhab, klasik maupun masa kini.

Kesimpulan yang nyata di masyarakat itu, bisa dihubungkan dengan pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّيْنَ

Artinya: Sesungguhnya yang saya takutkan atas umatku hanyalah para Imam (ulama, pemuka) yang menyesatkan. (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud dan Al-Barqani).

Catatan

Pendekatan lewat fiqh pada dasarnya adalah mengkategorikan, termasuk madzhab yang manakah peristiwa yang diteliti itu.. Apakah termasuk dalam madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i atau Hanbali. Peneliti mencocokkan kejadian yang diteliti itu dengan faham madzhab-madzhab tersebut.

Kadang-kadang suatu peristiwa, bahkan telah menjadi kebiasaan di masyarakat, Islam, tetapi ternyata tidak cocok bila dirujuk kepada madzhab-madzhab fiqh manapun. Hal itu ada dua kemungkinan. Pertama, memang kejadian itu menyimpang dari agama, sehingga dengan fiqh jenis madzhab manapun tidak sesuai. Kedua, mungkin persoalan itu baru, sehingga belum ada di dalam kitab-kitab fiqh.

Apabila persoalan itu baru, maka diperlukan adanya ijtihad oleh ulama yang ahlinya. Sedang peneliti hanya bisa sampai pada kesimpulan bahwa persoalan itu belum ada di kitab-kitab fiqh dalam madzhab manapun. Meskipun demikian, kalau peneliti itu memiliki keahlian dan memenuhi syarat-syarat untuk berijtihad, maka dia berhak berijtihad. Namun hal yang dilakukannya bukan lagi sekadar sebagai peneliti kasus dengan alat ilmu fiqh, karena dia sudah melangkah ke tingkat yang hanya dijamah oleh mujtahid, yang kaitannya adalah menggali persoalan sedalam-dalamnya dengan mencari dalil-dalilnya untuk menentukan hukum.

Peneliti yang sebenarnya justru yang seperti itu, kalau menyangkut agama. Atau paling kurang adalah mengumpulkan berbagai pendapat dari madzhab-madzhab, lalu mentarjihnya, yaitu menentukan mana yang paling kuat dalilnya. Tetapi dalam kenyataan sampai sekarang, penelitian agama itu hanya seperti penelitian yang berlaku di ilmu-ilmu sosial, maka pada dasarnya hanya seperti investigasi wartawan, yang tidak ada nilai benar atau batilnya peristiwa yang ditelitinya. Penelitian semacam itu punya resiko menyesatkan, bila dilihat dari ajaran agama. Karena tidak bisa menjangkau mana yang benar / rajih (kuat) menurut dalil agama.

Sayangnya metode penelitian agama pun tidak mengarah ke penelitian yang sebenarnya, hingga tak lebih dari sekadar penelitian sosial dan sebagainya. Bahkan tidak jarang, yang digunakan sebagai tolok ukur pun ilmu-ilmu sosial yang tak mampu menjangkau kaidah-kaidah agama. Makanya tak mengherankan, orang yang diangkat sebagai peneliti ahli bidang agama dengan julukan Ahli Peneliti Utama (APU) pun justru dirinya mengikuti aliran sesat Ahmadiyah, misalnya. Itu benar-benar terjadi di Indonesia ini, yaitu Johan Effendi seorang anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah, malah diangkat secara resmi sebagai APU (Ahli Peneliti Utama) oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali waktu rejim Soeharto sebelum 1990-an. Pidato pengukuhannya pun menghadirkan para pejabat tinggi di lingkungan Departemen Agama. Juga Dr Musdah Mulia yang berpredikat APU, ternyata justru membuat buku controversial berjudul Conter Draft Legal Kompilasi Hukum Islam, yang isinya sangat bertentangan dengan Islam, di antaranya laki-laki dikenai ‘iddah (masa tunggu untuk bolehnya nikah setelah cerai hidup atau cerai mati).

