Rangkuman Hartono Ahmad Jaiz

Bagi Ummat Islam yang gigih mempertahankan Islam dan jeli, akan mudah mengerti bahwa di dunia ini ada upaya-upaya pemurtadan yang tidak henti-hentinya. Jalur-jalur yang ditempuh untuk menarik-narik Ummat Islam agar meninggalkan agamnya itu pun aneka macam. Ada yang menempuh jalur pendidikan tinggi Islam se-Indonesia dengan cara mengubah kurikulumnya dari Ahlis Sunnah diubah jadi Mu’tazilah kemudian dibablaskan sekalian dengan mengerahkan tenaga-tenaganya untuk memasarkan kemusyrikan baru yang kini disebut pluralisme agama. Maka metode memahami Islam bukan lagi dengan metode yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diwarisi para sahabat, tabi’ien, tabi’it tabi’in dan dilanjutkan oleh para ulama berupa manhaj (metode pemahaman) yang selamat, namun metode sosiologi agama model Barat, yakni menganggap agama itu hanya fenomena social. Sehingga tidak dirujukkan kepada wahyu lagi, namun dicukupkan pada gejala yang ada di masyarakat. Sehingga semuanya dianggap sah-sah saja. Sampai Ahmadiyah yang jelas-jelas nabinya palsu, kitab sucinya palsu, dan tempat sucinya palsu pun dianggap sah, bahkan dibela. Itulah pendidikan terbalik dan sekaligus pemurtadan secara sistematis, namun diterapkan di perguruan tinggi Islam seluruh Indonesia. Ini musibah besar.

Masih pula ditanamkan racun-racun yang disuntikkan untuk meragukan Al-Qur’an lewat memasukkan metode hermeunetik yang diadopsi dari kemusyrikan Yunani kuno kemudian diambil oleh Yahudi, kemudian oleh Nasrani, kemudian oleh murid-murid Yahudi dan Nasrani di perguruan-perguruan tinggi di Barat ataupun sekuler lainnya diusung ke IAIN/ UIN di mana-mana untuk mengkaji Al-Qur’an. Jadi dalam memahami Islam secara umum, telah dialihkan dari manhaj yang selamat ke metodologi sosiologi agama model Barat, sedang untuk mengkaji Al-Qur’an dialihkan dari ilmu tafsir, ulumul Qur’an dan semacamnya ke metode hermeunetik. Akibatnya sampai ada yang diluluskan tesisnya untuk meraih gelar MAg di UIN Jogjakarta, padahal menghujat kemurnian Al-Qur’an, dengan judul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan. (Lebih lengkapnya silakan baca buku Islam dan Al-Qur’an Pun Diserang Gejala Neo Komunisme di UIN, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, Januari 2009, juga buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta). Itulah pemurtadan yang dilakukan orang-orang yang masih mengaku diri mereka Muslim dan lewat jalur pendidikan Islam di Indonesia.

Adapun yang dilakukan oleh orang-orang kafir maka di samping mendanai dan bergerak bersama orang-orang pengais-ngais dana dari kafirin di antaranya kaum liberal, akif pula kafirin-kafirin itu sendiri dalam kiprahnya yang tidak melibatkan langsung dengan orang-orang yang masih mengaku Islam. Di antaranya pemurtadan lewat nyanyian musik. Baru-baru ini justru yang memfatwakan haramnya lagu Agnes Monica, penyanyi dan aktivis misi gereja dari Indonesia, justru Majelis Agama Islam di Malaysia. Berikut ini beritanya.

Ulama Selangor Haramkan Lagu Agnes Monica

SHAH ALAM, MALAYSIA – Majelis Agama Islam Selangor (MAIS) mengeluarkan fatwa haram lagu Agnes Monica yang berjudul “Allah Peduli” pada Sabtu (14/3). Dilaporkan oleh kantor berita Bernama, fatwa haram itu terkait dengan lirik lagu yang banyak menyebut kata “Allah” namun merujuk kepada Yesus, “Tak akan pernah dibiarkannya kubergumul sendiri sebab Allah Yesusku mengerti”.

