Tiga Wanita di Sekitar Pejabat di Indonesia

Tiga Wanita di Sekitar Pejabat di Indonesia

Akhir-akhir ini ada tiga wanita yang terkesan begitu amat dekat dengan sejumlah pejabat negara. Ketiganya adalah Artalita Suryani alias Ayin, Ong Yuliana Gunawan alias Lien, dan Rhani Juliani. Ketiganya beredar di sekitar kasus korupsi, dengan berbagai tambahan kasus lainnya. Seperti Lien yang pernah terlibat kasus narkoba bahkan diduga bandar. Sedangkan Rhani diduga mengetahui kasus terbunuhnya Nasruddin dan diduga terlibat asmara segitiga.

Artalita Suryani

Bagi masyarakat luas, nama Artalita Suryani baru dikenal ketika terjadi kasus penangkapan Jaksa Urip Tri Gunawan pada Ahad petang tanggal 02 Maret 2008 oleh KPK. Jaksa Urip tertangkap tangan menerima suap sebesar 660.000 dollar AS atau setara dengan Rp 6,1 miliar.

Namun bagi pejabat negara dan elite politik nasional, nama Artalita Suryani sudah sejak lama dikenal kiprahnya. Sebagaimana diberitakan detikcom edisi 04 Maret 2008, Artalita pernah masuk ke dalam jajaran pengurus DPP PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sebagai Bendahara menggantikan Erman Soeparno, yang kala itu diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans).

Pada 9 Juni 2007, Artalita menikahkan anaknya Imelda Surya Dharma dengan Eiffel Tedja di Ballroom Hotel Sheraton, Surabaya. Pernikahan yang super mewah itu dihadiri sekitar empat ribu undangan, termasuk sejumlah pejabat tinggi negara seperti Jenderal Sutanto (waktu itu Kapolri), Letnan Jenderal purnawirawan Sutiyoso (waktu itu Gubernur DKI), dan Mayor Jenderal purnawirawan Imam Utomo (waktu itu Gubernur Jawa Timur). Perhelatan yang diperkirakan menghabisan dana miliaran rupiah ini merupakan pesta pernikahan termewah yang pernah terjadi di Surabaya.

Eiffel Tedja merupakan putra sulung Alexander Tedja, bos Pakuwon Group, salah satu konglomerat keturunan Cina. Ayah Imelda, mendiang Surya Dharma tercatat sebagai bos Gajah Tunggal, salah satu perusahaan milik konglomerat keturunan Cina asal Lampung, Sjamsul Nursalim.

Sebelumnya, 15 April 2007 lalu, Presiden SBY menghadiri resepsi perkawinan putra dari Artalyta yaitu Rommy Dharma Satriawan, yang berlangsung di Hall A23 Pekan Raya Jakarta. Selain SBY, hadir juga Agung Laksono, dan beberapa petinggi nasional, juga petinggi Partai Demokrat.

Rommy Dharma Satriawan merupakan Direktur PT Alam Surya yang pernah dicekal oleh KPK selama satu tahun tidak boleh bepergian keluar negeri, terhitung sejak 26 Maret 2008 hingga 26 Maret 2009. Pencekalan tersebut terkait dengan kasus suap Artalita Suryani terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan.

Menurut Syaiful Anwar (Direktur Penyidikan dan Penindakan Ditjen Imigrasi) ketika itu, selain Rommy yang turut dicekal atas permintaan KPK adalah Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim, isteri kedua Sjamsul.

Pada mulanya, Artalita berusaha menyangkal, dengan mengajukan dalih bahwa uang yang ada di tangan Jaksa Urip Tri Gunawan bukan suap, tetapi dalam rangka bisnis permata. Menurut Artalita, ia sudah mengenal Urip Tri Gunawan (UTG) selama lima tahun. Namun, ia tidak tahu latar belakang Urip yang berprofesi sebagai jaksa.

Menurut Artalita, sore itu ia mendapat laporan dari sekuriti rumahnya yang mengatakan terjadi keributan di depan rumah. Ia lalu memerintahkan putranya untuk mengecek. “Ternyata ada petugas KPK di luar rumah saya. Sebagai warga negara yang baik, saya minta anak saya untuk membukakan pintu pada petugas KPK. Mereka mengajak saya untuk memberikan keterangan di kantor KPK, dan sebagai warga negara yang baik saya bersedia.”

Artalita juga berusaha menyangkal, bahwa rumah mewah di jalan Terusan Hanglekir II WG-9, kawasan Simprug, Jakarta Selatan itu merupakan rumah milik obligor BDNI Sjamsul Nursalim, salah satu tersangka kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Menurut pengakuan bohong Artalita, rumah itu miliknya yang dibeli beberapa tahun lalu. Namun ketika ditanya dibeli dari siapa rumah tersebut, Artalita tidak bisa memberikan jawaban.

