Masjid dan cerita mistis yang membahayakan keimanan

Masjid dan cerita mistis yang membahayakan keimanan

Ilustrasi: Masjid Istiqlal Jakarta – id.wikipedia.org

  • Pembodohan dan penjerumusan serta penyesatan yang menghancurkan keimanan Ummat Islam terjadi di mana-mana. Itu perlu diberantas. Para ulama di MUI dan ormas-ormas Islam serta lembaga lainnya akan ditanya tanggung jawabnya di akherat kelak. Terutama MUI Pusat dan ormas-ormas Islam tingkat pusat, wajib bertanggung jawab atas semakin banyaknya kemusyrikan yang dikembang suburkan di Indonesia, lebih-lebih setelah adanya apa yang disebut otonomi daerah.
  • Relakah negeri yang penduduknya mayoritas Ummat Islam ini dikembalikan kepada kemusyrikan oleh para penguasa dhalim lagi korup di seluruh Indonesia ini?

***

DALAM ARTI BAHASA, masjid berarti tempat sujud. Tentu yang dimaksud sujud di sini adalah berkaitan dengan makna mengesakan Allah (tauhid): mendirikan shalat, belajar Al-Qur’an, dan sebagainya. Namun dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menemukan keberadaan sebuah masjid yang dikait-kaitkan dengan cerita mistis yang justru cenderung menyekutukan Allah.

Di Indonesia, yang sebagian masyarakatnya masih cenderung kepada bid’ah, takhayul dan khurafat, ada sejumlah masjid yang sumber airnya disebut-sebut memiliki kualitas yang sama dengan air Zam Zam. Misalnya, sebagaimana diyakini sebagian masyarakat terhadap sumber air yang berada di pelataran Masjid KH Abdurrahman  di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Masjid yang dinamakan sama dengan nama pendirinya ini, mempunyai sebuah sumur (tua) sebagai sumber air yang diupayakan oleh KH Abdurrahman sendiri. Alkisah, KH Abdurrahman (diperkirakan wafat pada 6 April 1875 Masehi atau 29 Safar 1292 Hijriyah) sempat belajar ke Mekkah dan Madinah selama empat tahun, khususnya belajar tentang tarikat Sattariyah dari para ulama di sana. (Tentang kesesatan tarekat, silakan baca: MEMBONGKAR KESESATAN SUFI, TAREKAT, DAN TASAWUF, dari buku Tasawuf Belitan Iblis
karya H Hartono Ahmad Jaiz)

Semasa KH Abdurrahman belajar tarikat, ia sempat membuat rajah (wifiq atau jimat) dan diceburkan ke sumur Zam Zam. Sekembalinya ia ke Tegalrejo, dibuatnyalah sebuah sumur sebagai sumber air. Ternyata, rajah yang pernah ia cemplungkan ke sumur Zam Zam di Mekkah sebelumnya, konon muncul di sumur yang sedang digalinya.

Rajah dalam pemahaman sehari-hari mungkin lebih dekat dengan istilah tato (tattoo). Namun dalam konteks ilmu kebatinan, tarikat dan sebagainya, rajah atau wifiq atau jimat merupakan tulisan tangan yang dipercaya mempunyai kekuatan ghaib. Tulisan tangan ini bisa berupa aksara Arab, angka, gambar, huruf, atau simbol-simbol tertentu yang maknanya hanya diketahui oleh si pembuat. Rajah biasanya ditorehkan di atas (semacam) kertas kalkir, kain, dan benda-benda lain yang memungkinkan.

Itu mengandung kemusyrikan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik(HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahihsebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 492).

