Pelaku Dosa Besar Aborsi 62 Persen ABG

Pelaku Dosa Besar Aborsi  62 Persen ABG

Ilustrasi: batampos.co.id

Dua juta kasus kejahatan berdosa besar berupa aborsi (pengguguran kandungan) telah terjadi tahun 2008. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya kejahatan pengguguran kandungan (aborsi) itu terus meningkat rata-rata 15 persen. Celakanya, 62 persen pelakunya melibatkan anak-anak di bawah umur 18 tahun alias ABG (anak baru gede).

Di antara penyebabnya adalah pergaulan bebas akibat markanya pornografi. Dengan maraknya tayangan pornografi ini, diperkirakan ada sekitar 83,7 persen anak kelas IV dan V sudah kecanduan nonton film biru.

Ketika para remaja yang syahwatnya digoncang oleh film porno itu ramai-ramai berzina, maka jutaan manusia melakukan aborsi, dan kebanyakan pelaku kejahatan sex yang dilanjutkan dengan pengguguran kandungan itu  justru ABG. Bejatnya moral itu sudah diantisipasi dengan fatwa yang mengharamkan aborsi. Namun mereka nekat.

Di antara isi fatwa MUI tentang aborsi:

  • Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi). (FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR : 4 TAHUN 2005 Tentang A B O R S I)

Banyaknya kasus aborsi bahkan oleh para ABG, inilah beritanya. Kemudian dilanjutkan dengan teks lengkap fatwa MUI tentang haramnya aborsi.

***

Rabu, 21 Desember 2011 , 09:24:00

62 Persen Pelaku Aborsi ABG

JAKARTA–Rangkuman kasus aborsi yang direkam Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) perlu dibuat pelajaran. Kasus aborsi mulai 2008 hingga 2010 terus meningkat. Celakanya, 62 persen pelakunya melibatkan anak-anak di bawah umur.

Komnas PA memperkirakan, selama kurun waktu tadi, kenaikan angka kasus aborsi rata-rata 15 persen setiap tahun. Pada 2008 ditemukan ada dua juta jiwa anak korban aborsi. Tahun berikutnya, anak korban aborsi bertambah 300 ribu jiwa. Pada 2010, bertambah lagi 200 ribu jiwa.

Sekretaris Jenderal Komnas PA, Samsul Ridwan di Jakarta, kemarin menuturkan, kasus aborsi semakin mencolok di kota-kota besar. Dia mencontohkan, di DKI Jakarta selama 2011 ini tercatat ada 406 kasus aborsi. “Di balik data tadi, yang paling mencengangkan adalah lebih dari separuh pelaku aborsi adalah anak di bawah umur,” tandasnya. Anak-anak ini baru berumur kurang dari 18 tahun.
Samsul mengatakan, praktik aborsi yang paling dominan, sekitar dilakukan 37 persen pelakunya adalah dengan cara kuret atau pembersihan rahim. Kemudian, 25 persen kasus aborsi selanjutnya dilakukan melalui oral dengan meminum pil tertentu dan pijatan. Selanjutnya, 13 persen kasus aborsi dilakukan dengan cara suntik, lalu delapan persen dengan cara memasukkan benda asing ke dalam rahim. “Selain itu ada cara jamu dan akupunktur,” tandasnya.

Komnas PA menganalisis melonjaknya angka abrosi, terutama yang melibatkan anakanak di bawah umur, dipicu karena maraknya tayangan yang berbau pornografi. Dengan tayangan ini, anak-anak terangsang untuk melakukan hubungan seks sebelum nikah. Celakanya, akibat dari perbuatan ini, si anak perempuan akhirnya hamil di luar nikah. “Selama tahun ini kami menerima 22 kasus pengaduan tentang pornografi siswa SMP dan SMA,” ungkap Samsul.

Dengan maraknya tayangan pornografi ini, diperkirakan ada sekitar 83,7 persen anak kelas IV dan V sudah kecanduan nonton film biru. Untuk itu, Komnas PA menekankan adanya peningkatan pendidikan budi pekerti yang ditamankan sejak dini. Dengan cara ini, trend anak-anak menjadi pelaku aborsi bisa ditekan. Selain itu juga perlu memberikan pendidikan seks kepada anakanak.

