Ahmadiyah Lahore dan Mujaddid Pendusta

Lima orang tokoh Ahmadiyah Lahore dipimpin ketua umumnya, Ali Yasir, datang dari Jogjakarta ke Kantor LPPI (lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Masjid Al-Ihsan Pasar Rumput Jakarta, Ahad 4 Agustus 2002. Mereka mengaku datang dari Masjid Istiqlal Jakarta untuk mengikuti seminar tentang Bahaya Ahmadiyah. Karena mereka membaca Majalah Media Dakwah edisi Juli 2002, bahwa tanggal 4 Agustus 2002 akan diselenggarakan seminar tersebut.

Tamu dari Ahmadiyah Lahore itu diterima M Amin Djamaluddin sendiri, ketua LPPI, karena hari itu hari libur, Ahad. Seminar itu diundur tanggal 11 Agustus 2002, namun Majalah Media Dakwah terbitnya bulanan, sehingga ralatnya baru terbit di bulan Agustus. (Rupanya lima tamu ini belum sempat membacanya).

Dalam pembicaraan itu, orang-orang Ahmadiyah Lahore meminta agar alirannya tidak ikut dibicarakan dalam seminar tentang Bahaya Ahmadiyah nanti. Sebab, menurut mereka, antara Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qodian itu sendiri bermusuhan. Jadi Ahmadiyah Lahore hendaknya tidak ikut dibahas.

M Amin Djalamuddin menjawab, bagi kami (LPPI), Mirza Ghulam Ahmad itu adalah pemalsu yang telah mengacak-acak Al-Qur’an dan membajaknya. Ini buktinya, di kitab suci Ahmadiyah, Tadzkirah.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dibajak ataupun diacak-acak sudah saya tandai. Ini buktinya di dalam Kitab suci Ahmadiyah, Tadzkirah.

Jadi, menurut kami (LPPI), Mirza Ghulan Ahmad itu Al-Kadzdzab (pendusta), lebih dari Musailamah Al-Kadzdzab, nabi palsu (zaman Nabi Muhammad saw yang kemudian dibunuh oleh Wahsyi dalam serangan tentara Islam zaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhum terhadap nabi palsu itu bersama 40.000 pengikutnya yang murtad). Masalahnya, kenapa Mirza Ghulam Ahmad yang Al-Kadzdzab (pendusta) itu kok diangkat oleh Ahmadiyah Lahore sebagai Mujaddid (Pembaharu). Itulah persoalannya.

Lima tokoh Ahmadiyah Lahore dari Jogjakarta pimpinan Ali Yasir itu diam, tak bisa menjawab, menurut penuturan M Amin Djamaluddin, setelah terjadinya pertemuan itu, berbicara kepada saya, Hartono Ahmad Jaiz, lewat telepon.

Jakarta, Ahad 4 Agustus 2002.