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim (43: 179), dari Hudzaifah, di mana ia pernah melihat seseorang memakai benang untuk mencegah demam, kemudian ia memotongnya. Lantas Hudzaifah membacakan firman Allah Ta’ala,

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 106)

Begitu pula Waki’  pernah meriwayatkan dari Hudzaifah. Beliau pernah mengunjungi orang sakit. Lantas beliau melihat-lihat di lengan atas orang sakit tersebut dan mendapati benang. Hudzaifah pun bertanya, “Apa ini?” “Ini adalah sesuatu yang bisa menjagaku dari rasa sakit tersebut”, jawab orang sakit tadi. Lantas Hudzaifah pun memotong benang tadi. Lantas Hudzaifah berkata, “Seandainya engkau mati dalam keadaan engkau masih mengenakan benang ini, aku tidak akan menyolatkanmu” (Fathul Majid, 132). (lihat Kesyirikan pada Jimat dan Rajah, Rabu, 25 Januari 2012 05:00 Muhammad Abduh Tuasika, www.rumaysho.com).

Kembali mengenai sumur berhubungan dengan sumur zam-zam, entah siapa yang mulai mensosialisasikan cerita mistis bernuansa pembodohan itu kepada masyarakat sekitar, bahwa sumur yang digali KH Abdurrahman di Dusun Tegalrejo punya hubungan dengan sumur Zam Zam yang ada di Mekkah. Bahkan saking percayanya, sejumlah warga hampir setiap hari terlihat antre menunggu giliran menimba air dari sumur: ada yang membawa jeriken, bekas galon air mineral, dan sebagainya.

Mereka percaya, bahwa air pada sumur tua itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk gangguan jiwa yang dialami seseorang. Di bulan Ramadhan, peminat air sumur tua semakin banyak dibanding bulan-bulan lainnya. Umumnya mereka mengharapkan keberkahan dan kesehatan. Harapan dan doa yang dipanjatkan kepada Allah mereka yakini akan lebih mustajab usai meminum atau membasuh muka dengan air tersebut.

Di tempat asalnya, sumur Zam Zam berada dalam kawasan Masjidil Haram, Mekah, sebelah tenggara Ka’bah, dengan kedalaman sekitar 42 meter. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut air zam-zam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.” (H.R. Muslim)

Masih di Jawa Timur, ada sebuah masjid tua yang sumber airnya juga dipercaya berkhasiat sebagaimana air Zam Zam. Namanya, Masjid Jami’ Peneleh yang terletak di Jalan Peneleh V No 41, Surabaya, Jawa Timur, tak jauh dari kediaman Haji Oemar Said Tjokroaminoto dulu.

Konon Masjid Jami’ Peneleh ini dibangun pada tahun 1421, beberapa bulan sebelum Masjid Ampel didirikan. Sebagian masyarakat percaya, air yang berasal dari sumur Masjid Peneleh ini kualitasnya sepadan dengan sumur di Masjid Ampel dan air Zam Zam di Mekah.

Mereka juga percaya, bahwa sumur di Masjid Jami’ Peneleh ini merupakan petilasan (makam) Sunan Ampel atau Raden Rahmad, sehingga siapa saja yang berwudhu’ dengan air tersebut akan mendapat keberkahan. Oleh karena itu, banyak warga masyarakat yang selain shalat juga membawa pulang sejumlah air yang berasal dari sumur tua tersebut, karena mereka percaya air itu berkhasiat.

Dalam Islam, untuk mempercayai sesuatu seperti itu maka harus berlandaskan dalil. Sebagaimana tentang keberkahan air zamzam memang ada dalilnya. Ketika tanpa dalil, maka tidak boleh dipercayai.

Di Jawa Barat, ada Masjid Agung Karawang yang keberadaannya berselimut cerita mistis. Masjid Agung Karawang ini konon didirikan oleh Syekh Quro alias Syekh Hasanuddin yang konon berasal dari Champa (Kamboja) pada tahun 1418 Masehi. Dari Champa, Syekh Quro berlabuh di Desa Bunut, Karawang, Jawa Barat dan mendirikan musholla dan pesantren, yang kini menjadi masjid Agung Karawang.

Sebagian masyarakat percaya, siapa saja yang bertawasul dan I’tikaf di masjid ini, maka akan terkabul segala hajat yang dimintanya. Berdasarkan kepercayaan itu, tak heran bila banyak pejabat dan calon pejabat yang bermunajat di Masjid ini.

