ilustrasi: google


Islam merupakan agama yang mengatur seluruh segi kehidupan kita. Mulai dari beribadah, bersosialisaisi, hingga adab-adab dalam melakukan sesuatu, seperti makan pun diatur dalam Islam. Makan dan minum adalah hal yang setiap orang lakukan setiap hari, sehingga kebanyakan orang menyepelekan hal ini. Dengan melakukan makan dan minum sesuai dengan adab atau tata cara yang diatur dalam Islam, maka itu juga mencerminkan seseorang memiliki akhlaq yang baik dan akan dihitung oleh Allah sebagai bentuk ibadah jika disertai dengan niat yang baik. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan dilandaskan pada niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkan..” (1)

Lantas, sebenarnya bagaimana sih tata cara makan dan minum yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam Islam? Simak penjelasan di bawah ini!

Islam mengajarkan kepada kita untuk menikmati makanan yang halalan, yaitu bahwa makanan itu halal zat dan cara memperolehnya, serta toyyiban yang artinya baik atau tidak mudarat terhadap yang mengkonsumsinya. Setelah memilih makanan yang halal dan tidak membahayakan diri, maka selanjutnya kita juga harus memperhatikan tata cara makan yang benar menurut agama Islam.

Berikut adalah tata cara makan dan minum yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad .

  1. Dilarang makan dan minum pada bejana emas dan perak. Rasulullah  bersabda:

“Janganlah kalian memakai kain sutra dan yang bergaris sutra (dibaj adalah jenis kain persia. Pen.) dan jangan pula kalian minum pada bejana emas dan perak serta makan pada piring yang terbuat dari emas dan perak sebab dia (semua disebutkan di atas) adalah bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat.” (2)

2. Membagi perutmu menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika dia harus mengerjakannya maka hendaklah dia membagi sepertiga untuk mkanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (3)

3. Tidak dianjurkan makan yang banyak. (4)

4. Tidak berlebihan dalam variasi makanan, sebagian ulama Abu Hanifah berkata: Termasuk berlebihan jika terdapat di atas meja makan roti dengan jumlah yang melebihi kebutuhan orang yang makan, dan termasuk berlebihan menyediakan bagi diri makanan yang beragam. (5)

5. Menggunakan tangan kanan dan memakan makanan yang dekat. (6)

يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

6. Dilarang makan sambil ittika’ (berbaring), Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku tidak makan secara berbaring. (7) Di antara bentuk berbaring tersebut adalah:

    1. Berbaring ke sebelah kiri.
    2. Duduk Bersila.
    3. Bertopang pada salah satu tangan dan makan dengan tangan yang lain.
    4. Bersandar pada sesuatu, seperti bantal atau hamparan di bawah tempat duduk seperti yang dilakukan para pembesar.

7. Mendahulukan makan dari shalat pada saat makanan sudah dihidangkan, berdasarkan sabda Nabi:

“Apabila makan malam sudah dihidangkan maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa sampai dia selesai makan malam.” (8)

8. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, berdasarkan sabda Nabi:

“Barangsiapa yang tidur sementara tangannya dipenuhi bau daging dan dia belum mencucinya lalu ditimpa oleh sesuatu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.”(9)

9. Membaca Basmalah pada permulaan makan. Jika lupa di awal, maka membaca:

10. Setelah selesai makan maka dia mengucapkan salah satu do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah, yaitu:

“Segala puji bagi Allah, pujian yang berlimpah lagi baik dan berkah yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan dan tidak bisa ditingalkan wahai rabb kami.”(10)

Atau membaca do’a:

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku makan dengan makanan ini, dan menjadikannya sebagai rizki bagiku tanpa daya dan upaya dariku.” (11)

11. Tidak bertanya tentang asal makanan, dijelaskan dalam sebuah hadits:

“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi saudaranya semuslim lalu dia menyuguhkan kepadanya makanan maka hendaklah dia memakannya tanpa bertanya tentang (asal) makanan tersebut dan jika dia memberinya minum maka hendaklah meminumnya tanpa bertanya tentang asal minuman tersebut.” (12)

12. Dianjurkan menyeragamkan makanan antara semua yang hadir.

13. Dibolehkan mendahulukan sebagian makanan kepada teman duduknya sebagai bentuk sifat lebih mengutamakan orang lain atas dirinya.

14. Dibolehkan memberikan makan kepada orang yang meminta-minta dan kucing dengan syarat orang yang memberikan makanan tidak terganggu dengan tindakan tersebut. (13)

15. Dianjurkan makan dari apa-apa yang ada di pinggir piring bukan dari atasnya (bagian tengah makanan). (14)

16. Dianjurkan makan dengan menggunakan tiga jari(15) dan menjilat tangan(16), berdasarkan hadits Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu bahwa Rasulullah makan dengan tiga jari dan mejilati tangannya sebelum membersihkannya” (17) dan hikmah menjilat jari-jari adalah karena perintah Nabi Muhammad yang memerintahkan menjilati jari-jari dan piring tempat makan dan bersabda: “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan manakah keberkahan tersebut.” (18)

