Suburnya Aliran Sesat di Indonesia (2)

Suburnya Aliran Sesat di Indonesia (2)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Para pendukung kesesatan

Para pendukung kesesatan dan pembantah fatwa MUI itu di antaranya: Ulil Abshar Abdala kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal), Abdurrahman Wahid (Gus Dur, pendiri PKB/ Partai Kebangkitan Bangsa, dan bekas Ketua Umum NU/ Nahdlatul Ulama), Dawam Rahardjo (Muhammadiyah, belakangan dipecat oleh Muhammadiyah), Syafii Anwar (International Centre for Islam and Pluralism), Anand Krishna (agamanya tak jelas, tetapi menulis buku-buku yang memutarbalikkan isi dan misi ayat-ayat Al-Qur’an), Weinata Sairin (Protestan), Djati Kusuma (kelompok Sunda Wiwitan), Djohan Efendi (Indonesian Conference on Religion and Peace), dan sejumlah orang liberal seperti Muslim Abdurrahman, Abdul Moqsith Ghazali, Azyumadi Azra yang saat itu jadi rector UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta dan sederet nama yang belum terkenal dari kalangan yang berhaluan liberal.

Berikut ini berita dalam laporan khusus Majalah Gatra di Jakarta, 1 Agustus 2005).

Tapal batas tafsir bebas

“MUI wajib bersih dari unsur aliran sesat dan pendangkal akidah!” gemuruh tepuk tangan spontan meriuhkan istana ballroom hotel Sari Pan Pacific Jakarta, kamis siang pekan silam. Kalimat itu adalah penggalan salah satu item draf rekomendasi musyawarah nasional (munas) vii Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dibacakan dalam sidang pleno.

Bila diringkas, perhatian utama pembahasan munas yang berlangsung Selasa hingga Jumat pekan lalu itu memang bermuara pada dua tema besar itu: aliran sesat dan pendangkalan akidah. Aliran sesat secara eksplisit merujuk pada Ahmadiyah yang tengah disorot dan Lembaga Dakwah Islam indonesia (LDII). Keduanya dinilai meresahkan masyarakat.

“MUI mendesak pemerintah menindak tegas munculnya ajaran sesat dan membubarkannya karena meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, LDII,” demikian bunyi lengkap rekomendasi itu. Sedangkan isu pendangkalan akidah terang-terangan dinisbatkan pada Jaringan Islam Liberal. “MUI supaya melakukan kajian ktitis terhadap Jaringan Islam Liberal dan sejenisnya yang berdampak pendangkalan akidah.”

Dengan sedikit masukan dari peserta kiri-kanan, pimpinan sidang, prof. Dr. Din syamsuddin, tanpa proses berbelit lantas mengesahkan rekomendasi itu. Spirit bahasan komisi rekomendasi ini sejatinya masih satu tarikan napas dengan rumusan komisi fatwa yang sudah disahkan lebih dahulu. Isi rekomendasinya bernada mengawal implementasi fatwa yang juga banyak menyorot tema aliran sesat dan pendangkalan akidah tadi.

Produktivitas komisi fatwa pada munas ini terbilang tinggi. “Biasanya munas hanya mengeluarkan lima fatwa,” kata Hasanuddin, sekretaris komisi fatwa. Munas vii ini mampu menelurkan sampai 11 fatwa. Sorotannya banyak pada tema-tema yang kerap diusung para pemikir liberal-pluralis.

Mulai wacana paradigmatik semacam liberalisme, pluralisme, dan sekularisme agama. Hingga tema-tema furu’iyah semacam kawin beda agama, waris beda agama, imam perempuan, dan doa bersama lintas agama. Status kesesatan Ahmadiyah pun makin ditegaskan. MUI tidak memenuhi tuntutan sebagian masyarakat agar mencabut fatwa sesat, tapi malah menambahi status murtad dan mewajibkan pemerintah untuk membubarkannya.

