Saifuddin Amtsir Ternyata Tokoh Utama Fatwa NU Bolehkan Hukum Mati Koruptor

Saifuddin Amtsir Ternyata Tokoh Utama Fatwa NU Bolehkan Hukum Mati Koruptor

Saifuddin Amtsir yang beritanya heboh (karena menyanyikan lagu PKI dan “menjilat” Syiah dalam acara mencaci sahabat Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam yang disebut Idul Ghadir  di Jakarta 26/10 2013) ternyata dia adalah ketua Komisi yang mengeluarkan Fatwa NU tentang bolehnya Hukuman Mati Bagi Koruptor.

Dengan demikian, dia dipercaya oleh NU untuk membahas Hukum Islam bahkan mengetuai komisi untuk mengeluarkan fatwa. Padahal, kalau kita baca tulisan Kyai NU dari Malang, tentunya NU perlu berkaca lagi.

Ustadz H. Luthfi Bashori ketika ditanya tentang Syaifuddin Amtsir hadir dan memberikan sambutan dalam peringatan Hari Raya Agama Syiah, Idul Ghadir yg diselenggarakan oleh Ijabi, menjawab:

 

BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

Tidak semua pengurus PBNU itu orang alim (ulama), tapi banyak juga yang sekedar berbackground aktifis muslim, lantas berkarir dalam organisasi NU hingga bisa menjabat pengurus PBNU, namun pemahaman agamanya masih minim, sehingga tidak dapat membedakan mana aqidah yang benar dan mana yang salah, bahkan tidak tahu amanat KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU yang mengharamkan warga NU ikut nimbrung dengan penganut Syiah dimanapun berada.

Masalahnya, banyak sekali tokoh Islam yang sejatinya awam agama yang berambisi menjadi pengurus PBNU (dan sebagian mereka berhasil jadi pengurus), karena melihat NU sebagai ormas Islam terbesar ini layak ‘dijual’ untuk mencari dana yang dapat menguntungkan kepentingan pribadi.

http://www.nahimunkar.com/dipersoalkan-pidato-pengurus-pbnu-di-perayaan-sesat-syiah-ghadir/

Berita tentang Fatwa NU yang pembahasannya diketuai Saifuddin Amtsir, sebagai berikut.

.

NU dan Fatwa Hukuman Mati Koruptor

Selasa, 25/09/2012 14:29

Oleh Hamidulloh Ibda

Musyawarah Nasional (Munas) alim ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU sangat memberikan sinyal positif terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini. Makin maraknya korupsi di Indonesia telah membuat keprihatinan tersendiri bagi para alim ulama NU. Mereka mengeluarkan fatwa yang berisi rekomendasi “hukuman mati bagi koruptor” yang mengulangi perbuatannya.

Fatwa itu dikeluarkan setelah melalui pembahasan di Komisi A atau Bahtsul Masail Ad-Diniyah Al-Waqi’iyah pada hari kedua pelaksanaan Munas alim ulama dan Konbes NU di Pesantren Kempek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Kompas, 16/9). Rais Syuriyah PBNU yang juga Ketua Komisi A, KH Syaifuddin Amsir, menyatakan hukuman mati bagi koruptor dijatuhkan sebagai efek jera untuk tidak mengulangi perbuatannya. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Artinya, jika fatwa NU masuk akal dan solutif untuk memberantas dan memberikan efek jera bagi koruptor, pemerintah harus mendukung fatwa tersebut. http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,39949-lang,id-c,kolom-t,NU+dan+Fatwa+Hukuman+Mati+Koruptor-.phpx

Mungkin dalam sejarah NU, baru ada yang menjelaskan Fatwa NU, modelnya begini:

Rais Syuriyah PBNU yang juga Ketua Komisi A, KH Syaifuddin Amsir, menyatakan hukuman mati bagi koruptor dijatuhkan sebagai efek jera untuk tidak mengulangi perbuatannya. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Artinya, jika fatwa NU masuk akal dan solutif untuk memberantas dan memberikan efek jera bagi koruptor, pemerintah harus mendukung fatwa tersebut.

Terhadap fatwanya sendiri (NU yang dia pimpin dalam hal berfatwa soal ini) saja dia sudah ragu-ragu dan berbau penawaran, yang bunyinya : Artinya, jika fatwa NU masuk akal dan solutif untuk memberantas dan memberikan efek jera bagi koruptor, pemerintah harus mendukung fatwa tersebut.

