Partai, Capres-Cawapres, dan Caleg Stress

Partai, Capres-Cawapres, dan Caleg Stress


PADA tahun 1999, ketika pemilihan umum legislatif dimenangkan oleh PDI-P, banyak caleg asal PDI-P yang semula orang biasa (orang awam politik yang juga berasal dari status sosial rendah) ikut terjaring menjadi anggota legislatif. Hal itu memungkinkan karena perolehan suara PDI-P di tingkat pusat maupun daerah melimpah ruah, sehingga wong cilik yang semula pekerja serabutan saja, bisa menjadi anggota legislatif di tingkat lokal.

Tak perlu waktu lama, wong cilik yang mendadak jadi anggota legislatif itu, berubah penampilan. Bila semula naik angkot (angkutan kota), kini sudah bisa bawa mobil sendiri, punya rumah layak, dan berpenampilan necis.

Sebelumnya, PDI-P adalah partai gurem yang perolehan suaranya jauh di bawah PPP. Belum lekang dari ingatan bahwa di masa Orde Baru, setelah partai-partai di-fusi (dilebur dengan digabung-gabung), maka hanya ada tiga partai peserta pemilu: PPP (untuk partai-partai Islam), Golkar (karyawan dan lainnya), dan PDI (nasionalis, sosialis, dan Nasrani). (Adapun bekas-bekas PKI –Komunis— yang partainya dilarang, ataupun keturunannya entah bergabung ke partai mana, kemungkinan sekali bisa diperkirakan tidak ke partai Islam). Sepanjang Orde Baru berkuasa, Golkar hampir selalu meraih perolehan suara antara 70-80 persen. Sedangkan sisa 20-30 persen diambil oleh PPP dan PDI, namun perolehan suara PDI jauh di bawah PPP.

Nah, tiba-tiba di tahun 1999 PDI yang berubah nama menjadi PDI-P memperoleh suara yang berkali-kali lipat, sehingga partai yang semula gurem dan tidak siap dengan kader yang layak untuk ditempatkan sebagai anggota legislatif melakukan rekruitmen yang mendadak. Maka terjaringlah orang awam politik yang berasal dari kelas sosial rendah menjadi caleg, bahkan berhasil menduduki kursi legislatif di tingkat lokal.

Keberhasilan mereka, memberi inspirasi bagi yang lainnya. Sebab, ‘hanya’ dengan menjadi anggota legislatif, status sosial seseorang bisa berubah 180 derajat. Maka berdirilah berbagai partai, dan berbondong-bondonglah sejumlah orang menjadi caleg. Tujuannya, merubah nasib dan mengangkat status sosial. Mereka terseret arus Petruk ingin menjadi Ratu.

Sebenarnya, bukan cuma para anggota legislatif asal PDI-P saja yang menjadi inspirator sejumlah orang mendirikan partai dan mendaftar jadi caleg. Gus Dur yang mendadak jadi Presiden pun telah memberi insprirasi bagi sejumlah tokoh untuk turut mempertaruhkan nasib dengan mencalonkan diri sebagai capres dan cawapres di tahun 2004.

Tentu belum lepas dari ingatan, ketika reformasi digulirkan, Gus Dur saat itu tengah dirawat di rumahsakit. Ia sama sekali tidak ikut menggelindingkan roda reformasi. Bahkan ketika ia sudah boleh meninggalkan rumahsakit, dan momen itu diliput media massa, yang ia keluarkan adalah permohonan dan ajakan kepada para mahasiswa dan masyarakat luas –yang kala itu (Mei 1998) sedang giat-giatnya berunjuk rasa– untuk menghentikan demonstrasi serta menghentikan hujatan kepada Soeharto.

Meski tidak ikut menggerakkan roda reformasi, nyatanya Gus Dur bisa duduk jadi Presiden, mengalahkan Megawati dari PDI-P (pemenang pemilu 1999) melalui pemungutan suara anggota MPR RI. Gus Dur yang kalau jalan harus dituntun, kok bisa jadi presiden. Tentu sejumlah tokoh yang merasa lebih sehat dari Gus Dur merasa mampu pula menjadi presiden.

