Para Artis Penjahat Narkoba Tampak Dipiara Infotainment

Para Artis Penjahat Narkoba

Tampak Dipiara Infotainment


Selain begitu ‘toleran’ terhadap kemunkaran (kejahatan) berupa korupsi (lihat tulisan di nahimunkar.com berjudul Korupsi, Budaya Penjahat Kelas Tinggi Merusak Tatanan dan Agama edisi May 10, 2009 10:05 pm), ternyata rakyat Indonesia begitu ‘toleran’ terhadap artis pengguna dan pengedar narkoba. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana masyarakat kita begitu mudah menerima kembali kehadiran artis-artis yang pernah terlibat narkoba, ke dunianya semula.

Menurut catatan redaksi nahimunkar.com, artis-artis yang terlibat kasus narkoba tidak saja dari artis muda yang masih labil, tetapi juga artis senior yang seharusnya sudah matang. Artis muda yang pernah diciduk aparat karena tertangkap tangan sedang bersama narkoba, antara lain Sheila Marcia yang ketika ditangkap masih berusia delapan belas tahun menuju sembilan belas tahun. Sedangkan yang tertua, Ahmad Albar yang berusia 61 tahun menuju 62 tahun ketika ditangkap.

Bila mengikuti fenomena gunung es, maka artis-artis yang tertangkap tangan bersama narkoba berjumlah jauh lebih kecil dibandingkan dengan artis-artis yang akrab dengan narkoba namun belum tertangkap tangan. Bersama narkoba, bisa berarti pemakai narkoba, pengedar, atau keduanya sekaligus.


Ahmad Albar

Pria gaek bernama lengkap Ahmad Syech Albar ini lahir di Surabaya pada tanggal 16 Juli 1946. Vokalis grup musik God Bless ini merupakan anak dari pasangan Syech Albar dan Farida Al-Hasni. Sang ibu kemudian bercerai dan menikah dengan Jamaluddin Malik. Dari pernikahan Farida Al-Hasni dengan Jamaluddin Malik ini, lahirlah Camelia Malik, pedangdut yang mempopulerkan jaipong.

Ahmad Albar pada tanggal 26 September 2007, ditangkap di rumahnya karena diduga terlibat kasus penemuan 490 ribu butir ekstasi di apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat. Ia dituduh bersekongkol menyembunyikan Jenny, seorang buronan narkoba di rumahnya, Cinere, Depok. Jenny merupakan kurir kasus penemuan 490 ribu butir ekstasi di apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat.

Selain itu, Ahmad Albar juga dituduh memiliki dan menggunakan narkoba. Ketika digerebek aparat, polisi menemukan sebutir ekstasi di dalam kamar mandi Ahmad Albar. Hasil tes urine terhadap Ahmad Albar pun menunjukkan adanya kandungan narkoba (senyawa Amphetamine yang terkandung dalam sabu-sabu.). Selain menyeret Ahmad Albar, kasus ini juga menyeret aktor Fachri Albar (anak kedua Ahmad Albar hasil perkawinanya dengan Rini S Bono), karena polisi menemukan 1,2 gram kokain di kamar Fachri. Meski Fachri sempat masuk DPO, akhirnya ia menyerahkan diri secara sukarela pada tanggal 30 November 2007. Setelah menyerahkan diri, Fachri bebas sama sekali dari proses hukum. Kecuali, Ahmad Albar, bapaknya.

Menurut Direktur IV Narkotika Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI, yang saat itu dijabat oleh Brigadir Jenderal Indradi Thanos, Ahmad Albar sudah lama kenal dengan beberapa tokoh komplotan ekstasi Malaysia. Faktanya, saat penggerebekan di Taman Anggrek pekan lalu, Jenny Chandra atau istri Monas (gembong narkoba) ada di rumah Ahmad Albar di Cinere, Depok.