Selain melansir kencenderungan aborsi yang dilakukan anak di bawah umur, Komnas PA juga memaparkan kasus tawuran pelajar selama 2011. Mereka menyebut, ada 128 kasus tawuran pelajar yang memakan korban tewas 82 pelajar. “Ini belum korban yang luka berat atau ringan,” ujar Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait.

Dia mengatakan, fenomena tingginya angka tawuran pelajar ini disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai tanggung jawab pelajar dengan lingkungan sekitar. Akibat dari lemahnya sosialisasi tanggung jawab tadi, pelajar mudah diajak rekan-rekannya berkelahi sesama pelajar. Menurut Arist, anak atau pelajar yang terlibat tawuran cenderung mengalami gangguan emosional dan sangat reaktif. Anak-anak ini mudah sekali tersulut emosinya.

“Ciri lainnya mereka sulit mengontrol diri, cenderung liar dan terlihat jahat,” kata dia Komnas PA meminta pemerintah lebih kuat lagi melakukan sosialisasi atau kampanye antikekerasan. Dengan upaya ini, Arist optimis bisa menekan budaya tawuran di kalangan pelajar. Ia mengutarakan, anak itu adalah peniru yang ulung. Mereka cenderung meniru apa yang dilihat di rumah, sekolah dan lingkungan sosial lainnya. “Untuk itu, setiap lingkungan tadi harus menjadi sasaran sosialisasi,” harap Arist. (wan) http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=85795

 ***

 2 Juta Perempuan Indonesia Lakukan Aborsi Tiap Tahun

Wednesday, 19 October 2011 14:59

mediaumat.com- Meski tindakan aborsi merupakan tindakan yang dilarang agama, namun tidak sedikit perempuan Indonesia yang melakukan hal ini. Bahkan sekitar 1 hingga 2 juta perempuan Indonesia melakukan aborsi setiap tahun.

Tindakan aborsi dilakukan akibat kehamilan yang tak diinginkan, baik karena kegagalan kontrasepsi, ataupun akibat hubungan zina.

“Aborsi di Indonesia menurut ahli demografi kesehatan masyarakat, lebih dari 1 juta bahkan ada yang mengatakan hingga 2 juta per tahun,” ujar Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA, Ketua Panitia ‘The 6th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health and Right 2011‘, saat konferensi pers di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta, Rabu (19/10/2011) seperti yang dikutip detik.com.

Menurut Prof Muhadjir, sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan aborsi yang dilakukan oleh remaja. Dan sebagian besar lagi dilakukan secara tidak aman karena tidak ada pelayanan aborsi legal di Indonesia.

“Di beberapa klinik ada pelayanan aborsi tapi untuk pasangan menikah dengan alasan kegagalan kontrasepsi. Tapi tidak ada untuk remaja,” lanjut Prof Muhadjir.

Tidak semua remaja yang mengalami kehamilan tak diinginkan melakukan aborsi. Ada beberapa remaja yang ingin melanjutkan kehamilan dengan berbagai cara.

Besarnya angka tersebut tentu tak luput dari pengaruh sistem sekuler di negeri ini. Disamping itu, melalui program KB pemerintah semakin gencar mengkampanyekan penundaan usia pernikahan dan kampanye kondom. Turut pula media ikut menyumbang melalui kampanye kehidupan liberal dan seks bebas melalui tontonan di TV. [] kh/dtk

***

 25 Februari 2008

Kasus Aborsi 2,5 Juta Setahun

Share

SURABAYA- Kendati dilarang baik oleh KUHP, undang-undang, maupun fatwa MUI dan majelis tarjih Muhammadiyah, praktik aborsi (pengguguran kandungan) di Indonesia tetap tinggi. Tiap tahun mencapai 2,5 juta kasus.

”Data tersebut belum termasuk kasus aborsi di jalur nonmedis (dukun),” kata Guru Besar Universitas YARSI Jakarta, Prof Dr H Jurnalis Uddin PAK dalam seminar dan lokakarya ‘Sosialisasi Buku Reinterpretasi Hukum Islam tentang Aborsi’ di Hotel Santika, Surabaya, Sabtu (23/2).

