Hangat Menjelang Muktamar, Para Kiyai NU Jatim Menolak Jago Liberal

Ulasan Hartono Ahmad Jaiz

Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret mendatang.
Jago-jago yang akan maju untuk pemilihan ketua umum PBNU (Pengurua Besar Nahdlatul Ulama) yang ditengarai pro liberal di antaranya Said Aqiel Siradj, Ulil Abshar Abdalla, Masdar F Mas’udi, dan A Mustofa Bisri. Tentang A Mustofa Bisri dalam berita-berita sejak awal khabarnya dia menjagokan diri, namun belakang belum tentu disebut.

Inilah beritanya, yang kemudian kami susul dengan ulasan tentang kiyai-kiyai liberal NU yang kemungkinan mencalonkan diri dalam pemilihan di Muktamar NU mendatang.

Jelang Muktamar NU

Kiai NU Jatim Tolak Kandidat Proliberal

Selasa, 26 Januari 2010 07:40 WIB

SURABAYA–MI: Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret mendatang.

“Tujuan berdirinya NU itu salah satunya untuk membendung faham liberalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme, karena itu para kiai di Jatim sepakat membendung faham itu,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar di Surabaya, Senin (25/1).

Meski demikian, kata pengasuh Pesantren Mifatchussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu, pihaknya tidak akan melarang kandidat Ketua Umum PBNU yang berfaham liberalisme untuk maju dalam pertarungan Muktamar ke-32 itu.

“NU itu tetap demokratis dan kami akan mengikuti mekanisme organisasi. Membendung bukan berarti dengan menerobos mekanisme organisasi. Yang pasti, para kiai akan menggalang kekuatan untuk membendung kekuatan liberalisme, ekstrimisme, dan fundamentalisme pada muktamar nanti,” katanya.

Hingga kini, tujuh kandidat Ketua Umum PBNU mencuat ke permukaan yakni KH Said Aqiel Siradj (ketua), KH Ir Solahudin Wahid (Gus Solah/mantan ketua), Prof KH Ali Maschan Moesa MSi (mantan Ketua PWNU Jatim), Masdar F Mas’udi (ketua), Achmad Bagdja (ketua), Slamet Effendy Yusuf, dan Ulil Abshar Abdalla (aktivis Jaringan Islam Liberal/JIL).

Dalam kesempatan itu, Kiai Miftah juga menyesalkan tim sukses kandidat yang menyerang kepengurusan PBNU saat ini dengan tuduhan gagal, karena cara-cara seperti itu tidak beradab dan menyalahi pakem NU.

“Cara-cara seperti itu sama halnya dengan menghancurkan rumah sendiri dan bunuh diri, padahal dia juga masuk kepengurusan PBNU yang sekarang. Kalau tidak cocok semestinya kan ada mekanisme tabayyun (klarifikasi),” katanya.

Menurut dia, menggalang dukungan adalah wajar dan sah, namun ia amat menyesalkan jika caranya dengan menjelek-jelekkan orang lain, apalagi dieskpos lewat media massa secara luas. “Itu ironis karena menyerang saudara sendiri. Itu kan sudah menyimpang dari semangat NU itu sendiri,” katanya. (Ant/OL-03)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/l

Ulasan.

Kiyai-kiyai Liberal

Coba kita simak berikut ini, nama-nama yang ditengarai pro liberal, bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyamakan aqidah Islam dengan keyakinan Kristen, melontarkan pemikiran untuk mengubah waktu-waktu berhaji terutama wuquf di Arafah jangan hanya tanggal 9 Dzul-hijjah, dan menganggap semua agama sama, serta membela aliran sesat Ahmadiyah yang punya nabi palsu, masih pula membela kemaksiatan, misalnya yang diusung Inul sang penyanyi joget goyang ngebor.

Said Aqiel Siradj.

Said Aqiel Siradj Mengkafirkan Sahabat.

