Mengenang Dua Ustadz Dewan Dakwah

Mengenang Dua Ustadz Dewan Dakwah

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  [البقرة/156]

Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. (QS Al-Baqarah: 156).

Kiri: Ketua Majlis Fatwa DDII, Drs.H.Dahlan Bashri, MA/ Foto wocare.blogspot.com. Kanan:      Ustadz KH Muzayyin Abdul Wahhab Lc. (baju batik/ baru.eramuslim.com)

Dua pemimpin Dewan Da’wah yakni Ustadz Muzayyin Abdul Wahhab dan Ustadz Dahlan Basri telah wafat.  Dua pemimpin yang masing-masing membidangi fatwa dan urusan luar negeri itu telah mendahului kita. Semoga mereka mendapatkan ampunan Allah ta’ala dan diberi tempat sebaik-baiknya, sesuai dengan amaliah mereka. Amien ya Rabbal ‘alamien. Sebuah situs mengenang kewafatan dua da’I itu sebagai berikut:

***

Ustadz Muzayyin Abdul Wahab dan Ustadz Dahlan Basri Wafat

Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) Pusat telah kehilangan dua orang pemimpinnya, di mana Ustadz Muzayyin Abdul Wahab, pada 16 September, 2011, pukul 0.800 pagi meninggal di Purwakarta. Beliau meninggal dalam usia 59 tahun. Ustadz Muzayyin merupakan Ketua DDII bidang hubungan luar negeri. Tetapi, beliau ini sekalipun kondisi pisiknya sudah sangat lemah, akibat gagal ginjal, dan harus cuci darah, tetapi beliau tidak pernah berhenti dakwah. Sungguh sangt luar biasa. Ustadz Muzayyin mendampingi almarhum Mohamad Natsir sudah cukup lama, terutama mengurusi hubungan luar negeri, dan menjadi “duta” DDII dengan lembaga-lembaga dakwah di Timur Tengah. Beliau pribadi yang sangat lembut dan halus. Tidak suka konflik, dan tidka pernah memberikan komentar yang negatif terhadap siapa saja. Benar-benar pribadi yang bersih. Ustadz Muzayyin menghadapi cobaan yang sangat luar biasa. Tetapi semuanya dijalani dengan penuh kesabaran. Ketika bertemu dengan redaksi Eramuslim. Beliau bertutur tentang kehidupan keluarganya. Isterinya sejak mengandung putranya yang kedua, mengalami kebocoran jantung, dan harus dirawat. Kondisi kandungannya waktu itu sudah hampir 6 bulan. Dokter menyarankan agar kandungannya itu digugurkan. Demi kesehatan ibunya. Tetapi, Ustadz Muzayyin dengan keras menolak keinginan dokter, agar isterinya menggugurkan kandungannya. Karena beliau menolak, isterinya selama hamil, sampa melahirkan harus dirawat di rumah sakit, sampai kemudian isterinya melahirkan dengan normal. Padahal, waktu dokter memperikarakan janin bayinya dalam kandungan tidak bisa normal, karena asupan makanannya kurang, akibat kondisi kesehatannya isterinya yang mengalami kebocoran jantung. Alhamdulillah bayinya lahir, dan diberi nama : Usamah. Tapi, malang tak dapat ditolak, dan cobaan tak juga dapat dihindari, isterinya sesudah melahirkan Usamah itu, beberapa bulan kemudian terkena stroke, dan mengalami kelumpuhan. Isterinya yang lumpuh itu, berada ditempat tempat tidur, selama 8 tahun. Sungguh sangat luar biasa. Sehari-hari isterinya dibantu anak pertama perempuan, yang bernama Asmah. Asmah sekarang sudah menikah. Ustadz Muzayyin dalam waktu yang panjang mengalami gagal ginjal, dan harus cuci darah. Selama empat tahun harus melakukan cuci darah. Sampai Allah Rabbul Alamin tetapkan pada 16 September yang lalu beliau wafat. Kemarin, 3 Oktober, sore, Redaksi Eramuslim mendapatkan kabar, Ustadz Dahlan Basri, Ketua Dewan Syariah DDII, juga meninggal dunia, setelah dirawat di rumah Sakit Pertamina. Beliau sangat gigih, dan memiliki pendirian yang teguh, dan selalu aktif dalam dakwah, dan mengisi ceramah bagi para da’i DDII. Ketika Ustadz Muzayyin meninggal dunia, Ustad Dahlan Basri masih sempat ta’ziyah, dan dengan jalan yang tertatih-tatih menggunakan tongkat, beliau mendoakan karibnya yang meninggal. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Al-Azhar, dan menjadi seorang yang selalu memberikan arahan-arahan bagi umat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Seluruh Redaksi Eramuslim turut mendo’akan. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan kemuliaan atas segala kebaikan yang telah dikerjakannya selama di dunia. Amin. ERAMUSLIM > CATATAN REDAKSI http://www.eramuslim.com/berita/catatan-redaksi/ustadz-muzayyin-abdul-wahab-dan-ustadz-dahlan-basri-wafat.htm Publikasi: Selasa, 04/10/2011 13:20 WIB