Faktanya, meski Gus Dur menjadi presiden hanya sekitar dua tahun (tepatnya 19 bulan, tapi sudah jalan-jalan ke 90-an Negara), namun keberhasilannya menduduki kursi presiden tetap menjadi inspirasi sejumlah orang, termasuk Nurcholish Madjid, (tokoh nyeleneh lagi sangat sesat yang pernah mengatakan bahwa Iblis kelak akan masuk surga dan surganya tertinggi karena tauhidnya murni, tidak mau sujud kepada Adam) yang sampai saat matinya tidak bisa mewujudkan keinginannya itu.

Kepemimpinan Gus Dur kemudian diteruskan oleh Megawati. Peristiwa Megawati jadi presiden pun telah menginspirasi sejumlah tokoh, yang merasa pendidikannya lebih tinggi dari Megawati, yang merasa pengetahuan dan pengalaman politiknya lebih tinggi dari Megawati, untuk maju menjadi capres dan cawapres 2004. Antara lain menginspirasi Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, menginspirasi Hamzah Haz dan Agum Gumelar, menginspirasi Amien Rais dan Siswono Yudhohusodho, menginspirasi Wiranto dan Solahuddin Wahid, menginspirasi Hasyim Muzadi yang menerima pinangan Megawati untuk posisi cawapres.

Pada pilpres 2004, terbukti yang berhasil maju ke putaran kedua adalah pasangan SBY-JK dan pasangan Mega-Hasyim. Pertarungan dimenangkan oleh SBY-JK. Padahal, SBY berasal dari Partai Demokrat, partai baru yang perolehan suaranya di bawah 10 persen. Begitu juga dengan JK yang di Golkar kala itu dipandang sebelah mata pada konvensi yang digelar Golkar untuk menjaring capres dan cawapres dari partai Golkar.

Peristiwa naiknya SBY-JK menjadi pasangan presiden dan wakil presiden, tentu saja menginspirasi sejumlah tokoh yang merasa lebih dari keduanya untuk juga turut mengadu nasib pada kesempatan berikutnya. Maka melesatlah sejumlah nama yang berani tampil sebagai capres. Dari sosok lama yang gagal pada 2004, muncul nama-nama seperti Wiranto dan Megawati. Sedangkan sosok baru, muncul nama-nama seperti Prabowo, HB X, Sutiyoso, Rizal Ramli, dan sebagainya.

Boleh jadi, mereka mencalonkan diri sebgai presiden (dan wakil presiden) belum tentu karena benar-benar terpanggil untuk memperbaiki keadaan, tetapi lebih banyak didorong oleh perasaan lebih sehat dari Gus Dur, lebih mampu dari Megawati, dan perasaan lebih lainnya dibandingkan dengan SBY-JK.


Caleg Stress

Peristiwa ‘panen raya’ yang dialami PDI-P di tahun 1999, kenyataannya tidak bisa berulang di tahun 2004. Di tahun 2004, PDI-P dikalahkan oleh Golkar. Sehingga kursi legislatif yang bisa diduduki kader-kadernya menjadi berkurang. Apalagi di tahun 2009 ini. Selain perolehan suaranya merosot, sistemnya juga diubah. Jika pada pemilu-pemilu sebelumnya hanya memilih partai, maka di tahun 2009 sistem nomor urut tidak diberlakukan, diganti dengan suara terbanyak. Artinya, rakyat didorong untuk memilih langsung para caleg melalui prosesi pencontrengan yang berlangsung Kamis 9 April 2009.

Karena sistem berubah, maka para caleg yang terseret arus Petruk ingin jadi Ratu ini pun harus berjuang keras mempromosikan dirinya. Sebab, saingannya bukan saja caleg dari partai berbeda, tetapi caleg dari partai sesama bahkan caleg satu dapil (daerah pemilihan). Untuk bisa memenangkan persaingan, maka biaya kampanye-nya pun harus siap digelontorkan. Caranya? Macem-macem. Termasuk berhutang kiri-kanan.

Maka ketika dana kampanye sudah banyak digelontorkan, namun perolehan suara yang berhasil dikumpulkan tidak mencukupi untuk membawa sang caleg ke kursi legislatif, tidak heran banyak di antara mereka yang kelimpungan, kelabakan, gedandapan, sampai stress.

Faktanya, di Bogor, menurut Dr. Abdul Farid Patuti (Kabag Hukum, Organisasi, dan Humas Rumah Sakit Marzoeki Mahdi), angka pasien gangguan jiwa pasca Pemilu meningkat drastis, hingga 300 persen. Bahkan, dalam sehari bisa mencapai 30 orang. Di antara mereka kebanyakan dari caleg yang gagal dalam Pemilu. Setidaknya dua puluh keluarga caleg sudah melakukan tindakan antisipatif dengan memesan kamar di RS tersebut terlebih dulu.