Meski terbukti positif sebagai pengguna narkoba (melalui tes urine) dan terbukti menyembunyikan buronan kasus narkoba, Ahmad Albar akhirnya ‘hanya’ dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 6 juta rupiah. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan JPU (1 tahun penjara) Akhirnya Ahmad Albar bebas pada tanggal 11 Juli 2008. Ia pun bisa kembali bermusik sebagaimana sebelumnya, bahkan dianugerahi penghargaan sebagai pemusik legendaris yang setia pada profesinya.


Deri Sudarisman dan Imam S Arifin

Beberapa tahun sebelum Ahmad Albar, polisi sudah lebih dulu menangkap Deri Sudarisman, komedian yang pernah tergabung ke dalam grup lawak Empat Sekawan. Pada tanggal 08 Juli 2004, Deri dan tujuh tersangka lain digerebek di sebuah hotel di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Barang bukti yang disita polisi berupa 32,9 gram shabu-shabu, 130 butir pil ekstasi, tiga buah bong, dan aluminium foil. Tak sampai satu tahun, ia sudah bebas, dan bisa berkiprah sebagaimana biasanya. Pada saat Deri tertangkap, sebenarnya ada pedangdut Imam S. Arifin yang juga menjadi bagian dari budak narkoba. Namun, karena Imam S Arifin punya kenalan luas, maka keberadaannya menjadi tersamarkan.

Ibarat kata pepatah “sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga” rasanya cocok dikenakan kepada Imam S Arifin ini. Bila pada tahun 2004 ia lolos dari jeratan aparat dalam kasus narkoba, namun di tahun 2008 ia tertangkap. Bukan di Jakarta, tetapi di Medan (Sumatera Utara).

Pada tanggal 5 April 2008, dalam sebuah konferensi pers, Kapoltabes Medan yang saat itu dijabat oleh Kombes Pol Drs Bambang Sukamto menjelaskan, aparat kepolisian telah menangkap penyanyi dan pencipta lagu Imam S Arifin. Penangkapan dilakukan di Halaman Hotel Pardede, Jl Juanda Medan, jam 01:00 wib. Dari saku celana Imam S Arifin (yang ketika itu berusia 48 tahun), polisi menemukan shabu-shabu sebanyak 1,6 gram, bong, aluminium foil dan setengah butir obat kuat merk Viagra. Pada tanggal 15 Oktober 2008, Pengadilan Tinggi Sumatera Utara menjatuhkan vonis satu tahun. Lebih rendah dua tahun dari tuntutan jaksa.

Komedian slapstick yang tertangkap tangan dalam kasus narkoba, bukan cuma Deri Sudarisman, tetapi ada Doyok, Gogon dan Polo.


Doyok dan Polo

Doyok yang bernama asli Sudarmaji ini, selain usianya lebih tua dari Deri Sudarisman, juga lebih dulu empat tahun dalam hal berurusan dengan aparat kepolisian terkait perkara narkoba. Pria kurus kelahian Sidoardjo pada tanggal 17 Agustus 1954 ini, di tahun 2000 terbukti memiliki narkoba, sehingga harus berurusan dengan aparat kepolisian. Pada tanggal 20 November 2000, Doyok divonis satu tahun penjara karena di pengadilan ia terbukti menggunakan dan memiliki shabu-shabu. Setelah bebas, Doyok kembali berkiprah di dunia lawak, sebagaimana masa-masa sebelumnya.

Di tahun 2000, pelawak Polo juga terangkap dalam kasus narkoba. Pada hari Kamis tanggal 24 Mei 2000 jam 14:00 wib, aparat Satuan Reserse Narkotika menangkap Polo di kamar 275 di Hotel Mega Matra, Matraman, Jakarta Timur. Pelawak yang bernama asli Barata Nugroho ini mengaku memiliki 0,5 gram shabu-shabu dan sejak beberapa bulan sebelumnya sudah mulai mengkonsumsi shabu-shabu. Akhirnya, Polo divonis 7 bulan penjara dipotong masa tahanan dan denda Rp 1 juta. Pada tanggal 23 Maret 2001, Polo dinyatakan bebas.

