Ada Kyai, Habaib dan Ilmuwan Bingung

Menyikapi Ahmadiyah

Paska dipublikasikannya hasil rekomendasi Bakor Pakem (Badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) kepada Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama untuk membubarkan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), pada 16 April 2008 lalu, selang beberapa hari kemudian sejumlah kyai bingung mengadakan pertemuan mendakak di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia (Senin 21 April 2008).

Kelompok Kyai dan Habaib bingung ini tergabung dalam Forum Kyai Peduli Khittah Nahdlatul Ulama 26 Cirebon, mereka menyatakan sikap menolak rekomendasi Bakor Pakem. Meski menolak rekomendasi, namun mereka menyatakan tidak mendukung ajaran Ahmadiyah. Ini namanya bingung.

Mengapa disebut bingung? Karena, pertama, PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) sudah menyatakan bahwa apa yang diyakini dan dilakukan oleh Ahmadiyah memang menyimpang. Sebagai bagian dari keluarga besar NU –Nahdlatul Ulama, para kyai itu sudah seharusnya mengikuti sikap Pengurus Besarnya. Selain itu, sebagai kyai seharusnya mereka mendasarkan sikap dan perbuatannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Salah satu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai orang yang di neraka gigi gerahamnya lebih besar dari gunung Uhud. Dan ternyata orang itu adalah Ar-Rajjal pendukung nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

إن فيكم لرجلا ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ

Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailamah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailamah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Is-haq dari gurunya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, 6/ 323).

Kalau para kyai itu tergolong berilmu (ulama), mestinya mereka tidak bingung di dalam menyikapi Ahmadiyah. Pada satu sisi mereka menolak rekomendasi Bakor Pakem, namun pada sisi lainnya menyatakan tidak mendukung ajaran Ahmadiyah yang oleh PBNU sudah dinyatakan menyimpang.

Lagi pula, rekomendasi Bakor Pakem dikeluarkan setelah selama tiga bulan melakukan pemantauan (sejak 15 Januari 2008), di 33 Kabupaten, 55 komunitas Ahmadiyah, 277 warga Ahmadiyah. Hasil pemantauan itu menyimpulkan, Ahmadiyah telah melakukan kegiatan dan penafsiran keagamaan menyimpang dari pokok-pokok ajaran Agama Islam yang dianut di Indonesia dan menimbulkan keresahan dan pertentangan di masyarakat sehingga mengganggu kententraman dan ketertiban umum. Ahmadiyah tetap mengakui ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tetap mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi.

Selain itu, Ahmadiyah ternyata juga tetap menggunakan Tadzkirah sebagai kitab suci. Meski secara lisan Tadzkirah dikatakan bukan sebagai kitab suci, namun kenyataannya tetap dikutip dalam pidato dan diakui kebenarannya. Bahkan, Al Quran harus mengikuti Tadzkirah.Kalau kyai-nya saja sudah bingung, bagaimana pula dengan para santrinya?

Kyai dan Ilmuwan Bingung

Ternyata, penyakit bingung sebagaimana diidap para kyai sepuh NU dan Habaib dari kawasan Cirebon itu, menghinggapi juga para ilmuwan kita. Salah satunya adalah Doktor Asvi Warman Adam, pakar sejarah yang sehari-harinya bekerja di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta.

Sebagai pakar sejarah, tentu saja Asvi akan melakukan pendekatan sejarah di dalam memahami Ahmadiyah. Namun, jangan lupa, untuk menetapkan sesuatu ajaran itu tergolong sesat atau tidak, sama sekali tidak bisa ditempuh dengan pendekatan sejarah.

Dalam sebuah tulisannya berjudul Belajar dari Sejarah Ahmadiyah yang dipublikasikan harian Indo Pos edisi Kamis, 24 April 2008, Asvi menyimpulkan, “…sebenarnya tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah tersebut berasal dari rumpun keluarga yang sama…”

Menurut uraian Asvi yang mengutip tulisan Herman L. Beck dalam Bijdragen tot de Taal, Land en Volkenkunde (2005: 210-246), Ahmadiyah (Lahore) didirikan tahun 1928, oleh tokoh Muhammadiyah, Raden Ngabehi HM Djojosoegito. Raden Ngabehi HM Djojosoegito adalah tokoh Muhammadiyah yang masih bersaudara sepupu dengan Hasyim Asy’ari (kakek Abdurrahman Wahid) dan Wahab Chasballah. Begitu juga dengan Wahab Chasballah yang masih saudara sepupu dengan Hasyim Asy’ari, dua tahun sebelumnya, 1926, Wahab Chasballah dan Hasyim Asy’ari mendirikan NU (Nahdlatul Ulama).