Untuk mempercayai bahwa satu masjid ada keutamaannya tersendiri, harus ada dalilnya. Sebagaimana dalil tentang shalat di masjid Nabawi mendapatkan pahala 1000 shalat dibandingkan masjid lain selain masjid Al Haram Mekkah.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 shalat dari masjid lainnya kecuali masjid Al Haram”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika kepercayaan dibangun di atas cerita belaka, dan bukan berdasarkan dalil yang shahih maka jelas itu bukan dari ajaran Islam.

Di Provinsi Riau, ada sebuah Masjid bernama Masjid Jami’ Air Tiris yang terletak di Jalan Pasar Usang, Desa Tanjung Barulak, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar. Sebagian masyarakat percaya, masjid megah ini menyimpan cerita mistis. Konon, pada zaman penjajahan, kolonialis Belanda beberapa kali mencoba membakar masjid tersebut, namun tak pernah berhasil. Inilah ‘kehebatan’ historis masjid ini.

Masih ada lagi. Di bak air tempat wudhu’ ada seonggok batu berbentuk kepala kerbau yang posisinya selalu berpindah-pindah dari sudut ke sudut lain. Batu itu berjalan sendiri tanpa ada yang memindahkannya. Bahkan, air bening pada bak tersebut dipercaya berkhasiat: siapa saja yang meminum atau sekedar mengusap air itu ke bagian tubuhnya untuk maksud tertentu, akan terkabul doanya.

Konon, masjid Jami’ Air Tiris ini pernah luput dari musibah bencana banjir, ketika hampir semua tempat dan rumah di sekitarnya terendam air. “Kendati airnya tinggi dan merendam rumah panggung di sekitarnya, namun air di sekeliling masjid seperti mencekung ke bawah dan tak pernah masuk ke dalam masjid. Saya menyaksikan sendiri peristiwa tersebut,” kisah Muhammad Ali, Kepala Desa Air Tiris yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Masjid Jami Air Tiris ini.

Tokoh legendaris Masjid Jami’ Air Tiris ini adalah Engku Mudo Sangkal, yang memimpin pendirian masjid tersebut bersama masyarakat sekitar pada tahun 1901 Masehi. Kini, masjid tersebut dikeramatkan dan banyak diziarahi sejumlah orang, termasuk wisatawan asal Singapura dan Malaysia.

Keyakinan ini pun perlu dalil. Dan ternyata tidak ada dalil yang menunjang. Kalau tentang air zamzam kan dalilnya jelas. Jadi keyakinan berdasarkan cerita mistis ini adalah keyakinan palsu, bukan dari Islam.

Masih di Provinsi Riau, ada sebuah masjid yang dibangun tahun 1926, namanya Masjid Raya Pekanbaru. Di areal masjid ini, terdapat makam keluarga Sultan Siak. Juga, terdapat sebuah sumur tua yang airnya tidak kering meski di musim kemarau sekalipun. Sumur tua yang terletak  di sebelah kiri bangunan masjid ini, kedalamannya hanya enam meter. Namun pancaran airnya deras memancar, meski lokasi sumur dan masjid berada di ketinggian bukit. Padahal, biasanya daerah berbukit sangat sulit untuk mendapatkan air.  Apalagi, konon pengurus masjid pernah membuat sumur bor yang berlokasi tak jauh dari sumur tua itu. Untuk mendapatkan air, sumur bor harus mencapai kedalaman 300 meter. Itu pun tak sederas sumur tua.

Boleh jadi keunikan itu yang membuat masyarakat meyakini bahwa air sumur tua tersebut berkhasiat, seperti dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang mereka derita. “Sampai sekarang, warga dari berbagai kota baik dari Jakarta, Medan, Yogja dan Kuala Lumpur, sering mandi di sumur ini..,” kata Azhar Kasim, pengurus Masjid Raya Pekanbaru.