***

Untuk mengenang di antara kiprah da’I tersebut, mari kita simak artikel lawas berikut ini:

Di Sumbar Sejumlah Muslimah Dinikahi Lelaki Kristen

(Dr Zainun Kamal Diminta Tanggung Jawabnya)

(Ust.H.Hartono Ahmad Jaiz)

Publikasi: 28/08/02

AlDakwah.com-Dr Zainun Kamal aktivis Paramadina dan dosen UIN (Universitas Islam Negeri/ dahulu IAIN) Jakarta telah melontarkan pendapat bahwa wanita muslimah (kalau sudah terlanjur) menikah dengan lelaki Kristen maka pernikahannya itu tidak terlarang. Karena menurutnya, larangan itu hanya ijtihadi, bukan dari teks (nash) langsung Al-Qur’an m aupun Hadits. Pendapatnya itu menjadi ramai karena disiarkan lewat kantor berita radio 68H Utan Kayu Jakarta yang dikenal sebagai media pendukung JIL (Jaringan Islam Liberal), Juli 2002. Siaran itu direlay 200- n radio, masih pula konon dimuat di koran-koran pendukung JIL, Grup Jawa Pos/ Tempo sekitar 56 koran. Bukan itu saja, masih pula dimuat di web site/ situs internet JIL berlabel Islamlib.com. Akibatnya sangat mengejutkan, terjadi sejumlah wanita Muslimah di Batusangkar, Sumatera Barat dan lainnya telah dinikahi oleh lelaki Nasrani. Sebegitu besar dampaknya, dalam waktu sekitar satu bulan telah menjadikan hilangnya wanita-wanita Muslimah dari keluarga Muslim. Maka banyak orang mempertanyakan, benarkah Dr Zainun Kamal berpendapat seperti itu? Ya, memang. Bahkan ketika diadakan pertemuan oleh Media Dakwah dan lembaga dakwah Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, Senin 26/8 2002, Zainun Kamal masih tampak mempertahankan pendapatnya itu. Hanya saja, cara beristidlal (menjadikan dalil sebagai pijakannya) tampak tidak akurat. Ia hanya berlandasan, bahwa masalah wanita Muslimah dinikahi oleh lelaki Nasrani/ Ahli Kitab itu adalah wilayah ijtihadi, tidak ada nash/ teks langsung yang melarangnya. Argumentasi sederhana itu telah dibantah dengan nash/ teks ayat dan hadits dalam diskusi di Al-Azhar yang dikomandoi oleh Zulfi Syukur dari Dewan Dakwah dengan menampilkanDr Zainun Kamal sebagai pembicara utama, Prof Dr Amin Suma mantan Dekan Fak Syari’ah IAIN Jakarta selaku pembanding, dengan Dr Surahman Hidayat alumni Fak Syari’ah Al-Azhar Mesir sebagai moderator. Sekitar dua puluh orang termasuk isteri Zainun Kamal hadir dalam diskusi dari pukul 10.45 sampai 15.20 itu. Ayat-ayat tentang larangan lelaki non Muslim / kafir menikahi Muslimah dikemukakan DR Amin Suma. Di antaranya ayat 10 Surat Mumtahanah: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Al-Mumtahanah/ 60:10). Terhadap ayat itu, Zainun Kamal berkata, itu maksudnya kafir musyrik, bukan Ahli Kitab, sebab di Makkah tidak ada Ahli Kitab. Dan lafal kafir itumaknanya luas, orang Islam juga bisa disebut kafir dalam hal kafir nikmat. Ungkapan itu dijawab langsung oleh Dr Amin Suma, dan Dahlan Basri dari Dewan Dakwah, tidak benar kalau di Makkah tidak ada ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). Sebab isteri Nabi saw, Khadijah, itu pamannya sendiri bernama Naufal adalah pendeta Nasrani, dan itu di Makkah. Sedangkan lafal kafir di situ jelas bukan berarti kufur nikmat, tetapi adalah kafir agama, yang hal itu termasuk pula Ahli Kitab. Karena kafir itu ada jenis Ahli Kitab dan ada juga jenis musyrik sebagaimana di dalam Surat Al-Bayyinah. Dari peserta diskusi ada yang menyatakan kecewa dengan argumentasi/ hujjah yang dikemukakan Dr Zainun Kamal. Peserta diskusi itu berharap, Pak Zainun yang dari awal menegaskan bahwa landasannya itu Al-Qur’an dan As-Sunnah, diharapkan mampu mengemukakan ayat-ayat ataupun Hadits dengan dijelaskan riwayat-riwayatnya dan duduk persoalannya secara hukum. Namun hal itu tampak tidak ditempuh oleh Dr Zainun Kamal, malah hanya mengutip ungkapan Rasyid Ridho dalam Tafsir Al-Manar dalam kasus menjawab pertanyaan tentang perempuan Cina yang diharapkan masuk Islam apakah boleh dinikahi. Jawaban terhadap pertanyaan mengenai suatu kasus semacam itu bukanlah satu landasan yang bisa dijadikan argumentasi sebagaimana yang sejak awal ditegaskan Pak Zainun Kamal sendiri bahwa landasannya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Terhadap keluhan kecewa itu, Zainun Kamal berterus terang tentang kondisi kemampuannya. Di samping itu, setelah Dr Zainun Kamal tampak tidak mampu mengemukakan ayat atau Hadits tentang bolehnya wanita Muslimah dinikahi lelaki Kristen, masih pula dari moderator Dr Surahman Hidayat dan peserta Hartono Ahmad Jaiz menyampaikan hadits-hadits tentang larangan Muslimah dinikahi lelaki Ahli Kitab. Di antaranya:

  1. Idzaa aslamatin nashrooniyyatu qobla zaujihaa bisaa’atin harumat ‘alaihi.” (Al-Bukhari). Apabila wanita Nasrani masuk Islam (lebih dulu) sebelum suaminya sesaat (saja) maka dia haram atas suaminya. (HR Al-Bukhari, bab Thalaq).
  2. Ibnu Jarir mentakhrij dari Jabir bin Abdullah katanya, Rasulullah saw bersabda: Natazawwaju nisaa’a ahlil kitaabi walaa yatazawwajuuna nisa’anaa. Kami menikahi wanita-wanita ahli kitab dan mereka (laki-laki ahli kitab) tidak menikahi wanita-wanita kami. (HR Ibnu Jarir). Dan bagi Abdur Razaq dan Ibnu Jarir dari Umar bin Khatthab berkata, lelaki Muslim menikahi wanita Nasrani dan tidaklah lelaki Nasrani menikahi Muslimah. Dan bagi Abd bin Hamid dari Qatadah berkata, Allah menghalalkan kepada kami dua jenis wanita muhshonah: muhshonah mu’minah dan muhshonah dari ahli kitab, (sedangkan) wanita-wanita kami haram atas mereka (ahli kitab) dan wanita-wanita mereka halal untuk kami. (Aunul Ma’bud, syarah Sunan Abi Dawud, juz 8 hal 9).
  3. Laa naritsu ahlal kitaabi walaa yuuritsuunaa illaa an yaritsar rojulu ‘abdahu au amatahu wa nunkihu nisaa’ahum walaa yunkihuuna nisaa’anaa. Nabi saw bersabda: Kami tidak mewariskan kepada ahli kitab dan mereka tidak mewarisi kami kecuali apabila lelaki mewariskan kepada hambanya atau amatnya (budak wanitanya), dan kami menikahi wanita-wanita mereka (ahli kitab) dan mereka tidak menikahi wanita-wanita kami. (HR At-Thabrani dalam Al-Awsath, dan rijal -tokoh periwayat-periwayatnya tsiqot, terpercaya). Nash larangannya sudah jelas Kata Dahlan Basri dalam diskusi itu, para ulama hadits, kalau sudah riwayat Imam Al-Bukhari itu sudah semuanya shahih. Jadi kenapa masih dipertanyakan.