Dia jadi petinggi di NU yang klaimnya pun sering didengar sebagai Aswaja (Ahlus Sunnah Wal-Jamaa’h) namun Mengkafirkan Sahabat

Model menyakiti hati bahkan mengkafirkan para sahabat ternyata bukan hanya dilakukan oleh orang yang terang-terangan mengaku Syiah. Bahkan di Indonesia, orang yang mengaku Sunni pun menulis makalah yang sangat lancang mengkafirkan para sahabat. Dialah Dr. Said Aqiel Siradj, Wakil Katib Syuriah PBNU yang menulis makalah berjudul ”Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA” (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, red). Tulisan itu pernah menjadi heboh di kalangan umat Islam, terutama NU, di samping sebagian orang menjadi keliru, dikira yang menulis makalah itu Dr. Said Aqiel Al-Munawar yang memang seorang ulama di NU (Nahdlatul Ulama), yang di masa presiden Megawati jadi Menteri Agama.

Betapa beraninya Said Aqiel Siradj itu dalam mengkafirkan para sahabat, seperti dalam tulisannya yang kami kutip ini:

“Sejarah mencatat, begitu tersiar berita Rasulullah wafat dan digantikan oleh Abu bakar (b kecil dari pemakalah), hampir semua penduduk jazirah Arab menyatakan keluar dari Islam. Seluruh suku-suku di tanah Arab membelot seketika itu juga. Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah. Pikiran yang mendasari sikap orang Makkah untuk tetap memeluk Islam adalah logika bahwa kemenangan Islam adalah kemenangan Muhammad; sedang Muhammad adalah Quraisy, penduduk asli kota Makkah; dengan demikian, kemenangan Islam adalah kemenangan suku Quraisy; kalau begitu tidak perlu murtad. Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah; _al-aimmatu min quraisy_, bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.” (Dr. Said Aqiel Siradj, makalah berjudul Latar Kultur dan Politik Kelahiran ASWAJA, hlm. 3-4).

Sebegitu sengitnya Said Aqiel Siradj terhadap para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai dia berani menulis:

“Hanya Madinah, Makkah dan Thaif yang tidak menyatakan pembelotannya. Ini pun, kalau dikaji secara saksama, bukan karena agama, bukan didasari keimanan, tapi karena kabilah.

Artinya, tidak murtadnya Makkah itu bukan karena agama, tapi karena slogan yang digunakan oleh Abu Bakar di Bani Saqifah; _al-aimmatu min quraisy_, bahwa pemimpin itu berasal dari Quraisy. Dan itu sangat ampuh bagi orang Quraisy.”

Amat sangat lancang. Masalah keimanan adalah masalah yang tidak dapat dilihat. Ketika orang masih memeluk Islam, apakah keislamannya itu karena keimanan atau karena kekabilahan/ kesukuan, sama sekali bukan urusan manusia. Karena manusia sama sekali tidak berhak dan bahkan tidak tahu apa isi hati seseorang. Sampai-sampai ketika ada sahabat yang membunuh orang kafir dalam perang, ketika si kafir ini sudah mengucapkan syahadat, maka ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya langsung bertanya dan diulang-ulang: Sudahkah engkau membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak ؟. Inilah haditsnya.

60 حَدِيث أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنَ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ

60 Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di al-Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah pada waktu pagi. Aku berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut menyebut لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ lalu aku menikamnya. Aku menceritakan peristiwa itu kepada Rasulullah. Rasulullah bertanya dengan sabdanya: Adakah kamu membunuhnya sedangkan dia telah mengucapkan kalimah syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ Aku menjawab: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takut akan ayunan pedang. Rasulullah bertanya lagi: Sudahkah engkau membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak ؟ Rasulullah mengulangi soal itu kepadaku sampai-sampai aku berangan-angan seandainya aku baru masuk Islam pada hari itu. (Muttafaq ‘alaih).

Menyamakan Tauhid Islam dengan Keyakinan Kristen

Untuk menguak kiprah tokoh NU (Said Aqiel Siradj) dalam hal membuka pintu kristenisasi, dan sangat merusak aqidah Islam, kami kutip di sini uraian Majalah Bidik edisi perdana, Januari 2003, dalam rubrik utamanya, Bidikan Utama, yang isinya sebagai berikut:

Prof. Dr. KH. Said Agiel Siradj, MA:

“Tauhid Islam dan Kristen Sama Saja”

Kehadiran sekte Kristen yang menamakan dirinya “Kanisah Ortodoks Syria” di bawah pimpinan Bambang Noorsena sempat menarik perhatian besar berbagai kalangan. Berbeda dengan gaya Kristen lain, Kristen Ortodox Syria (KOS) tampil mirip dengan penampilan umat Islam, yakni dengan khas idiom-idiom keislaman dan kearaban. Mereka mengucapkan salam “assalamu’alaikum”, laki-lakinya memakai peci dan gamis, wanitanya memakai jilbab dan ibadahnya pun seperti umat Islam, yakni shalat 7 waktu. Alkitab yang dibaca dalam berbagai acara adalah Alkitab yang berbahasa Arab dengan dilagukan seperti Qiraatul Qur’an, istilah mereka adalah Tilawatul Injil.