Bila sembuhnya penyakit karena mandi dengan air sumur tua itu dilandasi keyakinan bahwa itu punya khasiat, maka harus ada dalilnya. Tetapi kalau karena ada kandungan obat, misalnya mengandung belerang dan semacamnya, maka cukup difahami  bahwa itu karena mengandung unsure obat. Sehingga kita perlu hati-hati dan cermat, tidak boleh menganggap sesuatu berkhasiat kecuali ada dalil. Bila tidak, maka terancam aqidah kita. Misalnya mempercayai bahwa itu air keramat. Padahal pengkeramatan terhadap benda itu sama dengan membuat tandingan bagi Allah Ta’ala, yaitu dosa besar. Maka wajib sangat hati-hati. Pihak kesehatan perlu membuktikan, lalu memberi penjelasan kepada masyarakat, seperti apa sebenarnya unsur-unsur dalam air yang dikeramatkan itu. Bila tidak dibuktikan dan dijelaskan, maka masyarakat makin terseret kepada rusaknya keimanan, karena membuat tandingan bagi Allah Ta’ala, yakni mempercayai kekuatan bahkan kekeramatan tanpa dalil dan tanpa bukti ilmiyah.

Masalah mengambil manfaat dan menolak bahaya dengan benda

 Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

“Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda  dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkar.com dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)

Kembali ke cerita mistis

Di NAD (Nanggroe Aceh Darusalam) yang dijuluki Serambi Mekah, cerita mistis yang menghiasi sebuah masjid juga bisa ditemukan. Salah satunya, Masjid Nurul Huda yang terletak di Desa Pulo Kambing, Kecamtan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan.

Menurut Tgk Bileue Mesjid, ada sejumlah misteri yang meliputi masjid ini. Salah satunya, berupa keluarnya air pada salah satu tiang. Masjid Nurul Huda ini terbuat dari kayu, begitu juga dengan keempat tiangnya. Di salah satu tiang (yang pernah) memancarkan air ini, dimanfaatkan warga untuk melepaskan nazar, memandikan anak-anak mereka dengan air yang keluar dari tiang tersebut. Mereka percaya, air yang keluar itu memiliki khasiat dan tergolong air suci.

Sejak 1998, air tidak lagi memancar dari sela-sela salah satu tiang Masjid Nurul Huda. Namun, tetap saja dianggap keramat oleh warga setempat. Bahkan, hampir setiap hari Jum’at ada saja warga yang berdatangan untuk bernazar dan memandikan anak-anak mereka.

Aneh, dan sekaligus memprihatinkan. Ketika airnya masih memancar dari tiang pun bila itu dikeramatkan, maka telah menyimpang dari keyakinan yang benar. Karena air zamzam yang jelas-jelas ada hadits shahihnya tentang keutamaannya pun tidak boleh dikeramatkan. Apalagi kasus di Aceh ini, airnya sudah tidak ada yang memancar dari situ sejak 1998, sudah 14 tahun lalu, lha kok masih dikeramatkan bahkan didatangi sampai-sampai disertai nazra pula. Itu jelas-jelas penyimpangan aqidah secara nyata. Berlebih-lebihan dan tanpa dasar.

Di tengah-tengah kota metropolitan Jakarta, sejumlah masjid lawas menyimpan cerita mistis di dalamnya. Salah satunya Masjid Jami’ Al-Mukaromah yang terletak di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Masjid ini konon dibangun oleh Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri pada tahun 1789. Masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Masjid Kampung Bandan.

Masjid Kampung Bandan ini dianggap keramat, setidaknya karena beberapa hal. Pertama, di areal masjid ini ada makam Habib Mohamad Bin Umar Alkudsi, Habib Ali Bin Abdurrahman Ba’alwi dan Habib Abdurrahman Bin Alwi Asysyathri sendiri. Ketiganya dipercaya  sebagai ulama penyebar Islam, dan dipercaya sebagai keturunan nabi Muhammad saw (versi syi’ah?).

Kedua, di halaman masjid ini konon tumbuh pohon kurma yang tingginya mencapai lima meter, berbuah satu tahun sekali di bulan Ramadhan, dan hanya berjumlah lima tandan. Buahnya tidak berbiji, sehingga tidak bisa dikembang-biakkan. Selain tak berbiji, buah kurma yang dihasilkan  terasa manis dan kenyal.

