Perayaan Maulid

Perayaan Maulid

Di Indonesia, setidaknya di Jakarta, merayakan atau memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terjadi di bulan Rabi’ul Awwal, tetapi juga terjadi hingga berbulan-bulan berikutnya, bahkan hingga mendekati masuknya bulan Ramadhan. Dalam satu kelurahan saja, masing-masing masjid dan mushalla menyelenggarakan perayaan atau peringatan maulid nabi sendiri-sendiri. Kaum ibu dan bapak juga membuat acara serupa sendiri-sendiri di masjid atau mushalla yang sama.

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi sesuatu yang merepotkan sebagian masyarakat Jakarta. Karena, panitia peringatan maulid melalui aparatnya mendatangi rumah-rumah tertentu untuk dimintai sumbangan. Bukan saja dari masjid atau mushalla terdekat, tetapi juga dari kampung sebelah yang berdekatan. Artinya, pada “musim maulid” seseorang yang dianggap mampu, apalagi dianggap dermawan akan kedatangan panitia maulid berkali-kali, hingga memasuki bulan Ramadhan.

Yang lebih merepotkan, bila acara peringatan maulid Nabi itu hingga memanfaatkan badan jalan, sehingga arus lalulintas harus dialihkan. Ini jelas merepotkan pengguna jalan. Apalagi bila peringatan maulid tadi dilengkapi dengan suguhan “musik Islami” yang tampil meriah (alias bising) dan rentetan petasan yang menghasilkan suara lebih bising. Itu semua atas nama mencintai Nabi namun justru menyelisihi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menguras puluhan juta rupiah

Anggaran yang direncanakan panitia peringatan maulid Nabi biasanya mencapai belasan hingga duapuluhan juta rupiah. Pos yang cukup menonjol dari anggaran panitia maulid ini, biasanya untuk nasi kebuli, honor penceramah (narasumber) dan habib yang jumlahnya bisa lebih dari satu, bahkan ada yang belasan.

Bagi sebagian masjid atau mushalla, peringatan maulid Nabi tanpa menghadirkan sejumlah habib terasa kurang afdhol. Karena, para habib dipercaya sebagai keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (versi syi’ah) melalui jalur Husein ra hingga ke pasangan Ali bin Abi Thalib ra dan Fatimah Az-Zahra ra (putri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kehadiran para habib tadi, bukan sebagai narasumber atau penceramah, tetapi bagai ornament/ hiasan. Mereka duduk sejajar narasumber dan menghadap jama’ah, hingga acara selesai. Usai acara, panitia membagi-bagikan amplop berisi uang dan kotak makanan untuk dibawa pulang untuk jajaran yang menghadap jama’ah itu, selain hidangan yang sudah dilahap di tempat. Di beberapa masjid atau mushalla, peringatan maulid Nabi ada juga yang dibarengi dengan santunan kepada sejumlah anak yatim. Konsekuensinya, anggaran panitia akan membengkak dan secara otomatis kian membebani warga sekitar. Dan kadang anak yatim itu hanya sebagai semacam daya pikat, sedang uang yang untuk anak yatim tidak seberapa.

Apa hubungan akhlaq Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nasi kebuli, para habib, “musik islami” dan petasan? Yang jelas, peringatan maulid Nabi bagi sebagian kalangan adalah kesempatan makan nasi kebuli, dan hidangan lainya yang jarang diperoleh di rumah sendiri. Bagi sebagian lain, ini merupakan momentum untuk mendapatkan “pahala” sekaligus rezeki tambahan dengan jadi tukang parkir dadakan dan seabagainya.

Bagi yang setuju dengan moment peringatan maulid Nabi seperti ini, mereka antara lain berdalih, hal itu merupakan bagian dari da’wah kultural. Mungkin maksudnya untuk menyampaikan nilai-nilai Islam bisa melalui perantaraan media kebudayaan. Memperkenalkan atau menyegarkan ingatan tentang sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat ditempuh melalui nasi kebuli dan petasan, selain ceramah, pembacaan barzanji, suguhan “musik Islami” dan sebagainya.

Ibarat memasukkan obat ke dalam tubuh, perlu media pengantar. Misalnya, obat batuk, media pengantarnya sirup dan air. Sehingga tidak terasa pahit di lidah. Hal yang sama juga bisa ditempuh untuk memasukkan racun ke dalam tubuh, sehingga tidak terasa pahit di lidah. Begitulah fenomena da’wah kultural: seolah positif padahal negatif.

Maulid Politis

Bila peringatan maulid di tingkat RT-RW memberikan keuntungan berupa makan nasi kebuli gratis, memperoleh rezeki tambahan sebagai juru parkir dan sebagainya, maka peringatan maulid Nabi di tingkat yang lebih tinggi, misalnya di tingkat nasional, boleh jadi akan memberikan benefit politis.

Misalnya, jika seorang pemimpin di tingkat nasional menghadiri acara maulid Nabi setidaknya ia berharap citranya yang agamis tetap terjaga. Apalagi pada saat bersamaan ia sedang dirasani umat Islam karena tidak tegas membubarkan aliran dan paham sesat seperti Ahmadiyah, yang tidak hanya merepotkan umat Islam tetapi juga aparat kepolisian.