Sambutan orang yang sedemikian rupa terhadap KOS itu wajar saja, karena mereka tampil baru dan beda. Sambutan terhadap KOS yang sangat kebablasan, justru dilakukan oleh orang yang selama ini dikenal dengan Kiyai dan tokoh NU, Said Aqiel Siradj.

Dalam buku Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam yang ditulis oleh Bambang Noorsena, Said Aqiel Siradj memberikan kata penutup yang sangat berbahaya dan menyesatkan:

“Dari ketiga macam tauhid di atas (tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ wa shifat), maka tauhid Kanisah Ortodox Syria tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan Islam. Secara al-rububiyyah, Kristen Ortodox Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga mengikrarkan Laa ilaaha illallah: “Tiada tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah, secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut.” (hal 165).

“Jika dalam Islam (sunni) kalam Tuhan Yang qadim itu turun kepada manusia (melalui Muhammad) dalam bentuk Al Qur’an, maka Kristen Ortodoks Syiria berpandangan bahwa kalam Tuhan turun menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan Perawan Maryam menjadi manusia. Perbedaan ini tentu saja sangat wajar sekali dalam dunia teologi, termasuk kalangan teologi Islam” (hal 165-166). “Walhasil, keyakinan Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni), walaupun berbeda dalam peribadatan (syari’ah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid” (hal. 166).

Kristen atau Islam, ataukah Krislam??

Pernyataan Said Aqiel Siradj itu sudah sangat dan terlalu jauh penyimpangannya dari akidah Islam.Dengan menyamakan tauhid Islam dan Kristen, (berarti sama dengan) secara langsung dia berfaham bahwa Islam dan Kristen itu sama-sama syirik kepada Allah SWT. Karena pada halaman 167 buku tersebut, dicantumkan dengan jelas Qanun Al Iman Al Muqaddas (Pengakuan atau syahadat Iman) Kristen Ortodoks Syria dalam bahasa Arab berdampingan dengan bahasa Aram:

“Qaanuun al-iimaan al-muqaddas: Nu’min birobbin waahidin ‘Iisaa al-Masiih ibnullaahil-waahidi, al-mauluudu minal aabi qabla kullid-duhuur, nuurun min nuurin, ilaahun haqq min ilaahin haqq, mauluudin ghoiru makhluuqin, waahidun ma’al-aabi fid-dzaati, alladzii bihi kaana kullu syai-in, haadzal-ladzii min ajlina nahnul-basyar, wamin ajli kholaashinaa, nazala minas-samaa’…wa min maryam al adzraa al bathuul, waalidatul ilah…”

(Dan kami beriman kepada satu-satunya Tuhan (Rabb) yaitu Isa al-Masih (Yesus Kristus) Putra Allah Yang Tunggal, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala abad, Terang dari sumber Terang, (firman) Allah yang keluar dari (Wujud) Allah, dilahirkan dan bukan diciptakan, yang satu dengan Allah dalam Dzat-Nya yang Esa, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan. Untuk kita manusia dan demi keselamatan kita, telah nuzul dari surga… dan dari perawan Maryam yang suci, ibunya Tuhan (walidatul ilah).

Umat Kristen yang beriman bahwa satu-satunya rabb (tuhan) adalah Yesus Kristus, dikatakan masih sama tauhidnya dengan Islam?? Kemudian doktrin bahwa Maryam adalah ibunya Tuhan (walidatul ilah) dikatakan substansinya sama dengan Islam?? Subhanallahi ‘amma yashifuun. Kami berlindung kepada Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Dengan pemikiran seperti itu, maka sesungguhnya “teologi” KH Said Aqiel Siradj lebih Kristen daripada para pendeta dan teolog Kristiani. Jika masih merasa sebagai umat Islam, maka seharusnya dia bertobat kepada Allah saat ini juga, sebelum terlambat. Karena ucapan itu bisa menggugurkan keislamannya, dan sangat kontradiktif dengan ayat-ayat Ilahi berikut ini:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31).

