Ahmadiyah Menantang dan Bacok Warga, Memicu Bentrokan Tewaskan Tiga Nyawa

Jemaat Ahmadiyah menantang warga bahkan membacok tangan warga hingga nyaris putus. Maka bentrokan pun terjadi antara jemaah aliran sesat Ahmadiyah dan warga, mengakibatkan tiga orang tewas, dan lima luka.

Bentrokan berdarah yang dipicu oleh kekerasan (pembacokan) yang dilakukan aliran sesat Ahmadiyah terhadap warga itu terjadi di Desa Umbulan Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahad (6/2 2011).

Voaislam.com memberitakan, menurut Kapolres Pandeglang,  AKBP Alex Fauzy Rasyad, serangan ini dipicu oleh sikap para anggota jemaah Ahmadiyah yang mengeluarkan pernyataan provokatif bernada menantang kepada warga setempat.

Sementara itu republika.co.id memberitakan, MUI Provinsi Banten bersama dengan MUI Kabupaten/kota se-Provinsi Banten telah menyampaikan surat kepada Kejaksaan Tinggi Banten agar membubarkan Ahamdiyah yang ada di Banten.

Oleh karena itu, Ketua MUI Banten KH Wahaf Afif menyayangkan tidak adanya realisasi dari permintaan MUI tersebut, sehingga akhirnya timbul permasalahan seperti yang terjadi di Cikeusik Pandeglang. Ia meminta semua pihak menahan diri dan menghindari tindakan-tindakan kekerasan dan meminta seluruh pengurus MUI menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik membimbing masyarakat.

Seperti telah dimaklumi, Ahmadiyah adalah aliran yang mengaku Islam namun punya nabi tersendiri di India Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908M) sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi terakhir, tidak ada nabi lagi sesudahnya. Hal itu telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [الأحزاب/40]

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS 33: 40).

Juga dalam hadits Nabi yang shahih:

« كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِىٌّ خَلَفَهُ نَبِىٌّ ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى ….

“Bani Isra’il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku…” (HR Al-Bukhari)

Oleh karena itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa 2 kali tentang sesatnya Ahmadiyah, yakni fatwa tahun 2005 dan sebulmnya adalah fatwa MUI tahun 1980. Inti fatwa MUI 2005, Ahmadiyah itu sesat menyesatkan, di luar Islam, dan pengikutnya adalah murtad.

Di samping MUI telah mengeluarkan fatwa 2 kali tentang sesatnya Ahmadiyah, MUI juga mengeluarkan rekomendasi agar pemerintah membubarkan aliran yang membahayakan aqidah Islamiyah di antaranya Ahmadiyah dan LDII.

Rekomendasi MUI untuk Pembubaran Ahmadiyah, LDII dan sebagainya

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

“Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Sementara itu, Menteri Agama telah berjanji untuk membubarkan Ahmadiyah:

Menag: Setelah Lebaran Ahmadiyah Harus Dibubarkan

Jakarta (voa-islam.com) – Penerapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri mengenai aliran Ahmadiyah hingga kini masih menjadi polemik. Di tengah-tengah polemik itu, Menteri Agama Suryadharma Ali justru sepakat jika jamaah Ahmadiyah Indonesia dibubarkan.

“Ahmadiyah itu seharusnya dibubarkan. Kalau tidak dibubarkan permasalahannya akan terus berkembang,” ujar Suryadharma usai mengikuti rapat gabungan pemerintah dan DPR tentang ormas di Gedung DPR, Senayan, Senin (30/8/2010).

…”Ahmadiyah segera dibubarkan karena bertentangan dengan SKB menteri dan tentu semua pihak harus bertanggung jawab mengajak kepada Islam yang benar. Ini semua sudah ada aturannya,”…

Menurut Suryadharma, dalam SKB 3 Menteri sudah jelas dinyatakan ajaran Ahmadiyah tidak boleh disebarluaskan karena menyimpang dari Islam.

“Ahmadiyah segera dibubarkan karena bertentangan dengan SKB menteri dan tentu semua pihak harus bertanggung jawab mengajak kepada Islam yang benar. Ini semua sudah ada aturannya,” imbuhnya.

