Adnan Buyung Bela Ahmadiyah Mewakili Siapa?

Satu-satunya anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden) yang menolak pelarangan Ahmadiyah adalah Adnan Buyung Nasution. Dengan dalih membela konstitusi (HAM dan kebebasan beragama), Buyung habis-habisan membela Ahmadiyah, khususnya JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) alias Ahmadiyah Qadiyan yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Saking semangatnya, Buyung sampai kehilangan akal sehat. Sebagaimana bisa dilihat pada detikcom edisi 06 Mei 2008, Buyung mengatakan, “Mereka itu bukan wakil masyarakat. Segelintir orang saja jumlah mereka semua. Masak rakyat Indonesia mau diam semua? Harus kita bela negara dan konstitusi!”

Mereka yang dimaksud Buyung yang dikatakannya berjumlah segelintir orang itu, adalah masyarakat Islam yang menolak keberadaan Ahmaidyah (baik Lahore maupun Qadiyan) seraya mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan SKB tiga menteri (Menteri Agma, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung) tentang pelarangan Ahmadiyah.

Kalau masyarakat Islam yang tampil itu dikatakan Buyung cuma segelintir orang yang tidak mewakili masyarakat, apalagi Buyung. Masyarakat mana yang ia wakili? Khan nggak ada. Buyung cuma mewakili segelintir penganut Ahmadiyah (itu pun cuma yang Qadiyan). Apakah sikap Buyung didukung oleh rakyat Indonesia? Pastinya tidak. Namun, Buyung seolah-olah memposisikan diri mewakili rakyat Indonesia, sehingga ia berujar: “Masak rakyat Indonesia mau diam semua? Harus kita bela negara dan konstitusi!”

Ini menunjukkan bahwa Buyung sudah kehilangan akal sehat. Boleh jadi masyarakat Islam yang tampil itu tidak mewakili seratus persen rakyat Indonesia (terutama yang beragama Islam), tapi Buyung mewakili kelompok masyarakat yang jauh lebih sedikit dibanding anggota dan massa Islam yang tampil menolak Ahmadiyah itu.

Mengapa orang sehebat Buyung bisa kehilangan akal sehat? Kemungkinannya ada dua, pertama kemungkinan karena kepalanya terbentur benda keras. Kedua, kemungkinan karena ada yang bayar!

Pada satu sisi Buyung habis-habisan membela Ahmadiyah, namun pada sisi lain ia menganggap persoalan Ahmadiyah bukan prioritas. Buyung mengatakan, “masalah Jemaat Ahmadiyah bukan prioritas. Masalah yang paling perlu segera ditangani pemerintah adalah mengatasi dampak kenaikan harga-harga yang semakin menambah penderitaan rakyat miskin.”

Persoalan Ahmadiyah menjadi berlarut-larut, penyebabnya karena Buyung menjadi penghalang diterbitkannya SKB Tiga Menteri. Dengan dalih HAM dan kebebasan beragama, Buyung membela Ahmadiyah, namun ia tidak peduli dengan HAM dan kebebasan beragama umat Islam yang Al-Qur’annya dibajak Ahmadiyah, bahkan dinyatakan keluar dari Islam bila tidak mengimani kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Ini menunjukan bahwa Buyung yang selama ini dijuluki pakar HAM, sebenarnya masih memiliki pemahaman yang rancu tentang HAM.

Buyung juga mengatakan, “Buat apa sih negara ngurusin yang beginian? Paling penting harga-harga beras, tempe, BBM yang semakin membumbung tinggi menambah berat beban rakyat. Itu dong yang diurusin lebih dulu. Ya nggak?”

Kalau Buyung memang pendekar HAM yang berpihak kepada rakyat banyak, seharusnya ia peduli dengan kenaikan harga-harga, ketimbang membela pengikut Ahmadiyah yang minoritas dan sesat serta telah mengacak-ngacak agama Islam. Sebagai anggota Wantimpres seharusnya ia berani mengatakan bahwa pemerintah telah melanggar hak asasi rakyat banyak yang berhak mendapatkan barang-barang konsumsi seperti tempe dengan harga murah.

Tapi, hal itu tidak dilakukan Buyung, karena rakyat kebanyakan tidak punya uang untuk membayar Buyung agar ia mau menyuarakan aspirasi rakyat soal harga tempe dan lain-lain kepada Presiden dan Wapres. Berbeda dengan Ahmadiyah Qadiyan yang berpusat di London, serta banyak uang karena merupakan antek imperialis, tentu menarik untuk diberi pembelaan oleh Buyung.

Umat Islam sudah sejak lama meminta pelarangan Ahmadiyah kepada pemerintah (lihat Fatwa MUI tahun 1980 dan 2005 yang tetap konsisten mengatakan bahwa ajaran Ahmadiyah sesat dan menyesatkan). Upaya saat ini merupakan proses yang berkesinambungan dari masa-masa sebelumnya. Berbeda dengan keberpihakan Buyung terhadap Ahmadiyah yang terjadi baru-baru saja, itu pun setelah Buyung menduduki kursi Wantimpres, sebuah posisi strategis yang bernilai rupiah bagi yang pandai memanfaatkannya.