Pengarah (ketua) MAIS, Datuk Mohamad Adzib Mohd Isa, menyatakan lirik lagu Agnes Monica memasuki area keagamaan yang sensitive, sehingga MAIS berkewajiban mengambil sikap untuk melindungi umat Islam, khususnya di Selangor.

“Dalam keimanan umat Muslim, kata “Allah” tidaklah sama dengan kata “tuhan” yang dimaksud umat agama lain. Dalam Islam, Allah adalah Tuhan yang satu. Oleh karena itu, penggunaan kata “Allah” oleh umat non-Muslim akan menimbulkan perbedaan makna dan kebingungan di kalangan umat,” jelasnya.

Datuk Mohamad Adzib menambahkan, kata “Allah” dalam lagu berdurasi 3 menit 40 detik itu diulangi beberapa kali. Kalau umat Islam menyanyikannya tanpa mengkritisi isi dan maksudnya, lagu itu akan membahayakan kualitas keimanan mereka.

Atas dasar itulah MAIS akan mendesak Kerajaan Negeri Selangor agar menarik dan memberhentikan peredaran lagu tersebut. rid (Republika, Jakarta, Ahad 15 Maret 2009, halaman B2).

Dari Malaysia diberitakan:

Pengerusi Mais, Datuk Mohamad Adzib Mohd Isa, berkata penggunaan kalimah Allah dalam lirik lagu itu bagi menggambarkan Jesus dan bagi sebarang kekeliruan, pihaknya mengharamkan lagu terbabit daripada berkumandang di negeri ini.

“Penggunaan kalimah Allah adalah hak eksklusif untuk umat Islam seperti yang termaktub di bawah Bahagian 1 Jadual Kepada Enakmen Ugama Bukan Islam (Kawalan dan Perkembangan Di Kalangan Orang Islam) 1988, sebagai perkataan (Allah) yang tidak boleh digunakan orang bukan Islam. Sehubungan itu, siasatan akan dilakukan pegawai bertauliah mengenai perkara ini termasuk menarik semula edaran album yang mengandungi lagu berkenaan,” katanya pada sidang media di sini, semalam. (. http://www.budiey.com/majlis-agama-islam-selangor-haramkan-lagu-agnes-monica-allah-peduli/, Sunday, March 15th, 2009).

Satu situs di Malaysia menulis sebagai berikut:

Lirik Lagu Allah Peduli – Agnes Monica

Saturday, March 7th, 2009

Sekarang ini, isu kekeliruan penggunaan perkataan ‘Allah’ di dalam penerbitan gereja Kristian menjadi perbualan hangat. Sehinggalah diperbahaskan dalam Parlimen mengulas Allah yang mana satu yang mereka maksudkan oleh Ahli Parlimen Baling, Dato Taib Azamuddin.

Namun begitu, orang Kristian di Indonesia telah menggunakan perkataan Allah. Contohnya lirik lagu Agnes Monica (Kristian) yang bertajuk “Allah Peduli”. Di sini jelas menunjukkan keburukan jika mereka dibenarkan menggunakan perkataan Allah walau pun tidak sama dengan Allah SWT kita. Tidak mustahil orang Islam yang kerana fanatik atau pun jahil tentang Islam menyanyikan lagu tersebut. Saya yang kurang ilmu agama ni berpendapat adalah murtad menyanyikan lagu tersebut walaupun ia hanya sekadar lirik lagu sahaja kerana Allah yang Agnes Monica itu adalah bapa Jesus mereka. Jadi kepada peminat Agnes Monica khasnya dan peminat lagu-lagu Indonesia amnya.. berhati-hati ya!

Lirik Lagu : Allah Peduli – Agnes Monica

Banyak perkara yang tak dapat ku mengerti
Mengapakah harus terjadi

Di dalam kehidupan ini

Suatu perkara yang ku simpan dalam hati

Tiada satupun kan terjadi tanpa Allah perduli

Allah mengerti

Allah peduli

Segala persoalan yg kita hadapi

Tak akan pernah di biarkanya ku bergumul sendiri

Sebab Allah mengerti

Allah mengerti

Allah peduli

Segala persoalan yg kita hadapi

Tak akan pernah dibiarkannya ku bergumul sendiri

Sebab Allah Yesus ku mengerti.