Di persidangan, kebohongan Artalita terbukti. Salah satunya, melalui rekaman hasil sadapan yang dilakukan KPK. Pada persidangan yang berlangsung hari Senin tanggal 2 Juni 2008, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan bukti berupa rekaman percakapan Artalita dan Urip yang terjadi pada tanggal 27 Februari 2008. Rekaman percakapan itu diperdengarkan di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi.

Intinya, Artalita dan Urip sedang mengatur penyelesaian kasus Sjamsul Nursalim (SP3), termasuk pembicaraan tentang rencana ‘pembayaran’ dan teknis pengambilannya. Dua hari kemudian, Kejaksaan Agung menghentikan penyelidikan dua kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang diantaranya menjerat Sjamsul Nursalim. Penghentian penyelidikan itu disampaikan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus yang waktu itu dijabat oleh Kemas Yahya Rahman dengan didampingi diantaranya oleh jaksa Urip Tri Gunawan. Pernyataan Kemas waktu itu sama persis dengan penyataan Urip dalam rekaman pembicaraan dengan Artalita.

Selama ini, Artalita Suryani menduduki jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama di PT Indonesia Prima Property Tbk, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan perumahan hotel dan apartemen, pusat pertokoan dan perkantoran. Sedangkan jabatan Komisaris Utamanya dipegang oleh mantan Kapolri Jenderal (Purnawirawan) Dibyo Widodo. Perusahaan ini berkantor di Wisma Diners Club Lantai 3, Jalan Jenderal Sudirman Kavling 34, Jakarta. (Kompas edisi 04 Maret 2008).

Ong Yuliana Gunawan

Yang juga terkesan pinter dan bisa ngatur-ngatur pejabat negara, adalah Ong Yuliana Gunawan alias Lien. Nama Ong Yuliana Gunawan baru dikenal publik secara meluas setelah MK (Mahkamah Konstitusi) pada 3 November 2009 memperdengarkan rekaman hasil sadapan KPK tentang pembicaraan antara Anggodo dengan dirinya yang terjadi pada 6 Agustus 2009.

Pada pembicaraan itu, menurut Yuliana, Ritonga yang saat itu menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) –kemudian dilantik sebagai Wakil Jaksa Agung pada 12 Agustus 2009– mendapatkan dukungan dari RI-1 (maksudnya tentu SBY), dalam kasus Anggoro (PT Masaro).

Ong: Tadi Pak Ritonga telepon, besok dia pijet di Depok, ketawa-ketawa dia, pokoknya harus ngomong apa adanya semua, ngerti? Kalau enggak gitu kita yang mati, soalnya sekarang dapat dukungan dari SBY, ngerti ga?

Anggodo: Siapa?

Ong: Kita semua. Pak Ritonga, pokoknya didukung, jadi KPK nanti ditutup ngerti ga?

Anggodo: Iya-iya.

Ong Yuliana Gunawan (OYG) ternyata pernah tersangkut kasus narkoba. Menurut AKP Effendi (Kepala Unit Idik II Narkoba, Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya), OYG sempat menjadi tahanan polwil karena kasus narkoba. Ketika itu OYG tertangkap di apartemennya bersama Fredi, pada tanggal 18 Januari 2007 dengan barang bukti 0,9 gram sabu-sabu bersama alat hisapnya. Akibat dari itu, OYG sempat meringkuk di tahanan polwiltabes beberapa bulan, sebelum akhirnya dibebaskan. Dua tahun sebelumnya (2005), OYG juga pernah ditangkap Unit Idik Narkoba Kepolisian Resor Surabaya Selatan dengan kasus yang sama.

Selain terampil di bidang narkoba, OYG juga terampil dalam hal pijat memijat. Selama OYG berada dalam tahanan polwiltabes Surabaya untuk kasus narkoba, ia sempat dijenguk Anggodo, yang kala itu mengaku sebagai teman akrab OYG. Selama ini, OYG memang dekat dengan Anggodo, baik sebagai rekan bisnis maupun dalam kapasitas antara pemijat dan pasiennya. Bahkan, OYG diduga sebagai tangan kanan sekaligus penghubung Anggodo dengan sejumlah petinggi Polri dan Kejaksaan Agung. (http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/12/16452265%20/siapa.wanita.bernama.ong.yuliana.gunawan.ini)

Yang menarik, meski namanya dicatut OYG, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan tidak akan menuntut secara hukum. Karena, menurut Denny Indrayana (Staf Khusus Kepresidenan Bidang Hukum Denny Indrayana), “Itu kan kembang-kembang, dan sampingan yang bukan fokus. Kalau menurut saya penyebutan itu maksud orang untuk meningkatkan bargaining saja pada lawan bicara. Kalau kita fokus ke sana malah kehilangan arah.”