Selain memiliki pemahaman yang rancu soal HAM, Buyung juga tidak ngerti agama. Sehingga, ia berani mengatakan, “Mati pun untuk konstitusi nggak apa-apa!_ Bagi yang ngerti agama, tauhidnya lurus dan jernih, rela mati demi konstitusi adalah musyrik. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan musyrik (tidak bertaubat benar-benar semasa hidupnya) maka haram masuk surga. Buyung sudah menjadikan konstitusi sebagai tuhan dan agamanya, sehingga ia rela mati untuk itu, dalam rangka membela Ahmadiyah yang sesat pula.

Masih ada satu lagi predikat yang patut disandang Buyung, yaitu tidak profesional. Dulu, pada Pemilu Legislatif 2004 dan Pilkada Depok yang beraroma sengketa itu, Buyung membela PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Ternyata, PKS berbeda pendirian dengan Buyung dalam soal Ahmadiyah. Maka Buyung pun mengungkapkan penyesalannya, sebagaimana bisa dibaca pada detikcom (31 Agustus 2005).

Kalau Buyung profesional, maka ketika ia membela PKS dulu, yang menurutnya dizalimi, harusnya berlandaskan etika profesi yang baku. Sehingga tidak perlu ada penyesalan hanya karena PKS yang pernah dibelanya berbeda pendirian soal Ahmadiyah. Selain tidak profesional, terkesan Buyung juga kekanak-kanakan, dan mau memaksakan pendiriannya kepada orang lain.

Keempat faktor –rancu memahami HAM, nggak ngerti agama, tidak profesional dan kekanak-kanakan– itulah yang menyebabkan Buyung membela Ahmadiyah secara membabi-buta, tanpa peduli sedikit pun bahwa Ahmadiyah telah melakukan kebohongan publik. Dengan kata lain, Buyung berhasil dibohongi Ahmadiyah, logika Buyung berhasil dikonversi kemungkinan dalam bentuk rupiah, sehingga ia tidak berpikir logis.

LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) pada Maret 2008 menerbitkan buku berjudul Kebohongan Publik Terbaru Ahmadiyah yang disusun oleh HM Amin Djamaluddin. Misalnya, tentang syahadat. Di depan umat Islam penganut Ahmadiyah mengucapkan syahadat yang secara tekstual tidak berbeda dengan syahadat umat Islam.

Namun, itu cuma bohong-bohongan saja, seperti ber-taqiyah ala Syi’ah, dengan tujuan untuk menipu umat Islam yang awam, sehingga mereka terperosok ke dalam lembah kesesatan Ahmadiyah, karena menyangka paham sesat Ahmadiyah sama saja dengan Islam pada umumnya. Dalam sebuah buku berjudul Memperbaiki Kesalahan yang ditulis oleh H.S. Yahya Pontoh dan diterbitkan oleh Jemaah Ahmadiyah Bandung (1993), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Muhammad pada syahadat mereka bukanlah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah Al-Mukarramah, tetapi Muhammad alias Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, yang merupakan nabi para penganut Ahmadiyah Qadiyan.

Bakor Pakem setelah sekian lama memantau JAI (Ahmadiyah Qadiyan) menyimpulkan bahwa Ahmadiyah tetap mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Mereka mengingkari ucapan mereka sendiri yang katanya mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi, dan Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai mursyid.

Kebohongan seperti itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Di tahun 2005, pasca penyerangan markas Ahmadiyah di Parung, Bogor, oleh umat Islam, Abdul Basith pimpinan JAI laris diwawancarai berbagai teve swasta. Antara lain di Metro TV ketika menyebut nama Mirza Ghulam Ahmad, Abdul Basith tidak lupa menambahkan Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini menunjukkan bahwa mereka berpura-pura mengakui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai nabi padahal sesungguhnya nabi mereka adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Menurut salah seorang aktivis Ahmadiyah Lahore, Abdul Basith sempat dimarahi oleh pimpinan pusatnya di London, karena ketika diwawancarai oleh berbagai media massa, ia menyebut Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai mursyid, bukan nabi. Mirza Ghulam Ahmad itu nabi!_ Begitu mereka memarahi Abdul Basith pimpinan JAI di Indonesia.

Kasihan sekali Buyung Nasution, ia berani pasang badan untuk membela kebohongan dan kesesatan Ahmadiyah. Padahal, masih mending ia membela rakyat yang menjerit karena harga tempe dan tahu kian mahal, bensin kian tinggi harganya, sehingga harga sayur mayur pun melambung tinggi. Daripada menjadi pendekar sesat mendingan jadi pendekar tempe, Yung._ (haji/tede)