Menurut pemberitaan Poskota edisi Selasa 14 April 2009, seorang caleg yang tidak ingin identitasnya disebutkan, mengaku datang ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi (RSMM) karena kejiwaannya terbebani oleh kegagalan dalam Pemilu. Sejak mengetahui hanya mendapatkan 14 suara hingga Minggu petang, dia gelisah, takut, sulit tidur, dan tak nafsu makan. Selama kampanye, lelaki 3 anak itu mengeluarkan Rp 30 juta buat maju sebagai caleg DPRD Kabupaten Bogor.

Di Solo, sejumlah calon legislatif yang tak lolos saringan dalam pemilu legislatif terserang stres dan depresi. Karenanya tak heran jika rumah sakit jiwa di Solo, Jawa Tengah, kebanjiran pasien. Jumlahnya bahkan mencapai 200 orang per hari atau meningkat 100 persen lebih dari hari-hari biasa.

Sebagaimana diberitakan SCTV edisi Selasa (14 April 2009), seorang caleg menjalani terapi transfer energi setelah gagal meraih suara. Sang caleg yang enggan disebutkan nama dan partainya, mengaku mengalami depresi karena sudah ratusan juta rupiah uang dihabiskan pada pemilu lalu.

Di Cirebon, Majelis Dzikir Darul Lukman (yang terletak di Desa Sinarrancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon) banyak menerima caleg yang stress atau depresi karena gagal menjadi anggota dewan. Menurut Ustadz Ujang Busthomi (pengasuh dan pimpinan Majelis Dzikir Darul Lukman), ada sekitar 15 orang caleg dari berbagai daerah dan berbeda partai yang melakukan terapi dipondokannya. Mereka tidak hanya caleg untuk DPRD Kabupaten Cirebon, tetapi juga daerah lain, seperti Kuningan, Majalengka, dan Brebes.

Menurut Ustadz Ujang Busthomi pula, para caleg itu dari beragam partai politik seperti Partai Demokrat, Pakar Pangan, PKPB, PKB, Patriot, dan lainnya. Umumnya, para caleg tersebut mengalami depresi ringan. Mereka sulit berkomunikasi, banyak terdiam dan melamun. Faktor penyebab para caleg tersebut depresi antara lain karena banyak berhutang dan kehilangan harta bendanya. Dari pengakuan para caleg yang menjalani terapi, rata-rata para caleg tersebut menguras kocek dalam nilai yang sangat besar (ratusan juta), antara Rp 250 juta hingga -Rp 500 juta. Bahkan, ada yang mencapai Rp 3,5 mililar, sebagaimana dialami seorang caleg asal Partai Patriot di Kabupaten Majalengka. (http://www.beritacerbon.com/berita/2009-04/caleg-stres-mulai-jalani-terapi)

Di Palangkaraya, Wineini Marhaeni Rubay (Kepala Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei, Palangkaraya, Kalimantan Tengah) mengatakan, ada dua calon anggota legislatif (caleg) dan tiga simpatisan yang mengalami gangguan jiwa akibat harapannya di pemilu legislatif tidak terpenuhi. Lima orang yang mengalami gangguan jiwa tersebut berasal dari tiga partai yang berbeda. Menurut Wineini pula (Senin 13 April 2009), dari lima orang tadi, sebanyak dua orang melakukan konsultasi, sedangkan tiga lainnya harus rawat inap. Menurut Wineini, dua dari mereka mengalami gangguan jiwa ringan atau stres, satu mengalami gangguan jiwa sedang atau depresi, dan dua lainnya mengalami gangguan jiwa berat atau psikosis. (http://www.surya.co.id/2009/04/13/dua-caleg-di-kalteng-mengalami-gangguan-jiwa/)