Di samping kasus seperti tersebut di atas, tidak sedikit pula peneliti agama yang masih bercokol dalam bid’ah-bid’ah. Itu kasus yang pantas diteliti pula. Jadi umat Islam Indonesia ini secara gampangnya, banyak yang mengamalkan kebiasaan-kebiasaan bid’ah dan bertentangan dengan Islam. Malah kebiasaan bid’ah itu dilindungi bahkan dikembangkan oleh sebagian kiai atau bahkan ulama dan organisasi-organisasi yang doyan bid’ah. Lalu oleh para peneliti agama yang mungkin mereka tergolong dalam aliran sesat atau pun kaum bid’ah melegitimasi kebiasaan bid’ah itu. Kemudian pihak-pihak sekuler termasuk orang-orang pemerintah menggunakan kesempatan itu untuk mendukung sikap anti Islamnya atau menghadapi lawan politiknya yang dianggap mau menegakkan syari’at Islam. Maka bid’ah dan kesesatan di Indonesia ini justru bisa dibilang dipelihara untuk menjadi salah satu alat penghalang akan tegaknya syari’at Islam. Hal itu sangat difahami oleh para anti Islam, baik dalam negeri maupun luar negeri. Maka mereka ramai-ramai saling mencari proyek untuk melestarikan bid’ah dan kesesatan itu, sambil mencari hasil untuk kepentingan dunia sesaat sambil mempecundangi Islam dengan berwajah seolah mereka Muslim.

Mudah-mudahan orang yang memperjuangkan Islam senantiasa diunggulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambah sakit dan derita orang-orang yang menurut Al-Qur’an disebut di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambahi mereka penyakit. Berbahagialah orang yang mengikuti petunjuk Allah dan Rasulnya, dan sengsaralah orang yang melawan dan menyelisihinya, walau berpenampilan sebagai Muslim. (Hartono Ahmad Jaiz, Tarekat, Tasawuf, Tahlilan, dan Maulidan, Pustaka WIP, Solo).


[1] Matholib Ulin Nuha, juz 1:

وَ ( لَا ) يُصْنَعُ الطَّعَامُ ( لِمَنْ يَجْتَمِعُ عِنْدَهُمْ ) , أَيْ : أَهْلِ الْمَيِّتِ , ( فَيُكْرَهُ ) , لِأَنَّهُ إعَانَةٌ عَلَى مَكْرُوهٍ , وَهُوَ الِاجْتِمَاعُ عِنْدَهُمْ , قَالَ أَحْمَدُ : إنَّهُ مِنْ أَفْعَالِ الْجَاهِلِيَّةِ , وَأَنْكَرَهُ شَدِيدًا

[2] Abu Bakar Al-Bakri Asy-Syafi’i إ عانة ا لطا لبين 2/145-146

[3] Minhajul Muslim hal: 282

[4] Al-Muhadzdzab 1/39

[5] Fiqhussunnah 1/476

[6] Al-Fatawaa, Dirasat Limusykilaatil muslim Al-Mu’ashir fi Hayaatihil Yaumiyyah 217.

[7] (AlFiqhu ‘Ala Al Madzhabib Al-Arba’ah 1/539)

[8] Zaadul Ma’ad 1/442.

(Penelitian teks-teks hadits dan fiqh ini atas bantuan ketekunan Ustadz A A Sulaiman, seorang ustadz alumni Syari’ah LIPIA Jakarta yang hafal Al-Qur’an).

  • sheilaadiriyadi

    memang, kenyataannya tahlilan sudah di anggap sebagai sesuatu yang lebih syakral ketimbang sholat lima waktu. memprihatinkan

    • Guest

      Ironis ya, bahkan kami sempat dimusuhi tetangga dan keluarga karena tidak mengadakan tahlilan. Tapi kami hanya tawakkal dan mengharap ganjaran kami sama Allah SWT (bukan pada manusia/makhluk).