Di dalam kepengurusan Ahmadiyah (Lahore) itu tidak saja duduk Raden Ngabehi HM Djojosoegito, tetapi juga terdapat nama Erfan Dahlan putra H Achmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Bahkan Erfan Dachlan pernah belajar tentang Ahmadiyah di Lahore dan kemudian mengembangkan aliran tersebut di Thailand.

Nah, di sinilah letak kebigungan Asvi –atau ia memang sengaja membingungkan pembaca– pendekatan sejarah yang ditampilkannya adalah tentang hubungan saudara antara pendiri-pendiri Muhammadiyah, Ahmadiyah Lahore, dan NU. Lalu Asvi mengusulkan agar masalah Ahmadiyah diselesaikan pula secara persaudaraan. Dia menulis:

Kalau diperhatikan, sejarah lahirnya organisasi-organisasi muslim di tanah air terlihat bahwa pendiri dan pengurus awal berbagai organisasi Islam itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, sebaiknya masalah Ahmadiyah ini diselesaikan secara persaudaraan pula. (Indo Pos edisi Kamis, 24 April 2008)

Di sinilah letak bingungnya.Asvi. Kesesatan bahkan pemalsuan ayat-ayat Al-Qur’an diklaim sebagai wahyu untuk Mirza Ghulam Ahmad, pembajakan ayat-ayat Al-Qur’an dan aneka kedustaan atas nama Islam, dia sarankan untuk diselesaikan secara persaudaraan. Apakah masing-masing yang bersaudara dari ormas-oramas Islam itu memiliki hak tentang pembolehan saudaranya di ormas lain (yakni Ahmadiyah) untuk mengklaim ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wahyu kepada Mirza Ghulam Ahmad? Jelas tidak punya hak. Kenapa Asvi mempersilakan untuk menyelesaikan kasus Ahmadiyah itu secara persaudaraan?

Mengenai kelahiran JAI (Ahmadiyah Qadiyan) dan GAI (Ahmadiyah Lahore), ada versi yang sedikit berbeda dengan uraian Asvi. Menurut Sudjangi yang melakukan studi kasus tentang Ahmadiyah tahun 1996/1997 (Litbang Departemen Agama), Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) alias Ahmadiyah Qadiyan berdiri tahun 1925. Sedangkan GAI (Gerakan Ahmadiyah Indonesia) alias Ahmaidyah Lahore berdiri tanggal 28 September 1929 di Yogyakarta.

Ketua GAI (Ahmadiyah Lahore) saat didirikan menurut laporan tersebut adalah R. Ng. H. Minhadjurrahman Djojosugito (atau biasa ditulis dengan nama Raden Ngabehi HM Djojosoegito). Wakil ketua dijabat oleh KH A. Sya’rani, Penulis dan Bendahara dijabat oleh Muhammad Husni, sedangkan Penulis II dijabat oleh R. Soedewo PK. Anggota-anggotanya terdiri dari Muhammad Irsyad, Muhamad Sabitun, Muhammad Kafi, Muhammad Idris L. Latjuba, KH Abdurrahman, S. Hardjo Subroto dan R. Supratolo.

Dengan demikian, kalau mau ditempuh penyelesaian secara persaudaraan (kekeluargaan) –mengingat tokoh-tokoh pendiri NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah berasal dari rumpun keluarga yang sama– ya lakukanlah antara GAI (Ahmadiyah Lahore) dengan NU, Muhammadiyah dan sebagainya; tetapi mesti dengan merujuk kepada fakta-fakta pemalsuan dan penodaan Ahmadiyah Lahore terhadap Islam. Penodaan itu sangat jelas. Mari kita buktikan, penodaan Ahmadiyah Lahore dan juga Ahmadiyah Qadyan (JAI).

