Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)


OPINI – Cucuran air mata Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat membacakan nota keberatan di sidang perdana kasus penistaan agama yang digelar Selasa (13/12) menjadi perhatian jagat Indonesia.

Bagi mereka yang pro-Ahok, tangisan idolanya adalah luapan perasaan terzalimi karena dia sama sekali tidak bermaksud menista Kitab Suci agama Islam, yang dipeluk oleh para pendukung dan bahkan oleh orang tua angkat dan saudara angkat yang sangat ia sayangi dan menyayangi dirinya.

Menurut kelompok ini tangisan Ahok adalah sebuah keterkejutan dan ketidakadilan bahwa dirinya harus dijegal dengan rupa-rupa cara, termasuk hal yang tak pernah dibayangkannya.

Akan tetapi, bagi lawan, tangisan Ahok dianggap sebagai aksi teatrikal laiknya laku seorang aktor dalam melodrama. Bahkan, sebagian orang menilai tangis bombai Ahok menunjukkan mentalnya yang lemah: ke atas meminta simpati dan ke bawah menginjak. Sikap Ahok yang dikatakan cengeng itu dinilai bertolak belakang dengan perilaku Ahok saat menjabat gubernur yang kasar kepada bawahan.

Tangisan Ahok, oleh lawan, dianggap tak ubahnya para koruptor yang menangis saat diganjar belasan tahun oleh pengadil. Jadi, bagi kelompok ini, rengekan gubernur Jakarta itu tak perlu dianggap serius dan bahkan dijadikan bahan bakar serangan.

Bagi orang yang berada di posisi netral, tangisan Ahok cukup mengejutkan. Pasalnya, bekas bupati Belitung Timur selalu tampak garang dan sepertinya tidak akan takut apa pun, bahkan kepada malaikat maut sekalipun—seperti yang Ahok beberapa kali ucapkan bahwa dia tidak takut mati dalam memegang prinsip.

Bagi pria secara umum, menangis memang sesuatu yang istimewa karena mereka sejak kecil dicekoki ajaran jika lelaki haram cengeng dan mudah menangis. Hal ini sering justru menjadi beban—termasuk mengekspresikan kebahagiaan. Jika telanjur menangis seperti kasus Ahok, orang pun dibuat heboh.

Berhalanisasi Ahok

Seumpama Ahok tenang atau bersikap seperti biasa dengan gaya bicara meledak-ledak, penentangnya tetap akan menyerang. Bahkan, serangannya bisa merembet ke pihak lain. Orang-orang ini akan menyebut Ahok tenang karena sudah diamankan oleh Presiden Jokowi dan polisi, seperti yang sudah mengemuka sebelum demo kolosal 411 dan 212 digalang.

Posisi Ahok sudah telanjur sulit. Opini dan persepsi yang dibangun secara kontinu selama ini sudah menjadi kutub idiologi: yang mendukung yakin Ahok selalu benar, sedangkan yang lain memposisikan Ahok selalu salah.

Ahok benar-benar sudah menjadi idola, dalam makna yang paling primordial, yakni ‘berhala’. Bagi pendukung, Ahok sudah menjadi ikon pemimpin adil, tegas dan pembela rakyat kecil sehingga apa pun kondisinya harus dibela. Sementara itu, di pihak lain, Ahok dijadikan simbol desakralitas agama dan demoralisasi sehingga harus dilawan.

Bagi Ahok, posisi ini justru mempersulit dirinya. Masalahnya bukan nangis atau tidak, tapi eksistensi dia sendiri sudah dianggap sebagai masalah. Jadi, selama proses berlangsung sampai persidangan selesai, apa pun keputusan hakim pasti menjadi masalah.

Hal ini akan terus berlangsung jika mitologisasi tentang Ahok terus dibangun, baik oleh pendukung maupun lawan.

Keberhasilan memberhalakan Ahok tidak luput dari massifnya gempuran budaya populer lewat media sosial. Pembingkaian Ahok—dari pendukung dan lawan—sudah berhasil membentuk realitas baku dalam benak masing-masing orang. Plot natural tentang Ahok sudah lenyap, digantikan oleh alur yang dikendalikan, yang seolah hendak dipaksakan untuk diterima.

Jika tidak percaya, berhentilah mengikuti kasusnya di media dan biarkan hati nurani Anda bicara. Anda akan menemukan titik di mana Anda harus mengapresiasi Ahok dan di titik lain Anda perlu mengkritisinya, sebagaimana Anda melihat politisi lain yang kadang sangat baik dan terkadang menjengkelkan, sama seperti orang kebanyakan.

Akan tetapi, faktanya, Ahok sudah menjadi berhala. Bagi yang kontra, berhala harus dimusnahkan karena dianggap menodai keimanan; bagi pemuja, Ahok harus dibela dengan segala cara dan rupa.

Sumber: rimanews.com/Dhuha Hadiansyah/15 DES 2016

(nahimunkar.com)