Allah Maha Kuasa untuk Mengadzab

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ(65)

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya). (QS Al-An’am/ 6: 65).

Mari kita koreksi diri, kenapa banyak bencana. Kenyataannya, yang disebut membangun selama ini hanyalah membangun fisik, itupun belum tentu secara baik dan jujur. Agama hanya dianggap sebagai embel-embel. Sehingga yang mereka harapkan agar hidup sehat, makmur dan sejahtera pun tidak terujud. Kesehatannya diancam aneka penyakit, kemakmurannya dilindas aneka bentuk bencana yang senantiasa mengancam. Nyawa pun kadang terancam oleh kejahatan manusia lantaran secara system memang masyarakat ini tidak dibina keimanannya. Padahal Allah swt yang Maha Kuasa untuk mengadzab telah memperingatkan lewat sabda utusan-Nya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، قَالَ : أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ ، لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا ، بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ ، الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا ، وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ “4019 (ابن ماجة ) مسند الصحابة في الكتب التسعة – (ج 17 / ص 194)

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah saw menghadapi kami lalu bersabda: Wahai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini (maka keadaanmu mengalami bermacam-macam adzab) aku mohon kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya. (1) tidaklah perbuatan keji (zina) yang dilakukan secara nampak hingga terang-terangan di suatu kaum kecuali akan tersebar wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang terdahulu mereka yang telah lalu. (2) tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, sulitnya (bahan) kebutuhan, dan dhalimnya penguasa atas mereka. (3) tidaklah mereka menahan zakat harta mereka kecuali akan ditahan pula untuk mereka hujan dari langit, dan seandainya bukan karena (adanya) hewan-hewan maka mereka (manusia tak bayar zakat harta itu) tidak dihujani. (4) dan tidaklah orang-orang membatalkan janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (yakni orang-orang kafir) maka mereka (musuh) itu mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka (pembatal janji itu). (5) dan selagi pemimpin-pemimpin (pemerintahan, bangsa, masyarakat) mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih-milih dari apa yang diturunkan Allah (maka tiada lain) kecuali Allah menjadikan keganasan satu sama lain di antara mereka. (HR Ibnu Majah no 4019, hasan menurut Al-Albani dalam As-Silisilah As-Shohihah 106/ 4009).

Semua itu telah nyata di hadapan kita. Betapa gigihnya para tokoh dan wadyabalanya dalam menolak hukum Allah swt. Mereka tidak menyadari bahwa bumi yang ditinggali dan seisinya ini milik Allah swt. Tetapi aturan dari Allah swt sama sekali mereka tolak. Maka akibatnya sangat terasa, keganasan terjadi di mana-mana. Yang bersenjata menembak yang bersenjata pula ataupun yang tidak, bahkan kemudian menembak dirinya sendiri. Yang punya geng membunuh geng lainnya. Yang atasan berupaya membunuh bawahan dan sebaliknya ataupun sesamanya. Yang disekolahkan untuk menjadi pemimpin sudah “latihan” ramai-ramai membunuh. Adzab-adzab lainnya pun mengintai. Itu semua akibat dari kejahatan manusia itu sendiri. Semoga kita menyadarinya. (Hartono Ahmad Jaiz).