Penodaan JAI dan GAI terhadap Islam

M Amin Djamaluddin ketua LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Jakarta menjelaskan perbedaan Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah Lahore sebagai berikut:

A. Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Qadiyan)

Kelompok Jemaat ini memiliki keyakinan bahwa:

v Mirza Ghulam Ahmad a.s itu seorang nabi dan rasul.

v Mirza Ghulam Ahmad a.s menerima wahyu.

v Wahyu-wahyu tersebut diturunkan kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad di India.

v Menurut buku putih mereka, wahyu-wahyu tersebut ditulis Nabi Mirza dan terpencar dalam delapan puluh enam buku (Buku Putih, Kami Orang Islam, PB JAI, 1983, hal. 140-141)

v Wahyu-wahyu yang terpencar itu kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku bernama: Tadzkirah ya’ni wahyul muqoddas (Tadzkirah adalah: kumpulan wahyu-wahyu suci/sebuah kitab suci yaitu kitab suci Tadzkirah).

v Mereka mempunyai kapling kuburan surga di Qadiyan (tempat kuburan nabi Mirza). Kelompok ini menjual sertifikat kuburan surga tersebut kepada jama’ahnya dengan mematok harga yang sangat mahal. (copian sertifikat kuburan surga di Rabwah, ada di buku Ahmad Hariadi, Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah Qadiyani, Rabithah Alam Islami, Makkah Mukarramah, 1408H/1988M, hal, 64-65).

v Qadiyan dan Rabwah bagi mereka adalah sebagai tempat suci.

B. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (Ahmadiyah Lahore)

Kelompok Jemaat ini memiliki keyakinan bahwa:

v Mirza Ghulam Ahmad a.s itu seorang mujaddid (pembaharu) Islam.

v Mirza Ghulam Ahmad a.s muhaddats (orang yang berbicara dengan Allah secara langsung).

v Mirza Ghulam Ahmad a.s menerima wahyu. Adapun wahyu yang diterima Mirza merupakan potongan-potongan dari ayat Al Qur’an. Penurunan ayat yang sepotong-sepotong itu bukan berarti membajak ayat Al Qur’an. Menurut keyakinan mereka “Itu bukan urusan Mirza Ghulam Ahmad, tetapi urusan Allah”. (PB GAI, Agustus 2002, hal. 13).

v Seluruh wahyu-wahyu yang diterima Mirza Ghulam Ahmad itu adalah betul-betul wahyu yang datang dari Allah subhanahu wata’ala.

Meskipun ada sedikit perbedaan, namun kedua-duanya telah difatwakan sebagai aliran sesat, keluar dari Islam, dan pengikutnya murtad.

Teks Keputusan Muktamar II Mujamma’ al-Fiqh al-Islami (Akademi Fiqih Islam) di Jeddah, Desember 1985 M adalah sebagai berikut:

إِنَّ مَاادَّعَاهُ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَد مِنَ النُّبُوَّةِ وّالرِّسَالَةِ وَنُزُوْلِ الْوَحْيِ عَلَيْهِ إِنْكَارٌ صَرِيْحٌ لِمَا ثَبَتَ مِنَ الدِّيْنِ بِالضَّرُوْرَةِ ثُبُوْتًا قَطْعِيًّا يَقِيْنِيًّا مِنْ خَتْمِ الرِّسَالَةِ وَالنُّبُوَّةِ بِسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَأَنَّهُ لاَيَنْزِلُ وَحْيٌ عَلَى أَحَدٍ بَعْدَهُ، وَهذِهِ الدَّعْوَى مِنْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ تَجْعَلُهُ وَسَائِرَ مَنْ يُوَافِقُوْنَهُ عَلَيْهَا مُرْتَدِّيْنَ خَارِجِيْنَ عَنِ اْلإِسْلاَمِ، وَأَمَّا الَّلاهُوْرِيَّةُ فَإِنَّهُمْ كَالْقَادِيَانِيَّةِ فِي الْحُكْمِ عَلَيْهِمْ بِالرِّدَّةِ، بِالرَّغْمِ مِنْ وَصْفِهِمْ مِيرْزَا غُلاَم أَحْمَدَ بِأَنَّهُ ظِلٌّ وِبُرُوْزٌ لِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya apa yang diklaim Mirza Ghulam Ahmad tentang kenabian dirinya, tentang risalah yang diembannya dan tentang turunnya wahyu kepada dirinya adalah sebuah pengingkaran yang tegas terhadap ajaran agama yang sudah diketahui kebenarannya secara qath’i (pasti) dan meyakinkan dalam ajaran Islam, yaitu bahwa Muhammad Rasulullah adalah Nabi dan Rasul terakhir dan tidak akan ada lagi wahyu yang akan diturunkan kepada seorangpun setelah itu. Keyakinan seperti yang diajarkan Mirza Ghulam Ahmad tersebut membuat dia sendiri dan pegikutnya menjadi murtad, keluar dari agama Islam. Aliran Qadyaniyah dan Aliran Lahoriyah adalah sama, meskipun aliran yang disebut terakhir (Lahoriyah) meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad hanyalah sebagai bayang-bayang dan perpanjangan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam“. (Keputusan Mujamma’ al-Fiqh al-Islami –Akademi Fiqih Islam– Organisasi Konferensi Islam (OKI) Nomor 4 (4/2) dalam Muktamar II di Jeddah, Arab Saudi, pada tanggal 10-16 Rabi’ al-Tsani 1406 H / 22-28 Desember 1985 M)