Mengapa Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan serta jumlahnya kecil ini begitu percaya diri, bahkan terkesan arogan? Karena, mereka disemangati (dikompori, diprovokasi) oleh para laron-laron AKKBB (aktivis HAM, aktivis perempuan, serta penganut paham liberal lainnya, termasuk para kafirin dan penganut paganis).

Mengapa Ahmadiyah disebut arogan? Dalam kasus Cikeusik, pihak Ahmadiyah (Deden Sujana) lebih dulu melakukan pemukulan terhadap salah seorang dari kelompok massa yang mengenakan pita biru. Bahkan, Deden Sujana sebelumnya menolak ajakan aparat kepolisian untuk dievakuasi, sambil sesumbar: “Lepasin saja. Biar saja kita bentrok, biar seru. Kan asyik Pak. Masa kita diginiin diem saja Pak. Biar banjir darah di sini.”

Sebelum bentrokan terjadi, Suparta (warga Cikeusik) ingin berdialog dengan warga Ahmadiyah, tapi justru tangannya itu dibacok pedang. Adiknya Suparta, Ujang (kini tersangka), tidak tinggal diam melihat kakaknya dianiaya jemaat Ahmadiyah. Ia melakukan pembalasan. Terjadilah bentrokan. Jemaat Ahmadiyah yang terlanjur percaya diri berlebihan dan arogan ini tidak menyangka bila rombongan Ujang dan Suparta mencapai 1000 hingga 1500 orang.

Menurut pemberitaan sejumlah media massa, di kawasan Tugu Monas pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2011, diselenggarakan perayaan Maulid Nabi “Dzikir Akbar Majelis Rasulullah” yang berlangsung sejak pukul 09.00 wib dan dihadiri ribuan jamaah Majelis Rasulullah. Juga, Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa (pimpinan Majelis Rasulullah), Presiden Susilo Bambang Yudhyono beserta jajaran menteri serta Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Tentu tidak etis bila kita ajukan pertanyaan kepada para pejabat negara yang menghadiri peringatan maulid di kawasan Monas tadi, misalnya berupa status hukum peringatan maulid: mubah atau bid’ah? Lantas, apa yang dihasilkan dari perayaan maulid seperti itu? Yang pasti, sampah yang bertumpuk. Antara lain berupa koran bekas alas duduk jama’ah. Sejumlah pemulung ketiban rezeki. Mereka mengumpulkan koran bekas tersebut untuk dijual. Tapi, apa hubungan akhlaq Rasulullah dengan koran bekas?

Tradisi Maulid Sinkretis

Suka atau tidak, maulid sudah menjadi tradisi tersendiri bagi sebagian rakyat Indonesia. Bahkan sudah menjadi sub kultur yang diakui secara nasional. Di berbagai belahan nusantara, beragam perayaan maulid dilaksanakan orang atau badan dengan biaya yang tidak sedikit, secara pribadi atau merupakan bagian dari kegiatan resmi pemerintah setempat yang diakui bernuansa religi dan budaya.

Di Denpasar, Bali, umat Islam di sana, khususnya warga Kampung Islam Kepaon, memperingati hari lahir Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jatuh pada hari Selasa tanggal 15 Februari 2011 ini dengan menggelar pawai Ta’arub, berkeliling melewati beberapa banjar di sekitar Desa Pemogan. Pada pawai ini, diusung berbagai macam telur yang telah dihias warna-warni. Sosok telur hias mengingatkan kita pada telur paskah-nya umat kristiani.

Selain itu, mereka juga mengarak anak-anak kecil yang akan mengikuti khitanan massal gratis terutama bagi kalangan tidak mampu. Para penganten sunat ini, ditempatkan pada sebuah gerobak kecil yang telah dihias. Pawai Ta’arub berakhir di Masjid Al-Muhajirin. Di tempat ini dilakukan dzikir bersama dan ditutup dengan pembagian telur Maulid.

Di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tahun ini juga diekspresikan dengan pawai keliling kota sambil mengarak Kue Walima (kue tradisional yang khusus dibuat dan diarak untuk peringatan maulid). Oleh karena itu momen ini disebut Pawai Walima. Sejumlah kue Walima diarak dengan mobil, bentor (becak motor), dan bendi (gerobak dengan dua roda yang ditarik seekor kuda). Bagi masyarakat Gorontalo, kue Walima dipercaya dapat memberikan berkah karena telah didoakan semalam suntuk oleh imam dan tokoh-tokoh adat di masjid-masjid yang ada di wilayah itu.

Arak-arakan Kue Walima tersebut bermuara di Masjid Raya Baiturrahman. Rencananya, kue-kue itu dikumpulkan untuk dibacakan doa oleh ulama masjid, kemudian dibagikan. Namun, warga yang berjumlah ribuan sudah tidak sabar menunggu. Akibatnya, sebelum doa dipanjatkan mereka sudah saling berebut Kue Walima. Ada yang saling dorong, ada juga baku lempar kue antara warga dengan beberapa pemilik walima yang ada di mobil. Hasilnya, ricuh. Apa hubungan antara akhlaq Rasululah dengan Kue Walima dan kericuhan?

