Ahmadiyah Dibiarkan, Masalah Tambah Besar

Dengan membiarkan ajaran Ahmadiyah terus berlangsung, bukan berarti masalah jadi padam dan selesai. Bisa jadi malah lebih besar, menurut Menteri Agama Suryadharma Ali.

Beberapa waktu lalu ia menilai langkah pembubaran merupakan pilihan terbaik untuk meredam potensi konflik horizontal antarpenganut agama di level akar rumput.

Apa yang dikatakan menteri Agama beberapa waktu lalu itu jadi kenyataan.

Enam bangunan milik jemaah Ahmadiyah di Desa Kampung Cisalada, RT 1 RW 5 Desa Ciampea Udik, Kecamatan Ciampea, Bogor, dibakar seribuan massa warga sekitar, Jumat (1/10 2010).
Inilah beritanya:

Masjid dan Rumah Warga Ahmadiyah di Bogor Dibakar Massa

TEMPO Interaktif, Bogor – Kepala Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris Besar Tomex Kurniawan mengatakan enam bangunan milik jemaah Ahmadiyah di Desa Kampung Cisalada, RT 1 RW 5 Desa Ciampea Udik, Kecamatan Ciampea, Bogor, dibakar seribuan massa warga sekitar, Jumat (1/10).

Menurut Tomex, yang dibakar warga adalah masjid, surau, madrasah, dan sisanya rumah milik jemaah Ahmadiyah. Pembakaran tersebut terjadi setelah adanya dugaan penusukan dan penyanderaan terhadap warga sekitar yang dilakukan jemaah Ahmadiyah pada Jumat petang.

Akibatnya, satu orang luka dirawat di Rumah Sakit Karya Bakti dan tiga orang disandera. Tidak terima dengan penusukan dan penyanderaan tersebut, warga sekitar yang non-Ahmadiyah menyerang kediaman warga Ahmadiyah. Pihak Ahmadiyah sendiri belum bisa dimintai konfirmasi mengenai kejadian tersebut.

Tomex mengatakan penyanderaan diduga dipicu sekelompok warga yang menegur kelompok Ahmadiyah. Mereka menegur karena kelompok Ahmadiyah membuka segel masjid yang sebelumnya disegel pemerintah setempat.

DIKI SUDRAJAT

TEMPO Interaktif JUM’AT, 01 OKTOBER 2010 | 23:19 WIB

Sebelumnya, akhir Agustus lalu, konflik warga dengan pengikut Ahmadiyah juga sempat terjadi di Majalengka, Jawa barat. Jamaah Ahmadiyah yang tidak rela tempat ibadahnya disegel oleh pemerintah kabupaten Majalengka, terlibat aksi bentrok dengan warga setempat.
(Endang Gunawan/Global/ded) okezone

Untuk menghadapi masalah itu, inilah sikap Pemerintah yang dalam hal ini ungkapan Menteri Agama:

Ahmadiyah, Dibiarkan atau Dibubarkan?

Rifa Nadia Nurfuadah – Okezone

JAKARTA – Saat ini ada dua pandangan mengenai masalah Ahmadiyah. Pertama,  membiarkan ajaran tersebut. Kedua, membubarkan Ahmadiyah.

“Tapi sebenarnya, dengan membiarkan ajaran ini terus berlangsung bukan berarti masalah padam dan selesai. Bisa jadi malah lebih besar,” tutur Menteri Agama Suryadharma Ali di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu (2/10/2010).

Sementara, pembubaran yang dimaksud Menag bukan berarti tindakan kebencian.Pembubaran ini justru didasari rasa kasih sayang terhadap para penganut Ahmadiyah.

“Sebab, mereka mau beragama Islam. Tapi sayangnya, mereka mendapat informasi yang salah tentang Islam. Jadi kita harus mengusahakan mereka mendapat informasi yang benar tentang Islam,” imbuhnya.

Karena itu, ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai, perlu ada berbagai dialog antara tokoh Islam dengan jamaah Ahmadiyah. Forum ini memungkinkan pertukaran informasi yang dapat mengantarkan penganut Ahmadiyah kembali ke Islam yang benar.

Seperti diberitakan sebelumnya, terjadi penyerangan warga terhadap kampung Ahmadiyah di Cisalada, desa Ciampea Udik, kecamatan Ciampea, Bogor, Jawa Barat. Dalam penyerangan tersebut, 21 rumah rusak berat, sementara satu masjid dan dua kendaraan terbakar.(fmh)

Okezone, Sabtu, 2 Oktober 2010 – 13:41 wib

Akan terus terjadinya konflik menyangkut Ahmadiyah –bila tidak dibubarkan– sudah pernah disinyalir. Inilah beritanya:

Menag: Ahmadiyah Dibiarkan, Konflik Terus Terjadi

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Agama Suryadharma Ali kembali menggulirkan opsi untuk membubarkan aliran Ahmadiyah. Ia menilai langkah pembubaran merupakan pilihan terbaik untuk meredam potensi konflik horizontal antarpenganut agama di level akar rumput.

“Bisa saja aliran Ahmadiyah dibiarkan, tetapi konflik di masyarakat akan terus terjadi. Kalau opsi dibubarkan, maka risiko yang ditanggung akan lebih ringan,” kata Suryadharma usai menghadiri rapat koordinasi menteri mengenai evaluasi Sail Banda di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jakarta, Kamis (2/9).

Selama Ahmadiyah dibiarkan ada, kata Suryadharma, kemungkinan penyerangan terhadap warga Ahmadiyah bakal terus terjadi dilakukan oleh masyarakat Islam. “Pembubaran untuk keamanan dan kepentingan bersama,” katanya.

Menurut Suryadharma seyogianya, baik Ahmadiyah, masyarakat, dan para penegak hukum menaati hasil surat kesepakatan bersama (SKB) tiga menteri yang jelas menyatakan bahwa Ahmadiyah merupakan ajaran beraliran sesat. Untuk itu, disarankan agar mereka segera menghentikan kegiatan dalam mengembangkan ajarannya di Indonseia.

Kendati dirinya ngotot agar opsi pembubaran Ahmadiyah diberlakukan, namun Suryadharma mengaku pihaknya terbuka jika solusi lain tentang masalah Ahmadiyah diajukan, termasuk wacana pembiaran agar jamaah Ahmadiyah tetap melakukan ibadahnya.

Terkait opsi pembiaran, Suryadharma mengatakan, sejatinya umat Islam memperbolehkan saja warga Ahmadiyah melakukan ibadah mereka. Namun, terdapat syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi, yaitu kelompok Ahmadiyah tidak boleh membawa nama agama lain (Islam) dalam aktivitas mereka. (MI/DOR)

metrotvnews.com, Sosbud / Kamis, 2 September 2010 15:51 WIB

(nahimunkar.com)