Beberapa tahun setelah bebas (tahun 2004), Polo kembali berurusan dengan polisi dalam kasus yang sama. Ia ditangkap setelah memakai shabu-shabu di Villa Citra Kamar 13, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur, pada hari Kamis tanggal 3 Juni 2004, dini hari.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, yang saat itu dijabat oleh Ajun Komisaris Polisi Supardjiono, ketika digerebek ditemukan barang bukti berupa satu set bong (alat pengisap shabu-shabu) dan shabu-shabu seberat 0,6 gram sisa pakai. Pada tanggal 15 Oktober 2004, Polo akhirnya dijatuhi hukuman satu tahun penjara potong masa tahanan dan membayar denda Rp 2 juta dan biaya perkara Rp 1.000. Vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, yaitu 1,5 tahun penjara. Setelah masa hukumannya dikurangi, Polo (yang ketika itu berusia 41 tahun) akhirnya bebas pada tanggal 20 Mei 2005, setelah setahun lebih mendekam di LP Cipinang. Kini, Polo tetap berkiprah di dunia yang sudah sejak lama digelutinya.


Gogon dan Pasangan Kumpul Kebonya

Sedangkan Gogon alias Sumargono, berurusan dengan aparat dalam kasus narkoba pada tahun 2007. Sebenarnya tidak ada yang tahu bila Gogon sudah sejak beberapa bulan sebelum tertangkap sudah aktif mengkonsumsi narkoba.

Ketika itu, Selasa tanggal 22 Agustus 2007 malam, Gogon dan pasangan kumpul kebonya (Tri Handayani Astuti) ribut berat di pangkalan ojek di komplek perumahan Bandara Mas Kelurahan Selapajang, Neglasari, Kota Tangerang. Karena suasana kian panas, Gogon meminta kepada Tri agar permasalahan diselesaikan di rumah saja. Tri menolak, bahkan mengancam akan memanggil temannya yang biasa melindunginya.

Pertengkaran antara Gogon dan Tri itu akhirnya terdengar oleh ketua RT setempat. Namun upaya ketua RT meredam pertengkaran mereka tidak ditanggapi Tri. Ia tetap mengancam akan memanggil temannya. Sang ketua RT kemudian mengambil inisiatif untuk menghubungi petugas Polsek Metro Neglasari. Tak lama kemudian, petugas yang malam itu piket, datang ke lokasi. Kepada polisi Tri menceritakan bahwa Gogon adalah pemakai narkoba.

Mendengar pengakuan itu, kemudian polisi membawa keduanya ke rumah Gogon di Komplek Bandara Mas Blok CL Nomor 18, Kelurahan Selapajang, Neglasari, Kota Tangerang. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan barang bukti seperangkat alat isap bong, satu plastik kecil bening pecahan, dari samping televisi di kamar rumah Gogon. Selain itu ditemukan juga satu patahan kecil psikotropika jenis ekstasi, selembar aluminium foil, dan dua korek api gas.

Untuk mengetahui apakah kedua tersangka sebagai pengguna narkoba, sekitar pukul 23.00 WIB, keduanya dibawa ke RS Usada Insani, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Dari hasil tes urine yang dikeluarkan tim medis RS Usada Insani, keduanya positif mengonsumsi narkoba. Sebelumnya, Gogon yang saat itu berusia 47 tahun dan Tri yang saat itu berusia 37 tahun, digelandang ke Mapolsek Metro Neglasari. Kepada penyidik, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah itu mengakui bahwa barang bukti tersebut adalah miliknya. Keduanya dijerat dengan pasal 62 UU RI Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika, dengan ancaman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.


