Ilustrasi gambar: happynature.wordpress.com

Shalat dhuha adalah ibadah yang sifatnya murni untuk Allah. Tetapi pemilik kedai kebab di Jakarta Selatan memberlakukan absen karyawan dengan menunaikan shalat dhuha. Dikabarkan, ia mencoba menerapkan model absen yang unik ini atas saran ustaz Yusuf Mansur.

Komentar  nahimunkar.com, di zaman sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya juga sudah ada kedai. Shalat dhuha yang merupakan ibadah untuk Allah Ta’ala juga sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun adakah mereka memberlakukan cara absensi karyawannya dengan shalat dhuha?

Syarat diterimanya ibadah itu adalah iman, ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala, dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengaitkan shalat dhuha dengan abensi karyawan, maka apa hak manusia ini untuk mengada-adakannya?

Ini bukan menghalangi orang untuk rajin shalat dhuha. Tetapi cara seperti itu perlu dilihat dulu, apakah memang diajarkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, dan apakah para sahabat menerapkan seperti itu. Kecuali kalau tidak dikaitkan dengan apa-apa, disarankan saja untuk shalat dhuha, sesuai yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka insya Allah bagus. Adapun dikaitkan dengan absensi karyawan, maka ada hal lain lagi persoalannya.

Inilah beritanya.

***

Terapkan ‘Spiritual Enterpreneur’, Absen Kayawan Dilakukan dengan Shalat Dhuha

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menggunakan sidik jari atau memasukkan kartu ID sudah biasa dijadikan pertanda ‘masuk kerja’. Namun, bagi bisnis yang dikelola oleh Hendi Setiono (28 tahun), pemilik kedai ‘Kebab Baba Rafi’, absen karyawan dilakukan dengan menunaikan shalat dhuha.

Outletnya yang terletak di Pondok Labu, berdekatan dengan masjid. Karyawan diharapkan shalat dhuha di masjid dekat outlet sebagai pertanda mereka masuk kerja. Ia menyatakan ingin menerapkan spiritual enterpreneur dalam menjalankan usahanya.

Cara “absen” seperti ini sudah ia terapkan usai bulan Ramadhan kemarin. “Kami menggunakan cara seperti itu agar para karyawan juga ikut berdoa untuk kelancaran usaha. Kalau yang berdoa cuma owner-nya saja kan kurang, lebih baik kalau karyawannya juga ikut mendoakan,” ujar dia kepada Republika usai mengisi acara Bincang Bisnis Kreatipeneur Republika, Kamis (8/12) di kampus Bina Sarana Informatika (BSI).

Ia berharap, di tahun depan ibadah shalat dhuha ini bisa dijalankan oleh semua karyawannya. Ia mencoba menerapkan model absen yang unik ini atas saran ustaz Yusuf Mansur. “Selain bersedekah, kami ingin menerapkan shalat dhuha agar rezeki kami jadi tambah berkah,” kata dia. Model ini juga dilakukan oleh kedai lain seperti ayam bakar mas Mono, dan warung Steak.

Sebagai seorang muslim, ia sangat yakin bahwa sedekah akan membuat rizki semakin berkah. Ia juga telah menerapkan infak 2,5 persen bagi karyawannya yang langsung dipotong dari uang gaji yang diberikan. “Ada juga yang secara suka rela infaknya sudah sampai 5 persen, kata dia. (Republika – Kam, 8 Des 2011)

(nahimunkar.com)