Menurut dia, penelitian pada beberapa fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan lembaga kesehatan lainnya menunjukkan bahwa fenomena aborsi di Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Dari penelitian WHO diperkirakan 20-60 persen aborsi di Indonesia adalah disengaja (induced abortion). Penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten di Indonesia memperkirakan sekitar 2 juta kasus aborsi, 50 persennya terjadi di perkotaan.

Kasus aborsi di perkotaan dilakukan secara diam-diam oleh tenaga kesehatan (70%), sedangkan di pedesaan oleh dukun (84%). Klien aborsi terbanyak berada pada kisaran usia 20-29 tahun.

Perempuan yang tidak menginginkan kehamilannya tersebut, kata Jurnalis Uddin, dikarenakan beberapa faktor. Antara lain, hamil karena perkosaan, janin dideteksi punya cacat genetik, alasan sosial ekonomi, ganguan kesehatan, KB gagal, dan lainnya.

”Biasanya hamil karena perkosaan akan menderita gangguan fisik dan jiwa berat seumur hidup,” terangnya.

Praktik aborsi, kata dia, dilarang keras oleh UU Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan fatwa MUI Nomor 4 tahun 2005 tentang Larangan Aborsi.(ant-60)

(/http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/02/25/2425/Kasus-Aborsi-25-Juta-Setahun

***

FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA

NOMOR : 4 TAHUN 2005

Tentang
A B O R S I

Bismillahirrahmaanirrahiim

Majelis Ulama Indonesia, setelah

Menimbang :

  1. bahwa akhir-akhir ini semakin banyak terjadi tindakan aborsi yang dilakukan oleh masyarakat tanpa memperhatikan tuntunan agama;
  2. bahwa aborsi tersebut banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi sehingga menimbulkan bahaya bagi ibu yang mengandungnya dan bagi masyarakat umumnya;
  3. bahwa aborsi sebagaimana yang tersebut dalam point a dan b telah menimbulkan pertanyaan masyarakat tentang hukum melakukan aborsi, apakah haram secara mutlak ataukah boleh dalam kondisi-kondisi tertentu;
  4. bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum aborsi untuk dijadikan pedoman.

Mengingat :

  1. Firman Allah SWT :
  2. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). (QS. al-An`am[6]:151).
    ”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa besar.” (QS. al-Isra`[17]:31).
  3. ”Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: ”Ya, Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alas an) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. al-Furqan[25]:63-71).
    “Hai Manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. al-Hajj[22]:5)
    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS: al-Mu`minun[23]:12-14)
  4. ”Seseorang dari kamu ditempatkan penciptaannya di dalam perut ibunya dalam selama empat puluh hari, kemudian menjadi `alaqah selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi mudhghah selama itu pula (40 hari); kemudian Allah mengutus seorang malaikat lalu diperintahkan empat kalimat (hal), dan dikatakan kepadanya: Tulislah amal, rizki dan ajalnya, serta celaka atau bahagia-(nya); kemudian ditiupkan ruh padanya.” (Hadits riwayat Imam al-Bukhari dari `Abdullah).
    ”Dua orang perempuan suku huzail berkelahi. Lalu satu dari keduanya melemparkan batu kepada yang lain hingga membunuhnya dan (membunuh pula) kandungannya. Kemudian mereka melaporkan kepada Rasulullah. Maka, beliau memutuskan bahwa diat untuk (membunuh) janinnya adalah (memberikan) seorang budak laki-laki atau perempuan.”(Hadist muttafaq `alaih –riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim- dari Abu Hurairah; lihat `Abdullah bin`Abdur Rahman al-Bassam, Tawdhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, [Lubnan: Mu`assasah al-Khidamat al-Thiba`iyyah, 1994], juz V, h.185):
  5. ”Tidak boleh membahakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”(Hadist riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin al-Shamit, Ahmad dari Ibn `Abbas, dan Malik dari Yahya).
  6. Qaidah Fiqih :
  7. ”Menghindarkan kerusakan (hal-hal negatif) diutamakan dari pada mendatangkan kemaslahatan.”
    ”Keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang (diharamkan).”
  8. ”Hajat terkadang dapat menduduki keadaan darurat.”

