Partai ASU (Anggaran Semua Untukmu)/ facebook.com

Yang ditengarai termasuk Partai Kebathilan Sejati adalah yang menyandang 10 ciri.

Editorial situs Islam terkemuka di Indonesia menyebutkan, ciri Pertama, partai yang berdiri itu, tidak dalam rangka mengajak beribadah dan menyembah kepada Allah semata. Tidak mengajak taat kepada Allah dan  Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum-Nya, dan tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Sementara itu ciri Kesepuluh, partai yang berdiri itu, menjadi “bunker” para koruptor. Membela para koruptor, yang kebetulan terlibat korupsi itu, dan tak lain adalah koleganya sendiri. Partai itu melakukan komplotan dan konspirasi dengan kekuatan politik lainnya, yang bertujuan melemahkan lembaga-lembaga yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan.

Dari sepuluh ciri yang kesemuanya negative itu kemudian disertai saran:

“Maka, jika kita menemukan sepuluh ciri di atas, maka selamatkanlah diri dan keluarga, dan menghindari partai yang seperti itu. Karena partai yang seperti itu, nilai mafsadahnya lebih besar, dibandingkan maslahatnya bagi rakyat dan umat.”

Lebih lengkapnya, silakan baca editorial sebuah situs berikut ini:

Siapa Termasuk Partai Kebathilan Sejati?

Di era demokrasi ini rakyat terus dihadapkan banyaknya partai politik. Partai terus lahir dan tumbuh. Seperti jamur di musim hujan. Tak bosan-bosannya orang mendirikan partai politik. Tentu mereka memiliki mimpi-mimpi sendiri dengan partainya itu.

Rakyat dan umat semakin bingung memilih partai. Partai mana yang dapat menjadi sarana (wasilah), yang sesuai dengan cita-cita yang diinginkannya. Mungkin tidak ada sama sekali. Mungkin ada. Semuanya tergantung dari persepsi rakyat dan umat dalam memandang banyaknya partai sekarang ini.

Hanya rakyat dan umat perlu hati-hati, agar tidak asal pilih, dan memberikan suaranya kepada jenis “Partai Kebathilan Sejati”, di kotak suara nanti. Karena hanya akan sia-sia. Di dunia dan akhirat. Adapun ciri-ciri yang dimiliki “Partai Kebathilan Sejati”, antara lain :

Pertama, partai yang berdiri itu, tidak dalam rangka mengajak beribadah dan menyembah kepada Allah semata. Tidak mengajak taat kepada Allah dan  Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum-Nya, dan tidak melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Kedua, partai yang berdiri itu, memberikan wala’nya (loyalistasnya) kepada thoghut (musuh-musuh Allah dan Rasul), serta berkoalisi dengan kafir musyrik, serta berkoalisi dengan mereka yang memusuhi agama Allah (al-Islam).

Ketiga, partai yang berdiri itu, mengajak rakyat dan umat untuk bertahkim dan memberikan wala’nya kepada sistem jahiliyah, serta mencela dan menolak sistem Allah Rabbul Alamin (al-haq), dan bahkan menyakini sistem jahiliyah itu, sebagai sebuah sistem kebenaran, serta mengajak para pengikutnya untuk meyakini sistem jahilyah itu.

Keempat, partai yang berdiri itu, orientasinya hanya kekuasaan semata-mata, tidak ada yang lainnya. Menggunakan segala cara (menghalalkan segala cara), persis seperti Nicolo Machiavelli, yang mempunyai “credo” (aqidah), dalam mencapai tujuan kekuasaan dapat menghalalkan segala cara.

Kelima, partai yang berdiri itu, para pemimpinnya, tak lain, adalah orang-orang yang hatinya terkena penyakit “nifaq” (munafik).

Keenam, partai yang berdiri itu, mengkhianti rakyat dan umat, serta mengingkari janji-janinya. Mereka bukan lagi pembela rakyat dan umat, ketika berhadapan dengan penguasa. Mereka pembela penguasa. Mereka menjadi alat kekuasaan. Dengan mendapatkan imbalan “kue” kekuasaan.

Ketujuh, partai yang berdiri itu, seperti lalat yang hinggap di tempat-tempat yang kotor. Bukan seperti lebah, yang hinggap di bunga,yang kemudian menghasilkan madu, yang bermanfaat bagi kehidupan. Mereka menghalalkan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Kedelapan, partai yang berdiri itu, umumnya mereka tidak memiliki niat memperbaiki negara dan bangsa, tetapi justru dengan amal-amalnya itu, hanyalah akan menghancurkan bangsa dan negara. Karena, membiarkan segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan yang ada. Bahkan mendukung penyelewengan dan penyimpangan yanga ada. Orientasinya bukan “ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, tetapi ta’awanu ‘alal itsmie wal ‘udwan”.

Kesembilan, partai yang berdiri itu, kader-kadernya banyak yang terlibat dalam korupsi dan kolusi, serta segala bentuk perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai keadilan dan kebenaran.

Kesepuluh, partai yang berdiri itu, menjadi “bunker” para koruptor. Membela para koruptor, yang kebetulan terlibat korupsi itu, dan tak lain adalah koleganya sendiri. Partai itu melakukan komplotan dan konspirasi dengan kekuatan politik lainnya, yang bertujuan melemahkan lembaga-lembaga yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan.

Maka, jika kita menemukan sepuluh ciri di atas, maka selamatkanlah diri dan keluarga, dan menghindari partai yang seperti itu. Karena partai yang seperti itu, nilai mafsadahnya lebih besar, dibandingkan maslahatnya bagi rakyat dan umat.

Bekerja bagi partai yang memiliki sepuluh ciri di atas, hanyalah akan mendatangkan mudharat dan murka dari Allah Ta’ala. Tentu, segala hal amal, yang kita kerjakan nantinya, semuanya harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin.

Kita semuanya akan mendapatkan keadilan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, kelak di akhirat sesuai dengan amal kita selama hidup di dunia. Amal kebaikan akan mendapatkan balasan, amal keburukan juga akan mendapatkan balasan.

Jangan melakukan amal yang sia-sia, dan menimbulkan murkanya Allah Rabbul ‘Alamin dengan bergelut bersama “Partai Kebathilan Sejati”. Wallalhu a’lam.

ERAMUSLIM > EDITORIAL
http://www.eramuslim.com/editorial/partai-kebathilan-sejati.htm
Publikasi: Minggu, 14/08/2011 03:45 WIB