Sikap SBY berbeda ketika Eggi Sudjana pada tanggal 3 Januari 2006, melakukan klarifikasi tentang adanya dugaan seorang pengusaha yang memberikan mobil (Jaguar) kepada sejumlah pejabat negara (Sekretaris Kabinet, Jurubicara Presiden dan kepada Presiden SBY). Konon, Jaguar untuk SBY itu sehari-hari digunakan oleh putra SBY. Klarifikasi itu ditujukan Eggi kepada Ketua KPK dan jajarannya, untuk mengetahui tingkat kebenaran dugaan tersebut. Akibatnya, Eggi Sudjana didakwa melakukan penghinaan terhadap presiden. Eggi harus mengikuti proses hukum yang lumayan panjang

Selain Eggi Sudjana, Zainal Ma’arif pernah mengalami hal serupa. Zainal Ma’arif (mantan Wakil Ketua DPR RI periode sebelumnya) mengatakan, bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk akademi militer kepada sejumlah wartawan pada 26 Juli 2007. Zainal Ma’arif dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik, dan divonis hukuman satu tahun penjara.

Di Kalimantan Barat, seorang kepala sekolah bernama Felix Setiawan ditangkap Polda Kalimantan Barat karena mengirim SMS yang isinya antara lain mengatakan bahwa SBY bermental tempe. Selama ini Felix telah berusaha melakukan verifikasi soal tanah milik sekolah yang dipimpinnya kepada pemerintah setempat. Namun tidak digubris. Maka, ia pun melayangkan SMS berisi keluh kesah ke nomor SMS Presiden SBY (nomor 9949). Felix kemudian mendapat respon, yang isinya: “Itu bukan urusan saya, silahkan ke pemerintah setempat.”

Karena merasa tidak mendapatkan tanggapan serius, Felix kemudian membalas SMS tersebut dengan pesan: “Bagaimana Bapak Presiden, jangan hanya mengurusi tahu tempe. Ini masalah serius, ini masalah pendidikan. Kalau bapak seperti ini, berarti mental bapak seperti tempe.”

Dari perbandingan di atas, dapat disimpulkan betapa hebatnya OYG ini. Powerfull.

Rhani Juliani

Berbeda dengan dua wanita di atas, wanita ketiga ini terkesan bagai bawang kotong, atau bagai ayam sayur. Bahkan ada yang bilang, ia bagai umpan yang berada di mata kail. Dialah Rhani Juliani, isteri ketiga mendiang Nasruddin Zulkarnaen, Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, salah satu perusahaan di lingkungan BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Rhani lahir di Tangerang pada tanggal 1 Juli 1986, dan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Endang M. Hasan dan Kuswati. Mereka tinggal di lingkungan RT 1 RW 4 Kampung Kosong, Kelurahan Penanggungan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Ia bekerja sebagai caddy (kacung permainan golf) di Padang Golf Modernland. Selain dikenal sebagai caddy primadona, Rhani juga dianggap paling jago mendekati para pemain golf.

Di padang golf inilah Rhani mengenal Antasari Azhar (sebelum jadi Ketua KPK) dan Nasruddin Zulkarnaen. Sambil bekerja sebagai caddy, Rhani kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer. Ia mengambil diploma tiga jurusan manajemen informatika dengan konsentrasi sistem informasi manajemen. Meski lebih dulu kenal Antasari, namun akhirnya pada Juni 2007 Rhani dinikahi secara sirri oleh Nasruddin. Pernikahan mereka dilangsungkan di hadapan penghulu Amil Sanjaya, dan yang bertindak selaku wali nikah adalah orangtua Rhani sendiri yaitu Endang M. Hasan.

Pernikahan Rhani-Nasruddin tidak diketahui pihak keluarga Nasruddin, termasuk kedua isteri Nasruddin sebelumnya. Barulah ketika Nasruddin tertembak mati, keberadaan Rhani sebagai isteri ketiga mendiang, diketahui secara luas. Sehari setelah Nasruddin ditembak mati, Rhani dan keluarganya lenyap bagai ditelan bumi. Menurut aparat, karena Rhani merupakan saksi kunci, maka keberadaannya dirahasiakan dan dalam pengawasan aparat.