Pembahasan pembubaran Ahmadiyah, lanjut Suryadharma, akan dilakukan dalam waktu dekat. Kementerian Agama akan segera membahas pembubaran itu secara intensif. “Nantilah setelah Lebaran,” paparnya. (Ibnudzar/dbs)

Voaislam, Senin, 30 Aug 2010

(nahimunkar.com) https://www.nahimunkar.com/menag-setelah-lebaran-ahmadiyah-harus-dibubarkan/#more-3212

Mengenai bentrokan yang dipicu oleh kekerasan pihak Ahmadiyah di Cikeusik Banten, inila berita-beritanya:

Bentrokan Cikeusik Terjadi Karena Jemaat Ahmadiyah Menantang dan Bacok Warga

PANDEGLANG (voa-islam.com) – Jemaat Ahmadiyah kembali berulah memancing kerusuhan. Setelah menyebarkan ajaran yang meresahkan, mereka menantang perang dan membacok tangan warga hingga nyaris putus. Bentrokan fisik pun tak terhindarkan yang mengakibatkan enam orang Jemaat Ahmadiyah tewas.

(Belakangan, pihak Ahmadiyah menyebut yang tewas hanya 3 orang. Tiga orang yang tewas itu adalah, Mulyadi, Tarno dan Roni. Keduanya diakui memang anggota jemaah Ahmadiyah. “Tarno dan Mulyadi adalah kakak beradik dari Parman yang merupakan Mubaligh Ahmadiyah di Cikeusik,” kata Mubarik, humas pihak Ahmadiyah, red nm).

Warga Desa Umbulan di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten mengaku resah karena Jemaat Ahmadiyah pimpinan Parman terus menyebarkan ajaran Ahmadiyah.

“Kami warga Cikeusik sangat resah dengan aktivitas yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah itu, apalagi cukup banyak warga yang akhirnya ikut menjadi anggota Jemaat itu,” kata Asep Setiadi, warga Desa Umbulan Kecamatan Cikeusik, Ahad (6/2/2011).

Sabtu malam, puluhan anggota Jemaat Ahmadiyah dari Kota Bogor tiba di Cikeusik dengan menumpang dua kendaraan roda empat dan menginap di rumah Parman.

Warga, kata Asep, sebenarnya sudah meminta Parman baik-baik untuk membubarkan Jemaat Ahmadiyah dan menghentikan kegiatannya itu. “Tapi tidak ditanggapinya,” katanya.

Parman malah mengeluarkan pernyataan provokatif, “Lebih baik mati dari pada membubarkan diri,” dan terus menyebarkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad tersebut.

….Parman, pimpinan Ahmadiyah malah mengeluarkan pernyataan provokatif, “Lebih baik mati dari pada membubarkan diri,” dan terus menyebarkan ajaran sesat Mirza Ghulam Ahmad ….

Karena Parman dan pengikutnya enggan menuruti warga, beberapa tokoh masyarakat dan agama sepakat mendatangi kediaman Parman guna kembali mendesak membubarkan diri.

Ahad pagi (6/2/2011), sekitar seribuan warga berbagai daerah dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak mendatangi rumah Parman.

Menurut Lukman, tokoh masyarakat Cikeusik, sebenarnya warga tak bermaksud melakukan kekerasan dan hanya ingin agar Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik pimpinan Parman membubarkan diri.

“Warga ingin Ahmadiyah itu membubarkan diri karena sudah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia, tapi permintaan itu diabaikan oleh mereka,” katanya.

Saat massa tiba, puluhan Jemaat Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudah siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam seperti samurai, parang dan tombak.

Sesaat kemudian, kata Lukman, seorang anggota Jemaat Ahmadiyah membacok lengan kanan Sarta hingga nyaris putus.

“Pembacokan inilah yang memicu bentrokan. Warga marah karena melihat lengan kanan Sarta nyaris putus,” kata Lukman.

