‘Sejarah’ Joget dalam Kampanye

 

Oleh Hartono


Pengantar Redaksi:

Tulisan tentang ‘Sejarah’ Joget dalam Kampanye ini kami tampilkan untuk menengok kembali keadaan waktu ditulisnya artikel ini, masa kampanye pemilu (pemilihan umum) terakhir masa Presiden Soeharto tahun 1997, yang kemudian Soeharto turun dari kursi Kepersidenan tahun 1998.

Tulisan ini merupakan keprihatinan atas dimulainya jogetisasi dan dangdutisasi di dalam kampanye, padahal sebelumnya, pada pemilu 1987, joget itu masih tercela, hingga tokoh yang berjoget bisa diedarkan fotonya sampai jatuh namanya. Ada seorang tokoh partai yang konangan (ketahuan) berjoget kemudian tahu-tahu tersebar foto jogetnya, maka dalam pemilu (pemilihan umum) perolehan suaranya jeblok. Tetapi sejak 1997, joget dan dangdut justru digalakkan untuk kampanye pemilu, walau masih ada rasa sedikit malu.

Giliran zaman reformasi, dan sekarang 2008, artis dan para penjoget justru dirangkul-rangkul oleh berbagai partai, hatta partai yang berbasis Ummat Islam sekalipun. Itu gejala buruk yang sangat memprihatinkan.

Oleh karena itu, Ummat Islam perlu mengaca diri, kembali kepada jalan yang benar. Untuk itu, perlu ditampilkan tulisan ‘Sejarah’ Joget dalam Kampanye ini, agar jadi bahan pertimbangan bagi yang masih punya malu alias masih ada tanda-tanda iman.

Selamat menyimak dengan baik.

Redaksi nahimunkar.com

Seorang tokoh agama tampak menikmati pertunjukan musik dangdut dalam kampanye di Jakarta Selatan pada putaran ketiga, Mei 1997. Bukan sekadar menikmati, namun sampai pada tingkat kesengsem (tertarik). Begitu giliran artis wanita –berpakaian ketat merangsang– naik panggung, bernyanyi dan bergoyang, sang tokoh yang ketua komisaris OPP (Organisasi Peserta Pemilu) tingkat kecamatan ini tak kuat menahan diri. Ia maju ke depan untuk berjoget ria mengimbangi ajakan sang artis berpakaian ketat merangsang itu. Tokoh ini seolah ingin menunjukkan dirinya ‘tidak fanatik’ agama, bahkan mendukung seratus persen acara jogetisasi dan dangdutisasi ini. Namun di luar dugaannya, apa yang ia lakukan sebagai tanda ‘pengorbanan’ itu tidak diterima oleh pejabat atasan tingkat Walikota Jakarta Selatan, dengan bukti, sang pejabat menarik mundur sang tokoh itu dari arena perjogetan. Alasannya, nanti akan jadi bulan-bulanan pers, dipotret atau dishooting dan diedarkan ke masyarakat. Sebagai tokoh agama kok berjoget meladeni artis berpakaian seronok merangsang.

Masalah perjogetan dalam kampanye tampaknya punya ‘sejarah’ tersendiri. Kini orang-orang gaek pun tak malu-malu berjoget dan menjogetkan masyarakat di mana-mana dalam kampanye. Padahal, kasus joget itu pula yang menjadi salah satu alat untuk menggembosi (mengempesi) satu OPP pada kampanye pemilu 1987. Di antaranya beredar foto-foto seorang caleg (calon legislatif) dari PPP, Husen Naro (anak ketua umum sebuah OPP waktu itu, Naro) yang tampak sedang berjoget entah di mana. Saat itu berjoget masih dipandang sebagai akhlaqul madzmumah (akhlaq tercela) bahkan oleh OPP yang kini menggalakkan jogetisasi dan dangdutisasi itu sendiri.

Dari sisi lain, sebagaimana kebanyakan jurkam (juru kampanye) suka mengemukakan janji, salah satu ketua OPP yang menyelenggarakan paket joget dangdutan itu, Ismael Hassan, SH, pun berjanji:

Kalau pada GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) 1993 hasil pemilu 1992 telah memasukkan kata-kata iman dan taqwa sebagai landasan pembangunan nasional, maka OPP yang ia kampanyekan ini (Golkar) akan memasukkan kata akhlaqul karimah (akhlaq yang mulia) dalam GBHN hasil pemilu 1997.

Orang pun bisa manggut-manggut dan tertarik dengan janji itu, karena di samping janji itu bermuatan nilai Islami yang dianut oleh mayoritas penduduk, memang kini kebobrokan moral bahkan kesadisan, kebrutalan, korupsi, kolusi,dan khianat bersimaharaja di bumi Nusantara yang berpenduduk 195-an juta jiwa ini di tahun 1997).

Janji dan joget

Tampaknya, antara janji yang bagus itu dengan perilaku yang diwujudkan dalam kampanye yakni proyek jogetisasi dan dangdutisasi massa sangat bertabrakan. Dilihat dari sejarah kampanye saja sudah tampak jelas, kasus joget telah dipakai untuk alat penggembosan di era kampanye 1987. Saat itu, seorang caleg laki-laki yang kedapatan asyik berjoget dengan penyanyi wanita entah di mana, difoto orang, lalu fotonya diedarkan. Ternyata jumlah suara OPP sang caleg yang joget itu turun drastis di Jawa Barat, karena foto itu beredar di sana. Itu berarti masyarakatnya maupun para penggembosnya sendiri mengakui benar-benar bahwa joget-joget itu adalah perilaku tak terpuji.