Sesekali Rhani muncul di persidangan, sebagai saksi. Hanya sebatas itu. Selebihnya, Rhani sulit ditemui wartawan. Ia seperti terlindungi dengan proteksi yang sangat ketat dan serius. Barulah setelah Williardi Wizard mengungkapkan pengakuannya yang mengejutkan pada 10 November 2009, beberapa hari kemudian Rhani begitu terbuka, bersedia diwawancarai media massa bahkan berinisiatif menggelar konferensi pers. Intinya, Antasari Azhar merupakan dalang dalam kasus pembunuhan Nasruddin.

Dari cara Rhani menjelaskan segala sesuatu yang diketahuinya, semakin kita tahu dari kelas sosial dan intelektual mana ia berasal. Setidaknya, dari kelas yang sebenarnya berbeda dengan kelasnya para pejabat negara seperti Antasari atau Nasruddin. Namun faktanya, Rhani disunting Nasruddin.

Meski sudah menjadi istri pejabat negara, ternyata Rhani masih mau menjalani profesi sampingan sebagai tenaga pemasaran freelance bagi Padang Golf Modernland. Ini tentu sangat aneh. Karena, komisi dari pekerjaan itu tidak seberapa bagi seorang isteri direktur. Lebih aneh lagi, ketika Rhani justru berinisiatif mengontak Antasari secara terus menerus, ketika Antasari sudah menjadi Ketua KPK, untuk mengajak kembali Antasari bermain golf di Modernland. Rhani pula yang berinisiatif menemui Antasari di Hotel Grand Mahakam, Jakarta Selatan.

Kedua kalinya, Rhani justru disuruh mendiang suaminya untuk menemui Antasari di tempat yang sama, seraya menganjurkan agar tetap memposisikan ponselnya dalam kondisi tersambung, dengan alasan agar Nasruddin dapat memonitor apa yang terjadi melalui ponsel tersebut. Nasruddin menitipkan pesan melalui Rhani untuk disampaikan kepada Antasari, berisi permohonan bantuan, tentang saudaranya yang bekerja di BUMN yang sudah turun SK-nya sebagai Direktur namun belum juga dilantik.

Sekitar 5-10 menit Rhani berada dalam sebuah kamar di hotel itu, ketika Rhani berada di balik pintu keluar hotel, sekonyong-konyong mendiang suaminya sudah berada di hadapannya. Kemudian Rhani didorong masuk kembali ke kamar hotel, sambil ditampar dan dimarahi, di hadapan Antasari yang memang masih berada di dalam kamar itu.

Sebagai sesama pejabat negara, mengapa mendiang Nasruddin ‘menugaskan’ Rhani untuk meminta bantuan Antasari. Bukankah ia dapat berhubungan langsung, secara formal atau informal?

Keberadaan Rhani di antara pejabat negara, hingga ia bisa dinikahi secara sirri oleh Nasruddin, tentu merupakan sebuah ‘prestasi’ tersendiri bagi Rhani (dan keluarganya). Namun, nilai berapa yang patut kita berikan kepada pejabat negara yang berada di antara para caddy? Bagaimana kita bisa menghormati pejabat negara yang sudah punya kantor bagus masih menerima tamu di sebuah hotel, untuk urusan pribadi (keanggotaan golf di Modernland). Apalagi tamu itu adalah seorang wanita muda. Ini jelas rangkaian keanehan. Tidak sekedar aneh, tetapi juga berpotensi mengundang fitnah.

Sejak Rhani menghilang, hingga ia muncul dengan berani di hadapan pers, orang sudah menduga ia dikendalikan sebuah kekuatan. Rhani ibarat boneka yang bergerak atas arahan sutradaranya. Rhani berbeda dengan Artalita Suryani atau Ong Yuliana Gunawan yang cerdik, licik, powerfull dan bisa ngatur-ngatur pejabat. Rhani terkesan naif, mudah diatur-atur, disuruh-suruh, sebagaimana layaknya seorang caddy.

Dari tiga ilustrasi di atas, seharusnya masyarakat luas sudah bisa menilai kualitas moral pejabat negara kita. Antasari dan Nasruddin hanyalah sebuah sample yang representatif dari sejumlah (besar) pejabat kita yang secara moral membuat kita miris.

Untuk menambah kehati-hatian dan waspada, agaknya perlu pula membaca tulisan berjudul Iblis Menyesatkan Manusia dengan Wanita, oleh Hartono Ahmad Jaiz, nahimunkar.com, 3:24.

Pertanayaan yang muncul, lantas siapa Iblisnya dalam kasus Rhani ini? Wallahu a’lam bis shawaab. (haji/tede)