Ada pula tema lain di luar agenda pertarungan pemikiran. Yakni fatwa tentang hukuman mati, hak atas kekayaan intelektual, pencabutan hak milik pribadi untuk kepentingan umum, dan kriteria maslahat.

MUI berfatwa bahwa pluralisme, liberalisme, dan sekularisme bertentangan dengan ajaran Islam. Umat Islam haram mengikuti ketiga paham tersebut. Bukankah pluralisme adalah fakta keragaman, di mana haramnya? “Jangan samakan pluralisme dan pluralitas,” kata KH Ma’ruf Amin, ketua komisi fatwa.

Kalau realitas keberagaman, menurut MUI, adalah pluralitas. Sedangkan pluralisme adalah paham bahwa semua agama sama benarnya dan kebenaran setiap agama adalah relatif. “Paham ini bisa mendangkalkan akidah,” ujar Ma’ruf. Liberalisme didefinisikan sebagai pandangan yang memenangkan akal atas nash al-Quran dan sunah. Sedangkan sekularisme diartikan sebagai pemisahan agama dan urusan dunia. Anggota komisi fatwa, Prof. KH Ali Mustofa Yaqub, menandaskan, fatwa ini jangan dipahami bahwa Islam eksklusif. “Islam itu inklusif sekaligus eksklusif,” kata guru besar ilmu hadis itu. “Inklusif dalam hal muamalah, interaksi sosial, tetapi Islam itu eksklusif dalam hal ibadah dan akidah.” Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar-Abdalla, menilai definisi MUI tentang sekularisme, liberalisme, dan pluralisme terlalu sederhana. “Memaknai sekularisme sebagai memisahkan urusan dunia dari agama jelas menggelikan.”

Menurut Ulil, definisi umum sekularisme adalah memisahkan kekuasaan kaum agama dan kekuasaan negara. Negara sekuler artinya negara yang tidak dikuasai ulama seperti iran yang mengenal konsep wilayat al faqih (kekuasaan kaum ulama). “Sekularisme tidak menghalangi dan memusuhi peran agama dalam ruang publik,” katanya.

Sekularisme, menurut Ulil, pada dasarnya menghendaki agar negara bersikap netral dalam urusan kepercayaan penduduknya. Negara harus netral, tidak boleh berpihak pada satu agama dan mendiskriminasi agama lain. Negara netral adalah terjemahan dari prinsip la ikraha fil al-din (tak ada paksaan dalam beragama). “Sekularisme dalam pengertian ini justru sangat baik,” kata mantan santri KH Sahal Mahfudh, ketua umum MUI, itu.

Soal liberalisme, kata Ulil, Islam Liberal memang menganjurkan pendekatan rasional dalam memahami teks agama yang berhubungan dengan aspek muamalah. “Pendekatan rasional tidak aneh dalam tradisi intelektual Islam,” katanya. Ia mencontohkan filsuf besar Islam yang juga ahli fikih, Ibn Rusyd. Dalam bukunya, fashl al-maqal fi tahqiqi ma baina al-shari’ati wa al-hikmati min al-ittishal, Ibnu Rusyd mengatakan, jika kebenaran agama dan kebenaran rasional bertentangan, maka kebenaran agama harus ditakwil atau ditafsirkan. “Ibn Rusyd adalah seorang liberal-rasional. Apakah dia sesat?” tanya Ulil. “Liberalisme agama mungkin bertentangan dengan ‘Islam’, tetapi Islam dalam tanda kutip, sebagaimana dipahami MUI. MUI bukanlah wakil resmi dan satu-satunya kebenaran dalam Islam.”

Meski mengharamkan dan menyesatkan sebuah pandangan, MUI tampaknya lebih lunak menyikapi tindak lanjutnya. Ini berbeda dengan Forum Ulama Umat Indonesia pimpinan KH Athian Ali, yang sampai mengeluarkan fatwa mati untuk penganut Islam Liberal pada Desember 2002.