Ketiga, ada sebuah sumur tua yang (kini) terletak tepat di depan mimbar masjid. Sejak digali (1789) hingga kini sumur tua ini tidak pernah kering meski pada musim kemarau panjang. Bahkan ada yang percaya, rasa air sumur ini sama seperti air Zam Zam yang berada di Makkah. Sehingga tidak perlu dimasak terlebih dulu untuk diminum. Air dari sumur tua ini oleh sebagian masyarakat dipercaya juga sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan dipercaya bisa digunakan untuk berbagai keperluan.

Keempat, konon di tahun 1994 ada rencana membangun jalan tol-layang yang mengharuskan menggusur sebagian lahan masjid. Namun hal itu tak terwujud, karena secara ajaib tiang pancang bakal jalan tol-layang tersebut rubuh. Akhirnya rencana jalan tol-layang digeser ke arah selatan, sehingga tidak melintasi makam yang ada di areal Masjid Kampung Bandan. Pada tahun 2001, Masjid Kampung Bandan luput dari jilatan api, padahal rumah-rumah dalam radius satu RW dari pemakaman ludes terbakar.

Bagaimanapun, cerita-cerita mistis dan pengkeramatan itu adalah merusak aqidah Islam. Karena menganggap benda memiliki tuah, kekeramatan; yang hal itu bertentangan dengan aqidah Islam. Semulia-mulianya kubur adalah kuburan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apakah boleh kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dikeramatkan?

Kepercayaan berdasarkan cerita mistik itu merupakan keyakinan yang ghuluw, melampaui batas. Jadi jelas merusak agama. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ ” (إسناده صحيح على شرط مسلم)

Jauhilah oleh kalian sikap ghuluw( melampaui batas). Karena rusaknya otang sebelum kalian dulu adalah karena ghuluw (ber;ebihan) dalam agama. (HR Ahmad, sanadnya shahih atas syarat Muslim)

Di Ponorogo, Jawa Timur ada sebuah Masjid yang terletak di desa Tegalsari Kecamatan Jetis. Namanya Masjid Tegalsari. Masjid ini didirikan oleh kiai yang konon amat sakti (1742). Yaitu, Kyai Ageng Hasan Besari dan Kiai Kasan Besari. Sepintas Masjid Tegalsari hampir mirip dengan Masjid Agung Demak. Letak pintu dan jendelanya nyaris sama.

Sebagaimana bisa dikutip dari remasabubakar.blogspot.com, konon tiang yang terbuat dari kayu jati tidak dapat berdiri tegak. Namun dengan kesaktian yang dimiliki Kiai Kasan Besari, kayu itupun ditampar. Usai ditampar, tiba-tiba kayu itu berdiri tegak, dan akhirnya menjadi tiang utama dari Masjid Tegalsari.

Di salah satu pojok, sebuah tiang masjid tidak dapat ditancapkan ke tiang yang lain, karena ujungnya kurang tajam. Namun dengan kesaktian yang dimiliki Kyai Kasan Besari, ia mengurut kayu itu hingga ujung tiang menjadi lancip. Maka, tiang itu pun dapat ditancapkan lagi ke tiang utama tanpa memakai paku.

Di sini pula didirikan Pondok Pesantren Tegalsari, yang sudah menghasilkan ribuan santri. Antara lain, sang peramal kondang Ronggowarsito. Juga, HOS Tjokroaminoto yang juga dikenal sebagai orang Indonesia pertama menjadi pengikut Ahmadiyah Lahore. Dari sosok HOS Tjokroaminoto ini kemudian lahir tiga tokoh nasional seperti Ir. Soekarno (PNI), Semaun (PKI), dan SM Kartosoewirjo (DI/TII).

Dari cerita mistis itu coba kita bandingkan dengan Nabi Nuh ‘alaihis salam yang membuat perahu. Apakah nabi Nuh ‘alaihis salam dijuluki sebagai orang sakti? Kenapa kyai yang hanya mendirikan tiang masjid disebut sakti?

Perlu keyakinan Ummat Islam diluruskan dan dijauhkan dari hal-hal yang berlebihan. Kalau toh seseorang mendapatkan karomah dari Allah, misalnya, tidak perlu dianggap sebagai sakti. Karena para nabi saja tidak sakti. Padahal bukan hanya mendapat karomah tetapi bahkan mu’jizat.