Sampai-sampai, Dahlan Basri mengemukakan riwayat tentang adanya dua orang yang bersengketa, telah menanyakannya kepada Nabi saw dan telah dijawab/diputuskan, namun kemudian datang kepada Umar bin Khatthab lalu menanyakannya lagi. Umar kemudian masuk lalu membawa pedang dan menebas orang yang tidak mau terima jawaban Nabi saw tersebut. Riwayat itu Dahlan iringi ungkapan bahwa Zainun Kamal ini, dalam hal rukun iman, Nabi bilang enam, Harun Nasution bilang lima, lalu Zainun Kamal bilang dua. Diskusi di Al- Azhar itu banyak mencecar Zainun Kamal. Dua orang dari Fakta, satu lembaga anti pemurtadan, Hamdi dan Abu Deedat meminta pertanggung jawaban Zainun Kamal, karena setelah “fatwa”nya itu tersebar luas, maka di Sumatera Barat ada sejumlah wanita Muslimah yang dinikahi lelaki Kristen. Data pun ditunjukkan kepada Pak Zainun, yang oleh Hamdi telah dia pidatokan di Sumbar bahwa yang berfatwa seperti itu adalah orang Yahudi. Terhadap cecaran seperti itu, Zainun mengemukakan, semula hanya untuk mengemukakan pendapatnya bahwa masalah itu adalah ijtihadi, dan tidak ingin mempropagandakannya. Tetapi ungkapan itu dicecar terutama oleh Adian Husaini dari KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) bahwa apa yang diungkapkannya di sini berbeda dengan trnaskrip wawancaranya yang disebarkan di radio-radio, koran-koran dan internet. Maka Zainun diminta kejujurannya dalam beberapa materi yang telah dia ucapkan. Siapakah sebenarnya, ulama-ulama yang dia sebut membolehkan wanita Muslimah dinikahi lelaki Kristen itu. Zainun tampak ingin mengelak, tetapi tetap dicecar, maka dia kemukakan, yang mengawinkan wanita-wanita Muslimah dengan lelaki Kristen itukan ulama tentunya. Beberapa orang menjawab, bukan. Karena mereka menikah di gereja. Zainun tampak kaget, tetapi tetap dicecar, maka dia berjanji untuk menelepon Adian, siapa ulama yang membolehkan wanita Muslimah dinikahi lelaki ahli kitab itu. Sampai laporan ini ditulis, adiknya Adian mengatakan, Adian belum mendapatkan telepon tentang nama ulama itu. Tetapi adik ini memperkirakan, yang dimaksud ulama itu barangkali saja yang menikahkan anaknya dengan orang Yahudi di Amerika. Siapa lagi kalau bukan Nurcholish Madjid petinggi Paramadina? Masih ditunggu jawaban dan kesanggupan pak Zainun Kamal untuk menyatakan sikapnya dan pendapatnya dalam masalah yang telah dituding oleh Tim Fakta sebagai sarana yang digunakan oleh pihak pelaku pemurtadan untuk melancarkan aksinya. Sebagaimana dosen-dosen IAIN mengajar di institute penginjilan Apostolos di Jakarta itu dijadikan alat legitimasi untuk melancarkan kristenisasi. Terhadap kasus ini, Zainun Kamal tampak secara terbuka mengemukakan bahwa inilah gunanya adanya diskusi seperti ini, karena apa yang tadinya dimaksudkan untuk menjelaskan keilmuan, ternyata kemudian dijadikan alat oleh pihak-pihak tertentu, itu baru diketahui setelah berdiskusi seperti ini. Makanya, Zainun Kamal yang juga berasal dari Sumatera Barat ini berjanji untuk menulis pendapatnya dan sikapnya lewat Media Dakwah. Diskusi pun selesai pas ashar, namun Zainun Kamal masih dicecar oleh sebagian peserta, kenapa kalau hanya usul agar larangan Muslimah dinikahi lelaki Kristen itu ditinjau kembali karena sifatnya adalah ijtihadi, kok Pak Zainun justru sudah berbicara yang disebarkan secara luas yang sampai mengakibatkan wanita-wanita Muslimah dinikahi lelaki Kristen. Mestinya kalau baru usulan, cukup didiskusikan seperti di ruang ini, dan tidak memberikan keputusan hukum secara sendiri dan bertentangan dengan ijma’ bahkan nash, yang kemudian dilakukan orang secara luas, hingga meresahkan. Ada juga dalam diskusi itu yang tampaknya memberi nasihat. Seperti Ustadz Ahmad Khalil Ridwan dari Pesantren Husnayain Jakarta mencontohkan, dirinya ditanya di Radio, kemudian takut menjawab. Karena kalau dijawab kemungkinan akan disalah gunakan orang. Misalnya pertanyaan tentang bolehkah wanita hamil lalu dinikahkan. Kalau Kholil menjawab boleh, maka wanita-wanita yang hamil duluan lalu baru nikah, dengan tenangnya mereka mengatakan, rujukannya Kholil Ridwan, misalnya. Maka Kholil mengaku tidak berani menjawab masalah itu. (hb). “habibullah” <habibullah.rasidin@…> on 28/08/2002 10:29:37 Please respond to [email protected] To: [email protected], newsletter-sc.ckbjpj@… cc: (bcc: Zulkarnaen Ilham/ID/ARNOTTS/CSC) Subject: [Sabili] Di Sumbar Sejumlah Muslimah Dinikahi Lelaki Kristen http://groups.yahoo.com/group/surau/message/12863