Bahkan memberi vonis murtad pada pengikut liberalisme pun MUI belum bisa. “Belum, ha, ha, ha…, kan tidak boleh sekaligus,” kata KH Ma’ruf Amin. “Sementara ini kami nyatakan tidak boleh mengikuti paham itu. Ini fase awalnya berstatus haram, baru nanti tancapnya belakangan, ha, ha, ha…,” ujar kiai yang kaya humor itu.

Sikap serupa dikenakan pada Ahmadiyah, sekalipun sudah difatwa murtad. Dalam fikih klasik, sanksi pidana murtad adalah hukuman mati. Tapi, menurut Ma’ruf, MUI belum menganut pandangan itu. Memang ada pandangan kontemporer, seperti pakar hukum Islam asal Sudan, Abdullahi Ahmed an-Na’im, bahwa sanksi mati bagi orang murtad untuk konteks modern sudah tidak relevan. Meski Ahmadiyah dinyatakan murtad, misalnya, MUI tak membenarkan adanya aksi sweeping dan main hakim sendiri. “Dengan status murtad, arah sikap kita adalah lebih mendorong untuk ruju’ ilal haq, kembali kepada kebenaran,” kata Ma’ruf. “Jadi, semangatnya edukatif dan persuasif. Kita lebih merangkul. Tapi hukumnya tetap murtad,” Rais Syuriyah PBNU itu menambahkan. Persoalan eksekusi, menurut KH Didin Hafiduddin, yang mengikuti sidang komisi fatwa, bukanlah urusan lembaga fatwa. Misalnya, mereka yang berstatus murtad dan sesat mau diapakan? Diusir? Dibubarkan? “Keputusan fatwa itu tidak eksekutorial, beda dengan putusan pengadilan,” katanya. “Peran fatwa adalah memberikan pendapat hukum. Eksekusi di tangan pemerintah.”

Dalam literatur hukum Islam, posisi produk fatwa memang tidak mengikat. Statusnya sama dengan hasil ijtihad individual. Ia hanya mengikat bagi pihak yang berfatwa dan berijtihad. Produk hukum Islam yang mengikat secara publik ada dua: Putusan pengadilan dan peraturan perundangan produk penguasa. Mirip teori hukum pada umumnya.

Walaupun bersifat merangkul dan menolak kekerasan, fatwa MUI mengundang reaksi dari berbagai pihak. Pemerintah kabupaten kuningan, Jawa Barat, Jumat lalu menutup sejumlah tempat ibadah jemaat Ahmadiyah di wilayah itu. Antara lain masjid an-Nur, tujuh musala, dan satu gedung pertemuan Fadhal Umar. Menurut kepala Kantor Departemen Agama Kuningan, penutupan itu merupakan hasil kesepakatan antara Muspida dan pemimpin jemaat Ahmadiyah Kuningan.

Reaksi yang berlawanan datang dari aliansi masyarakat madani untuk kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Jumat siang lalu, mereka menggelar konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta Pusat. Acara yang dipandu Ulil itu menghadirkan KH Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo (Muhammadiyah), Syafii Anwar (international centre for Islam and pluralism), Anand Krishna, Weinata Sairin (Protestan), Djati Kusuma (kelompok sunda wiwitan), Djohan Efendi (Indonesian conference on religion and peace), dan wakil majelis tinggi agama Konghucu Indonesia. Gus Dur menolak sekeras-kerasnya pelarangan Ahmadiyah. “Ini bukan negara Islam. Ini adalah negara nasional,” kata ketua Dewan Syura PKB itu. “Yang berlaku ukuran-ukuran nasional, bukan ukuran-ukuran Islam.” Menurut Gus Dur, kalau MUI ingin membuat aturan tertentu internal umat Islam, terserah saja. “Dipercaya orang apa tidak, kita lihat nanti saja gimana?” ujarnya. Tetapi yang tidak bisa ia terima adalah apabila MUI ingin memaksakan kehendak kepada pemerintah sehingga dapat memasung kebebasan.