(sumber: http://www.budiey.com/lirik-lagu-allah-peduli-agnes-monica/)

Pemurtadan dari Indonesia

Dari kenyataan itu, pemurtadan di Indonesia bukan hanya dilancarkan oleh pihak-pihak yang dikenal sebagai aktivis pemurtadan, namun sampai artis pun demikian. Mereka tidak sungkan-sungkan lagi, karena mereka tahu bahwa sebagian dari tokoh yang dianggap sebagai tokoh Islam pun tidak sedikit yang dekat dengan tokoh-tokoh pemurtadan, entah karena sekadar relasi atau bahkan lantaran mengais-ngais dana dari kafirin. Bahkan arah pendidikan tinggi Islam se-Indonesia pun mengandung unsure pemurtadan, secara sistematis, dengan menjajakan pemikiran liberal dan pluralisme agama alias kemusyrikan baru.

Oleh karena itu adanya situs yang sangat menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Indonesia dan berbahasa Indonesia pun sejak beberapa waktu sampai kini masih bisa diakses dan belum terdengar adanya proses hukum. Justru suara-suara yang membela situs menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu yang diekspose, di antaranya dengan kata-kata “masyarakat jangan mudah terpancing…” dan sebagainya.

Ketika Islam dirusak, nyawa Muslimin dibunuhi, pemurtadan dilancarkan secara sistematis bahkan sampai bekerjasama antara penjual-penjual agama dengan kafirin pendana, maka mulut-mulut munafiq dan kafirin diam atau menutup-nutupi atau beruapaya agar persoalan besar itu jangan diungkap. Demikianlah kelakuan mereka, lantaran sebenarnya mereka adalah benci kepada Islam dan Ummat Islam.

Allah Ta’ala telah memberi petunjuk:

يَأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِنْ دُوْنِكُمْ لاَ يَأْلُوْنَكُمْ خَباَلاً وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْ بَدَتِ اْلبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَماَ تُخْفِى صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلآياَتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ # هَاأَنْتُمْ أَوْلآءِ تُحِبُّوْنَهُمْ وَلاَ يُحَبُّوْنَكُمْ وَتُؤْمِنُوْنَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوْكُمْ قَالُوْا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوْا عَلَيْكُمُ اْلأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ بِذاَتِ الصُّدُوْرِ

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

119. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (QS Ali Imraan/ 3: 118, 119).

Di samping telah terbukti, nyanyian dan musik pun telah dijadikan alat pemurtadan, sebenarnya musik-musik itu sendiri telah dijelaskan oleh para Ulama tentang haramnya. Berikut ini penjelasannya:

Hukum Nyanyian dan Mendengarkannya

Hukum nyanyian dan mendengarkannya adalah haram serta munkar. Dan merupakan penyebab penyakit hati dan kerasnya. Sebagian besar ulama sepakat akan pengharamannya dan mereka menyebutkan dalil-dalil pengharamannya sebagai berikut:

1. Firman Allah SWT di dalam Surat Luqman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ(6)وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ ءَايَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(7)

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalanAllah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepada ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di telinganya; maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih.” (QS Luqman: 6-7).

Al-Wahidi dan para mufassir lainnya berkata bahwa yang dimaksud dengan lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) pada ayat tersebut adalah nyanyian; menurut perkataan Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan Ikrimah.

Dan diriwayatkan dari Ibnud Mas’ud bahwasanya ia berkata: “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, bahwasanya nyanyian itulah yang dimaksud dengan lahwal hadiits.”

2. Sabda Rasulullah saw:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ (رواه البخاري).

Layakununna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hirro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

3. Dari Abi Hurairah ra, dari Rasulullah saw:

يُمْسَخ قَوْم مِنْ هَذِهِ الْأُمَّة فِي آخِر الزَّمَان قِرَدَة وَخَنَازِير

“Yumsakhu qoumunmin haadhihil ummati fii aakhiriz zamani qirodatan wa khonaaziir.”