17. Dianjurkan mengambil suapan yang terjatuh dan membersihkan apa-apa yang menempel lalu memakannya. (19)

18. Tidak disyari’atkan mencium makanan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah Ta’ala.

19. Dianjurkan memakan makanan setelah hilang panasnya. (20)

20. Dilarang mencela dan menghina makanan, sebagimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah tidak pernah mencela makanan sedikitpun, apabila beliau menyukainya maka beliau memakannya dan jika tidak menginginkannya maka beliau meninggalkannya.(21) Imam Nawawi rahimahullah berkata: Dan di antara adab makan yang harus adalah makanan tersebut tidak dicela, seperti mengatakan: makanan ini asin atau kecut. (22)

21. Mengutamakan minum dengan cara duduk, dan Nabi Muhammad menghardik seorang yang minum dengan cara berdiri(23), namun dibolehkan minum secara berdiri berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa dia memberi minum kepada Rasulullah dari air zamzam, lalu beliau meminumnya, sementara beliau tetap berdiri. (24)

22. Dimakruhkan bernafas dan meniup di dalam bejana (tempat minum). (25)

23. Dianjurkan bernafas (di luar bejana) tiga kali ketika seseorang sedang minum. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi bernafas (di luar bejana) tiga kali saat minum, dan beliau menegaskan bahwa hal itu lebih mengenyangkan, memuaskan dan lezat.”(26) Dan dibolehkan minum dengan satu kali nafas, sebab Nabi Muhammad tidak mengingkari seseorang yang sedang minum (dengan satu kali nafas), dan beliau berkata: Sesungguhnya aku tidak kenyang (minum) dengan satu kali nafas”.

24. Diharamkan duduk di hadapan hidangan minuman keras. (27)

25. Disunnahkan menghabiskan sisa makanan yang ada pada piring atau nampan tempat makan. (28)

26. Termasuk etika makan adalah tidak makan di jalanan.

27. Termasuk etika makan adalah tidak melihat kepada wajah orang-orang yang sedang makan.

28. Termasuk etika makan adalah tidak berbicara dengan sesuatu yang menjijikkan atau mengundang ketawa orang yang sedang makan.

29. Termasuk etika makan tidak memuntahkan sesuatu yang telah ditelan ke dalam nampan tempat makanan, dan tidak pula mencium bau makanan

Referensi

  1. Bukhari
  2. Bukhari no: 5426, Muslim no: 206
  3. Dishahihkan oleh Albani dalam kitab silsilatus shahihah no: 2265.
  4. Bukhari no: 5393, Muslim 2060, 182.
  5. Al-Adabus Syar’iyah no: 3/193.
  6. Bukhari no: 5376, Muslim no: 2022.
  7. Abu Dawud no: 3774 dan dishahihkan oleh Albani
  8. Bukhari no: 674, Muslim no: 559.
  9. Ahmad no: 7515, Abu Dawud no: 3852 dan dishahihkan oleh Albani
  10. Bukhari 5459
  11. Turmudzi no: 3458 dan dihasankan oleh Albani no : 3348.
  12. Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/399, hadits ini dishahihkan oleh yang alim Albani rahimhullah dalam kitab Silsilatus Shahihah no: 627.
  13. Al-Adabus Syar’iyah 3/182.
  14. Abu Dawud no:3772. Dan bagian tengah dikhususkan bagi turunnya berkah sebab bagian tersebut adalah bagian yang paling adil.
  15. Dan jari yang dipergunakan menyantap makanan adalah Jari telunjuk, ibu jari dan jari tengah, kecuali makanan tersebut sejenis tsarid (makanan roti yang direndam dalam kuah) atau yang sejenisnya maka diperbolehkan makan dengan lima jari-jarinya. Ibnul Qoyyim rahimhullah mengatakan: Cara makan yang paling mulia yaitu makan dengan menggunkan tiga jari-jari, sebab orang yang sombong makan dengan satu jari sementara orang yang kuat makan dengan lima jari sekligus dan mendorong makanan tersebut dengan tenang.
  16. Dan cara menjilat jari-jari adalah memulai menjilat yang dengan jari tengah, kemudian jari telunjuk dan ibu jari, dan hadits tentang masalah ini diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam kitab Al-Mu’ajmul Ausath. Saat itu mereka belum mempunyai tissu untuk membersihkan tangan mereka.
  17. Muslim no: 20222.
  18. Muslim no: 2033.
  19. Sisilatus Shahihah no: 1404
  20. Albani berkata di dalam kitabnya: Irwa’ul Galil no: 1978: Shahih dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/2580.
  21. Bukahri no: 5409
  22. Fathul Bari, Ibnu Hajar no: 9/548
  23. Dari Anas radhiallahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang minum secara berdiri. HR. Muslim no: 2024.
  24. Bukhari no: 1637
  25. Bukhari no: 5630, Al-Hafiz berkata di dalam kitabnya: Fathul Bari 10/80: Larangan tentang meniup di dalam bejana didasarkan pada beberapa hadits, begitu juga dengan larangan bernafas padanya, sebab bisa saja saat bernafasnya terjadi perubahan pada mulutnya karena pengaruh makanan atau karena jarang bersiwak dan berkumur, atau karena nafas tersebut naik bersama dengan gas yang terdapat di dalam lambung, dalam masalah ini meniup lebih keras dari sekedar bernafas.
  26. Bukhari no: 45631.
  27. Ahmad no: 14241.
  28. Al-Adabus Syar’iyah no: 3/161.

https://skifkunram.com 30 Desember 2016

(nahimunkar.com)