Di indonesia, kata Gus Dur, yang berhak mengatakan benar atau tidak adalah Mahkamah Agung. “Saya minta masyarakat tidak mendengarkan pendapat MUI, melainkan menunggu pendapat Mahkamah Agung,” paparnya. Gus Dur juga minta Mahkamah Agung segera bersidang mengenai masalah ini. Djohan Effendy, sekretaris negara zaman Gus Dur, menambahkan, “Pemerintah harus bisa menjamin, jangan sampai orang dikejar-kejar karena kepercayaannya.”

Fatwa-fatwa MUI itu, di mata Syafii Anwar, direktur international centre for Islam and pluralism, menunjukkan telah terjadi pelanggaran kebebasan beragama sangat serius di indonesia. “Ini sebuah kemunduran luar biasa,” ujar Syafii. Pluralisme, menurut Syafii, bukanlah menyamakan semua agama, melainkan lebih pada mutual respect, saling menghormati. “MUI hendaknya tidak menjadi polisi akidah atau polisi iman bagi umat Islam di indonesia,” Syafii menegaskan. Pernyataan paling keras dilontarkan Dawam Rahardjo. “Saya beranggapan, yang sesat itu, ya, Majelis Ulama itu,” katanya. “Majelis Ulama itu adalah sebuah aliran sesat karena membuat fatwa-fatwa yang tidak masuk akal.” Bola panas Dawam ini langsung disambut Gus Dur. “Kalau MUI ngotot tidak mau memperbaiki, saya usulkan dana yang diberikan pemerintah kepada MUI dicabut,” ujar Gus Dur, disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam soal liberalisme pemikiran, fatwa MUI itu bisa dibaca sebagai klimaks akomodasi atas rangkaian gerakan anti-liberal yang mengemuka di berbagai forum.

Terakhir, saat muktamar Muhammadiyah di Malang, Juni lalu. Dalam sidang Komisi D tentang rekomendasi, muncul tuntutan untuk membubarkan jaringan intelektual muda Muhammadiyah. Jaringan ini memang sering dipandang sebagai simpul liberalisme pemikiran di kalangan anak muda Muhammadiyah.

Tidak hanya itu isyarat kuatnya arus anti-liberal dalam muktamar organisasi yang dikenal moderat ini. Gagalnya Prof. Dr. Amin Abdullah dan Prof. Abdul Munir Mulkhan dalam 13 besar pimpinan Muhammadiyah, oleh berbagai kalangan anak muda Muhammadiyah, juga dibaca sebagai pertanda kuatnya resistensi pada liberalisme. Karena dua tokoh itu banyak memayungi arus kebebasan berekspresi di Muhammadiyah.

Bila dirunut terus ke belakang, fenomena serupa mengemuka dalam kongres umat Islam Indonesia (KUII) iv di Jakarta. Banyak pendapat yang mengisyaratkan kekhawatiran serius pada model pemikiran Islam liberal. Sampai muncul tudingan bahwa draf materi keputusan KUII telah disusupi oleh pikiran-pikiran Islam liberal. Karena draf itu menolak formalisasi syariat Islam. Islam liberal seolah ditempatkan sebagai bahaya laten dan musuh bersama. Dalam sidang masalah aktual bidang agama KUII, KH Cholil Ridwan (kini ketua MUI) dan Prof. Ali Mustafa Yaqub menyebut JIL sebagai jaringan iblis liberal. Ada lagi: jaringan iblis la’natullah. Tebaran istilah ini menggambarkan tingginya resistensi mereka pada pikiran Islam liberal. Bahkan, ketika tahap perumusan hasil KUII, KH Hasyim Yahya, seorang peserta asal Surabaya, meminta agar tim perumus dibebaskan dari unsur Islam liberal.