***

Di Kalimantan Selatan, sosok masjid yang juga diliputi kisah mistis diantaranya berada di desa Jarang Kuantan, kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Masjid yang lebih populer disebut dengan nama Masjid Jami Sungai Banar ini terletak di tepi Sungai Negara, sekitar 3 km dari Amuntai, dan merupakan Masjid pertama di Amuntai yang berdiri pada tahun 1804 Masehi (1218 Hijriyah).

Salah satu cerita mistis yang menghiasi pendirian masjid ini antara lain tentang hilangnya sejumlah tiang besar yang terbuat dari kayu ulin dari tempatnya semula. Tiang besar kayu ulin yang sangat berat itu rasanya mustahil bisa dipindahkan dengan mudah. Setelah dicari-cari, akhirnya ditemukan. Tiang besar kayu ulin tadi berada di tepi sungai. Peristiwa itu dimaknai sebagai isyarat ghaib yang menunjukkan lokasi masjid yang akan dibangun seharusnya berada. Bahkan, di kemudian hari tiang-tiang masjid tersebut ada yang mengeramatkan.

Cerita kedua berkenaan dengan kedatangan sesosok pria yang diyakini sebagai waliyullah. Pria itu turun dari perahu, dan shalat di masjid yang baru didirikan. Usai shalat, sang pria melanjutkan perjalannya dengan perahu menyusuri sungai (yang saat itu belum mempunyai nama). Namun, sebungkus besar uang miliknya tertinggal tak jauh dari tempat perahu sang wali tadi ditambatkan. Masyarakat pun bersepakat untuk menyimpan uang tersebut, dan akan diserahkan kepada sang pria manakala ia kembali ke daerah tersebut.

Beberapa hari kemudian, sang pria misterius yang kemudian hari diyakini merupakan waliyullah ini, kembali ke masjid yang baru dibangun. Oleh masyarakat setempat, kantong berisi uang tadi diberikan kepadanya, bahkan sang pria misterius ini dijamu makan dan minum sebagaimana layaknya tamu.

Sang pria misterius tadi tentu saja amat terkesan dengan kejujuran dan keramahan masyarakat sekitar masjid. Maka ia pun berkomentar: “Urang-urang sini banar-banar kadada nang culasnya (orang-orang di sini benar-benar tidak ada yang culas).”

Usai dijamu, sang pria misterius tadi bertanya tentang nama sungai tempat perahunya ditambatkan, juga nama masjid tempat dirinya menunaikan shalat. Ketika itu sungai dan masjid belum mempunyai nama, sehingga sang pria misterius tadi berinisiatif mengusulkan sebuah nama, yaitu Sungai Banar dan Masjid Sungai Banar. Usulan itu serentak diterima masyarakat.

Masyarakat meyakini nama Sungai Banar dan Masjid Sungai Banar merupakan pemberian dari waliyullah. Sehingga upaya penggantian nama Masjid selalu mengalami kegagalan. Misalnya, di tahun 1990 nama masjid pernah diganti menjadi Masjid Baiturrahman. Tahun 2000, muncul nama baru yaitu Masjid Istiqomah. Namun masyarakat merasa asing dengan nama-nama baru itu. Masyarakat lebih dekat dengan nama Masjid Jami Sungai Banar.

Selain ada kisah pria misterius, dari masjid ini juga hadir kisah mistis yang merujuk kepada sosok bernama Tuan Guru H. Abdul Hamid, salah seorang ulama besar yang dikenal dengan kedalaman ilmunya, juga karena karomahnya. Salah satu karomah Tuan Guru H. Abdul Hamid adalah tubuhnya terlihat melayang seperti terbang saat sedang i’tikaf di bulan Ramadhan.

Cerita mistis lainnya, berkaitan dengan ibadah haji. Sebagian masyarakat percaya, apabila seseorang berkeinginan beribadah haji ke Makkah, namun dana tak mencukupi, maka bertirakatlah ke Masjid Jami Sungai Banar ini: beribadah, berdoa sambil menangis agar Tuhan mewujudkan keinginannya. Konon, banyak yang berhasil pergi haji usai bertirakat di Masjid Jami Sungai Banar ini.