Di Garut, Jawa Barat, salah seorang calon anggota legislatif mendatangi kantor KPU Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dia langsung marah-marah dan memaki Ketua KPU Garut, Aja Rowikarim,M.Ag. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin (13 April 2009). Diduga, ia merupakan caleg yang stress akibat perolehan suaranya tidak signifikan. (http://www.surya.co.id/2009/04/13/caleg-stres-maki-ketua-kpu-garut/). Masih di Garut, salah seorang caleg perempuan dari parpol tertentu mendadak meninggal dunia setelah mengetahui hasil perolehan suara sementaranya kalah telak, ungkap sumber yang enggan disebut namanya, juga enggan menyebutkan identitas caleg tersebut, Sabtu 11 April 2009. (http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/11/13035736/Caleg.Stres.Mulai.Bermunculan)

Seorang caleg dari Partai Bintang Reformasi di Garut (Jawa Barat), karena kecewa kepada warga pemilih yang tidak mencontreng dirinya pada surat suara di sekitar tempat pemungutan suara (TPS) tempat tinggalnya, ia tiba-tiba menutup badan jalan Pinggirsari yang menghubungkan Kec. Sukawening dengan Kec. Pangatikan. Peristiwa itu terjadi pada hari Jumat tanggal 10 April 2009. Caleg yang merupakan warga Kec. Sukawening ini menjadi marah lantaran perolehan suaranya hanya mencapai 5 suara. Bahkan, di TPS yang berdekatan dengan tempat tinggalnya, ia tidak memperoleh suara. Menurut Dindin (petugas piket kantor Kec Sukawening), sang caleg gagal itu melakukan penutupan jalan sesaat setelah dirinya mengetahui hasil perolehan suara di sejumlah TPS di sekitar kediamannya tidak menorehkan hasil signifikan. “Dia melakukan penutupan jalan dengan batang kayu sekitar Kamis (9 April 2009) menjelang tengah malam. Bahkan, pagi tadi (10 April 2009), dia sempat menggali jalan yang sama.” (http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=69206)

Di Tangerang, karena ambisi menjadi anggota legislatif tak tercapai, seorang caleg dari satu parpol di Tangerang, langsung stress. Pria berusia sekitar 40 tahun itu, tiba-tiba mengamuk setelah dalam penghitungan di beberapa TPS di sekitar lingkungannya, hasil suara dia sangat minim. Selain mengamuk, sang caleg ini juga merangak di pinggir jalan sambil membawa wadah, meminta uang kepada setiap orang yang lewat. Caleg yang tinggal di kawasan Perumahan Alam Sutera, Tangerang, tersebut, dengan rambut klimis bercelana pendek bertingkah seperti orang tidak waras dan jadi bahan ejekan anak-anak. (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1685933)

Di Ciamis, Sri Wahyuni seorang Caleg untuk DPRD Kota Banjar, Jawa Barat melakukan gantung diri hingga tewas. Caleg nomor urut-8 dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) itu ditemukan tewas gantung diri di areal persawahan, Dusun Cibarogol, Desa Bangun Jaya, Kecamatan Langkap Lancar, Kabupaten Ciamis pada hari Senin (13 April 2009) sekitar pukul 08.00 WIB. Menurut Kapolsek Langkap Lancar AKP Sukardi, korban pertama kali ditemukan oleh warga setempat bernama Toto Suharyanto, dalam keadaan tergantung sekitar dua meter dari permukaan tanah di atas atap saung atau pondok. Ia bunuh diri dengan menggunakan selendang. (http://www.infogue.com/viewstory/2009/04/14/caleg_gantung_diri/?url=http://adipramana.com/2009/04/caleg-gantung-diri.html)

Di Bantul Jogjakarta, menurut pantauan Suara Merdeka, ada satu caleg yang stress karena tidak lolos menjadi anggota dewan. Caleg itu dari salah satu partai besar yang pada pemilu kemarin sudah habis dana cukup besar, bahkan sertifikat rumahnya sudah digadaikan ke bank, tapi kenyataannya tidak lolos. ‘Sekarang orang itu hanya duduk saja dan melamun. (http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=26415)

Di Bulukumba (Sulawesi Selatan), salah seorang caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) Andi Langade Karaeng Mappangille bersama tim suksesnya nekat melakukan penutupan jalan sepanjang 3 kilometer. Hal tersebut dilakukannya, akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi untuk menjadi caleg terpilih. Aksi tutup jalan tersebut berlangsung sejak Minggu (12 April 2009) petang, sehingga membuat arus lalu lintas menjadi macet total karena sepanjang jalan 3 kilometer itu dipalang dengan menggunakan sebatang pohon dan tumpukan batu.

