Saksi ahli Bahasa Indonesia, Prof Mahyuni (yang berbaju putih). (ikbal)/ poskotanews.com


Rimanews – Saksi ahli Bahasa Indonesia, Prof. Mahyuni menyatakan, konteks kalimat yang digunakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam pernyataannya di Kepualuan Seribu 27 September tahun lalu adalah menganggap surat Al Maidah 51 sebagai sumber kebohongan.

“(Iya), Al Maidah di sini dianggap menjadi sumber kebohongan,” ujar Mahyuni kepada majelis hakim di sidang lanjutan kasus penistaan agama di Gedung Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, hari ini.

Berbicara di depan warga Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu, 27 September 2016, Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta mengutip Al Maidah 51 dan menyatakan “Jangan mau dibohongi pake Al Maidah 51.” Pernyataan itu dianggap menista Al Quran dan memancing reaksi keras umat Islam sehingga sejumlah orang dan ormas Islam melaporkannya ke polisi. Polisi kemudian metetapkan Ahok sebagai tersangka dan sejak awal Desember lalu menjadi terdakwa.

Hari ini, persidangan kasus Ahok memasuki sidang ke-10, dan menghadirkan saksi-saksi ahli.

Dalam kesaksiannya, Mahyuni menyebutkan bahwa pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu telah keluar dari konteks karena saat itu, Ahok datang dalam rangka kunjungan kerja untuk memastikan budi daya ikan kerapu nelayan di sana sesuai dengan program pemerintah.

“(Pernyataan Ahok) itu out of context. Sudah diluar pembicaraan kunjungan kerja yang sebenarnya. Sebagai ahli, menurut saya, (Ahok) sudah pindah topik,” kata Mahyuni.

Dia juga menyebutkan, kalimat itu disampaikan Ahok seolah-olah kampanye di saat kunjungan kerja kepada warga di Kepulauan Seribu.

“Dari kalimatnya, seolah-olah saudara terdakwa takut tidak dipilih,” ungkap Mahyuni.

Reporter : Oki

Sumber :Rimanews/rimanews.com – 13 FEB 2017

***

Ahli Bahasa: Ahok Anggap Al-Maidah Alat Pembohongan 

TEMPO.CO, Jakarta – Ahli kajian linguistik bahasa Indonesia dari Universitas Mataram, Mahyuni, menilai Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sedang menyampaikan pesan agar masyarakat tak perlu menghiraukan jika dibohongi seseorang menggunakan Surat Al-Maidah ayat 51.

“Dalam konteks itu, Al-Maidah jadi alat kebohongan yang dipakai subyek ke obyek,” kata Mahyuni sebagai saksi dalam persidangan kasus penistaan agama di Aula Gedung Kementerian Pertanian pada Senin, 13 Februari 2017.

Mahyuni mengatakan, pidato Ahok di Kepulauan Seribu adalah satu kontekstual. Kata “dibohongi” yang diucapkan Ahok, jika ditinjau secara parsial berdiri sendiri, bermakna negatif. Dalam hal ini, Mahyuni menegaskan kata “dibohongi” pasti memiliki subyek siapa pembohongnya dan audiens yang dibohongi.

Namun, dalam konteks keseluruhan pidato Ahok, ayat Al-Maidah digunakan sebagai alat membohongi. Mahyuni juga melihat Ahok berbicara seperti itu saat menjabat gubernur.

”Ketika pilihan kata digunakan, yang bersangkutan sudah meyakini Al-Maidah sebagai alat kebohongan,” tutur Mahyuni.

Menurut Mahyuni, Ahok sengaja membahas Al-Maidah. Setiap orang punya konsep tentang apa yang ingin disampaikan. Namun, menurut dia, seharusnya Ahok tak membicarakan tentang Al-Maidah karena kapasitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta yang sedang berkunjung ke Kepulauan Seribu terkait budi daya ikan. Pernyataan Ahok dianggap keluar dari topik pidato.

Meski demikian, Mahyuni masih melihat ucapan Ahok masih menjadi satu rangkaian utuh. Menurut dia, Ahok sedang bicara dengan audiens bahwa selama ini Al-Maidah digunakan sebagai alat kebohongan.*/AVIT HIDAYAT

Sumber : tempo.co

(nahimunkar.com)