….Seorang anggota Jemaat Ahmadiyah membacok lengan kanan Sarta hingga nyaris putus. Pembacokan inilah yang memicu bentrokan. Warga marah karena melihat lengan kanan Sarta nyaris putus…

Buntut bentrokan berdarah ini, enam orang anggota Jemaat Ahmadiyah tewas. Seluruh korban meninggal itu berasal dari luar daerah

“Yang saya lihat ada enam orang yang meninggal, dan seluruhnya dari Jemaat Ahmadiyah,” kata Lukman.

Sementara seorang warga Desa Umbulan, Sarta, mengalami luka parah di lengan kanannya oleh senjata tajam. “Lengan kanan Sarta hampir putus dibacok oleh anggota Jemaat Ahmadiyah,” kata Lukman.

Jemaat Ahmadiyah selalu bandel

Pernyataan serupa disampaikan Kapolres Pandeglang AKBP Alex Fauzy Rasyad. Menurutnya,  serangan warga Cikeusik terhadap Jemaat Ahmadiyah dipicu oleh sikap para anggota jemaah Ahmadiyah yang mengeluarkan pernyataan provokatif bernada menantang kepada warga setempat.

“Sebenarnya situasinya sudah kondusif dan masyarakat juga tenang-tenang saja, tapi karena ada pernyataan bernada menantang dari Jemaat Ahmadiyah, akhirnya warga terpancing,” kata Fauzy, Ahad (6/2/2011).

Fauzy yang sedang berada di lokasi untuk meredakan ketegangan sosial itu menjelaskan, awalnya warga setempat ingin mengusir Jemaat Ahmadiyah di bawah kepemimpinan Parman.

Sebelumnya, warga telah meminta Parman membubarkan jemaah dan tidak menyebarkan ajaran Mirza Ghulam Ahmad tersebut.

“Ketika diminta membubarkan Ahmadiyah, Parman malah mengatakan, ‘lebih baik mati daripada membubarkan diri‘,” kata Alex Fauzy.

Beberapa hari lalu, ketika suasana memanas, Parman dan istrinya yang warga Negara Filipina serta Atep yang menjadi Sekretaris Jemaat Ahmadiyah Cikeusik meminta perlindungan kepada polisi.

Alex mengaku, polisi telah menasehati Parman agar tidak meneruskan kegiatannya karena khawatir memicu situasi tidak kondusif.

“Setelah Parman diamankan situasi kembali tenang, tapi tadi pagi datang Jemaat Ahmadiyah dari Jakarta sekitar 20 orang, dan mengeluarkan pernyataan siap mempertahankan Ahmadiyah sampai titik darah penghabisan,” katanya.

Mendengar pernyataan itu, masyarakat yang sudah tenang kembali terbakar emosinya dan akhirnya mengusir paksa Jemaat Ahmadiyah itu sehingga terjadi insiden berdarah itu.

Kapolres menjelaskan, akibat insiden tersebut satu unit kendaraan roda empat dibakar massa, satu unit mobil APV dimasukan ke jurang dan satu unit rumah dirusak.

….Menurut Kapolres Pandeglang,  serangan ini dipicu oleh sikap para anggota jemaah Ahmadiyah yang mengeluarkan pernyataan provokatif bernada menantang kepada warga setempat….

Karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka Polres Pandeglang mengamankan pimpinan Ahmadiyah Cikeusik, Parman dan keluarganya.

“Ketua Ahmadiyah bernama Parman beserta istrinya dan Atep, seorang pengurus Ahmadiyah, saat ini sudah kita amankan,” kata Fauzy.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat dan Politik Kabupaten Pandeglang, Futoni Sy, menjelaskan, jumlah pengikut Ahmadiyah di Kecamatan Cikeusik hanya sekitar 25 orang.

“Jumlahnya tidak banyak sekitar 25 orang, dan mereka sudah lama diimbau agar membubarkan diri,” katanya. [taz/ant]

Voaislam, Ahad, 06 Feb 2011

Sementara itu bagaimana sikap MUI banten, berikut ini beritanya:

MUI Banten: Ahmadiyah Sudah Diminta Bubar Empat Bulan Lalu

Ahad, 06 Februari 2011, 19:23 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG– Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten mengakui sebelumnya sudah menyampaikan surat kepada kejaksaan Tinggi Banten agar membubarkan jemaat Ahmadiyah yang ada di seluruh wilayah Banten.