***

Dosen IAIN Pemicu Maraknya Nikah Beda Agama

Masalah pernikahan beda agama, maraknya pun di antaranya dipicu oleh orang IAIN. Yaitu dosen IAIN Jakarta (kini UIN, Universitas Islam Negeri Jakarta) Fakultas Ushuluddin, aktivis Paramadina, Dr Zainun Kamal asal Sumatera Barat. Dia berani menyiarkan pendapatnya bahwa wanita Muslimah boleh dinikahi oleh lelaki Ahli Kitab (Yahudi atau Nasrani). Pendapatnya yang bukan sekadar nyeleneh tapi sudah menabrak syari’at Islam itu ditangkap secara baik oleh orang-orang JIL (Jaringan Islam Liberal), hingga disiarkan lewat media massa mereka di antaranya Kantor Berita Radio 68H Utan Kayu Jakarta yang direlay 200-an pemancar radio di Indonesia, koran-koran yang menginduk kepada Jawa Pos/ Tempo sekitar 56 koran se-Indonesia, dan website Islam Liberal, islamlib.com, Juli 2002. Menanggapi penghalalan yang haram oleh Dr Zainun Kamal itu, Dahlan Basri dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengatakan, Nabi Muhammad mengajarkan rukun iman ada 6, Harun Nasution (guru besar IAIN Jakarta) bilang 5, Zainun Kamal (murid Harun Nasution) bilang 2. “Inilah orangnya,” kata Dahlan Basri dalam diskusi di Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, 26 Agustus 2002 dengan pembicara Dr Zainun Kamal, tentang pernikahan beda agama. Kenapa sampai para pelontar kenyelenehan itu kini seberani itu, mari kita tengok kembali upaya-upaya memu’tazilahkan IAIN yang dilakukan oleh Harun Nasution dan kader-kadernya. Kini kadernya seperti Dr Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Kamaruddin Hidayat, Zainun Kamal dan lainnya adalah orang-orang yang bisa dilihat sebagai orang-orang yang dekat dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang pada hakekatnya adalah melancarkan pemurtadan berlabel Islam. Karena “aqidah” JIL adalah pluralisme agama, yakni menyejajarkan dan memparalelkan semua agama, semua menuju keselamatan, hanya beda teknis. Bahkan kita tidak boleh melihat agama lain dengan memakai agama yang kita peluk. Upaya menyelenehkan IAIN itu masih ditambah dengan petinggi-petinggi atau dosen-dosen IAIN lainnya yang gigih memasarkan kenyelenehan, di antaranya seperti Abdul Munir Mulkhan dan Amin Abdullah di IAIN Yogya dan Muhammadiyah Yogya, Mathar dan Taufik Adnan Amal di IAIN Alauddin Makassar dan nama-nama lain yang tak sulit dijumpai di berbagai IAIN, STAIN, dan Perguruan Tinggi Islam lainnya. Hanya saja tentu tidak semuanya nyeleneh, seperti Kepala STAIN Serang Banten yang saya sempat jadi pembicara dalam suatu seminar bersamanya, tampaknya beliau tidak