“Akan ada segolongan dari ummat ini yang diubah jadi (menyerupai) kera dan babi di akhir zaman.”

وَرَوَى اِبْن أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَاب الْمَلَاهِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا ” يُمْسَخ قَوْم مِنْ هَذِهِ الْأُمَّة فِي آخِر الزَّمَان قِرَدَة وَخَنَازِير , فَقَالُوا يَا رَسُول اللَّه أَلَيْسَ يَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ بَلَى وَيَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ , قَالُوا فَمَا بَالهمْ ؟ قَالَ اِتَّخَذُوا الْمَعَازِف وَالدُّفُوف وَالْقَيْنَات فَبَاتُوا عَلَى شُرْبهمْ وَلَهْوهمْ فَأَصْبَحُوا وَقَدْ مُسِخُوا قِرَدَة وَخَنَازِير

Ibnu Abid Dun-ya meriwayatkan dalam kitab Al-Malahi, dari Abu Hurairah secara marfu’ (dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Akan ada segolongan dari ummat ini yang diubah jadi ( menyerupai) kera dan babi di akhir zaman.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, bukankah mereka bersyahadat bahwasanya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya? Rasulullah saw bersabda: “Ya, bahkan mereka berpuasa dan mengerjakan shalat serta berhaji.” Kemudian ditanyakan, “Maka apakah gerangan penyebabnya?” Beliau bersabda: “Mereka itu mengambil ma’azif (musik-musik/ bunyi-bunyi merdu –alat-alat musik), dan genderang serta biduanita; maka mereka terus tenggelam semalam suntuk dengan minuman dan permainannya sehingga di pagi hari mereka menyerupai kera dan babi.” (Ighotsah al-Lihfaan, jilid 1 halaman 262, dikutip dalam buku Sifat Sholat Nabi saw dan Dzikir-Dzikir Pilihan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Pustaka Al-Kautsar, cetakan II, 1996, halaman 53-55).

وَلَيَمُرُّنَّ الرَّجُل عَلَى الرَّجُل فِي حَانُوته يَبِيع فَيَرْجِع إِلَيْهِ وَقَدْ مُسِخَ قِرْدًا أَوْ خِنْزِيرًا ” قَالَ أَبُو هُرَيْرَة لَا تَقُوم السَّاعَة حَتَّى يَمْشِي الرَّجُلَانِ فِي الْأَمْر فَيُمْسَخ أَحَدهمَا قِرْدًا أَوْ خِنْزِيرًا وَلَا يَمْنَع الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا مَا رَأَى بِصَاحِبِهِ أَنْ يَمْضِي إِلَى شَأْنه حَتَّى يَقْضِي شَهْوَته . قَالَهُ الشَّوْكَانِيُّ

Dan pastilah seorang lelaki melewati lelaki di kedainya berjualan, lalu dia (yang lewat itu) kembali kepadanya (di kedai) dan dia (yang di kedai itu) sudah diubah bentuk jadi kera atau babi. Abu Hurairah berkata, Qiyamat tidak datang sehingga dua lelaki berjalan dalam satu urusan lalu salah satunya diubah bentuknya jadi kera atau babi dan tidak lah yang selamat dari keduanya itu enggan terhadap apa yang dia lihat pada temannya untuk berlangsung pada keadaannya sehingga dia melaksanakan hajat syahwatnya. Itu dikatakan oleh Asy-Syaukani (‘Aunul Ma’buud, juz 9 halaman 64).

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid menjelaskan:

Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).

Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.

“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).

Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.

Yang dimaksud dengan الْحِرَ al-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَ al-ma’azif adalah alat-alat musik.

Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:

Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam يَسْتَحِلُّونَmenghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.

Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu. (Lihat Fatawa Islam, Soal dan Jawab juz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, lihat nahimunkar.com, Musik Haram Apalagi dalam Ramadhan, September 10, 2008 10:01 pm admin Fatwa ).