Menurut Andi Langade, ia merasa berhak melakukan penutupan jalan Mappatunrung, Dusun Biloro, Kec Bukumpa karena jalan yang digunakan oleh sekitar 400 penduduk itu merupakan tanah milik alamarhum kakeknya yang juga pejuang 45. Ia menambahkan, jika polisi ataupun pemerintah setempat memaksakan untuk membuka pemblokiran jalan yang dilakukan oleh timnya itu, dirinya terpaksa akan membongkar aspal jalan dan menggantinya dengan sebidang sawah seperti semula. (http://inilah.com/berita/politik/2009/04/13/98271/kecewa-caleg-nekat-blokir-jalan/)

Di Ternate, Maluku Utara, seorang caleg bernama Hartati meminta kembali televisi yang sudah disumbangkan ke warga. Hal tersebut dilakukannya karena perolehan suara sang caleg sangat rendah. Kejadian ini terjadi di RT 02 Kelurahan Falawaja II, Kota Ternate Selatan. Akibatnya, puluhan warga RT 02 Kelurahan Falawaja II marah. Mereka bahkan merusak kotak televisi, menyiram televisi dengan bensin dan membakarnya. Tindakan tersebut dilakukan warga karena kecewa setelah televisi milik warga yang ditempatkan di pangkalan ojek, diambil diam-diam pada malam hari. Hartati sendiri membantah telah mengambil televisi tersebut. Ia menduga, televisi itu diambil para pendukungnya. (http://ekampanyedamaipemiluindonesia2009.blogspot.com/2009/04/kalah-pemilu-caleg-ambil-tv-yg.html)

Di Denpasar (Bali), Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga Partai Hanura untuk DPRD Buleleng, meninggal dunia secara mendadak di rumahnya Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Musibah terjadi pada hari Kamis (9 April 2009) sekitar pukul 23.30 Wita itu. Heliawati diduga meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi harapan. Wanita asal Desa Bengkel, Busungbiu, itu mengembuskan napas dalam perawatan intensif di UGD RS Wijaya Kusuma, Seririt, Kabupaten Buleleng. (http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/11/11353570/Diduga.Jantungan.karena.Suara.Minim..Caleg.Hanura.Meninggal)

Di Dumai (Riau), tim sukses Aswin (seorang caleg Golkar) mencabuti tiang listrik yang disumbangnya karena kalah. Pencabutan tiang listrik ini berada di Jl Sejahtra, RT 20, Kelurahan Teluk Binjai, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, atau sekitar terpaut 200 KM arah utara dari Pekanbaru. Menurut Kasman, salah seorang timsukses Aswin, sejak awal warga setempat mengeluhkan tidak adanya tiang listrik permanen. Selama ini tiang listrik hanya ada terbuat dari bambu dan kayu. Berdasarkan keluhan warga tersebut tim sukses Aswin berusaha untuk memenuhi keinginan warga. Realisasinya, Aswin menyetujui memberikan bantuan 6 tiang listrik kepada warga. Pemasangan tiang ini dilakukan Februari lalu. Warga pun lega, karena kabel listrik mereka kini tidak lagi semerawut di tiang bambu dan kayu. Ketika itu, warga setempat dan ketua RT berjanji, setelah tiang listrik terpasang akan memberikan dukungan kepada Aswin. Dari awal sudah ada perjanjian, apa bila dukungan tidak terbukti, maka tiang listrik akan dicabut kembali. (http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/14/232550/1115508/700/kalah-suara-caleg-golkar-cabuti-tiang-listrik)

Di Kepri (Kepulauan Riau), akibat minimnya perolehan suara yang berhasil diraih, seorang caleg menghancurkan kembali jembatan yang ia bangun pada saat musim kampanye beberapa waktu yang lalu. Caleg dari salah satu partai ini ketika musim kampanye lalu memberikan bantuan kepada warga berupa pembangunan sebuah jembatan sederhana yang menghubungkan Bengkong Indah dan Bengkong Harapan II. Meski sederhana, pembangunan jembatan itu mengahbiskan biaya jutaan rupiah. Sang caleg membangun jembatan tersebut dengan harapan warga yang berdiam di sekitarnya mau memberikan simpati dan suara mereka kepadanya. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan berbeda dengan impiannya, perolehan suaranya sangat jeblok. Sang caleg pun marah. Tidak tanggung-tanggung, ia sendiri yang langsung turun tangan membongkar jembatan tersebut. (http://karodalnet.blogspot.com/2009/04/caleg-stress-bongkar-jembatan.html)