Di Madiun, Jawa Timur, peringatan maulid Nabi dibiayai dari dana APBD Madiun sebesar Rp 70 juta. Bentuknya, berupa Pawai Taaruf yang antara lain diikuti sejumlah pelajar di sana, dilanjutkan dengan berebut tumpeng. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi masyarakat Madiun setiap tahunnya, khususnya dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang biasanya berlangsung sejak pukul 07:00 wib hingga siang hari. Bagi yang percaya, tumpeng yang diperebutkan setiap maulid tersebut bisa memberikan berkah.

Nuansa rebutan juga bisa dirasakan pada peringatan maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diselenggarakan masyarakat Takalar, Sulawesi Selatan. Setiap bulan Maulud, masyarakat di sini untuk sementara megalihfungsikan perahu yang biasa digunakan mencari ikan menjadi wadah yang menampung sejumlah telur hias yang dinamakan Telur Maulud. Tradisi ini oleh masyarakat setempat disebut Maudu Lompoa.

Maudu Lompoa diklaim sebagai acara keagamaan sekaligus kebudayaan yang secara rutin diselenggarakan pemerintah kabupaten Takalar. Bahkan, acara ini telah ditetapkan sebagai salah satu event wisata nasional. Di ujung acara, ribuan warga yang hadir dipersilakan mengambil secara gratisan Telur Maulid yang disediakan panitia. Terjadilah rebutan. Apa hubungan antara akhlaq Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rebutan telur?

***

Beberapa contoh acara peringatan maulid di atas hanyalah sebagian kecil saja dari tradisi maulid yang dikenal masyarakat kita. Nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan kepada masyarakat melalui peringatan maulid seperti itu? Barangkali penyelengara bermaksud menanamkan nilai-nilai sebagai berikut: gratisan dan rebutan.

Maka, jangan heran bila melalui tradisi keagamaan-kebudayaan seperti itu yang dihasilkan adalah “sampah” dan sampah. Yaitu, masyarakat yang beringas dan tidak toleran. Inilah output dari diimplementasikannya bid’ah dholalah di dalam kehidupan masyarakat. Sekaligus merupakan suatu bukti bahwa bid’ah itu selain dholalah juga lebih banyak mudharat-nya. Masih pula sering jadi ajang untuk memasarkan hadits-hadits palsu. Artinya, mereka menyebarkan dusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atas nama mencintainya, padahal justru berdusta atas namanya.

Itu belum lagi dusta-dusta yang tersimpan di dada-dada. Untuk menyadarkan itu semua perlu direnungi isi ayat yang memang berupa peringatan.

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [البقرة/9]

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar . (QS Al-Baqarah: 9). (haji/tede)

(nahimunkar.com)

  • http://- karnadi kasan sardji

    Masya Allah !!! Sungguh tragis kalau memang benar kejadiannya seperti ini. Peristiwa diatas, sungguh sangat memalukan dan menyedihkan.

    1. Memalukan. Hanya karena ingin mendapatkan makanan, mereka harus berebutan, bentrokan fisik, baku hantam, saling pukul dan saling serang.

    Betapa bodohnya mereka, padahal Islam mengajarkan untuk saling menghargai, saling bertoleransi, dan saling menahan diri, sehingga tidak perlu harus baku hantam untuk mendapatkan bagian yang tidak seberapa artinya.

    2. Menyedihkan. Kasus itu menunjukan, betapa piciknya pengetahuan mereka yang mudah diperdaya, mudah dihasut dan mudah diprovokasi. Kenapa sebagian orang-orang Islam menjadikan bodoh orang-orang Islam lainnya. Padahal Rasulullah SAWmenyuruh kita untuk belajar (Iqra) Islam dengan benar. Pelajari Al Quran

    dan ikuti sunnah rasul. Hindari kemungkaran dan jauhi kegiatan yang berbau kesyirikan.

    Dari kasus diatas, marilah kita belajar menghargai nilai-nilai kemanusiaan, Siapakah diri kita ini? Dimana kita tinggal ? dan dengan Siapa kita hidup ?. Kita juga harus belajar bermasyarakat Islami sesuai ajaran Rasulullah. Dan cobalah kita bertanya pada diri kita : Apakah kita telah menjadi orang Islam yang benar ?

    Yang perlu kita cermati dan kita waspadai ialah janganlah ajang Maulid Nabi dijadikan sandaran untuk mencari keuntungan panitia atau segelintir orang. Tapi, jadikan kegiatan peringatan Maulid Nabi sebagai ajang silaturakhmi dan membina persaudaraan antar sesama muslim. Karena Islam mengajarkan kepada umatnya untuk hidup dalam kedamaian, ketentraman dan keharmonisan, bukan untuk cakar-cakaran dan ber-tawuran.

  • http://ayyubikid.blogspot.com abdullah

    afwan kalau hak cipta itu hukum syara atau hukum kufur