Nuansa serupa mengemuka dalam muktamar NU di Boyolali, Desember 2004. KH Mas Subadar, seorang kiai berpengaruh asal Pasuruan, Jawa Timur, melontarkan peringatan yang mirip-mirip, “Bersihkan pengurus NU dari unsur Islam liberal.” Suasana yang mirip meski redup juga tumbuh dalam muktamar pemikiran NU di Situbondo, oktober 2003.

Bila pada forum-forum sebelumnya resistensi pada arus Islam liberal cenderung sekadar rekomendasi, maka MUI telah memberinya muatan agama lewat kemasan fatwa. (asrori s. Karni dan alfian)[1]

Vulgarnya para pembela aliran sesat itu bukan hanya dalam perkataan tetapi kadang dalam aksi pula. Contohnya, Dawam Rahardjo tidak hanya berkata-kata keras terhadap MUI, namun sampai mendemo Menteri Agama Maftuh Basyuni dalam rangka Dawam membela Ahmadiyah. Hanya saja, ketika Dawam berbicara di hadapan orang-orang Nasrani di Balai Sarbini, Semanggi Jakarta, masih ada pertanyaan dari non Muslim, apa yang telah dikerjakan oleh Pak Dawam Rahardjo selama ini.

Itulah nasib Dawam, dari pihak Muslimin dia sudah dikecam bahkan sampai dipecat dari Muhammadiyah dan disiarkan di mana-mana, tetapi dari non Muslim masih dipertanyakan, apa yang telah dia kerjakan.

Kenapa memalsu Islam atau mendirikan aliran sesat

Kembali kepada suburnya aliran sesat dan pemalsuan terhadap Islam bisa disingkat menjadi:

1. Islam itu mutunya sangat tinggi, dan pengikutnya yang setia sangat bergairah dan jumlahnya banyak. Sehingga ada gairah orang-orang yang hatinya ada penyakit, untuk memalsunya, dengan cara mengaku nabi baru atau mendirikan aliran sesat. Sebagaimana barang dagangan yang mutunya tinggi dan diminati masyarakat, maka rawan pemalsuan. Maka tak mengherankan, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup pun sudah muncul nabi-nabi palsu, di antaranya Al-Aswad Al-‘Ansi, Musailimah Al-Kadzdzab, dan Thulaihah Al-Asadi. Nabi-nabi palsu itu baru muncul menjelang akhir hayat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena saat itu umat Islam sudah berjumlah banyak, bahkan sampai di luar Makkah dan Madinah, sampai ke Yaman. Nabi palsu belum ada ketika Islam belum banyak pemeluknya. Ibarat barang, belum ketahuan lakunya, maka tidak ada yang memalsu, namun setelah ketahuan laris maka ada yang memalsu. Namun Islam bukan sekadar seperti barang. Islam adalah agama dari Allah swt yang dibawa oleh para rasul utusan Allah, dan diutusnya para rasul itu berakhir dengan diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya, dan hanya untuk kaumnya, namun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan bahasa kaumnya untuk seluruh manusia (dan jin) di seluruh dunia, sejak diutusnya sampai berakhirnya dunia ini yaitu hari qiyamat. Maka siapa saja yang telah mendengar seruannya, baik mereka itu pengikut nabi-nabi sebelumnya maupun lainnya, kemudian mati dan tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak masuk Islam), maka pasti termasuk penghuni-penghuni neraka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ * . (رواه مسلم).