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS At-Taubah: 31).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا(36)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS An-Nisaa’: 36).

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا(22)

Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah). (QS Al-Isaa’: 22).

ذَلِكَ مِمَّا أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا(39)

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS Al-Israa’: 39).

Lebih Mutu Anak SD Islam

Akidah kyai pluralis itu akan terasa janggal bila dibandingkan dengan akidah anak SD yang sudah mengerti akidah. Di mana mereka tahu bahwa:

“Kita percaya dan yakin Allah Maha Kuasa. Mari kita ucapkan syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Syahadat terdiri dari syahadat tauhid dan Syahadat rasul. Syahadat tauhid adalah persaksian adanya Allah, bunyinya: Asyhadu allaa ilaaha illallah, artinya: Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah”. (Pendidikan Agama Islam untuk SD kelas 1, Tim Karya Guru, Penerbit Erlangga, hal. 12).

Menginjak kelas 3 SD, akidah anak sholeh sudah meningkat menuju ke arah pemahaman aplikatif beserta konsekuensinya: “Kesaksian terhadap keesaan Allah amatlah penting. Jika seseorang tidak mengakui keesaan Allah, maka sia-sialah amalnya. Di akherat ia akan merugi selamanya.” (Pendidikan Agama Islam untuk SD Kelas III, Tim Karya Guru, Penerbit Erlangga, hal. 14). (Majalah Bidik, Edisi Perdana, Th I, januari 2003, halaman 42, 43, dan 46).

KH A. Mustofa Bisri

Ngawurnya A. Mustofa Bisri

dalam Membela Ahmadiyah

Masih ingat pembela goyang ngebor Inul Daratista? Pembelanya banyak, tetapi yang khas membela dengan lukisan yang melecehkan dzikir, berjudul Dzikir Bersama Inul, itu hanya satu, yakni A. Mustofa Bisri.

Kemudian di saat kaum sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) disengat MUI dengan fatwanya tentang haramnya sepilis itu dalam Munas VII di Jakarta, Juli 2005, muncul pula A. Mustofa Bisra mertua dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla ini dengan suara aneh, membela sepilis dan menghantam fatwa MUI.

Belakangan di saat gonjang-ganjing Ahmadiyah yang direkomendasikan Bakor Pakem Kejagung pada 16 April 2008 agar Ahmadiyah menghentikan kegiatannya karena terbukti menyimpang dari pokok-pokok agama Islam, maka A. Mustofa Bisri pun bertandang untuk membela Ahmadiyah. Di antaranya A. Mustofa Bisri menulis di Koran Indo Pos, Rabu, 23 April 2008 berjudul Yang Sesat dan Yang Ngamuk, berisi pembelaannya terhadap Ahmadiyah aliran sesat yang punya nabi palsu bernama Mirza Ghulam Ahmad.

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana sikap A Mustofa Bisri dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan Islam, mari kita tengok di antara ungkapan A Mustafa Bisri ketika diwawancarai untuk menanggapi sebelas fatwa hasil Munas VII Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhir bulan Juli 2005:

Bagaimana pandangan Anda tentang haramnya pluralisme, liberalisme, dan

sekularisme agama?

Paham itu kan gagasan (ide) dan isme itu pemikiran. Saya kira,

menghukumi pemikiran, selain tidak lazim, juga sia-sia. Itu sama saja dengan

melarang orang berpikir. Mestinya, pemikiran harus dilawan dengan

pemikiran juga. Kecuali bila pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang

merusak dan merugikan orang banyak. Kalau sudah demikian, yang

berwenang mengambil tindakan adalah pemerintah.

Jadi, kalau pemikirannya sendiri, gagasan-gagasan, tidak bisa

diharamkan. Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa. (Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) mewawancarai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH Mustofa Bisri, Kamis (4 Agustus 2005) lalu mengenai dampak fatwa itu).

Itulah ungkapan A Mustofa Bisri, dalam rangka membela sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) dia berani berkata:

Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.