Entah mana lebih parah, ucapannya itu ataukah nyayi-nyanyi lagu PKI di perayaan Syiah sambil « menjilat » syiah, silakan saja untuk menilainya. Mari kita simak ramainya tanggapan berita tentang dia.

.

Ramai, Tanggapan Berita : Seorang Pengurus NU Menyanyikan Lagu PKI Sambil “Menjilat” Syiah?

  • KH Saifuddin Amtsir, MA Tercantum dalam  Pengurus Harian Syuriyah PBNU

Berita singkat yang banyak dikomentara itu di antaranya berbunyi: Bayangkan, Syaifuddin Amsir Pengurus PBNU yang orang Betawi, menyanyikan lagu yang diakui sendiri bahwa nyanyian itu dari ranah PKI, dan bahasa Jawa lagi : Iki piye iki piye… (Ini bagaimana ini bagaimana). Lalu ditepuki oleh hadirin sekitar 1500-an orang yang aqidahnya tertipu hingga ikut Syiah.

Orang NU dari Cakung Jaktim ini sedang jualan PKI atau sambil menjilat syiah atas nama NU?

http://www.nahimunkar.com/seorang-pengurus-nu-menyanyikan-lagu-pki-sambil-menjilat-syiah/

Walaupun berita itu sudah diberi link-link yang menjelaskan peristiwanya, namun komentar-komentar yang miring-miring terhadap berita itu alias membela sang “penyanyi lagu PKI” ataupun Ormas yang digembosi (dan belum terdengar rekasinya), cukup banyak. Bahkan sebagian tampaknya keterlaluan. Seolah mencaci orang yang mengkritisi Saifuddin Amsir ataupun NU itu halal bagi mereka. Sehingga tampak los saja. Padahal itu semua akan dihisab (diperhitungkan) di akherat kelak dan dimintai pertanggungan jawabnya. Sedangkan mencaci orang Muslim itu adalah tingkah fasik (keluar dari ketaatan).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Dari Abdullah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran. [HR. Nasai No.4042].

Lebih dari itu, ada yang berdusta demi mendustakan orang yang mengkritisi Saifuddin Amtsir ataupun NU. Contohnya komentar seseorang yang ditulis begini:

Ahmad Rofii saifudin amsir, nama itu sama sekali tidk ada dlm kepengurusan NU,baik dlm tngkat tanfidhy atau PWNU , aplgi PBNU,itu hnya akal2an merka saja tuk membdohi dan meyakinkan warga NU, yg seolah2 dia adlh orang NU/mantan NU.

Suka · Balas · 45 menit yang lalu dalam fp nahimunkar.com menanggapi judul tersebut.

Untuk membuktikan dustanya pengomentar itu, berikut ini dikutip seutuhnya susunan pengurus PBNU dari situs remsi PBNU. Di dalam susunan pengurus itu KH Saifuddin Amtsir, MA tercantum dalam jajaran Pengurus Harian Syuriyah PBNU. Bahkan dia adalah ketua komisi ketika sidang yang memfatwakan bolehnya koruptor dihukum mati, yang telah disebutkan di atas.

Inilah kutipan susunan pengurus PBNU dari situs PBNU :

***

Susunan Penyesuaian PBNU 2010-2015 Resmi Diumumkan

Senin, 19/04/2010 17:51

Jakarta, NU Online
Dengan didampingi oleh Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan Sekretaris Jenderal PBNU Iqbal Sullam, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengumumkan susunan PBNU hasil penyesuaian dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBNU di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya 164 Jakarta, Senin (19/4) sore pukul 16.20 WIB.

Pengumuman yang dibacakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj adalah sebagai berikut :

Alhamdulillahi haqqo hamdih. As-sholatu wassalamu ‘alaa ‘abdih, wa ‘alaa alihi wa ashhabihi waman tabi’ahum ilaa yaumi wa’dih. Wa ba’du

Rais Am Syuriyah dan Ketua Umum PBNU selaku mandataris yang diberi tugas untuk melengkapi susunan kepengurusan PBNU periode 2010-2015 sebagaimana telah diamanatkan oleh Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga jam’iyyah Nahdlatul Ulama, khususnya pasal 41 tentang Pemilihan dan Penetapan Pengurus, setelah mempertimbangkan berbagai masukan, terutama dari anggotamede formatur, maka bersama ini mengumumkan dengan resmi susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010-2015 sebagai berikut:

MUSTASYAR

Prof Dr KH Tholchah Hasan
KH Muchit Muzadi
KH Maemun Zubair
KH Ma’ruf Amin
KH Idris Marzuki
KH E Fakhrudin Masturo
KH Chotib Umar
KH Dimyati Rois
Tuan Guru Turmudzi Badruddin
Dr HM Jusuf Kalla
KH Abdurrahim Mustafa
Prof Dr KH Maghfur Usman
Prof Dr Nasaruddin Umar, MA
KH Sya’roni Ahmadi
Prof Dr Ridhwan Lubis
KH Muiz Kabri
KH Mahfudl Ridwan
Dr Ing H Fauzi Bowo
KH A Syatibi

PENGURUS HARIAN SYURIYAH

Rais Am     : Dr KH MA Sahal Mahfudh
Wakil         : Dr KH A Musthofa Bisri            
Rais           : 
Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya
Rais           : KH AGH Sanusi Baco
Rais           : Dr KH Hasyim Muzadi
Rais           : KH Masduqi Mahfudh
Rais           : KH Hamdan Kholid
Rais           : KH Masdar Farid Mas’udi, MA
Rais           : KH Mas Subadar
Rais           : Prof Dr Machasin, MA
Rais           : Prof Dr KH Ali Musthofa Yaqub
Rais           : Prof Dr H Artani Hasbi
Rais           : KH Ibnu Ubaidillah Syatori
Rais           : KH Saifuddin Amtsir, MA
Rais           : KH Adib Rofiuddin Izza
Rais           : KH Ahmad Ishomuddin MAg

Katib Am   : Dr KH Malik Madani
Katib          : KH Drs Ichwan Syam
Katib          : KH Musthofa Aqil
Katib          : KH Kafabihi Mahrus Ali
Katib          : KH Yahya Staquf Cholil
Katib          : KH Shalahuddin al-Ayyubi, MSi
Katib          : KH Afifuddin Muhajir
Katib          : KH Mujib Qolyubi MHum

PENGURUS HARIAN TANFIDZIYAH

Ketua Umum           : Dr KH Said Aqil Siradj, MA
Wakil Ketua Umum : Drs H As’ad Said Ali
Ketua                        : Drs H. Slamet Effendi Yusuf, MSi
Ketua                        : KH Hasyim Wahid Hasyim
Ketua                        : KH Abbas Muin, MA
Ketua                        : Drs H Muh. Salim al-Jufri
Ketua                        : Prof Dr H Maksum Mahfudz
Ketua                        : Prof Dr Maidir Harun
Ketua                        : Drs H Saifullah Yusuf
Ketua                        : Drs M Imam Azis
Ketua                        : Drs H Hilmi Muhammadiyah, MSi
Ketua                        : Drs H Abdurrahman, MPd
Ketua                        : Drs H Arvin Hakim Thoha
Ketua                        : Dr KH Marsudi Syuhud
Ketua                        : Prof Dr Kacung Marijan
Ketua                        : H Dedi Wahidi SPd, MSi

Sekretaris Jenderal : Ir HM Iqbal sulam
Wakil Sekjen             : Drs H Enceng Shobirin
Wakil Sekjen             : Drs H Abdul Mun’im DZ
Wakil Sekjen             : Dr H Aji Hermawan
Wakil Sekjen             : Dr H Affandi Muchtar
Wakil Sekjen             : Dr dr Syahrizal Syarif, MPH
Wakil Sekjen             : Dr H Hanif Saha Ghofur
Wakil Sekjen             : Imdadun Rahmat, MA

Bendahara               : Dr H Bina Suhendra
Wakil Bendahara     : Dr H Zainal Abidin HH
Wakil Bendahara     : Nasirullah Falah
Wakil Bendahara     : H Raja Sapta Ervian, SH MHum
Wakil Bendahara     : Hamid Wahid Zaini, MAg

Dengan pengumuman ini, diharapkan polemik atas susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 20-10-2015 sebagaimana telah beredar di media Massa selama ini, dan munculnya respon dari berbagai pihak, khususnya dari beberapa pengurus cabang dan wilayah Nahdlatul Ulama telah terjawab. (min)

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,22611-lang,id-c,warta-t,Susunan+Penyesuaian+PBNU+2010+2015+Resmi+Diumumkan-.phpx

(nahimunkar.com)