Diriwayatkan dari abu hurairah dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “demi dzat yang jiwa muhammad ada di tangannya, tidaklah seseorang dari ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang yahudi maupun nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (hadits riwayat muslim bab wujubul iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wa sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

2. Adanya gejala lari dari Islam, ogah-ogahan, atau bahkan menentangnya sambil siap-siap untuk murtad bila ada yang mengomandoi. Di saat seperti itu, maka munculnya pemalsu Islam (nabi palsu ataupun aliran sesat) merupakan peluang yang dianggap baik bagi orang-orang yang sebenarnya sudah tidak suka dengan Islam tetapi masih berstatus orang Islam. Juga bagi orang-orang yang sebenarnya tidak mau shalat, tetapi masih berstatus orang Islam di masyarakat. Maka tak mengherankan, begitu ada nabi palsu yang menggugurkan kewajiban shalat wajib 5 waktu, diganti hanya shalat malam (kalau mau), maka dalam tempo singkat pengikutnya mencapai jumlah 41.000 orang di berbagai kota di Indonesia. Ahmad Moshaddeq yang bergerak sejak 1999 dan baru mengaku nabi terang-terangan pada pertengahan 2007, ternyata langsung mendapatkan pengikut 41.000 orang di berbagai kota di Indonesia.

Itulah factor intern dalam hal sikap beragama, sudah memungkinkan muncul dan suburnya aliran sesat. Kemudian berlangsung atau tertumpasnya aliran-aliran sesat dan bahkan nabi-nabi palsu, lebih tergantung kepada reaksi dari ulama, tokoh Islam, penguasa, dan umat Islam. Di saat ulama, tokoh Islam, penguasa, dan umat Islam sangat gigih menghadapi aneka kesesatan bahkan nabi palsu ataupun orang-orang murtad, maka aneka kesesatan itu bisa diberantas tuntas. Contohnya adalah zaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq, kompaknya ulama (bahkan para penghafal Al-Qur’an), penguasa, tokoh Islam, dan umat Islam telah membuktikan mampu memberantas nabi-nabi palsu yang pasukannya sangat banyak. Misalnya nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab saja pasukan murtadnya 40.000 orang, namun dihabisi oleh tentara Islam pimpinan Khalid bin Walid hingga 10.000 pengikut nabi palsu bersama nabi palsunya tewas dalam keadaan murtad. Dan nabi-nabi palsu lainnya pun terbunuh bersama pengikut-pengikutnya, atau lari dan bertaubat, masuk Islam lagi bersama para pengikutnya.

Sebaliknya, bila ulamanya, penguasanya, umatnya semuanya loyo, maka justru aliran sesat melibas mereka. Dan yang sangat busuk perilakunya adalah ketika ada dari pihak-pihak ulama atau tokoh Islam, atau penguasa, atau umat Islam justru merangkul aliran sesat. Ini yang sangat tercela, busuk, dan sangat merugikan Islam. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjadi anggota aliran sesat, tetapi menjadi mitranya. Yang seperti itu tidak akan terjadi apabila benar-benar meyakini Islam sebagai agamanya yang benar. Dan hanya terjadi bagi orang-orang yang sebenarnya musuh Islam, namun mengaku dirinya Muslim.

Orang-orang macam ini, diri mereka sendiri sudah palsu (ngakunya Muslim tetapi memusuhi Islam). Maka ketika ada nabi palsu, atau aliran sesat, bagai gayung bersambut, bagai pucuk dicinta ulam tiba, atau menurut orang Jawa, bagai bakul mendapatkan tutup (koyo tumbu oleh tutup). Klop. Kalau mereka itu jadi tokoh, maka bukannya memberantas aliran sesat namun justru memelihara dan mendukungnya sambil mengecam keras siapa saja yang menjelaskan kesesatan aliran sesat. Maka tak mengherankan ada sederet nama yang mengecam MUI ketika memfatwakan 11 fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah (dengan rekomendasi yang menyejajarkan kesesatan LDII –Lembaga Dakwah Islam Indonesai– dengan Ahmadiyah sebagai membahayakan aqidah maka pemerintah agar menindaknya dengan tegas), memfatwakan Sepilis –sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme— sebagai faham yang bertentangan dengan Islam maka umat Islam haram mengikutinya, dan lain-lain ( Fatwa Munas Ulama MUI ke-7, Juli 2005) atau 10 kriteria aliran sesat (MUI, Oktober 2007).