Fariz RM

Sudah sejak lama masyarakat menduga, Fariz RM adalah seorang pengguna narkoba. Badannya yang kurus ceking dan tulang rahangnya yang menonjol, merupakan tanda-tanda yang biasa ditemukan pada sosok pengguna aktif narkoba. Namun, Fariz selalu beralasan, kurus tubuhnya itu akibat kanker liver yang dideritanya sejak 1996. Tapi ada yang bilang, kanker liver itu penyebabnya adalah khamr dan narkoba.

Fariz sudah ‘sukses’ dalam usia belia, susah mengenal dunia kelam para pemusik sehingga ia sudah sejak awal berkenalan dengan khamr (minuman keras) dan narkoba, mengikuti kebiasaan para seniornya.

Sejak kecil Fariz Roestam Moenaf kelahiran 5 Januari 1961, sudah akrab dengan musik. Karena, ibundanya adalah seorang guru les piano. Fariz merupakan anak dari pasangan Roestam Moenaf dan Anna Reijnenberg. Ia adalah paman dari Sherina, mantan penyanyi cilik yang kini sudah beranjak remaja.

Berkat kemahirannya memainkan berbagai alat musik, Fariz RM sejak usia pra remaja (12 tahun) sudah berkenalan dengan pemusik yang lebih tua darinya, seperti Debby Nasution yang kala itu masih dalam kegelapan. Mereka pun membentuk Young Gipsy bersama Odink Nasution.

Meski sudah puluhan tahun bersama narkoba, Fariz RM tak pernah tertangkap. Barulah pada dini hari tanggal 28 Oktober 2007, dalam sebuah razia yang digelar aparat kepolisian, polisi menemukan 1,5 linting ganja seberat 5 gram yang disimpan dalam bungkus rokok di dalam tas Fariz RM. Fariz kemudian ditahan polisi, setelah sebelumnya dilakukan tes urine. Hasil tes urine menunjukkan bahwa Fariz positif menggunakan narkoba jenis ganja, dan terancam UU Narkotika dengan ancaman hukuman penjara di atas 5 tahun. Namun, akhirnya Fariz ‘hanya’ divonis 8 bulan penjara potong masa tahanan. Hukuman ini lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut 1 tahun penjara.

Kini Fariz sudah bebas dan bisa berkiprah sebagaimana biasanya. Namun, tidak ada karya spektakuler yang bisa dihasilkannya sejak ia akrab dengan narkoba. Berbeda dengan ketika Fariz masih berlum bersama narkoba. Artinya, narkoba dan khamr sama sekali tidak mendorong prestasi seseorang, ia justru menghancurkannya.


Narkoba dan Dunia Lakon

Dari dunia lakon bisa kita temui beberapa nama yang berhasil ditangkap aparat dalam kasus narkoba. Misalnya, Sheila Marcia, Revaldo, Gary Iskak, dan Roy Marten (berdasarkan urutan usia dari yang paling muda sampai kepada yang paling tua).

Sheila Marcia Joseph adalah gadis kelahiran Malang (Jawa Timur) pada tanggal 3 September 1989. Sejak tahun 2004, ia sudah aktif di dunia hiburan. Antara lain membintangi film Ekskul dan film Hantu Jeruk Purut di tahun 2006. Di tahun 2007, Sheila juga membintangi dua film. Selain film Sheila juga membintangi beberapa judul sinetron seperti Love, Bunga-Bunga Cinta, Mencari Cinta, dan Makin Sayang.

Meski sudah membintangi beberapa judul film dan sinetron, khalayak luas belum kenal betul dengan sosok Sheila. Barulah ketika ia kesandung kasus narkoba, namanya kian dikenal. Menurut catatan, pada hari Kamis tanggal 7 Agustus 2008, Sheila tertangkap tangan sedang berpesta narkoba di apartemen Golden Sky Pluit lantai 7 kamar 8 bersama 4 orang lainnya dan langsung diamankan di Mapolsek Penjaringan. Setelah menjalani kurungan penjara selama sekitar tujuh bulan, Sheila pun dinyatakan bebas dari penjara pada hari Jumat tanggal 6 Maret 2009. Kini, wajahnya bisa ditemui di berbagai infotainment, dan di berbagai acara. Terlibat kasus narkoba tidak membuat sinar Sheila redup, justru kian dikenal. Begitulah peranan infotainment. Bahkan, selama Sheila dalam proses hukum, infotainment mengemas berita tentang Sheila begitu humanis. Sheila diposisikan sebagai korban.