Memperhatikan :

  1. Pendapat para ulama :
  2. Imam al-Ghazali dari kalangan mazhab Syafi`I dalah Ihya` `Ulum al-Din, tahqiq Sayyid `Imrab (al-Qahirah: Dar al-Hadits, 2004), juz II, hal.67 : jika nutfah (sperma) telah bercampur (ikhtilah) dengan ovum di dalam rahim dan siap menerima kehidupan (isti`dad li-qabul al-hayah), maka merusaknya dipandang sebagai tindak pidana (jinayah).
  3. Ulama Al-Azhar dalam Bayan li-an-Nas min al-Azhar asy-Syarif (t.t.: Mathba`ah al-Mushhaf al-Syarif, t.th.), juz II, h. 256 :
  4. Jika aborsi dilakukan sebelum nafkhi ar-ruh, maka tentang hukumnya terdapat empat pendapat fuqaha`.Pertama, boleh (mubah) secara mutlak, tanpa harus ada alasan medis (`uzur); ini menurut ulama Zaidiyah, sekelompok ulama Hanafi –walaupun sebagian mereka membatasi dengan keharusan adanya alasan medis, sebagian ulama Syafi`i, serta sejumlah ulama Maliki dan Hanbali.Kedua, mubah karena adala alasan medis (`uzur) dan makruh jika tanpa `uzur; ini menurut ulama Hanafi dan sekelompok ulama Syafi`i. Ketiga, makruh secara mutlak; dan ini menurut sebagian ulama Maliki. Keempat,haram; ini menurut pendapat mu`tamad (yang dipedomani) oleh ulama Maliki dan sejalan dengan mazhab Zahiri yang mengharamkan `azl (coitus interruptus); hal itu disebabkan telah adanya kehidupan pada janin yang memungkinkannya tumbuh berkembang.
    Jika aborsi dilakukan setelah nafkhi ar-ruh pada janin, maka semua pendapat fuqaha` menunjukkan bahwa aborsi hukumnya dilarang (haram) jika tidak terdapat `uzur; perbuatan itu diancam dengan sanksi pidana manakala janin keluar dalam keadaan mati; dan sanksi tersebut oleh fuqaha` disebut dengan ghurrah.
  5. Syaikh `Athiyyah Shaqr (Ketua Komisi Fatwa Al-Azhar) dalam Ahsan al-Kalam fi al-Taqwa, (al-Qahirah: Dar al-Ghad al-`Arabi, t.th.), juz IV, h. 483:
  6. Jika kehamilan (kandungan) itu akibat zina, dan ulama mazhab Syafi`i membolehkan untuk menggugurkannya, maka menurutku, kebolehan itu berlaku pada (kehamilan akibat) perzinaan yang terpaksa (perkosaan) di mana (si wanita) merasakan penyesalan dan kepedihan hati. Sedangkan dalam kondisi di mana (si wanita atau masyarakat) telah meremehkan harga diri dan tidak (lagi) malu melakukan hubungan seksual yang haram (zina), maka saya berpendapat bahwa aborsi (terhadap kandungan akibat zina) tersebut tidak boleh (haram), karena hal itu dapat mendorong terjadinya kerusakan (perzinaan).
  7. Fatwa Munas MUI No.1/Munas VI/MUI/2000 tentang Aborsi.
  8. Rapat Komis Fatwa MUI, 3 Februari 2005; 10 Rabi`ul Akhir 1426 H/19 Mei 2005 dan 12 Rabi`ul Akhir 1426 H/21 Mei 2005.

Dengan memohon taufiq dan hidayah Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG ABORSI

Pertama : Ketentuan Umum

  1. Darurat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mati atau hampir mati.
  2. Hajat adalah suatu keadaan di mana seseorang apabila tidak melakukan sesuatu yang diharamkan maka ia akan mengalami kesulitan besar.

Kedua : Ketentuan Hukum

  1. Aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi).
  2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat.
  3. Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilah yang membolehkan aborsiadalah:
  4. Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter.
  5. Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.

Keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsiadalah:

  1. Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan.
  2. Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang didalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.

Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.

Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.

Keputusan fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap muslim yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 12 Rabi`ul Akhir 1426 H

21 Mei 2005

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA,

Ketua                                Sekretaris

K.H. Ma`ruf Amin               Hasanudin

http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=101

http://nahimunkar.com/232/fatwa-majelis-ulama-indonesia-nomor-4-tahun-2005-tentang-aborsi/

(nahimunkar.com)