Tingkah polah pendukung aliran sesat itu justru lebih dahsyat ketimbang pelaku kesesatan sendiri. Contohnya, ketika nabi palsu Ahmad Moshaddeq itu telah bertaubat 9 November 2007, malahan para pendukung nabi palsu yang suka komentar atau menulis di berbagai media massa masih tetap mendukung nabi palsu.

Lebih buruk lagi ketika mereka yang berjiwa palsu plus mendukung kepalsuan dan kesesatan itu memegang kekuasaan, maka tingkah polah mereka dalam memerangi dan memusuhi Islam menggunakan kekuasaan secara struktural dan sistematis, terprogram rapi. Contohnya, mereka mengirimkan dosen-dosen IAIN atau perguruan tinggi Islam untuk belajar keIslaman ke orang-orang kafir atau liberal atau sekuler atau pluralisme agama yang menyamakan semua agama di perguruan-perguruan tinggi di Barat, Amerika, Eropa, Australia. Juga dibuat kurikulum yang mengalihkan dari pemahaman Islam yang benar menjadi sekuler, liberal bahkan pluralisme agama untuk perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Kemudian untuk meningkatkan perusakannya terhadap pendidikan Islam, maka diadakanlah konferensi tahunan, dengan mengundang orang-orang kafir, murtad, dan berfaham kemusyrikan yang namanya dikerenkan (dimenterengkan) menjadi pluralisme agama, dengan menyajikan makalah-makalah yang sangat bertentangan dengan Islam. Itu diatasnamakan untuk meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang di perguruan tinggi Islam di Indonesia yang dikomandoi oleh Departemen Agama RI.

Tatkala pengundangan orang murtad itu diketahui oleh MUI dan Ormas-ormas Islam, hingga ditolaklah kehadiran orang murtad yang diundang resmi oleh Departemen Agama RI untuk menjadi nara sumber dalam konferensi tahunan untuk meningkatkan pendidikan Islam itu, maka orang-orang yang biasa membela kepalsuan pun bangkit mengecam MUI lagi. Dan mereka pun menerima orang murtad itu untuk berbicara di lembaganya. Itulah Gus Dur yang menerima Nasr Hamid Abu Zayd yang divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, tetapi diundang Departemen Agama RI untuk konferensi di Pekanbaru Riau 21-24 November 2007, dan di Unisma Malang 27 November 2007. MUI Riau bersama ormas-ormas Islam menolak Nasr Hamid. Demikian pula MUI Malang dan umat Islam menolaknya, namun orang murtad yang menganggap Al-Qur’an produk budaya tu diunduh Gus Dur dan konco-konconya.

Hartono Ahmad Jaiz dalam bukunya yang berjudul Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat,Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2008).

(nahimunkar.com)


[1] [Laporan khusus, Gatra nomor 38 beredar senin, 1 agustus 2005]

email
  • http://mustamar.s.krsk.@Gmail.com Mustamar

    Ibarat api "kecil menjadi kawan, sudah besar menjadi Lawan". Sebab lumbung penyimpan dan pengolah ilmu islam sudah terbakar

  • anita

    Agama sesat itu seharusnya di hacurkan karna bisa membuat menyesatkan banyak umat manusia
    memengaruhi akal dan fikiran ,juga merusak masa depan umat muslim

  • bang huzen

    mungkin ini adalah salah satu tanda tanda kiamat sudah dekat.banyak bermunculan aliran sesat dan nabi baru.mungkin dengan doa dan dzikir kita trhindar dari golongan yang sesat.

  • agus sumarsono

    smoga ustadz/ulama yg berjuang menegakkan kalimah Allah SWT meski lewat tulisan sennantiasa dilindungi oleh Allah SWT