Gary Iskak juga salah satu pelakon yang tidak begitu dikenal, meski ia sudah membintangi beberapa judul film seperti D’Bijis, Jatuh Cinta Lagi dan Merahnya Merah. Barulah setelah ia berurusan dengan narkoba, khalayak mulai menyadari keberadaan Gary Iskak.

Menurut catatan, pada hari Jum’at tanggal 21 September 2007, pukul 22.00 wib, Gary ditangkap polisi karena diduga mengkonsumsi ekstasi di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Jakarta Barat. Malam itu, selepas pulang syuting di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Gary tak langsung pulang, tapi dia membeli sabu-sabu dari seorang bandar yang bernama Ichong di daerah Jakarta Barat. Ichong adalah pengedar narkoba yang tercatat dalam daftar pencarian orang di sejumlah Polsek jajaran Polda Metro Jaya. Gary yang kala itu berusia 29 tahun, tidak sadar dirinya dikuntit polisi.

Revaldo Fifaldi Suria Permana, pelakon muda kelahiran Jogjakarta tanggal 18 Juni 1982 ini, pada tahun 2005 pernah dikabarkan sebagai salah satu aktor yang suka mengkonsumsi narkoba. Namun kabar itu berhasil ditepisnya. Namun di tahun 2006, kabar yang ditepisnya itu, menjadi fakta yang tak terbantahkan. Pada hari Senin tanggal 10 April 2006, sekitar pukul 23:00 wib, ia dibekuk aparat Kepolisian Jakarta Selatan di sebuah rumah kawasan Jalan Jati Padang Baru, Blok B no1 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, karena kedapatan memiliki dan menggunakan narkoba.

Menurut kasat narkoba Polres Metro Jaksel yang saat itu dijabat oleh Kompol Helmi Santika, pada saat ditangkap di saku sebelah kiri Revaldo ada tas plastik kecil yang isinya bong dan sabu. Saat melakukan penggeledahan di rumah, polisi menemukan satu kotak kayu yang berisi beberapa lintingan ganja yang habis dipakai dan beberapa yang belum dipakai. Dari dalam rumah juga ditemukan satu plastik sabu-sabu seberat 0,5 gram senilai 750 ribu rupiah. Di samping itu masih ada empat buah butir pil ekstasi, tiga buah berwarna kuning dan satu berwarna hijau, yang ditemukan polisi dari dalam rumah kontrakan Revaldo.

Meski terancam hukuman (maksimal) sepuluh tahun, Revaldo kini sudah bebas, dan khalayak sudah bisa kembali melihat kpirahnya di dunia peran.

Aktor senior yang berhasil diciduk aparat dalam kasus narkoba adalah Roy Marten. Pria kelahiran Salatiga (Jawa Tengah), pada tanggal 1 Maret 1952 ini, bernama asli Wicaksono Abdul Salam. Dia terlibat kasus narkoba sebanyak dua kali. Pertama, pada tahun 2006. Kedua, pada tahun 2007.

Pada tanggal 2 Februari 2006 sekitar pukul 16.00, Roy ditangkap karena diduga membawa narkoba jenis shabu-shabu seberat 3 gram, di sebuah rumah di kawasan Ulujami, Jakarta Selatan. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhi vonis 9 bulan subsider 3 bulan. Setelah mendapat remisi, Roy Marten keluar dari penjara pada tanggal 1 Oktober 2006. Ketika itu Roy mengaku kapok. Bahkan, ia aktif dalam penyuluhan pencegahan narkoba. Badan Narkotika Nasional (BNN) pun kerap mengundang Roy sebagai pembicara kampanye anti narkoba.