Masjid Jami Sungai Banar ini juga menjadi salah satu tujuan ziarah. Para peziarah berasal dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari negeri tetangga. Para peziarah selain berhajat agar bisa naik haji, juga bermaksud meminta jodoh, agar usahanya laris, dan sebagainya. Oleh pemerintah setempat, masjid ini kemudian dijadikan salah satu cagar budaya tempatan, sehingga para peziarah pun semakin ramai berkunjung.

Sekali lagi menganggap ada kelebihan tertentu dari satu tempat walaupun masjid, maka harus ada dalilnya. Seperti Masjid Haram Makkah diyakini ada keutamaannya, katrna ada dalilnya. Ketika tidak, maka tidak boleh dipercayai, apalagi sampai dikeramatkan.

***

Di kawasan Sulawesi, khususnya Sulawesi Tenggara, ada sebuah masjid yang dipercaya mempunyai lubang menuju Mekkah. Masjid peninggalan Kerajaan Islam Buton (1332-1960) ini terletak di Kota Bau-bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Nama resminya Masjid Agung Keraton Buton, namun juga dikenal dengan nama Masjid Agung Wolio.

Menurut situs resmi Pariwista Indonesia, di dalam Masjid Agung Keraton Buton ini terdapat pusena (pusatnya bumi) berbentuk lubang yang berada tepat di belakang Mihrab. Konon, dari pusena ini sering terdengar suara azan dari Mekkah, Arab Saudi. Bahkan sebagian masyarakat lainnya percaya bahwa pusena ini merupakan gua bawah tanah yang bila dimasuki bisa langsung membawa pelakunya menuju ke Mekkah. Cerita mistis lainnya, konon melalui lubang pusena ini kita bisa melihat orangtua atau kaum kerabat kita yang sudah lebih dulu meningggal dunia.

Oleh pemerintah setempat, cerita mistis bernuansa pembodohan tadi justru dijadikan nilai tambah bagi Masjid Agung Keraton Buton, sehingga menjadi sesuatu yang diangapnya layak bagi tujuan wisata ziarah.

Mestinya pemerintah itu menyelamatkan keimanan Ummat. Bukan justru menjerumuskan. Oleh karena itu, pembodohan dan penjerumusan serta penyesatan semacam itu perlu diberantas. Para ulama akan ditanya tanggung jawabnya. Termasuk MUI Pusat, wajib bertanggung jawab atas semakin banyaknya kemusyrikan yang dikembang suburkan di Indonesia, lebih-lebih setelah adanya apa yang disebut otonomi daerah.

Cerita mistis bernuansa pembodohan juga muncul dari sesosok masjid yang dipercaya merupakan peninggalan Sunan Kalijaga, salah satu personil walisongo. Masjid yang berada di Desa Kedundang, Kulonprogo, Jogjakarta ini, lebih dikenal dengan sebutan Masjid Sunan Kalijaga.

Konon, masjid tersebut berdiri di atas rasa penyesalan seorang janda kaya yang telah bersikap sombong terhadap seorang pengemis yang datang saat ia memperingati hari kematian suami dengan kenduri besar-besaran. Ternyata pengemis yang dia usir tadi adalah Sunan Kalijaga yang sedang menyamar. Didorong oleh perasaan malu dan penyesalan, akhirnya janda kaya tadi memanfaatkan seluruh hartanya untuk digunakan membangun sebuah masjid.

***

Begitulah secuplik data yang bisa kami sajikan kepada pembaca, tentang keberadaan sjeumlah masjid yang diwarnai cerita mistis bernuansa pembodohan. Tentu masih banyak lainnya. Namun kami cukupkan sampai di sini saja, sebagai contoh semata. Semoga melalui tulisan ini mereka yang menghidup-hidupkan cerita mistis bernuansa pembodohan tadi mendapat hidayah Allah. Amin

 

(haji/tede/nahimunkar.com)