Pada periode kampanye 1997, yang mana jogetiasasi dan dangdutisasi sudah menjadi paket salah satu OPP (yaitu Golkar) di seluruh Nusantara, itupun sebenarnya masih diakui bahwa joget-joget itu perilaku tak terpuji. Buktinya? H Nj, seorang Komisaris satu OPP tingkat Kecamatan di Jakarta Selatan, yang tanpa tekanan dari pihak manapun ‘tulus ikhlas’ untuk nimbrung berjoget ternyata dilarang oleh rekannya sendiri, yakni pejabat tingkat kotamadya Jaksel, dengan cara ditarik mundur. Dengan alasan, khawatir nanti jadi bulan-bulanan pers. Itu pertanda, sebenarnya secara perhitungan hati nurani, jogetisasi dan dangdutisasi itu termasuk perilaku madzmumah, tercela, tak terpuji.

Kalau yang dibiayai mahal dan diadakan secara serempak oleh partai besar itu perilaku tak terpuji, namun jurkamnas (juru kampanye nasional)nya berjanji untuk memasukkan kata-kata akhlaqul karimah (akhlaq yang mulia) ke GBHN dan menjadi landasan pembangunan nasional, maka ibarat mobil, sensnya yang dinyalakan memberi tanda mau belok ke kanan,tapi prakteknya justru belok ke kiri.

Kalau yang akan ditegakkan itu akhlaq mulia, maka perlu punya landasan. Kita tengok, misalnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : { لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ } . هَذَا لَفْظُ ابْنِ مَاجَهْ

‘Sungguh akan ada orang-orang dari umatku yang minum khamr/ arak (minuman keras), mereka namakan dengan nama lain. Kepala mereka itu dimusiki dengan alat-alat musik dan penyanyi-penyanyi wanita/ nyanyian, maka Allah akan menenggelamkan mereka itu ke dalam bumi dan akan menjadikan mereka itu kera-kera dan babi- babi.’ (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Akibat jogetisasi

Karena joget telah digerakkan secara nyata menasional dalam kampanye, akibatnya masyarakat akan memandang joget campur aduk laki perempuan itu sebagai pembangunan nasional yang perlu digalakkan. Masyarakat akan memandang sebagai ‘pahlawan’ bila orang rajin ke diskotek bahkan mendirikan diskotek di mana-mana. Orang akan tidak berani melarang anak-anaknya berjoget dansa di diskotek-diskotek, minum-minuman keras dan akhirnya berzina. Betapa hancurnya bangsa ini kalau tempat-tempat joget dan zina justru ramai penuh orang.

Akan jadi apa generasi mendatang nanti bila kiblat mereka adalah wanita dan tempat bhakti mereka di diskotek. Dorongan ke arah sana tampaknya justru digesa oleh berbagai pihak. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan dalam hadits:

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ )مسند أحمد:8507(

“Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal ‘ainaani tazniyaani wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu, warrijlaani tazniyaani wazinaahumal masy-yu, walfamu yaznii wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushod

diqu dzaalika au yukaddzibuhu.”

Artinya: Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bani Adam ada potensi berzina: maka dua mata berzina dan zinanya melihat, dua tangan berzina dan zinanya memegang, dua kaki berzina dan zinanya berjalan, mulut berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu atau membohongkannya.” (Hadits Musnad Ahmad 8507, juz 2 hal 243, sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan kata-kata yang berbeda namun maknanya sama).

Joget-joget dan musik, tak bisa diingkari adalah berjurusan ke arah rangsangan syahwat yang mempermudah berzina. Hingga proyek besar menasional jogetisasi- dangdutisasi yang sudah digalakkan _ _ sejak peringatan 50 tahun kemerdekaan 1995 dan dibesarkan lagi secara merata pada kampanye pemilu 1997 sangat pantas diprihatinkan. Bukan sekadar musnahnya duit rakyat yang tak terhitung jumlahnya, namun rusaknya moral dan akhlaq yang akan mewabah lebih parah lagi di masyarakat.

Janji akan memasukkan akhlaqul karimah sebagai landasan pembangunan dalam GBHN belum tentu terwujud, dan kalau toh terwujud belum tentu bisa ditegakkan, namun dampak musnahnya duit rakyat dan kecenderungan merosotnya akhlaq telah terlaksana di mana-mana. Secara perhitungan, semua rakyat akan terbebani untuk menanggungnya. Dan kalau itu mengakibatkan bencana dari Allah Ta’ala maka semua akan tertimpa. Itulah masalahnya. Maka mudah-mudahan kita semua kembali kepada jalan yang benar, yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan tidak melanjutkan proyek-proyek yang mengakibatkan terancamnya moral seperti itu.

Jakarta, Selasa 13/5 1997M, 6/1 1418H

Hartono, penulis buku Meluruskan Da’wah dan Fikrah.