Fenomena Menarik

Menurut Arif Hidayat (http://www.sumbawanews.com/berita/editorial/menghitung-caleg-stress.html), fenomena banyaknya orang stress dan gila sangat mungkin terjadi karena niat awal untuk bertarung dalam pemilu bukan dalam rangka berjuang untuk mewakili konstituennya melalui jalur Legislatif. Banyak dari caleg yang boleh dibilang berjudi dengan kebijakan yang ada saat ini. Mereka lebih banyak memperhitungkan dampak ekonominya tatkala duduk sebagai anggota Dewan. Bahkan banyak dari mereka yang bertarung guna menghilangkan status “pengangguran” yang selama ini melekat di pundaknya.

Menurut dr Ari Fahrial Syam (Dokter Spesialis Penyakit Dalam, FKUI, RSCM), para caleg yang ikut dalam pesta dmeokrasi saat ini tidak memperhitungkan dampak yang akan dihadapinya. Mereka tidak menyadari kalau peluang masuk sebagai anggota dewan sangat kecil hanya sebesar lima persen. Karena tidak menyadari realitas ini, ada sejumlah caleg yang melakukan berbagai upaya untuk menjadi anggota legislatif dengan cara menghabiskan harta benda mereka, pinjam uang sana sini. Pada saat menerima kenyataan dirinya tidak berhasil, maka lahirlah stress.

Dokter Ari menambahkan, stress seperti ini bisa menimbulkan depresi, misalnya tidak mau ketemu orang banyak, menyendiri, menyesali perbuatannya, sedih yang berkepanjangan, bahkan hingga menyebabkan gangguan kejiwaan. Selain itu, bisa juga menimbulkan gangguan psikoterapi, misalnya jantung berdebar, sakit kepala, gangguan pencernaan, susah tidur. Sedangkan bagi caleg yang sudah menderita penyakit kronis seperti gula darah dan kencing manis, kegagalannya menjadi anggota legislatif akan membuat penyakitnya semakin parah dan tidak terkontrol. (http://www.republika.co.id/berita/43211/Potensi_Caleg_Stres_50_Persen)

Oleh karena itu, menurut seorang pengamat politik Peribadi, para caleg tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan di dalam menerima kemenangan, tetapi yang terpenting lagi adalah bagaimana caleg juga harus memiliki kecerdasan untuk mau menerima kekalahan dalam pemilu legislatif, jika dalam proses pemilihan nanti terbukti tidak mampu meraih kursi tersebut. Kecerdasan menerima kekalahan ini sangat perlu dimiliki oleh setiap petarung politik termaksud caleg, sebab yang selama ini timbul adalah ketika petarung kalah dalam pertarungan politik, yang bersangkutan tak mau mengakui kemenangan lawan, namun justru sebaliknya, berbalik menggugat kemenangan lawannya.

Ada fenomena menarik yang berhasil ditangkap redaksi nahimunkar.com, yaitu terlihat adanya semacam perasaan lega di kalangan sebagian masyarakat melihat adanya sejumlah caleg gagal yang menjadi stress. Fenomena ini mengherankan sekaligus menimbulkan sebuah tanda tanya: Siapa sebenarnya yang waras, para caleg yang gagal kemudian stress atau para warga masyarakat yang merasa lega melihat banyaknya caleg yang stress?

Kalau benar bahwa sebagian masyarakat merasa lega dan senang dengan banyaknya caleg gagal yang stress, berarti sebenarnya kursi kekuasaan itu tempat yang dibenci oleh masyarakat. Hingga kalau ada pejabat ataupun anggota Dewan yang tertangkap karena korupsi atau kasus-kasus lainnya yang kemudian menyeretnya ke penjara, maka seakan disikapi dengan nafas lega. Itu bukti tambahan mengenai dibencinya kursi kekuasaan oleh sebagian masyarakat. Namun anehnya, mengapa kursi jabatan itu justru dicari-cari oleh sekelompok orang dengan berbagai cara? Wallahu a’lam. (haji/tede)

  • deden

    mungkin yang mau jadi caleg itu punya motto rela dibenci masyarakat kalo nantinya ketahuan korupsi, yang penting dapat harta dan kekuasaan dulu n moga2 ga ketahuan kalo korupsi