Dosa Orang NU dan Muhammadiyah

Keterlibatan tokoh-tokoh pendiri NU dan Muhammadiyah yang masih bersaudara sepupu di dalam mendirikan Ahmadiyah Lahore di Indonesia, ini menunjukkan bahwa ormas NU dan Muhammadiyah punya dosa sejarah turut melahirkan aliran dan paham sesat di Indonesia. Kalau NU bisa dimengerti, karena sejak awal lahirnya memang ditujukan untuk melestarikan hal-hal yang menjadi tradisi masyarakat (kalau ditinjau dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih tradisi-tradisi yang menyimpang dari Islam biasanya disebut bid’ah, takhayul dan khurafat, bahkan kemusyrikan) maka mudah saja bagi NU untuk membiarkan berdirinya Ahmadiyah. Bagaimana dengan Muhammadiyah yang sejak awal kelahirannya dimaksudkan untuk melawan tiga penyakit di atas (TBC: takhayul, bid’ah, dan khurafat), namun dalam perjalanan berikutnya, setelah tujuh belas tahun berkiprah justru sebagian tokohnya mendirikan Ahmadiyah Lahore. Artinya, Muhammadiyah tidak konsisten pada usia yang relatif muda di dalam memurnikan ajaran Islam. Kalah telak dengan NU yang konsisten dengan upayanya menghidupkan tradisi-tradisi seperti tersebut. Jadi artinya, pemberantasnya sudah loyo duluan, sedang pengobarnya tetap bersemangat. Arahnya tampak berbeda, namun sejatinya sama, menuju kepada negative semua, plus kini telah digerogoti dan disusupi oleh dedengkot-dedengkot kemusyrikan dengan label baru yakni pluralisme agama yakni menyamakan semua agama. Pembusukan telah terjadi di sana.

Terbukti, pada zaman modern saat ini pun, Muhammadiyah selalu mengekor NU. Misalnya, setelah kalangan muda NU melahirkan paham Islam Liberal, beberapa tahun kemudian generasi Muhammadiyah pun turut melahirkan paham Islam Liberal. Dalam hal tahlilan alias upacara bid’ah peringatan orang mati, misalnya, yang selama ini diposisikan bid’ah oleh Muhammadiyah, namun tidak jarang petinggi Muhammadiyah saat ini ikut-ikutan tahlilan. Artinya, Muhamamdiyah memang kalah dari NU, baik dari jumlah massanya, main hantam kromo dalam politiknya, maupun dalam mempertahankan garis ‘perjuangannya’.

Kembali kepada tulisan Asvi –yang membingungkan dirinya sendiri dan pembaca yang tidak kritis– untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah ditempuh dengan jalan persaudaraan (kekeluargaan) mengingat tokoh-tokoh pendiri NU, Muhammadiyah, SI, dan Ahmadiyah berasal dari rumpun keluarga yang sama, ini jelas saran yang tidak mendidik dan dapat menjadi preseden buruk.

Misalnya, seandainya perusahaan konglomerasi yang didirikan oleh Liem Sioe Liong itu para tokoh pendirinya masih berasal dari rumpun keluarga yang sama dengan Gus Dur, Amien Rais, SBY dan JK, kemudian perusahaan konglomerasi itu melakukan kesalahan di dalam menerima dan menyalurkan dana BLBI yang nilainya ratusan triliun rupiah, apakah dapat diselesaikan secara kekeluargaan saja? Tentu tidak bisa. Kesalahan mereka harus dilihat dari hukum perdata, dan UU perbankan yang berlaku. Bukan pendekatan sejarah atas tokoh-tokohnya.

Begitu juga dengan Ahmadiyah, harus dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau terbukti menyimpang, dan jelas-jelas sesat, bahkan menodai Islam, meski pendirinya ada kaitan persaudaraan dengan founding fathers RI atau tokoh pendiri ormas, Ahmadiyah tetap harus dinyatakan sesat, telah menodai Islam secara tegas. Dan dibubarkan. Pengikutnya disuruh bertobat dan kembali kepada Islam.

Kalau tidak, apa mau di neraka nanti gigi geraham sampeyan lebih besar dari gunung Uhud? (haji/tede)