28 Majalah Porno Akan Dilaporkan Kembali ke Polisi

28 majalah porno pernah dilaporkan FPI ke Polda Metro Jaya pada tahun 2004 silam. Tapi entah mengapa, laporan itu tidak berjalan. Hanya kasus Majalah (porno) Playboy yang dilaporkan 2006, yang berjalan proses hukumnya.

28 majalah porno itu ada di ranah pidana sehingga dapat dijerat dengan KUHP, sebagaimana halnya Majalah Playboy Indonesia yang pemimpin redaksinya divonis hukuman penjara 2 tahun. Maka setelah itu 28 majalah porno pun akan dilaporkan kembali ke polisi.

Inilah beritanya:

FPI Akan Laporkan 28 Majalah ke Polisi

“Majalah-majalah itu bukan produk pers, tapi produk porno.”

KAMIS, 26 AGUSTUS 2010, 15:08 WIB

Siswanto, Zaky Al-Yamani

VIVAnews – Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, berencana kembali melaporkan 28 majalah hiburan ke Polda Metro Jaya. Pasalnya, Rizieq menilai dalam media-media itu memuat materi dengan unsur pornografi.

Pernyataan Rizieq disampaikan dalam jumpa pers di kantor pusat FPI, Jl. Petamburan III, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Agustus 2010. Jumpa pers itu sendiri digelar terkait putusan Mahkamah Agung yang mengukuhkan putusan bahwa Pemimpin Redaksi Majalah Playboy, Erwin Arnada, bersalah karena melanggar Pasal 282 KUHP tentang kesusilaan dan karenanya dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Menurut Rizieq kasus yang berkait dengan 28 majalah itu ada di ranah pidana sehingga dapat dijerat dengan KUHP, sebagaimana halnya Majalah Playboy Indonesia. FPI sendiri, ia menyatakan, telah memiliki cukup bukti untuk mempidanakannya.

“Majalah-majalah itu bukan produk pers, tapi produk porno,” kata Rizieq.

Rizieq mengungkapkan 28 majalah itu pernah dilaporkan FPI ke Polda Metro Jaya pada tahun 2004 silam. “Tapi entah mengapa, laporan itu tidak berjalan. Hanya kasus Playboy yang dilaporkan 2006, yang berjalan proses hukumnya.” (kd)

• VIVAnews

Dewan Pers disindir agar diganti dengan dewan porno

Sementara itu detiknews memberitakan, Rizieq juga menanggapi pernyataan Dewan Pers yang menyebut vonis tehadap Erwin merupakan kriminalisasi pers. Menurutnya, Majalah Playboy bukan produk pers melainkan produk porno.

“Majalah Playboy bukan produk pers tapi produk porno. Kalau produk pers maka Dewan Pers boleh melakukan pembelaan. Tapi kalau produk porno bukan Dewan Pers. Kalau masih lakukan pembelaan juga ganti saja jadi dewan porno,” tukas Rizieq.(detiknews, Kamis, 26/08/2010 12:16 WIB).

Beredarnya majalah-majalah porno telah dipermasalahkan. Namun dalam kenyataan, peredaran majalah-majalah porno itu yang pernah disita hanya yang dijajakan oleh pengasong. Belum ada berita penggerebegan ke penerbit-penerbit majalah porno.

Inilah beritanya:

28 Majalah Porno Disita

Sebanyak 28 majalah porno berhasil disita petugas Satpol PP yang menggelar razia pedagang asongan di persimpangan lampu merah Jl Majapahit, Jakarta Pusat, Rabu (10/2). Selain mengamankan barang terlarang itu, petugas juga mengamankan 4 orang yang diketahui sebagai penjual majalah. Petugas juga mengamankan lima orang pedagang asongan yang biasa mangkal di lampu merah tersebut.

Razia pedagang itu dimulai sekitar pukul 09.15, dengan melibatkan 20 petugas Satpol PP Jakarta Pusat. Untuk melancarkan razia beberapa petugas tanpa seragam, menyamar sebagai pembeli. Sedangkan petugas lainnya menunggu di dalam mobil tidak jauh dari lokasi sasaran.

Petugas pun terlebih dahulu melihat-lihat majalah porno, selanjutnya setelah ada kesepakatan tawar-menawar harga antara pedagang dan petugas berpakaian preman, petugas lain yang sejak tadi memperhatikan di tempat persembunyian langsung menyergap para pedagang majalah tersebut. Beberapa pedagang yang tertangkap basah mencoba menghindar dengan cara melarikan diri. Namun, upaya itu sia-sia karena petugas dengan sigap menangkap mereka dan langsung menaikkanya ke dalam mobil patroli. Dari tangan pedagang, petugas juga berhasil mengamankan 28 majalah porno dari berbagai macam penerbit.

“Tolong Pak, saya jangan ditangkap. Dagangan saya jangan diambil karena itu penghasilan saya satu-satunya untuk makan anak dan istri saya sehari-hari,” teriak Andi Irwan (32), salah satu pedagang, Rabu (10/2).

Syaefuddin pedagang majalah lainnya, mengaku mendapatkan majalah porno dari agen di kawasan Pasar Inpres, Senen. Majalah itu dibeli dengan harga Rp 10 ribu dan dijual dengan harga Rp 20 ribu-30 ribu per majalah. “Majalah ini masih tetap laku meskipun sudah terbitan lama, hargannya pun masih tinggi,” ungkapnya.

Kepala Satpol PP Jakarta Pusat, Idris Priyatna, mengatakan, para pedagang biasanya tahu dengan kedatangan petugas, sehingga pihaknya melakukan penyamaran dan itu terbukti berhasil.

“Keberadaan para pedagang asongan bukan saja membuat pemandangan pada kawasan jalan protokol nampak berantakan dan tidak tertib, tapi juga mengganggu para pengguna jalan serta membahayakan para pedagang asongan itu sendiri, ” imbuhnya.

Reporter: agus /ety

BERITAJAKARTA.COM — 10-02-2010 16:41

Di saat pemimpin redaksi majalah porno Playboy akan dijebloskan ke dalam penjara, tampaknya muncul pembela-pembela kepornoan yang berbaju dewan pers sehingga disindir agar diganti dengan dewan porno. Di samping itu ada kelompok jurnalistik yang tampak menyuara miring pula namun belum ada yang menyindirnya agar diganti dengan sebutan aliansi porno. (nahimunkar.com).