“Sekitar empat bulan lalu MUI sudah sampaikan surat ke Kejati Banten agar Ahmadiyah di Banten dibubarkan. Namun pada kenyataanya masih tetap ada hingga akhirnya terjadi peristiwa itu,” kata Ketua MUI Banten KH Wahaf Afif, saat dikonfirmasi terkait kerusuhan antara warga dengan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang, Ahad pagi.

Ia mengatakan, MUI sudah mengantisipasi sejak awal terkait dengan aktivitas jemaat Ahmadiyah di Banten karena khawatir timbul permasalahan dengan warga sekitar. Sehingga, MUI Provinsi Banten bersama dengan MUI Kabupaten/kota se-Provinsi Banten menyampaikan surat kepada Kejaksaan Tinggi Banten agar membubarkan ahamdiyah yang ada di Banten.

Oleh karena itu, ia menyayangkan tidak adanya realisasi dari permintaan MUI tersebut, sehingga akhirnya timbul permasalahan seperti yang terjadi di Cikeusik Pandeglang. Ia meminta semua pihak menahan diri dan menghindari tindakan-tindaka kekerasan dan meminta seluruh pengurus MUI menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik membimbing masyarakat.

Red: Stevy Maradona

Sumber: Antara

Sumber: .republika.co.id

Ahmadiyah tidak dibubarkan berarti dipelihara?

Apakah kasus semakin beraninya orang Ahmadiyah hingga berani menantang warga dan bahkan memicu kekerasan dengan membacok warga yang kemudian mengakibatkan bentrok dan hingga 3 orang tewas dan lima orang lainnya terluka itu tidak jadi pelajaran?

Kita tunggu.

Bila gejalanya justru ada suara orang bingung dengan nada membela aliran sesat Ahmadiyah yang jelas-jelas menodai Islam (namun mengaku Islam) hanya karena berdalih bahwa itu adalah hak dan keyakinan mereka, maka perlu ditanya keobyektifan orang itu, walau dia pemimpin seklipun. Dan ketika polisi telah mengemukakan bahwa pihak Ahmadiyah justru memicu adanya bentrok itu karena mereka mempovokasi dengan menantang, namun alamat kekerasan masih pula disematkan kepada Ummat Islam, berarti perlu diwaspadai.

Dan lebih parahnya bila perkataan seperti itu ada maksud-maksud tertentu tanpa melihat kebandelan Ahmadiyah yang telah menjadi ancaman bagi keyakinan Ummat Islam. Karena Ahmadiyah mengaku Islam tetapi menodai Islam dengan memiliki nabi tersendiri sesudah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang perlu ditinjau otaknya adalah para pembela aliran Ahmadiyah yang memalsu Islam itu. Sebagaimana Professor liberal Thamrin Amal Tomagola yang harus berhadapan dengan suku Dayak (yang tersusik perkataan Thamrin) karena Thamrin membela Ariel dalam kasus video porno zina, dengan landasan apa yang dia kemukakan mengenai prilaku sex orang suku Dayak. Maka siapapun yang membela Ahmadiyah mesti menjadi musuh Ummat Islam, lebih dari Thamrin ketika dia membela video porno dengan melontarkan perkataan yang telah mengusik perasaan orang suku Dayak. Dan memang Thamrin kabarnya juga pembela Ahmadiyah –menurut situs suaraislam.

Thamrin dalam kasus membela Ariel video porno itukarena menyinggung suku Dayak maka harus berhadapan dengan Suku Dayak hingga diadakan persidangan secara adat dan menjadi berita yang terdengar ramai baru-baru ini. Analoginya, Ahmadiyah adalah aliran sesat yang bukan sekadar menyinggung Islam, tetapi memalsu Islam dan menodai Islam. Jadi siapapun yang membela Ahmadiyah, –walau mereka pejabat—pada hakekatnya adalah ikut menodai Islam, maka resikonya adalah berhadapan dengan seluruh Ummat Islam (sedunia, bukan hanya Indonesia), lebih dari Thamrin yang membela video porno Ariel dengan menyinggung perasaan suku Dayak.

(nahimunkar.com).