Polres Jember Sidik Ulang Konflik Sunni-Syiah

Polres Jember Sidik Ulang Konflik Sunni-Syiah

Spanduk anti Syiah di Puger, Jember. (Jaringnews/Arif Purba)

Jember – Kepolisian akan melakukan penyidikan ulang atas kasus kekerasan yang mewarnai konflik Sunni-Syiah di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Kepala Kepolisian Resor Jember, Ajun Komisaris Besar Jayadi, memerintahkan penyidikan kembali, setelah mendapat kritikan dari Tim Advokasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kencong. “Provokator yang mendatangi Ustadz Fauzi belum tertangkap. Empat orang pemicu konflik belum ditangkap,” kata Moch. Sholeh, koordinator tim tersebut.

Akhir Mei lalu Ustadz Fauzi, salah satu tokoh agama NU setempat, didatangi sepuluh orang saat sedang berada di rumah. Ada empat orang yang dikenali Fauzi, masing-masing berinisial ABAH, MBAH, ZBAH, dan Arf. Dalam pertemuan itu, empat orang tersebut mengeluarkan ancaman. Mereka menuntut agar rencana pengajian 7 Juni di Puger dibatalkan.

Suasana memanas. Salah satu warga Puger, Satuki, mengingatkan agar para tamu bersikap sopan. Namun, Arf malah hendak memukul Fauzi. Satuki berusaha melindungi Ustadz Fauzi, dan malah kena sabet senjata tajam dari salah satu gerombolan tamu yang tak diundang itu. Untunglah, Satuki tidak terluka.

Dari hasil penyidikan kepolisian, akhirnya satu tersangka disidangkan di Pengadilan Negeri Jember. Namun, Tim Advokasi NU Kencong tidak puas, karena empat orang yang mendatangi rumah Fauzi tidak ditangkap dan diproses hukum. “Kami ingin kepolisian benar-benar menangani persoalan ini. Pemicu kerusuhan dan pembacokan, ini yang harus diproses,” kata Sholeh.

Jayadi menegaskan, kepolisian tidak main-main dalam menangani persoalan tersebut. “Terlalu naif kalau kami mempermainkan persoalan bernuansa SARA ini. Ini masalah SARA, potensi konfliknya terbuka,” katanya.

“Kami akan melakukan proses penyidikan kembali. Tolong dampingi korban,” tambah Jayadi. Ia meminta agar ada pengacara yang memahami tata cara dan aturan hukum formal yang mendampingi.

“Kalau tidak ada penasihat hukum, kami dari Polres akan menyiapkan,” kata Jayadi. Keberadaan penasihat hukum ini diperlukan, agar ada kesamaan perspektif dalam memandang sebuah proses hukum dari semua pihak. Jika semua sudah siap, Jumat (31/8/2012), penyidikan bisa dilakukan kembali.

Sementara itu, konflik bernuansa hubungan Syiah dan Sunni di Kabupaten Jember sendiri berakhir damai, Kamis (30/8/2012) sore.

Perdamaian dilakukan dalam pertemuan di DPRD Jember yang dihadiri anggota parlemen, aparat kepolisian, kejaksaan, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Forum Kerukunan Umat Beragama, Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama Cabang Jember, NU Cabang Kencong, dan pihak yang dituduh sebagai Syiah.

Habib Ali Bin Umar Al-Habsyi, pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholihin, Kecamatan Puger, yang dituduh Syiah secara resmi menandatangani surat permintaan maaf di atas materai. [wir] (beritajatim.com)31 Agustus 2012 06:07:54 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan

(nahimunkar.com)