termasuk yang nyeleneh ataupun JIL. Juga Dr Fatkhur Rahman Jamil dosen UIN Jakarta yang saya pernah jadi mahasiswanya di UMJ, atau Dr Roem Rawi di IAIN Surabaya, Syekhul Hadi Permono direktur Pascasarjana IAIN Surabaya dan tentu masih banyak lagi yang lainnya, hanya saja mereka tidak dimunculkan oleh media massa, di satu sisi, dan tidak diuntungkan oleh system pendidikan/ pengajaran serta lingkungannya yang mengarah ke pengganyangan terhadap Ahlus Sunnah dan menuju kepada pluralisme agama. Sehingga yang terjadi adalah pemandangan aneh lagi memprihatinkan sebagaimana dikemukakan oleh Adian Husainsi di Kajian Islam Cibubur di Pesantren Husnayain Pasar Rebo Jakarta Timur, 2 Februari 2005/ 22 Dzulhijjah 1425H. Kata Adian, Pak Syekhul Hadi Permono (murid Prof Hasbi as-Shiddiqi waktu di IAIN Jogjakarta) direktur Pascasarjana IAIN Surabaya mengadakan forum untuk menghadapi faham liberal dan pluralisme agama. Tetapi ternyata walaupun dia itu direktur, tidak bisa berbuat banyak, karena bawahannya, dosen-dosennya kebanyakan justru berfaham liberal, pluralisme agama, dan mengikuti metode hermeneutika. Maka akhirnya forum yang dibentuk untuk menghadapi faham liberal itupun bubar. Gambaran yang bisa dikemukakan pula, di IAIN Jakarta ketika ada pemilihan rector tahun 2002, ada pemandangan yang sangat mencolok. Khabarnya Azyumardi Azra yang telah dikenal sebagai kontributor JIL, terpilih kembali dengan suara mayoritas, sedang calon lain yang dikenal memegangi syari’ah (Islam) dengan teguh, hanya mendapatkan suara kurang dari sepuluh pemilih. Sehingga perbedaannya sangat-sangat jauh. Yang tokoh dari liberal mendapatkan suara beberapa ratus, sedang tokoh yang bukan liberal, dan hanya sekadar punya isteri lebih dari satu, tidak sampai berjulukan fondamentalis pun hanya mendapat suara beberapa gelintir. Kalau dibanding-banding, tampaknya orang-orang politik yang secara sekilas merupakan cerminan ketidak pedulian terhadap agamanya, di sini justru masih mending dibanding mental dosen-dosen IAIN Jakarta itu dalam hal memilih pemimpin. Buktinya, Hamzah Haz yang berbini lebih dari satu, masih mereka pilih hingga jadi Wakil Presiden masa Megawati. Tetapi di IAIN Jakarta, ternyata yang berbini dua benar-benar tersingkirkan dari kancah peraihan kursi rector akibat dijauhi oleh dosen-dosen yang berhak memilih. (dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005).

***

Demikian di antara kiprah da’I Dewan Dakwah dalam menghadapi serangan orang-orang yang mengusung perusakan pemahaman Islam di Indonesia.

(nahimunkar.com)

email