Namun, pada tanggal 13 November 2007 Roy tertangkap bersama ketiga temannya di Hotel Novotel Surabaya, karena diduga mengkonsumsi shabu-shabu. Pada saat penangkapan, polisi menemukan barang bukti, 1 gram dan 1 ons shabu-shabu di kamar 364 Hotel Novotel. Di kamar berbeda yaitu kamar 465, polisi juga mendapati seperangkat alat hisap (bong) dan sisa di aluminium foil SS 0,5 ons.

Ironisnya, beberapa hari sebelum tertangkap, Roy baru saja usai memberikan testimoni pada sebuah acara yang digelar BNN, yaitu penandatangan MoU antara BNN dengan sebuah harian di Surabaya. Acara itu berlangsung di Ruang Semanggi lantai V Graha Pena Jalan Ahmad yani 88 Surabaya, berlangsung pada hari Sabtu tanggal 10 November 2007, dan dihadiri oleh Kapolri yang saat itu masih dijabat oleh Jenderal Sutanto.

Roy akhirnya dijatuhi vonis tiga tahun penjara serta denda Rp10 juta dengan subsider tiga bulan kurungan. Vonis tersebut lebih ringan dari dari tuntutan JPU (Jaksa Penuntut Umum) yakni tiga tahun enam bulan (3,5 tahun) dan denda Rp10 juta subsider tiga bulan kurungan. Sedangkan teman-teman Roy yang ditangkap pada waktu yang sama, masing-masing mendapat hukuman bervariasi antara satu hingga lima tahun penjara.

Hukuman yang dijatuhkan untuk Roy menurut sebagian kalangan termasuk ringan, padahal dia tergolong kambuhan, serta sudah mempermalukan Kapolri dan BNN. Anehnya, infotainment yang ditayangkan berbagai teve swasta kala itu seolah-olah sedang berusaha dengan gencar untuk mengimbangi kejahatan yang dilakukan Roy dengan menampilkan tema kemanusian bertajuk “ketabahan seorang isteri”.

Infotainment tidak saja menampilkan tema ketabahan Anna Maria (isteri kedua Roy) secara terus menerus, tetapi juga menampilkan pembelaan membabi-buta dari Alex Asmasoebrata, teman Roy. Padahal, pada saat tertangkap tangan Roy baru saja menerima pasokan shabu seberat sekitar satu ons. Artinya, Roy tidak saja dapat dikategorikan sebagai pemakai aktif, tetapi kemungkinan besar ia seorang pengedar bahkan bandar.

Sikap infotainment kala itu, yang dianggap khalayak sangat membela penjahat kakap sekaliber Roy, membuat sebagian kalangan menduga-duga, jangan-jangan mereka dibiayai oleh sindikat narkoba.

Seharusnya, aparat tidak hanya mencurigai artis, sebaiknya juga menaruh curiga pengelola infotainment. Sebab bukan mustahil mereka bagian dari sindikat narkoba. Kecurigaan ini timbul setelah melihat kecenderungan mereka yang gandrung menampilkan sisi humanis dari artis-artis yang terbukti menjadi pengguna dan pengedar narkoba. (haji/tede)

  • http://yahoo abushofi

    infotaiment&selebriti adalah setali tiga uang dlm hal merusak agama dan aqidah umat….coba lihat acara2 yg ditayangkan infotaimen…isinya maksiat,ghibah,zina dll…semoga ALLAH Azza wa Jalla melindungi kita dr fitnah ini.

  • http://yahoo abushofi

    infotaiment & selebritis adalah pasangan yg serasi dlm merusak agama,aqidah,akhlak. Stiap acara infotaiment pasti isinya adalah ghibah,maksiat,zina dll